“Semuanya harus dirayakan dengan tidur.”
—
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available

ellievsbear
RMH
Keni
Today's Document

Discoholic 🪩
Mike Driver
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium
taylor price
trying on a metaphor
Game of Thrones Daily
Sade Olutola
almost home

pixel skylines

#extradirty
AnasAbdin
🪼
dirt enthusiast
seen from Canada
seen from United States

seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Netherlands

seen from Saudi Arabia

seen from Pakistan
seen from United States
seen from Venezuela
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from Italy
seen from Malaysia
@akulitaaa
“Semuanya harus dirayakan dengan tidur.”
—
Saya ga peduli, mau kamu menyimpan ribuan rahasia atau bahkan menutupi saya dari ribuan orang. Saya tetap saya, saya berharga, banyak yg sayang saya termasuk keluarga saya, sahabat-sahabat yg selalu mengkhawatirkan saya. Jika memang cinta harus saling menutupi maka ayo kita mulai. Dimana tidak akan pernah ada yg tau soal aku dan kamu.
masih dengan surakarta , kota kecil banyak cerita
sedikit rindu , banyak kecewa .
di awal 2018 aku memutuskan untuk meninggalkan , dan mulai berlabuh ke kota lain , mencari apa yang seharus nya menjadi milikku , dan melepaskan yang tidak seharusnya ku jaga . aku memiliki setangkai mawar namun durinya kugenggam erat . :)
setelah kehilangan banyak sekali. hal kecil menjadi sangat berharga. mungkin karena kita mulai menghitung apa yang masih tersisa. bisakah kita beristirahat dari kehilangan-kehilangan? berhenti beberapa saat untuk merasa memiliki satu atau dua hal. sebelum kembali menjadi bukan apa-apa. banyak yang hilang dan tak bisa kita temukan lagi. seberapa keraspun kita mencarinya. tidak ditakdiran, kata mereka. kata penghiburan yang murahan. membuat telingaku gatal. tapi tak banyak pilihan untuk menghibur diri sendiri saat ini. tidak jika di setiap jalan selalu ada rambu yang sama; 'menyerahlah'. tapi kita masih dalam sebuah perjalanan. mengabaikan semua peringatan untuk tujuan yang aneh; tetap hidup. tapi untuk apa? dan untuk sejuta kali itulah pertanyaan yang kamu tak tahu bagaimana menjawabnya.
ada yang bilang orang yang paling mencintai berasal dari yang paling tidak dicintai dulunya. mungkin kita akan belajar mencintai jika pernah tidak dicintai? apakah orang-orang yang kehilangan akan belajar hal yang sama? tapi, apa yang benar-benar kita miliki? tidak ada. semua memiliki pintu sendiri untuk pergi. dan tidak akan kembali. Oh, biarkan aku melewati pintu itu juga, nanti. kita bisa bersama dalam ketiadaan masing-masing. ya, kan?
Just because.
Hanya karena kau sudah mengenalnya lama, itu tidak berarti dia adalah orang yang tepat untukmu.
Hanya karena dia adalah orang yang baik, itu tidak berarti dia sudah baik untukmu.
Hanya karena kau yang paling memperjuangkannya, itu tidak berarti dia akan membalas perasaanmu.
Hanya karena kau mencintainya, itu tidak berarti dia adalah orang yang ditakdirkan untukmu.
Andira W.
30 Desember 2018.
Pernah kamu bilang "Apakah bisa dua orang manusia yang tidak didasari atas rasa cinta menikah pada akhirnya?"
Menurutku "Cinta dan Pernikahan dua hal yang berbeda"
Jangan pernah memaksakan apapun, kamu tidak bertanggung jawab atas hidup aku. Bukan salah kamu, cuma emg akunya aja yg tolol.
"Kukira tentang menerima, tentang bagaimana aku bisa memaafkan diriku juga. Akan aman jika hati bisa mulai faham, akan damai jika fikiran mulai sejalan"
@akulitaaa
