Kesempatan Untuk Mengenali Diri Sendiri.
Setelah mendapat gelar S.Pd banyak tetangga di kampung dan teman lama yang menganggap saya di atas mereka (soal pengetahuan). Mereka menganggap sarjana itu hebat dan pencapaian yang membanggakan.
Tapi dalam batin saya, saya tidak sehebat itu. Saya belum pandai bahasa inggris, mengerjakan skripsi juga banyak pakai Google translate. Copas jurnal sana sini. Bahkan, menurut saya anak SMA pun bisa mengerjakannya jika punya waktu dan niat.
Skripsi saya biasa saja. Aktifitas kuliah juga biasa saja. Anak SMA pun bisa duduk di kelas menyimak dosen, mengerjakan presentasi kelompok selama 8 semester.
Menjadi mahasiswa bukan sesuatu yang WAH seperti anggapan orang-orang. Bergelar S.Pd rasanya tidak membuktikan kalau saya sudah benar-benar menguasai jurusanku.
Toga dan jubah yang kedodoran seperti menanyai saya, apa yang berbeda dengan diriku 5 tahun lalu. Kok rasanya sama saja. Kenapa sekarang saya mengenakan jubah ini dan punya gelar baru. Apa saya pantas. Bukannya jubah ini untuk mereka para akademisi, para peneliti dan ahli yang kompeten di bidangnya. Kenapa saya ikut memakainya.
Selepas perayaan dan selebrasi ini, di luar sana beberapa tahun lagi mungkin ada yang tanya apa judul skripsiku. Apa yang saya teliti. Bagaimana hasilnya. Barangkali saya tidak bisa menjawab. Saya mungkin lupa dan tidak mempedulikan penelitianku dulu. Semua sudah berlalu. Seperti melewati halang lintang. Lakukan, lewati lalu lupakan.
Saya tentu lupa sebab saya tidak betul-betul concern dan ahli di dalamnya. Mahasiswa nyatanya tidak perlu ahli untuk bisa wisuda. Yang penting sudah terlewati. Yang penting sudah selesai. Yang penting sudah dapat ijasah. Yang penting sudah dapet gelar. Hidup mesti berlanjut. Dunia baru harus dijalani. Fokus baru mesti ditempuh.
Lalu mungkin ada yang bercanda, kamu beneran kuliah kan? Sudah lulus kan?
Mungkin saya bisa membela diri. Tentu. 8 semester penuh perjuangan, mengerjakan skripsi sampai berdarah-darah, mengejar-ngejar dosen pembimbing, minta tanda tangan, koneksi internet susah dll.
But I can't. That's fake. That's drama. Apa yang saya kerjakan dan lalui sepertinya semua orang juga mampu. Saya tidak sehebat itu. Saya hanya bekerja keras. Orang lain yang bekerja sama kerasnya dengan saya pasti juga bisa. Lalu di mana hebatnya saya?
Tahun 2018 saya sempat ikut program unggulan kampus. Saya lolos bersama 20an mahasiswa pilihan dari semua fakultas, dari ribuan mahasiswa. Mahasiswa lain mengganggap kami spesial. Mahasiswa pilihan yang paling unggul. Dapat treatment spesial.
Di luar diri saya bangga, tapi di dalam saya merasa fake. Saya bisa lolos bukan karena saya hebat, tapi karena keberuntungan.
Salah satu form-nya yang harus diisi dalam program itu adalah esai rencana exchange, study abroad dan setelah lulus S1 mau ngapain.
Waktu itu esai yang saya tulis cukup panjang dan ambisius. Sebetulnya saya hanya mengarangnya dan tidak berpikir bisa mewujudkan cita-cita di esai itu semua. Saya buka google, mencari nama Universitas keren di UK dan jurusan yang menurut saya masuk akal. Kebetulan panitia sangat memperhatikan esai yang ambisius. Alhasil saya diloloskan.
