Allahuma inni as'aluka hubbak. Wa hubba man yuhibbuk. Wal-amal al-ladzi, yubalighuni hubbak
Your love, ya Allah. Just for your love, ya Allah
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
h
YOU ARE THE REASON

izzy's playlists!

No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.
Game of Thrones Daily
Stranger Things

PR's Tumblrdome
almost home

Kiana Khansmith
Sweet Seals For You, Always
$LAYYYTER
Monterey Bay Aquarium

⁂
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸
seen from United States

seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Vietnam

seen from Canada

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@arinailma
Allahuma inni as'aluka hubbak. Wa hubba man yuhibbuk. Wal-amal al-ladzi, yubalighuni hubbak
Your love, ya Allah. Just for your love, ya Allah
"Menurutmu, pengalaman apa yang seharusnya dialami setiap manusia?"
"Patah hati."
Sekonyol dan sesarkas apapun kedengarannya, beberapa pelajaran hanya bisa diajarkan oleh patah hati. Sulit untuk sepenuhnya memahami bagaimana rasanya, hingga kamu mengalaminya sendiri.
Orang-orang yang memilih ketenangan pikirannya daripada stres dalam relasi, bukannya tidak menghargai cinta. Justru lebih sering, karena apa yang telah mereka alami dan pelajaran yang mereka pelajari dari patah hati.
Kalau kamu sedang mengalami patah hati saat ini, pertama, akui rasa sakitnya.
Kedua, hargai fakta bahwa kamu telah melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda dan pengalaman itu membentuk pertumbuhanmu.
Ketiga, ambillah pelajaran penting bahwa ketika cinta menemukanmu lagi, jangan pernah kehilangan dirimu di dalamnya. Cintailah dengan dalam, tapi selalu pertahankan cukup rasa hormat diri dan kemandirian untuk pergi dari apa yang tak lagi bermanfaat bagimu.
Feel deeply, think accurately, act wisely. Character development comes with it.
Disclaimer, keknya tulisan kali ini agak iyuh dan ew
Beberapa hari kemarin, aku struggle sama pilek yang ga juga kunjung sembuh. Alhamdulillahnya, pilek kali ini ga dilanjut sama batuk yang sampai gerok-gerok kek sebelum-sebelumnya. Kalau pilek tuh, aku jadi keinget sama adekku cewe yang suka aku ledekin "udah besar kok masih ingusan" wkwk. Sampai akhirnya aku juga ngalamin lagi jadi bocil ingusan itu, berasa bokem SD yang warna jilbabnya sampai berubah karena ngelap ingusnya *ew wkwk
Semenjak SMP dan mengamalkan setiap rukun wudhu dengan baik dan benar, part istinsyaq (memasukkan & menghirup air ke hidung) jadi part yang paling aku maknai.
Pertama karena dulu ustadz dirosah pernah bilang kalau bangun tahajud itu berat karena setan-setan tuh bersemayam nyaman di tubuh kita. Mata, makanya orang kalau mau bangun pagi kek susah banget melek. Nah tapi, yang paling aku inget adalah ustadz ada bilang, lubang hidung kita tuh kek gua tempat tidurnya setan. Makanya sunnah berintinsyaq itu tujuannya buat ngusir setan dan insyaallah dari wudhu yang sempurna akan bikin kita jauh lebih seger dan lebih siap buat bangun.
Kedua, ternyata istinsyaq tuh pelan-pelan ngefek ke adatnya bocil SD yang gampang banget meler, gatau kenapa jadi hilang gitu aja. Itu juga karena ummiku notis sih, "Kok sekarang teh arin udh ga insreg-insregan?". Terus setelah kupikir-pikir aku ga minum obat apa-apa, aku makan kek biasanya, tapi mungkin emang karena wudhu ku itu aja sih. Jadi aku sangat suka beristinsyaq sampai sekarang wkwk.