Ibu selalu berkata "Jadi nunggu apa lagi?" kadang ia lupa, perihal masa lalu. Hal apa yang terjadi, sesulit apa aku bisa tetap berdiri ditengah badai yang ku lalui. Walaupun harus terjatuh beberapa kali, sakit ku kira bukan hal baru, pedih pun sering menjadi candu. Nyatanya kembali menerima laki-laki untuk hidup selamanya bersamaku bukan hal mudah, juga bukan hal sulit. Hanya hati kadang sering banyak becanda.
Kita adalah Forky, Woody dan Bonnie
Bagi yang mengikuti seri Toy Story, tahun ini menjadi menarik karena cerita Woody, Buzz dkk berlanjut. Dengan premis yang cukup menarik, yang bisa kita tebak-tebak dari trailernya. Saya gak akan bahas filmnya sih pada tulisan ini. Haha Tapi saya senang sekali sama satu karakter baru di film ini: Forky.
Forky adalah ‘mainan’ baru Bonnie. Forky dibuat secara tidak sengaja oleh Bonnie dalam kelas praktik di hari pertama sekolah TK. Namun ada yang unik dari Forky ketika ia hidup. Karena berasal dari barang daur ulang, ia terus menganggap dirinya sampah. Ia selalu ingin membuang dirinya ke dalam tempat sampah. Di kelas Bonnie, di kamar, di jalanan, bahkan di manapun. Karena ia merasa ia bukan mainan, seperti mainan lain. Ia adalah barang daur ulang, yang seharusnya sudah menjadi sampah.
Woody sih cukup sabar menjaga Forky untuk tidak membuang dirinya. Ia juga mau memberikan pengertian kepada Forky, bahwa ia berharga, bahkan sangat berharga untuk Bonnie. Forky boleh menganggap dirinya sampah, tapi bagi Bonnie, kehilangan Forky adalah kesedihan mendalam. Dan Woody, adalah teman terbaik sih dalam hal ini.
Kita semua adalah ‘Forky’. Saat keadaan sedang tidak berpihak. Saat banyak hal yang ingin dicapai tak tergapai. Saat semesta dirasa tidak lagi mendukung. Merasa diri kita sampah, ingin hilang atau mati saja dari dunia. Seperti semua orang juga tidak ada yang akan peduli. Kita lupa kalau kita punya ‘Bonnie’.
‘Bonnie’ yang selalu menerima kita apa adanya, bahkan merasa kita istimewa. Orang tua, keluarga, teman-teman terbaik dalam kehidupan. Yang sedih ketika kita sedih, bahagia saat kita bahagia. Salah satu alasan untuk kita terus berjuang menjalani hidup.
Dan terkadang, kita mesti juga menjadi ‘Woody’, untuk kawan-kawan, atau siapapun yang membutuhkan. Bahkan diri kita sendiri. Mengangkat kita dari jurang kelam perasaan tidak berharga, menyadarkan kembali bahwa di luar sana pasti masih ada ‘Bonnie’ yang menanti kita kembali.
Meskipun ini hanya cerita, cerita mainan pula, (haha) saya yakin pernah ada ‘Forky’ dalam diri ini. Maka sesekali jadilah kita ‘Woody’ atau ‘Bonnie’ bagi yang lain.
Setelah Kita Mati
Kebanyakan kita—terutama saya memandang alam kubur, padang mahsyar, dan akhirat hanya sebatas alam dan tahapan yang harus dipercaya semata.
Kita gagal membayangkan dan memandang ketiganya sebagai realita yang harus kita hadapi dan jalani sebagaimana membayangkan hidup kita saat nanti sudah berusia 40 tahun, 50 tahun, atau 60 tahun.
Bayangkan bagaimana nanti di usia 40 tahun, barangkali kita sudah punya rumah yang cukup besar, anak-anak sudah mulai besar, sebagiannya akan masuk kuliah, kita beraktivitas ini dan itu.
Seperti itulah semestinya bagaimana kita membayangkan alam kubur dan hari penghakiman kelak. Bahwa itu tidak hanya benar-benar terjadi, tapi juga benar-benar dapat dirasakan oleh segenap panca indera di tubuh kita seperti saat ini.
Sakitnya akan terasa sakit. Panasnya akan terasa panas. Dinginnya akan terasa dingin. Senangnya akan terasa senang. Dan sedihnya akan terasa sedih.
Saat dikatakan bahwa di alam kubur akan datang malaikat yang bertanya, atau akan datang seseorang yang jadi perwujudan amal-amal kita di dunia, itu literally benar-benar ada orang yang datang sebagaimana jika hari ini ada orang yang mendatangi kita.