Saya tidak tahu berapa nilai toefl saya setelah keluar. Mungkin paling buruk. Saya melihat peserta lain juga tidak jauh berbeda dengan mahasiswa biasa. Kami hanya menang di keberuntungan dan kemauan mendaftar.
Semua mahasiwa bisa saja lolos jika kuota tidak terbatas. Saya tidak sehebat dan sespesial dalam bayangan mahasiswa lain. Keadaan dan programnya saja yang dianggap spesial.
Rektor secara langsung meresmikan program kami di depan ratusan peserta sidang senat terbuka. Kami diharapkan menjadi mahasiswa unggulan. Tapi benarkah kami unggulan. Benarkah saya unggulan. Kemampuan bahasa inggris saya saja masih di bawah mahasiswa-mahasiswa yang tidak lolos. Ada banyak mahasiswa yang lebih kompeten dari saya, tapi kebetulan tidak mendaftar.
Setelah program selesai, saya mendirikan komunitas menulis, menerbitkan buku bersama, mengadakan bedah buku, diundang di seminar. Barangkali mahasiswa lain takjub dan menganggap saya hebat, tapi di tempat duduk saya melihat kosong ke depan.
Kenapa mereka mau melihat saya bicara dan menganggap saya memotivasi mereka. Mereka juga bisa seperti saya. Saya tidak hebat. Saya tidak lebih unggul dari mereka. Tulisan saya tidak bagus-bagus amat. Banyak typo dan editing yang kacau. Jika disuruh membacanya kembali mungkin saya akan merobeknya. Saya kadang malu dengan tulisan saya sendiri. Tulisan saya tidak dahsyat dan sebaik tulisan penulis profesional. Saya sadar itu. Kemampuan saya biasa saja.
Di luar diri, saya bangga berdiri di depan peserta seminar dan melayani orang yang meminta tanda tangan. Di dalam diri, saya sadar bahwa kemampuan saya tidak sehabat itu. Saya tidak pantas bangga. Semua orang juga bisa melakukan apa yang saya lakukan.
Kadang saya takut orang lain tahu kalau yang saya lakukan itu biasa saja. Tidak sehebat yang dikira. Saya hanya menipu keadaan. Saya hanya beruntung. Saya hanya pura-pura jadi mahasiwa dan bergelar S.Pd. padahal kemampuan saya tidak beda dengan anak SMA.
Saya pura-pura ahli dalam penelitian skripsi saya, padahal saya hanya copas jurnal sana-sini, masukan data lapangan, dan pengolahan yang tidak serumit yang dipikirkan. Saya hanya pura-pura menjadi mahasiswa unggulan yang masuk program (yang katanya unggulan). Saya hanya pura-pura menjadi mahasiwa cumlaude. Saya hanya pura-pura jadi penulis yang tulisannya sebenernya tidak hebat-hebat amat.
Suatu hari seorang kawan mengenalkanku pada istilah psikologis yang mirip dengan keresahan yang selama ini saya alami.
Jauh pada tahun 1978 lalu, Psikolog klinis Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes seperti sudah mengenal baik saya. Mereka berdua menyebut kondisi ini Imposter Syndrome.
Katanya bahkan penderita berpikir bahwa bukti kesuksesan yang telah didapatkan merupakan hasil dari menipu orang sekitarnya, agar mereka terlihat kompeten dan berprestasi dibandingkan orang sekitarnya.
Jadi Imposter Syndrome ini merujuk pada kondisi yang dialami orang-orang "berprestasi" yang tak mampu menginternalisasi pencapaiannya. Gejalanya yaitu ketakutan akan dianggap sebagai "penipu".
Ternyata tidak. Di Vogue Inggris, Emma Watson berujar "Ketika saya menerima penghargaan atas akting saya, saya merasa benar-benar tidak nyaman. Saya merasa tidak pantas menerimanya."
