Allahuma inni as'aluka hubbak. Wa hubba man yuhibbuk. Wal-amal al-ladzi, yubalighuni hubbak
Your love, ya Allah. Just for your love, ya Allah

gracie abrams
todays bird
The Stonewall Inn
Cosimo Galluzzi

Game Changer & Make Some Noise
Mike Driver
★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
official daine visual archive

No title available
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣

Kiana Khansmith

shark vs the universe

#extradirty
The Bowery Presents
No title available
RMH
No title available

seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from Russia

seen from Ukraine

seen from United States

seen from Ukraine

seen from Venezuela

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia
seen from Canada
seen from India

seen from Philippines
seen from United States
seen from United States
seen from Colombia

seen from United Kingdom
@arinailma
Allahuma inni as'aluka hubbak. Wa hubba man yuhibbuk. Wal-amal al-ladzi, yubalighuni hubbak
Your love, ya Allah. Just for your love, ya Allah
"Sejatinya menulis adalah menundukkan kesombongan. Sombong atas anggapan selalu ingat, selalu tahu, selalu paham."
Kata seorang bapak yang kutemukan di reels yang tidak kebetulan lewat, beliau bilang, "Semua orang punya suara tetapi uang lah yang menetukan volumenya,"
Baik. Mari kita ubah cara kita bersuara tanpa perlu uang. Caranya dengan menulis. Barangkali untuk beberapa orang, menulis adalah cara terbaiknya untuk didengar. Bukan karena dia penting, tapi bisa jadi yang akan disampaikan adalah hal yang penting untuk masuk telinga setiap orang.
Atau sebagian yang lain menulis adalah terapi gratis tapi ampuh. Meski hanya untuk koleksi pribadi, tapi cukup senang dengan tulisannya.
Atau bagi sebagian yang lain menulis adalah penyambung hidup. Baginya idealis dan realistis bisa beriringan. Menulis untuk menyebarkan ide sekaligus ikhtiarnya menjemput rezeki.
Tapi, bagi diri ini menulis adalah menundukkan kesombongan. Boleh jadi merasa memenuhi sekian kriteria orang cerdas, super cerdas, tapi kecerdasannya akan terhenti begitu dia mati. Ide super pintarnya itu hanya seumur tubuhnya. Dengan menulis, ia memanjangkan umurnya dengan tulisan. Menghidupkan ide-ide, ilmu, juga karya sepanjang tulisannya ada.
Kiamat Jiwa
Ter-summon Kak @yunusaziz di postingan terbarunya dan kebetulan ada bahan tulisan yang mengendap di draft, jadilah aku mencoba membantu menambahkan alternatif jawaban. Disclaimer, ini juga bukan jawaban orisinil dariku, tapi hasil sintesis dari pemikiran orang-orang.
Pertanyaan sang penanya seperti ini:
Pikiranku langsung connect ke kutipan dari akun instagram seorang coach kesadaran, (at)muhammadfahmico, yang isinya:
"Ketika kamu ingin mengalami realitas eksternal yang baru (misal dari jomblo jadi menikah, dari jobless jadi bekerja) maka hal pertama yang harus di ubah adalah realitas internalnya terlebih dahulu, berupa identitas, pemahaman, emosi, pemikiran dan keseluruhan identifikasi atas itu semua yang merupakan diri fiksi kita."
Kalau orang mau menarik rezeki, jodoh, jabatan, pekerjaan, dan pertolongan Allah lainnya, maka dia harus masuk ke state kesadaran tertentu (catat: taqwa = consciousness). Ketika diri fiksi versi lama kita runtuh, maka akan lahir diri kita dengan versi yang lebih baru, dan tentunya dengan realitas yang baru juga.
Selaras dengan penelitian yang sedang aku kerjakan, di antaranya ada ayat yang pernah aku kumpulkan mengenai hak istimewa orang yang bertakwa (orang yang berkesadaran):
Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah akan memudahkan pekerjaannya. Allah akan menghapus dosa-dosanya dan menambah pahala atas amal-amalnya. (65:2-5)
Kami (Allah dan 'aparat-Nya') mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. (92:5-7)
Allah akan memberikan furqan atau akal budi (judging ability dan kemampuan decision making) dan akan menghapus serta mengampuni dosa-dosa. (8:29)