Saat dikatakan bahwa kita akan dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar lalu kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita di dunia, itu literally benar-benar kita ngantree, digilir satu-satu, diinterogasi, diadili, didatangkan bukti-bukti, dan diputuskan ganjarannya surga atau neraka.
Saat dikatakan nanti penghuni neraka akan dibakar, dicabik-cabik, dan diberi minum nanah, itu literally benar-benar dibakar, dicabik-cabik, dan diberi minum nanah. Bayangkan saja bagaimana jika hari ini kamu dibakar dan diberi minum nanah. Nah seperti itulah rasanya. Begitu juga dengan surga.
Jujur saja, serinci-rincinya rencana hidup kebanyakan kita, paling hanya mentok sampai kita mati, mungkin seumur 60-an. Disini, tanpa sadar kita sudah gagal membayangkan dan menerima alam kubur dan akhirat sebagai sebuah realita.
Padahal, kalau kita berhasil membayangkan dan menerimanya sebagai realita, pastilah kita sekarang gak akan se-selaw ini. Itulah iman.
Apa rencanamu setelah mati?
Kalibata | Taufik Aulia
"Coba tanya hatimu sekali lagi"
Suami Bagimu Belum Tentu Ayah Bagi Anak-Anakmu
The world has change, and from year to year, children become fatherless - Anonymous
Seorang ahli psikologi berkata bahwa dunia berubah. Semakin banyak anak-anak yang yatim sekalipun ia memiliki seorang ayah. Ayah yang kehadirannya kian lama tak dirasakan lagi. Peran ayah kini kian lama kian bergeser. Hanya menjadi pencari nafkah tanpa memedulikan bagaimana tumbuh kembang anaknya karena sudah percaya pada ibunda. Maka ketika hasil pendidikan ibu yang didadaptkan tidak sesuai ekspektasi, akhirnya ayah cenderung menyalahkan istri, “Kamu nggak becus mendidik anak!”.
Al Ummu, Madrosatul Ula, Ibu adalah madrasah pertama
Begitulah dalih yang barangkali sering dijadikan landasan mengapa seorang ayah sangat sibuk menafkahi. Namun teruntuk para ayah dan calon ayah (seperti saya :p) sadarlah. Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun ayah adalah kepala sekolahnya. Wahai para calon ayah, engkaulah kepala sekolah yang kelak akan menentukan visi bagaimana sekolah pertama anakmu kelak. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang guru tanpa kepala sekolah. Ia bisa mendidik, namun tak punya arah yang jelas bagaimana peserta didik itu nantinya. Analogi itu pun sama dengan pendidikan anak.
Dan kau Ayah, adalah kepala sekolah bagi anak-anakmu
Peran ayah pun telah dicontohkan dalam Al-Quran. Ada Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, dan Imron. Merekalah contoh ayah-ayah yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Seorang peneliti asal timur tengah, Sarah binti Halil, dalam tesis nya di Universitas Ummul-Quro, Makkah menuliskan bahwa dalam Al-Quran tertulis dialog ayah dengan anaknya sebanyak 14 kali, sedangkan dialog ibu dan anaknya hanya 2 kali. Tentu itu bukan merupakan sebuah kebetulan, sebab Quran adalah firmanNya. Hitunglah, 14 dibanding 2. Maka sudah jelas, peran sentral ayah dalam dunia anak tak terbantahkan.
Hanya visi saja tentu tidak cukup. Seorang ayah sekaligus menjadi evaluator bagi anak-anaknya. Layaknya seorang pemimpin yang memiliki visi, ia pastilah yang paling tahu ke mana visi itu dibawa, dan di mana letak kesalahannya. Pun demikian dengan ayah, ia akan tahu ketika anak yang didiknya melenceng dari visinya. Tentu di sini tidak sekedar menjadi evaluator layaknya di perusahaan, namun tentu anak punya cara tersendiri agar evaluasimu mendidik, bukan membebani mereka.