Selain Emma, aktris asal Amerika Serikat, Natalie Portman yang menjadi pemeran utama Black Swan pun ternyata juga mengalaminya. Ia adalah sarjana psikologi di Harvard, ia bahkan mengatakannya saat berpidato tentang apa yang dirasakannya. "Hari ini, saya merasa sama seperti saat saya masuk Harvard pada 199.. Saya merasa seperti ada kesalahan - bahwa saya tidak cukup pintar untuk ada di sini dan setiap saya membuka mulut, saya mesti membuktikan bahwa saya bukan sekadar aktris bodoh,"
Menurut wikipedia orang-orang terkenal ini juga pernah mengalami sindrom tersebut, diantaranya: Tom Hanks, penulis skenario Chuck Lorre, Neil Gaiman, John Green, Tommy Cooper, Sheryl Sandberg, Mahkamah Agung Amerika Serikat Sonia Sotomayor, dan pengusaha Mike Cannon-Brookes.
Terlepas dari bukti eksternal kompetensi mereka, orang dengan sindrom ini akan tetap yakin bahwa mereka adalah penipu dan tidak pantas atas kesuksesan yang mereka capai.
Bukti kesuksesan mereka tersebut diatributkan pada keberuntungan, waktu yang tepat, atau sebagai hasil menipu orang lain, hingga berpikir bahwa orang lain lebih cerdas dan kompeten dibandingkan dirinya.
"Saya telah menulis sebelas buku, tapi setiap kali saya berpikir, 'oh, mereka akan tahu sekarang. Saya sudah mempedaya semua orang, dan mereka akan membongkar saya.''" — Maya Angelou
Ingat ayat bahwa Tuhan menutupi aib kita. Apabila aib kita dibuka, maka alangkah hinanya kita. Seandainya dosa kita berbau, barangkali tidak ada yang mau mendekati kita. Nah, orang dengan Impostor Syndrome ini merasakan rasa takut dan was-was jika aib atau keadaan sebenarnya mereka terbuka.
Namun kemudian psikolog Clance, sang pencipta istilah Imposter Syndrome ini menamakannya ulang dengan istilah “pengalaman penyemu” (Impostor Experience).
Dalam kutipan kata-kata Clance, "Jika saya dapat melakukannya lagi, saya akan menyebutnya sebagai pengalaman penyemu, karena hal tersebut bukanlah suatu sindrom atau suatu kompleks atau penyakit mental, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir setiap orang mengalaminya."
Penggantian kosakata ini akhirnya mengubah perspektif orang agar dapat memahami bahwa mereka pun tidak terbebas dari pengalaman tersebut. Bahwa pengalaman penyemu merupakan fenomena umum.
Menurut jurnal "The Impostor Phenomenon" International Journal of Behavioral Science halaman 73–92 yang ditulis oleh Jaruwan Sakulku (2011), 70% orang akan mengalami setidaknya satu episode fenomena penyemu ini dalam kehidupan mereka.
Jadi ini pengalaman "experience" bukan syndrom atau penyakit mental. 70% orang di dunia mengalaminya dan punya pengalaman berada di kondisi seperti saya.
Pertanyaannya, berapa lama orang berada dalam kondisi ini?
Menurut saya ada orang yang nyaman berada di posisi "dianggap hebat atas pencapaian" dan tidak mau terlalu menghiraukan fakta kalau pencapaiannya itu biasa saja atau semua orang aslinya juga bisa (mengabaikan kemampuan asli diri sendiri).
Ada orang yang sadar dan jujur kepada diri sendiri bahwa "duh, aku gabisa terus-terusan pura-pura gini. Aku tahu aslinya akutu biasa aja gak seperti yang orang lain kira. Aku capek pura-pura hebat di hadapan banyak orang."
Orang semacam ini sadar bahwa pencapaianya belum seberapa. Jika ada yg bilang, "wih kamu hebat ya" dia malah malu sendiri. Sebab apa yang dilakukannya sebetulnya biasa saja. Orang lain hanya belum mencapai titik yang sudah ia raih dan orang lain tersebut barangkali punya keinginan untuk mencapai hal yang sama.