Oke lanjut, berhubung kali ini aku pilek sampai yang cukup menganggu. Tentu aku masih mengamalkan istinsyaq favoritku itu. Tapi kali ini jadi lebih skeptis karena pilekku kenapa masih sihh, kan aku udah istinsyaq terus. Tambah parah karena beneran semampet itu hidung sampai anosmia yang cukup lama. Makan minum udah ga kerasa rasanya, maksudnya lebih hambar karena indera penciumanku ga berfungsi dengan baik. Sepekanan ada kali aku cuma menikmati tekstur dan asin manisnya makanan.
Akhirnya aku memustuskan untuk periksa ke dokter. Oke cukup alay, karena aku bukan tipikal orang yang dikit-dikit ke dokter buat periksa. Kalau sakit yaa yakin aja tubuh kita bisa sembuh sendirinya, minum makan tidur yang bener, tambah paling obat dari apotek. Ummi biasanya ada ngedopping pakai madu, sari kurma, herbal-herbalan sejenisnya. Alhamdulillah nya ke dokter kemarin cukup membuat lebih tenang aja gitu, seolah udah nyeklis lebih banyak ikhtiar buat ndang sembuh. Terus akhirnya aku dapet obat buat sekitar 3 harian. At least pasca ketemu dokter kekhawatiran ku ga makin jauh sampai kemana-mana karena self-diagnose ku setelah ngobrol dengan chat gpt yang tidak ada remnya wkwk.
Terus even udah minum obat, pelan-pelan emang mengurangi frekuensi hidung mampetku. Tapi tetep aja ada dan sesekali masih buang ingus tapi gaperlu yang seeffort itu sampai sakit hidungku yang kemudian menjalar sampai pusing kek sebelum-sebelumnya. Nah setelah obatku habis, alat pembersih hidung yang aku check out dari toko oren nyampe. Tentu saja kemakan testimoni orang-orang yang berhasil melegakan hidung mereka dari ingus setelah pemakaian alat itu. Padahal, kalau dipikir-pikir apa bedanya istinsyaq dengan pakai alat? Ya sbenernya tetep cukup membantu sih, cuma setelah punya kek aku kembali berpikir aja gitu wkwk.
Teknologi manusia tuh sebenernya cuma bentuk advance dari cara-cara manual yang sebenarnya udah kita lakukan. Tapi yang namanya ilmu pengetahuan kan emang manfaatnya mempermudah kehidupan ya. Jadi okelah, aku approve alat ini, toh beneran membantu melegakan hidungku juga. Tapi lucunya adalah, sebelum pakai alat ini aku udah ikhtiar yang nyoba istinsyaq pakai air anget. Dan tutorialnya pakai alat ini emang pakai air mineral anget yang dicampur sama garam. Kek yaampun kalau tau cuma dikasih garem doang kenapa ga gua amalin sendiri dari kemarin sih wkwkwk. Tapi yasudah lah, tetap stay Alhamdulillah 'ala kulli haal.
*barangkali ada yang nyari juga, ini produknya. Itung-itung nyicil lah ya kalau anakku nanti ingusan aku udah ada alatnya wkwkwk apasih rinn
Hidup manusia dengan sesama manusia lainnya tuh kayak parallel ya ga sih? Di hari yang sama, bahkan di detik yang sama, saat itu juga, secara bersamaan; ada yang Allah cabut nyawanya, ada yang Allah lahirkan ke bumi untuk pertama kalinya, ada yang Allah sandingkan ia dengan pasangan hidupnya, ada yang Allah bantu tetap bertahan hidup dibawah puing-puing bangunan hancur kotanya.
Parallel rumit, yang cuma Allah yang paham.
Kenapa yah anak S.Pd nih dipanggilnya ga "anak tarbiyah" aja wkwk. Padahal kan pendidikan bahasa arabnya tarbiyah.