Sebab itulah wahai calon ayah dan mungkin ada ayah yang sudah membaca, karena kau lah sang penentu visi. Kau adalah kepala sekolah, bukan penjaga sekolah. Kepala sekolah adalah sang pembawa visi sekaligus evaluator. Penjaga sekolah adalah dia yang datang ketika lampu rusak, dapur bocor, kran mampet. Kau juga bukan donatur sekolah yang datang ketika sekolah membutuhkan uang. Kau adalah kepala sekolah, kunci dari pendidikan anak-anakmu.
Sebab ayah yang sukses, bukanlah sosok yang hebat dalam karirnya, sosok yang banyak prestasinya, atau sosok yang kaya raya. Ayah yang sukses adalah ketika anak lelakinya kelak berkata, “Aku ingin seperti ayah” atau anak perempuannya berkata, “Aku ingin memiliki suami seperti ayah”
- George Hilbert
“Berislam dengan Berimanlah”
—
Jangan hanya Islam aja, tanpa Iman.
Karena yang menghasilkan amal adalah Iman,
Karena yang menghasilkan taat adalah Iman,
dan Iman, tak akan bersatu dengan ma’siyat,
Jadi, jika shalat jalan tapi masiyat masih lancar,
Jangan - jangan shalatmu tanpa iman,
Jika baca Qur’an tapi ma’siyat nggak berhenti,
Jangan - jangan baca Qur’anmu tanpa Iman,
Jika infaq tapi masih terus - terusan ma’siyat,
Jangan - jangan infaqmu tanpa Iman,
Berislamlah dan Berimanlah
Ngawi, 11 April 2018
Karena katanya
Karena katanya, kebaikan yang paling sejati dari seorang lelaki kepada perempuan hanya satu, melamarnya.
Karena katanya, kalau ada lelaki yang bilang mencintai dan memperjuangkanmu. Tapi nggak melamar dan menikahimu, maka sejatinya dia belum mencintai dan memperjuangkanmu. Sebaik apapun lelaki itu kepadamu.
Jadi, ketika kamu menemukan lelaki yang begitu baik kepadamu, pada satu waktu bisa jadi kebaikan-kebaikan itu tak lebih dari sekedar kebaikan fana yang justru menjerumuskan. Yang akan kalah telak dengan lelaki lain yang melamar dan menikahimu.
Sebab katanya, tak semudah itu seorang lelaki mengumpulkan tekad, kekuatan juga keberanian untuk nembung dan meminta dirimu dari orang tuamu.
Boleh. Boleh rindu kok. Boleh berharap. Boleh mendo'akan dan (sok-sokan) ngatur-ngatur Allah supaya lelaki itu menjadi jodohmu. Bahkan boleh bikin acara komitmen-komitmen berdua. Bahkan juga boleh–pacaran.
Asal dua: siap kecewa dan siap menyesal dibelakang.
Kamu tau sendiri kan setiap sesuatu yang kita lakukan selalu memiliki risiko bawaan? Kamu siap?
Maka, semoga Allah selalu menjaga kita dari tipu daya-tipu daya syaitan ketika kita sedang jatuh cinta kepada selain Allah, Rosul dan Al-Qur'an.
#4
A : Arrahmaanu,
D : Arrahmanu,
A : kenapa Arrahmanu bukan Arrahmani? Soalnya Arrahmanu ‘ala ‘arsyistawaa bukan Arrahmanirrahim
D : Padahal kita nggak mikir sampe situ,
Lalu,
A : Idzhab bi kitaabii,
D : Idzhab bi kitaabii,
A : Surat apa?
D : hmmmm
A : Nabi Sulaiman ke burung Hud – Hud
D : Naml?
A : sip
dan di lain waktu,
Haa antum ulaai tuhibbunahum…..
A : Juz berapa eh itu?
B : Berapa ya?
C : empat
A & B : eh iya, empat bener
Selalu terpana dengan orang orang yang selekat itu hafalannya,
Selalu terkesima dengan orang – orang yang sekuat itu hafalannya,
Lafadz ini di sini,
Yang itu di situ,
Yang ini menceritakan tentang ini,
Yang itu menceritakan tentang itu,
Bahkan meski hanya dipancing dengan satu kata,
Bahkan meski hanya dipancing dengan satu tema,
Bahkan meski hanya dipancing dengan satu ciri khas,
Bahkan meski hanya dipancing dengan satu kisah,
Sedetail itu menghafal,
Sedetail itu mengerti,
Dan semoga sedetail itu pula mengamalkan,
Barakallah Fiikum,
Allahumma irhamna bi Al-Qur’an
Ngawi, 4 April 2018
Daily reminder!
"Aku berdoa kepada tuhan sekali lagi, agar aku bisa bersamanya. Tapi tuhan berkehendak lain. Aku dan dia semakin menjauh, tak ada ujung yang kita temui. Sulit"
- (Bulan Madu)