Dunia ini tempat perantauan yang penuh dengan penderitaan. Jangan pernah mau tinggal didunia. Jangan pernah mau jadi anak-anak dunia. Tidak ada kenikmatan apapun dipermukaan bumi ini kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang ada disurga Allah, kampung halaman kita yang sebenarnya. Disana kita harus membangun istana. Istana yang ada didunia ini akan kita tinggalkan. Karena kita sudah lelah hidup dinegri persinggahan ini. Kita sudah lelah hidup dinegri perantauan ini. Mau pulang…
Mau pulang..
Tidak ada cara untuk pulang. Kita wajib antri menunggu malaikat maut datang menjemput. Kita harus ikhlas menghadapi takdir Allah kapan kita akan menerima antrian itu.
Maka rajin-rajinlah sholat. Dan dalam sholat itu ingat kampung halaman kita yang sebenarnya. Rajin-rajinlah shodaqoh. Dalam shodaqoh itu ingat kampung halaman kita yang sesungguhnya. Rajin-rajinlah memperhatikan anak-anak yatim, orang-orang miskin, agar memperhatikan mereka itu ingat kampung halaman kita. Karena itu yang akan mampu mengembalikan kita pada kampung halaman kita yang sesungguhnya.
Intisari kajian ustadz Maududi lc hafidzahullah.
Pernah tidak merasakan lelah dengan begitu sangat dengan apa yang ditawarkan dunia saat ini? Pernah tidak berpikir ingin sekali istirahat dari dunia ini yang terasa begitu menyesakkan??
Dikejar deadline, dikejar laporan, dikejar pekerjaan, menghadapi beraneka ragam topeng-topeng manusia, menghadapi pertanyaan receh. Ramai, sesak, riuh, dan sangat berisik. Dan seketika itu hanya bisa berbisik, “lelah ya Allah. Sangat lelah sambil memukul-mukul dada yang terasa begitu sesak.”
Pernah tidak berpikir kapan semua ini akan selesai. Tapi ketika memikirkan hal itu, diri sendiri justru merasa takut. Perihal amalan apa yang akan dibawa untuk kelak menghadap-Nya?
Dan ketika merasa lelah, menatap wajah-wajah sendu penghuni rumah sakit adalah obat mujarab agar selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan. Sebab kita akan belajar bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang perlu diperjuangkan.
Dan ketika merasa lelah, menatap wajah-wajah riang anak-anak jalanan adalah obat mujarab agar selalu mensyukuri nikmat. Sebab kita akan belajar bahwa hidup adalah anugrah yang harusnya disyukuri setiap waktu.
Dan ketika merasa lelah, membaca Al-Qur'an adalah syifa bagi hati yang butuh untuk ditenangkan.
Dan ketika mendapati faidah dari kajian Ustadz Maududi hafidzahullah, hati kembali menyeruak. “Mau pulang, ya Allah. Dunia ini melelahkan. Lelah sekali..”
Riuh || empat puluh empat hari kepalaku penuh || 16.50