Contohnya, orang gak bisa nyetir mobil melihat orang bisa nyetir mobil. Dia akan bilang, wah hebat kamu bisa nyetir mobil. Padahal sopir itu merasa itu biasa aja. Nyetir mobil gak sesusah yang dibayangkan kok.
Wah kamu hebat ya bisa jadi guru. Padahal kita yang jadi guru merasa tidak sesulit dan serumit kelihatannya.
Wah hebat, kamu bisa menerbangkan pesawat. Padahal setiap penumpang bisa menerbangkan pesawat jika tahu caranya dan berlatih.
Wah hebat, designmu bagus. Padahal saya hanya ambil bahan dari freepik.com dan belajar Adobe Ilstrator dari Youtube.
Wah hebat ya, laporanmu rapi dan cepat selesai. Padahal saya hanya memakai formula excel yang bertebaran di google.
Wah bagus ya tulisanmu, bisa detail dan menarik. Padahal saya hanya melakukan riset dengan membaca data peristiwa di buku-buku sejarah, menjadikannya latar waktu dan tempat dalam cerita.
Wah bagus ya puisimu, padahal saya hanya banyak membaca puisi-puisi penyair besar dan meniru gayanya.
Wah hebat ya kamu gini gitu, padahal begini begitu. Semua orang bisa! Saya bukan nabi yang punya mukjizat khusus yang bisa melakukan sesuatu yang hanya saya saja yang bisa.
Masalah yang dihadapi orang yang nyaman berpura-pura adalah dia akan dihantui dengan perasaan was-was jika orang lain tahu bahwa dirinya biasa saja atau tahu rahasia yang disembunyikannya. Ia takut kalau sisi asli yang gak sesuai dengan penilaian orang lain itu terungkap. Pekerjaan yang dilakukan tidak serumit kelihatannya. Pencapaian yang didapatnya sebenarnya karena kebetulan atau orang lain aslinya juga bisa berada di posisinya.
Dulu waktu sekolah sampai awal kuliah saya senang dan bangga jika dianggap unggul/menonjol. Makin lama saya capek pura-pura bahwa saya gak sehebat yang mereka pikir. Saya capek membangun persona hebat dan hidup dalam rasa was-was kalau orang lain tahu bahwa kemampuan saya biasa saja. Bahkan semakin ke sini semakin gak nyaman dengan pujian dari orang lain.
Masalah orang yang sadar dan ingin keluar dari kepura-puraan seperti saya ini merasa tidak percaya dengan kemampuan diri sendiri karena sadar bahwa kemampuan saya aslinya tidak hebat-hebat amat. Sadar bahwa jauh di dalam diri tidak sesuai dengan penilaian orang lain.
Bahwa saya kurang kompeten di bidang mengajar bahasa inggris meskipun anggapan orang saya ahli karena sarjana keguruan bahasa inggris. Saya kadang tidak percaya diri dengan kemampuan saya karena saya sadar saya belum menguasainya.
Tapi barangkali itulah definisi jujur pada diri sendiri. Yaitu sadar dan berani membaca keadaan diri yang sebenarnya. Menurut saya itu lebih layak dijalani daripada hidup dalam kepura-puraan dan dalam rasa takut.
Jujur pada diri sendiri ternyata lebih menyehatkan mental. Bisa membuat lebih rendah hati juga, bahwa jika tidak kompeten di bidang A maka saya mesti jujur. Bahwa meski dianggap hebat saya bisa tetap rendah hati karena sadar diri bahwa aslinya saya tidak sehebat yang orang lain prasangkakan. Bahwa yang saya lakukan hanya prosedural, pelatihan yang bisa diajarkan dan dikuasai oleh semua orang, tidak hanya saya.
Untuk menghadapi rasa malu saat orang lain kagum pada saya, "Wah hebat kamu ya sudah wisuda, wah hebat kamu ya sudah menerbitkan buku dll" saya dengan percaya diri akan menjawab "ah gak juga. Saya ndak sehebat itu. Semua orang bisa kok seperti saya."