The Arabic word 'love' / المحبة is derived from the triliteral root ح ب ب, which can mean seed. Ali Al-Hujwiri (d. 465 A.H.) writes: "Love is equated with a seed, because love is the basis of life, just as seeds are the basis of plants."¹
¹ Ali Al-Hujwiri. (2007). Kashf Al-Mahjūb. Cairo: Maktaba Al-Thaqāfa Al-Dīnīyya, pp. 336-337.
Love also means growth — like a seed that blooms into beautiful flowers, grows into a strong tree with deep roots, and bears beneficial fruits.
Ya Allah, di kehidupan yang cuman sekali ini, semoga aku, kamu, kita—semuanya, bisa bersama dengan orang yang kita cintai, yang mencintai kita juga dengan sepenuh dan setulusnya hati. Tentu saja, cinta yang muaranya hanya pada Maha Pemilik Cinta itu sendiri. Aamiin yaa rabb.
Istikharah, lewat sholat istikharah jawabannya tentu gaakan serta merta semudah ya atau tidak. Ga akan semudah, dia jodohku atau bukan. Ga akan semudah, bagusan A atau B. Mungkin kasus di sebagian orang bisa jadi konsep ini berlaku sih. Tapi yang aku aku pahami tentang istikharah, jauh lebih melegakan daripada itu. Aku pengen bilang melegakan tapi sebenarnya belum lega² banget sih, perjalanan dengan doa dan harapan yang senantiasa berkelindan justru jadi semakin visioner dan jauh. Jadi seolah semuanya lega, karena urusan yang jauh aja kita udah aman, insyaallah pun dengan yang dekat. (Bingung yh)
Istikharah dengan hati yang paling lapang, atau justru istikharah yang melapangkan hati sempit kita? Aku tim kedua. Bahkan punya hati yang lapang aja, kita tuh masih butuh dilapangin sama Allah. Ya, dan siapa lagi gitu yang bisa melapangkannya sedemikian lapang dan berending ridho yang indah kalau bukan hanya Allah ta'ala?
Istikharah memang meminta jawaban, tapi kita gapernah benar-benar tau jawaban seperti apa dari setiap permintaan dan keinginan-keinginan absurd kita. Istikharah bukan sekedar dipilihkan, tapi lebih pada melibatkan. Ya Allah, aku punya hajat A, B, C, aku memilih kepada mu dengan ilmu mu. Kita bilang "dengan ilmumu", tapi kadang ilmu kita yang ga seberapa itu justru menjadikan istikharah sebagai penyempit hadirnya pilihan dari Allah yang sesuai dengan ilmuNya. Ya Allah, entah apalagi yang sekarang menjadi wishlist hambamu yang rewel satu ini, tapi mohon berkahilah. Tuntun, dengan karuniaMu yang agung.
Dan part terindahnya ada di ending, "rodhinii bihi" rindhoilah aku dengannya. Jadi apapun itu pilihannya, mau itu baik atau buruk kita tetap meminta kebaikan dari semua itu. Kita tetap minta, supaya kita ridho dan Allah pun ridho. Bukannya itu yang sebenarnya kita cari selama ini, bahkan sampai nanti? Rindu dengan Allah dan pertemuan yang indah denganNya di yaumil akhir kelak?
Waallahu'alam bishowab
Akhir-akhir ini fase akhir luteal membawaku agak kalut dengan perasaan. Overwhelmed dikit, dan cukup menguras energi. Sebenernya mungkin ga berefek banyak, tapi kerasa. Kayak aku tidak menemukan diriku yang seexcited biasanya, temen-temen merasa aku juga tidak sehangat biasanya, yaa bukan salahnya fase luteal sihh. Tapi gimana yah wkwk
Itu yang sebenarnya aku takut dan resah dengan perasaan yang harus main setiap kali ada perubahan gejolak hormon. Oke mungkin kesibukan bisa sedikit mengalihkan perhatianku dari itu semua, tapi pada akhirnya semua saling berkaitan. Kupikir cuma perkara lagi kurang deket sama Allah. Tapi, aku juga udah coba buat selalu istighfar dan inget terus, ngejaga diri dari hal-hal yang sia-sia. Tapi tetep ada perasaan kosong yang undefined gitu deh.
