Minggu ini, dapet kesempatan bimbingan kasus tumbuh kembang dengan dosen yang menarik, kalau narik memori ke belakang (saat pre klinik), beliau cerita di ruang kelas RSDS kalau beliau bisa sekolah spesialis karena sebuah insiden bencana alam di sebuah pulau, timurnya pulau jawa (kalau ga salah si, hehe).
Logika manusia emang sempit
Pikirku setelah beliau cerita, aku pikir, sekolah spesialis kudu punya modal besar, kudu puinter, dsb. Memang benar, tapi ada faktor lain yang kita ga bisa duga. Ada yang punya skenario kalau bencana alam bisa menjadi perantaranya?
Lanjut, pertemuan beliau pada angkatan kami sangat membekas, buktinya, saat selesai kelas kemarin, aku mencoba recall memori tentang beliau ke teman-teman, dan yea mereka ingat bagaimana menariknya cara mengajar beliau.
Begitupun dengan bimbingan kasus tumbuh kembang minggu ini, buanyak sekali pertanyaan mengenai hal-hal teknis yang tidak sengaja dijawab oleh beliau.
Jadi gini, aku saat ini masih koas online, kami banyak dihadapkan kasus dan kami diharapkan bisa melakukan sebuah penggalian masalah hingga tatalaksana yang akan diberikan ke pasien. Tapi, banyak hal teknis yang kami luput... Apalagi waktu kami sempit, sebenarnya 4 minggu, tapi gara2 ujian di woro2kan sejak minggu kedua, orientasi kami menjadi...ujian!
Aku sejak awal masuk pediatri, jujur, tidak ada yang aku bingungkan soal kurva WHO. Its crystal clear... (tampak spt orang tidak berilmu yang merasa baik2 aja gitu...)
Tapi, ternyata aku luput akan teknis di lapangan, bayangan ada seorang anak dengan usia 9 bulan 15 hari aja tidak terpikirkan. Yang aku tahu, hanya anak usia 9 bulan. Tidak lebih dan kurang.
Akhirnya di kelas bimsus TK1, aku dapet ilmu soal ini. Alhamdulillah alhamdulillah...
Lalu, saat belajar tentang perkembangan anak, pertanyaan soal “kenapa si namanya KPSP (alias kartu PRA SKRINING perkembangan)? Emang ga langsung skrining?” terjawab juga
Ternyata, menegakkan diagnosis seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan itu tidak bisa buru-buru. Efeknya kalau ternyata positif palsu bisa ga baik buat anak tersebut di suatu masyarakat... (iya, jadi bahan gosipan gengz...eh itu si anaknya bu X tuh gini ginu...)
Lanjut, ada sederet langkah yang harus dilewati dan itu sistematis, patokannya dari si surveilans berjalan atau ga?
Dan “woah” nya lagi, surveilans yang digunakan menggunakan buku sejuta umat ibu-ibu hamil alias buku pink!
Kan kita as koas mana tau ya soal teknis beginian kalau ga dikasi tau...
Makanya, senang sekali, mengetahui ada guru-guru yang peka dengan kondisi koas kami saat ini.
Semoga Allah berkahi ilmu mereka,
Anak muridnya, yang masih stuck dengan pemberian insulin, H-1 sebelum jadwal ujian pedi hari pertama keluar.
Semoga Allah mudahkan, ilmunya bermanfaat. Mohon doanya, selalu...