Satu hal lainnya yang langsung terkoneksi adalah postingan lama dari akun X Kak Tika Almira yang pada intinya menjelaskan, alih-alih fokus untuk mencari jabatan, fokuslah untuk memperbesar tabungan jiwa. (logika yang sama bisa di-apply untuk konteks pekerjaan tetap, jodoh, dll.)
Kenapa nasihat ini ngena banget? Karena hari ini banyak anak muda yang fokusnya pada personal branding dan mencari rezeki semata tapi wadah rezeki atau tabungan jiwanya gak ditambah. Gurunya Kak Tika (Pak Ridwan) menggambarkan ini ke dalam bagan 3 dimensi.
Dewasa ini kita banyak melihat orang "meminta jabatan" (atau pekerjaan, atau jodoh) atau "menampilkan dirinya" lebih besar dari tabungan jiwanya sendiri. Entah emang narsistik atau over valuing dirinya sendiri, tapi intinya nggak ber-haunan (nggak memiliki self awareness yang berketuhanan).
Banyak yang sampai mati-matian mengubah aturan dan menempuh jalan yang tidak dibenarkan secara moral, agar tabungan jiwa yang minim itu dipaksakan untuk "membayar" apa yang hendak dia peroleh. Artinya sebenernya kapasitas dia belum di situ.
Padahal ya sebuah posisi pilihannya cuma dua: memuliakan atau menghinakan. Kalau tabungan jiwa kita lebih kecil dari posisi kita hari ini, biasanya "utang" itu harus dibayar di kemudian hari. Cepat atau lambat, kekurangan itu akan muncul dalam bentuk konsekuensi. Entah berupa hilangnya integritas, rusaknya karakter, runtuhnya kepercayaan, atau penderitaan yang harus ditanggung di kemudian hari (kalau kitanya nggak menyusul bertumbuh).
Lagipula, menurut Carl Jung, perkembangan eksternal yang nggak diimbangi perkembangan kesadaran bisa menimbulkan ketidakseimbangan. Kita sama-sama tau bahwa jabatan, kekayaan, atau relasi baru pasti datang dengan tuntutan psikologis baru.
Sebenarnya bisa aja rezeki-rezeki itu datang waktu kitanya belum siap. Maka aku sepakat dengan Kak @yunusaziz di postingan terbarunya tentang mempersiapkan.
Jadi kalau kapasitas jiwanya belum berkembang tapi waktu dan takdir udah keburu menghadirkannya, outcome-nya entah bakal anxiety, depresi, narsis, atau hampa. Intinya nggak balance. Diagram ini mungkin bisa membantu memetakan skill dan challenge kita ada di spektrum mana. Penjelasannya cari aja di google.
Maka ber-isti'ablah (tingkatkan kapasitas diri). Semakin matang kapasitas batinnya untuk memikul amanah, Allah akan membukakan pintu-pintu baru dalam hidup. Based on diagram ini, makin high skill-nya, maka bakal semakin mudah (dibukakan pintu kemudahan). Dan semakin skill issue, bakal semakin takut menghadapi realitas eksternal yang baru (contoh: takut menikah).
Dan latihlah diri untuk peka dengan ayat/tanda kekuasaan Allah (not in a geer way) tapi dengan cara yang membuat kita mampu melakukan refleksi, retrospeksi, introspeksi, dan prospeksi secara adil dalam pikiran. Mana tau ternyata emang ada hal-hal yang dilakukan (in present) yang justru kontraproduktif dengan tujuan yang mau dicapai.
Terakhir, aku connect juga ke postingan Abdur Arsyad (ada di highlight ig beliau) mengenai rezeki yang datang lewat jalur silaturahmi. Intinya, jalan rezeki mah banyak dan semoga dalam menempuh jalan itu, kita nggak sambil menjauhi Sang Pemilik Rezeki.
Selamat menghidupi hidup dan stay excited!
— Giza, mengoleksi permata hikmah di kehidupan orang yang udah lebih dulu hidup
Sekotak nasi ayam jepun malam ini terasa sangat mewah. Mungkin karena gratis, oleh-oleh dari pulang liqo. Atau mungkin juga karena aku memakannya sendirian di pesmi? Atau barangkali juga karena dinginnya hati yang diam-diam meleleh oleh hangatnya kebaikan Allah. Sampai-sampai air mata juga ikut meleleh, dan tiba-tiba aja jadi nangis sesenggukan. Ah, entah akumulasi dari pikiran dan perasaan apa saja ini. Kurasa hari ini tidak seberat itu dijalaninnya.