Apa bedanya marwah ilmu zaman ini dengan zaman para ulama besar masa-masa kejayaan umat islam?
Hari ini, karena memang sebegitu mudahnya akses data, informasi dari berbagai macam platform, tentu peran guru sebagai penyampai ilmu bisa bergeser—bagi orang-orang pragmatis yang gatau apa itu ihtirom. Hari ini, fakta kalau bisnis bimbel makin berjamur—walaupun di satu sisi bener gitu membuka lapangan pekerjaan, tapi rasanya bisnis ini tuh justru menormalisasikan tentor as guru yang harus menempuh berkilo-kilo meter cuma buat nyamperin murid privatnya. Semakin jauh dan semakin tinggi jam terbang, reward yang didapet si tentor jadi makin besar.
Padahal di zaman para tabiin tabiut, zaman dinasti Abbasiyah nya Harun Ar-Rasyid. Zamannya Imam Malik sih ya, betapa Imam Malik begitu menjaga kehormatan dan independensi ilmu sampai beliau bisa menolak tegas ajakan khalifah yang minta untuk mengajar anak-anaknya di istana.
Ya ga sama sih konteksnya, tapi ini jadi titik refleksi kita bersama gitu. Kenapa justru murid yang menggampangkan gurunya, ga menghargai dan ga ihtirom, yaa banyak lah kasusnya di real-life yang sudah kita tau juga, justru jadi lebih banyak murid-murid tuh yang modelannya kek gitu daripada yang bener? Hiks. Semisal dari 10 murid, keknya yang beneran bisa kita pegangin tuh gaada nyampe setengahnya deh. Capekkk (╥﹏╥)
Tapi balik lagi sih, apakah kita selama ini yang menjadi guru sudah cukup tegas? Sudah cukup memberikan beberapa pemahaman yang membuat murid kita berpikir dan juga sama berefleksinya dengan kita? Susah sih, orang yang mau mikir dalem aja rasionya juga sepersekian sedikit dari populasi manusia. Tapi (lagi), zaman ini karena saking banyaknya jenis metode, pendekatan, strategi pembelajaran justru jadi pembias sikap yang harus guru ambil sambil mikir gimana caranya menyesuaikan sama kebutuhan dan latar belakang suatu generasi.
Yaampun, guru tuh kalau beneran guru pikirannya bisa seplenger ini gajinya masih dibawah UMR. Tega kau pak:)
Hari-hari ikhtibar selesaiii, yeyy Alhamdulillah. Walaupun sebenarnya sama aja sih wkwk. Mau gamau ya kalau ngafalin mah harus setiap hari, belum juga murojaahnya kalau tiap pertemuan dikasih soal tembakan yang mendadak mendidik. Tapi so far so well kok.
Walaupun manusia satu ini belajarnya baru malem sebelum tidur dan pagi hari begitu bangun, Alhamdulillah masih Allah nyantolin itu ilmu-ilmunya di kepala mungil saia. Yaa, ga berharap hasil yang gimana-gimana juga sih, selama udah dijalanin dengan lancar, akunya masih sehat dan bisa memahami soal, menurutku itu dah cukup. Khalass
Ya Allah kalau hambamu bekerja untuk dunia aja secapek ini, sampai jatuh bangun, sakit-sembuh berkali-kali, tolong jangan sampai amalnya berhenti di dunia aja hiks. At least, gapapa capek asal Allah ridho, gapapa sampai sakit asal amalan kita di dunia diterima sama Allah, gapapa sampai dibuat nangis juga asal Allah makin sayang sama kita.
Ya Allah:")
Kalau mau hidup yg ga capek ya cuma hidup di syurga rin:)
Pertanyaannya, udah siap mati kah?