Setelah itu, saya baru merenung. Ya, saya memang tidak sehebat yang mereka kira. Kemampuan saya biasa saja kok. Saya akan jujur pada orang lain sekaligus pada diri sendiri karena kenyataannya memang begitu.
Barangkali pengalaman penyemu ini adalah kesempatan saya untuk lebih dewasa dan rendah hati. Bahwa profesi apa pun tak bisa disombongkan, bahwa pencapaian apa pun tak bisa ditinggi-rendahkan. Bahwa banyak pekerjaan yang bisa dilatihkan dan semua orang bisa.
Saya tidak perlu menyembunyikan "proses mudah yang nampak wah" untuk mendapatkan pujian atau penilaian orang. Saya tidak perlu takut dan was-was. selama saya jujur pada diri sendiri, tidak menghebatkan diri dan tidak mendewakan karya yang saya hasilkan.
Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafidzahullah pernah bilang, "Orang berakal tidak akan memperhatikan pujian dan sanjungan manusia kepadanya karena ia lebih mengetahui kekurangan dirinya sendiri dibanding dengan mereka."
Menurut saya, mengambil penilaian orang lain dalam porsi besar dan menjadikan itu sebagai patokan pencapaian dan kemampuan diri adalah kesalahan. Apa yang orang lain nilai dari saya barangkali adalah persona saya, bukan apa yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya hanya saya yang tahu, dan itu jauh lebih penting.
Seharusnya saya yang lebih mengenali diri saya bukan orang lain.
Mengeliminasi penilaian diri (karena nilainya rendah) lalu memakai penilaian orang lain (karena nilainya tinggi) adalah bentuk membohongi diri sendiri. Orang yang paling saya percayai seharusnya adalah diri saya sendiri, bagaimana jika diri saya sendiri saja saya tipu. Siapa lagi yang saya punya.
Saya membayangkan satu waktu, ketika saya sendirian. Yang saya punya hanya saya sendiri. Saya menjalani hidup dengan kaki dan tangan sendiri, kemampuan diri sendiri. Saya berdiri di dalam aula besar dunia asing yang hiruk pikuk. Sebuah negara asing dan semua orang tidak mengenali saya. Yang bisa saya andalkan hanya kemampuan yang saya punya, bukan "Katanya kamu hebat ini itu, katanya kamu sarjana ini itu, katanya kamu dulu pernah ini itu ya?" Tidak ada yang kenal dengan saya. Saya sendirian di negara tersebut.
Pada akhirnya, penilaian orang lain tidak penting lagi. Jika saya mengikuti penilaian orang, saya akan hidup dalam hidup mereka bukan hidup saya sendiri.
Barangkali akan ada suatu waktu ketika saya diberikan pekerjaan yang mereka anggap saya hebat dan kompeten di dalamnya, (padahal saya biasa saja), akan ada rentetan penyembunyian-penyembunyian hasil kerja yang saya lakukan, karena saya tidak sehebat yang mereka kira, dan saya sendiri akan tersiksa untuk memenuhi ekspektasi mereka.
Dalam kesempatan pengalaman penyemu ini saya akan bersikap jujur pada diri sendiri dan berkenalan lebih dalam dengan diri sendiri. Saya yang akan menentukan saya hebat atau tidak. Saya yang akan menentukan berhak diberi pujian/penghargaan (karena sudah melakukan sesuatu dengan sepenuh hati) atau tidak. Saya sendiri yang akan menilai diri saya sendiri. Saya akan memerdekakan diri saya sendiri.
Barangkali inilah kesempatan saya untuk berkenalan dengan diri saya sendiri.
Sehingga "saya" yang ada di kepala saya bukan lagi "saya" menurut orang lain, tapi "saya" yang paling dekat dan paling saya kenal kemampuan dan proses yang sudah ia lewati.