Tapi sejak sepulang sekolah, aku memang sudah bermonolog jauh dengan diriku. Perasaan-perasaan tidak puas dan perhitungan-perhitungan manusia yang jahat. Aku pikir aku tidak seberuntung orang lain, aku pikir hidup yang kujalani sudah cukup keras. Dimana hadiah yang Allah janjikan? Adakah suatu hari nanti "kejayaan" itu Allah beri dengan sangat mudah, dari arah yang tidak kusangka?
Pertengahan perjalanan pulang, aku memutuskan cukup dengan monolog ini yang semakin liar, yang semakin membuatku merasa menjadi hambaNya yang paling tidak tau bersyukur. Berganti dengan dzikir sore yang putus-putus terdistraksi oleh setiap pemandangan yang terlewati. Sepanjang perjalanan menuju tempat liqo, aku menyadari berangkat dengan pikiran dan perasaan yang belum juga bersih. Aku tau betul aku butuh mengeluarkan setiap unek-unek ini, membagikannya dan meminta sudut pandang dari yang lainnya. Tapi di sisi lain, lagi-lagi aku menolaknya. Takut memperkeruh yang sudah keruh.
Topik liqo kali ini cukup menyentilku, tentang "Syurga dan Neraka". Rasanya konsep surga dan neraka sudah tidak lagi relevan di dunia kita hari ini. Katanya hidup tidak seputih hitam itu. Orang-orang tidak lagi mudah percaya pada hal-hal yang tidak logis bagi mereka. Mudah sekali mentoleransi hal-hal kecil yang dianggap sepele. Misalnya, meninggalkan ibadah sunnah. Bagi seorang aktivis—aamiinkan saja, amalan sunnah justru menjadi tiang-tiang yang bantu mengokohkan jiwa-jiwa manusia yang mudah gersang ini. Memang meninggalkan sunnah tidak akan menjadi dosa, tapi disanalah letak ujiannya. Ujian bagaimana cara kita mengelola konsistensi kita, bagaimana kita menjaga hati senantiasa tunduk dan taat, bagaimana kita tidak mudah cepat merasa lebih baik dari yang lainnya, dan bagaimana nanti kita menerjemahkan setiap manifestasi cinta Allah yang hadir seiring dengan cinta yang juga kita tumbuhkan lewat sunnah yang kita upayakan.
Ah, surga akan seindah apa ya nanti? Atau seberapa menyeramkannya neraka kelak, kalau nauzubillah kita mampir kesana? Ini jadi satu metode kita untuk memutuskan apapun pilihan kita dalam hidup. Kembali lagi, manfaat dan mudhorotnya. Allah bahkan sudah banyak mention juga kan di Al-Quran? Tentang bagaimana surga, bagaimana neraka, bagaimana ciri-ciri calon penghuninya. Tapi masi sulit ya bagi kita untuk teguh. Yaa, berdiri sekokoh itu di atas hal-hal yang sudah seharusnya kita yakini?
Sampai disitu diskusi kita, aku tertegun sampai akhirnya usth membagikan kami sekotak nasi satu-satu. Sebagai anak kosan pemula, rasanya bahagia banget dapet oleh-oleh nasi yang bisa kujadiin makan malem. Kayaknya, selama seminggu ini, baru ini aku makan malem di pesmi wkwk. Maksudnya, yang beneran niat makan bukan cuma ngemil dan ngganjel laper. Apalagi kali ini makan malemnya gratis. Mana jepun pula, yang kalau aku makan disana pasti habisnya udah 25k an. Better dibuat uang bensin aja kan. Wkwk, yaallah itung-itungannya hambamu ini.
Begitu sampai pesmi, aku rapih-rapih dan buruan makan. Sambil nebak-nebak isi menu ayam jepunnya apa yaaa? bakar atau goreng ya? yaallah semoga ayam bakar. Yap, dan betul aja ayam bakar. Saking excitednya aku sampai numpahin kremesan ayamnya kemana-mana—yaa itu karena aku clumsy aja sih. Baru beberapa suapan pertama, tiba-tiba aku throwback lagi sama isi pikiranku pas di jalan pulang sekolah tadi. Rasanya ga pantes aja gitu, mikir kayak gitu di saat Allah bahkan selalu menjawab permintaan permintaan kecil kita, yang mungkin karena kecilnya itu kita seringkali ga sadar kalau Allah sedang mengabulkannya.
Dari sanalah, tiba-tiba air mata seolah gamau berhenti mengalir. Padahal lidahku lagi mengecap rasa enak yang udah lama ga kuicip. Tapi tetep aja wkwk, sekotak nasi ayam jepun itu seolah lagi bicara ke aku. "Hei, Allah tuh baik banget lohh. Kamu juga hambaNya Allah yang dia sayang lohh, masa gitu mikirnyaa. Ayok ayok, dibenerin lagi hatinya" Sampai nasi kotaknya habis, dan air mata belum kering juga. Yang keisi bukan cuma perut, tapi semoga juga ruang-ruang jiwa yang sangat tricky untuk selalu diisi dengan kebaikan.