Hari pertama ikhtibar, menghadapi ta'bir syafahi yang aswkhfjduokdndj itu—awalnya kupikir gitu. Alhamdulillah vibes belajar di pondoknya tuh masih ada gitu loh. Masih yang sok tenang tapi ketar-ketir, masih mau saling tebak-tebakan sama temen satu firqoh sebelum maju ujian, masih yang penting hapalan dulu, pahamin, oke ntar makin hapa. Dan yap, Alhamdulillah kejawab semua walaupun ngga terlalu sempurna. So far, tetep Alhamdulillah.
Masih hari pertama, masih ada 9 hari setelahnya. Tapi yang bikin hari ini kek lebih full effort adalah, dua hari kemaren aku tepar, tapi masih kuusahain ngafalin maudhu' yang banyak itu. Seharian kemarin aku sampe bolos ngelesin dengan alesan belajar, walaupun ya ga se belajar itu sih, tapi at least rasa bersalahku kalau ga belajar ta'bir tuh masih lebih besar dibanding kalau misal ntar aku di kick-off gitu dari tempat bimbel ku yang sekarang wkwk. Bercanda, ga bolos kok cuma nyari badal aja khususon buat hari senin kemarin. Hari ini udah balik jadwal bimbel kek biasanya:)
Alhamdulillah, makasih ya allah. Makasihh doanya umi abi. Makasih arina yang sudah mau bertahan dan terus berjuang mengusahakan sebaik mungkin walaupun sambil ogah-ogahan dan mager-mageran dulu. Tapi aku tau kok, dalam hatimu yang paling dalem masih tersimpan rasa excited yang ga terbatas buat memyambut hari-hari berikutnya yang Allah masih simpen buat jadi hadiah. Insyaallah, bittaufiq wannajahh sholihah *afirmasi diri:))
Sebanyak apapun orang yang udah kita temuin, masih banyakan orang yang belum pernah kita temuin. Manusia banyak banget kenapa yah wkwk. Tapi sebanyak apapun manusia di bumiNya Allah, rezeki mah tetep rezeki kan. Yap, dan terus percaya kalau Allah sebaik-baik Maha Pemberi Rezeki dan setiap kita sudah ada takarannya masing-masing
Kadang, keindahan kalimat membuat kita merasa seolah-olah kita sudah melakukannya. Kita merasa sudah sabar karena sudah menulis tentang sabar. Kita merasa sudah ikhlas karena sudah merangkai prosa tentang rida. Inilah jebakan halusinasi spiritual, saat retorika manis menjadi candu yang meninabobokan nurani dari tuntutan aksi nyata.
Kebenaran apa yang kita ucapkan tidak diuji saat kita sedang tenang menulis di rumah bersama keluarga. Ia diuji saat dunia sedang tidak berpihak, saat badan sedang luruh, dan saat orang-orang di sekitar mulai merobek kesabaran. Di sanalah kita membuktikan: Apakah kita seorang penulis yang hidup, atau sekadar penata kata yang mati?
Setiap kali kita menuliskan sesuatu yang indah, sesungguhnya kita sedang menandatangani kontrak dengan takdir untuk diuji atas kata-kata tersebut. Jika kita menulis tentang "memaafkan", maka bersiaplah, Allah akan mendatangkan seseorang yang akan menguji seberapa luas maaf kita.
Tulisan yang paling tajam bukanlah yang paling indah susunan katanya, melainkan yang paling jujur diamalkan oleh penulisnya. Jadikanlah hidupmu sebagai naskah asli, di mana setiap hurufnya ditulis dengan peluh ketaatan, bukan sekadar riasan bibir yang hampa.
Semoga tiap aksara yang kita rangkai dan tiap kata yang kita ucapkan tak sekadar menjadi gema yang manis, tetapi menjelma nyata dalam sunyi amal yang tak banyak bicara.
@clichemistry
Di zaman para perowi hadits, para ahli hadits berlomba-lomba untuk mendapatkan sanad yang sambung menyambung sampai ke zaman Rasulullah dan para sahabat. Mereka juga berlomba-lomba, siapa sih yang paling banyak menghafalkan hadits? Siapa sih yang paling banyak mencatat dari guru-gurunya terdahulu? Siapa sih yang paling bisa dipercaya dan dipegang hadits-haditsnya?
Semua itu berlangsung seumur hidup mereka yang sudah didedikasikan untuk meriwayatkan hadits. Perjuangannya berdarah-darah, jarak dari guru ke guru lainnya bukan sekedar Jogja-Solo tapi bermil-mil perjalanan melintasi gurun pasir. Belum ada mobil, belum ada motor, apalagi pesawat. Tapi kalau bukan karena kemurnian niat dan kuatnya tekad mereka, apalagi yang membuat para ahli hadits itu bertahan?
Belum lagi ditambah validasi kesahihan haditsnya, mungkin dari 10 hadits yang didapatkan hanya 5 yang shahih atau bahkan lebih sedikit lagi. Shahihnya hadits juga didasarkan pada integritas perowinya, ya kecakapannya dalam menghafal, ya tulisannya yang detail dan teliti, ya sanadnya yang tinggi, ya akhlak dan kebiasaan hidupnya.
Jujur mendengar yang terakhir aku juga kek yang amaze banget sih. Bahkan ketika perowi hadits itu ke-gap nongkrong di tongkrongan gitu ya, itu bisa jadi salah satu penyebab dhaifnya hadits-hadits yang ia keluarkan loh. Waw emejing jiddan. Kalau mau berefleksi gitu di kehidupan kita hari ini, ya mungkin aku juga atau temen-temen yang merasa punya amanah buat menyampaikan ilmu, ngebina adik-adik, bikin konten-konten kebaikan, ya intinya yang secara sengaja ataupun ga sengaja terbranding sebagai orang baik, orang bener, mas mbak, dsb, seberapa jauh sih kita dalam menjaga muru'ah kita, izzah kita?
Kita kudu sering-sering ngaca juga ga sih? Sejauh ini apakah akhlak kita, kebiasaan kita, tercermin dari apa-apa yang kita sampaikan di majelis-majelis ilmu? Apakah sungguh branding "orang bener" itu ter-representasikan dari apa-apa yang kita lakukan? Layak ga sih, orang-orang percaya sama omonganku ketika aku masih sering memutuskan pilihan-pilihan yang kurang ahsan dalam keseharian?
Ya walaupun tetap, pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya kita refleksikan beriringan dengan amal yang kita upayakan. Bukannya menutup diri dan peluang untuk "menyampaikan walau hanya satu ayat". Kita boleh berpegang sama itu, disamping kita juga belajar buat terus nyari kebenaran, kita belajar buat memantaskan diri kita sampai kita merasa pantas untuk ngomong A di depan orang banyak. Kagok ga sih kalau A yang mau kita omongin tuh sebenernya belum selesai di diri kita? Apa yang nanti akan sampai di audiens?
Dulu integritas dipandang sebegitu luhurnya oleh masyarakat. Jauh banget dari hari ini yang orang-orang (aku juga masih sih) kadang mengutip madzhab-madzhab tiktok yang gaada dasarnya. Tapi justru yang makin bikin anak muda sekarang tuh anxiety, overthinking, bahkan sampai collapse dan kena mentalnya itu banyak pengaruhnya dari apa-apa yang kita konsumsi di konten-konten sosmed brainrot itu. Gimana yah? Aku juga lagi berusaha buat mengurangi konsumsi video durasi semenitan itu dan mengalihkannya ke baca buku, ngerjain tadribat, atau bikin konten yang lebih valuable. Yaa semoga Allah jaga terus yaa, berikan taufiq kepada para Gen-Z yang lagi berjuang melawan arus ya Allah..🤲🏻
Langit seolah menyambut manusia gua yang baru saja keluar kamar seharian ini. Angin berhembus lembut menyentuh pipinya yang menghangat sejak kemarin—tidak mengaku kalau demam walaupun kepala sudah berdenyut nyeri sedari pagi. Langkahnya tetap mantap menuju motor tua yang bertengger di depan asrama, menuju pertemuan rutin di sore hari. Sambil memanaskan mesin, ia berkaca sekilas merapikan bentuk jilbab di wajah bulatnya sambil sesekali mengusap bibirnya yang dirasa terlalu pink sore itu.
Helm hitam dengan stiker bendera palestina di salah satu sisinya sudah terpasang rapi. Selain untuk fungsi keamanan helm itu juga mengunci rapi jilbab coksunya selama diterpa angin perjalanan. Mesin berdengung, gadis itu mengarahkan motornya ke arah timur kota. Sembari melaju, sembari ia mengamati perubahan yang terjadi di motor tuanya pasca servis kemarin—so far aman.
Sebelum benar-benar ke tempat yang ingin ia tuju, suara-suara kecil dalam hati memintanya untuk mampir ke sebuah cafe. Cafe yang cukup ramai di pusat kota. Letaknya strategis, di kawasan jalan raya kota yang otentik itu. Sebenarnya tujuannya jelas, bukan sekedar untuk memenuhi kafein dengan segelas atau dua gelas kopi seharga 3x makan itu. Ia mencari teh mint. Teh hangat dengan aroma mint yang mungkin memang semenenangkan itu—ya itu pertama kalinya ia meminum teh mint dengan penuh kesadaran wkwk.
Cafe ramai, pukul empat sore di akhir pekan cukup menjadi waktu yang cocok untuk berkumpul dengan teman satu tongkrongan. Cocok pula untuk menyelesaikan tanggungan pekerjaan yang masih tersisa sebelum hari Minggu.
"Greentea mint yang hot 1 ya mas"
"Mau manis? Atau pakai madu?"
"Boleh pakai madu aja ya mas."
Transaksi dilakukan dengan cepat, gadis itu menunggu namanya disebut sambil duduk di salah satu bangku kosong dekat dengan meja order. Katanya perlu menunggu hingga 20 menit, sebelum ia mati kebosanan atau fokusnya teralihkan ke orang-orang yang berlalu lalang, ia memilih untuk mengeluarkan novel. Novel yang belum selesai ia baca. Novel yang juga jadi sebab, mengapa ia mencari teh mint sore itu. Halaman per halaman ia baca, namun sesekali matanya teralihkan pada pesanan orang-orang di meja pick up. Kopi, americano, latte, butterscotch, dan lainnya.
"Arina"
Namanya disebut. Segera ia bangkit dan mengambil pesanannya. Tampak paling berbeda dari yang lainnya. Diantara banyaknya pesanan kopi dingin, satu cup gelas pesanannya adalah gelas kertas dengan teh panas. Setelah mengucapkan terimakasih dan menata bawaannya kembali, ia segera meninggalkan cafe. Sebelum menarik pintu keluar, ia menghirup dalam aroma teh mint dari lubang kecil gelasnya. Segar dan menenangkan.
"Kayak odol yah," celetuknya iseng memvalidasi sisi kampungannya yang sulit naik kelas (wkwkwk)
Motor tuanya kembali melaju, melintasi jalanan kota yang cukup padat. Dipenuhi para pasangan muda yang berlomba-lomba mencari tempat malam mingguan yang fancy. Entahlah, gadis itu terlalu malas menangkap tiap pemandangan seperti itu. Ia memilih pemandangan langit yang birunya perlahan kelam tertutupi awan mendung, dedaunan rimbun yang bergerak-gerak ditiup angin sore, burung camar yang terbang melintasi langit kota. Beberapa mobil ber-plat selain AD terlihat, sepertinya kota ini perlahan akan penuh oleh para wisatawan dari kota-kota tetangga.