🙆🏻♀️ : "Mbak gabisa kah ngajar di jam 18.00-19.00?"
Sore itu pasca mengajar les seperti biasa, sambil membereskan barang bawaan aku ngobrol bentar sama ibu branch manajer nya lembaga bimbel. Beliau salah satu sosok yang aku tuakan sih di lembaga ini, dan karena beliau juga aku jadi punya simpati yang lebih kuat ke lembaga. Di awal-awal ngetentor, nasehat-nasehat tentang barokahnya ilmu dan rezeki yang mengalir dari ngajar selalu diangkat sama beliau. Mungkin dari sana aku jadi jauh lebih tenang dan rispek. Disamping mungkin budaya mas mbak karyawannya belum cocok di aku, beliau jadi salah satu alasan aku masih memperpanjang kontrak.
Tahun pertama ngelesin, aku agak syok karena ngajar full dari bada asar sampai isya. Okelah kalau misal aku lagi haid, jam-jam itu kita trabas aja masi aman. Tapi di jam itu kita kek nyentuh 3 waktu solat nih, dan itu gaada jeda istirahat. Dulu waktu awal-awal aku idealis banget tuh, menjaga profesionalitas kerja yang pada akhirnya aku beberapa kali solat maghrib di 5 menit terakhir sblum adzan isya. Jujur, sedih banget sih. Serius dari sana aku mulai kurang nyaman.
Tapi kesini-kesini, pas aku udah mulai enjoy dan anak-anak les ku semakin kenal aku, aku jadi agak lebih mudah menempatkan diri. Kalau emang hari itu aku bisa mengawalkan sholat maghrib, aku akan izin ke muridku buat ngejeda les dan coba kuajak sholat maghrib dulu. Awal-awal tidak works dong, aku keluar kelas sendiri, sholat sendiri, 10 menit terus lanjut ngajar. Besok-besoknya, kalau aku ngajak, mereka mulai ikut. Walaupun sebenarnya ada rasa bersalah juga ya, 10 menit hak mereka buat belajar IPA jadi hangus gitu aja. Tapi yaa, kalau dari sudut pandang kita mah kan, kita belajar buat nyari berkah ya. Kok malah ninggalin sholat.
Nah terus ceritanya, di tahun ajaran baru ini, aku emang mengurangi frekuensi ngajarku di tempat bimbel. Sehari paling cuma sejam dari jam 5 sampe jam 6. Iyasih, jadinya pemasukanku berkurang, tapi jujurr ngejalaninnya jadi lebih tenang. Aku cukup ngelesin sampai nunggu adzan maghrib, selang sebentar aku tutup lesnya, lanjut pulang dari tempat bimbel kita mampir maghriban di masjid napas, buka hp, sambil nyelengin energi lagi buat ngelanjutin rutinitas kita. Ya sebenernya alasan utamanya karena emang ada jadwal di tempat lain aja sih, cuma kek timeline nya nih jadi rapi aja gitu. Tanpa harus mengusik jam sholat yang bikin ketenangan hati kita juga jadi terusik.
Jadi waktu ditanya gitu, dengan santainya aku jawab,
🐋 : "Belum bisa ibu, saya habis itu ada nyimak hafalan"
Pasca ngewar tiket nonton avatar 3 kemarin, tapi yang terjadi justru perasaanku yang ga enak karena terlalu impulsif ngikutin napsu yang padahal mah biasa aja. Emang bener kalau kesenangan dunia diikutin terus tuh endingnya yaa bakal bosen? kosong? Sampai akhirnya kita ada di kesimpulan, "kalau ga nonton ga bikin mati kan?" Tapi justru malah muncul pertanyaan kayak, "kalo nonton ini manfaat nya apa? mudhorotnya apa?" Dari sepersekian manfaat yang aku ada-adakan, tetep ada mudhorot yang sebenarnya itu haluusss banget ga kerasa. Sesimpel, munculnya pertanyaan-pertanyaan atau kekaguman yang ga pada tempatnya, yang kadang-kadang malah bikin akidah kita yang terusik. Kalau lagi eling yang kayak gini bisa tiba-tiba nyeremin sih. Tapi kalau lagi ga eling sih bablas, dan seringnya ga eling:)
Perasaan itu yang bikin aku nahan-nahan buat ga ngewar tiket nonton spiderman brand new day yang sebenarnya udah aku tungguin dari lama wkwk. Tapi mengingat sekali lagi marvel tuh jelas boikot dan itu tuh manifestasi orang sana karena mereka gapunya sosok "hero" dalam sejarah mereka. Sedangkan kita punya banyak sosok sahabat dan shahabiyah yang kisahnya jauh lebih heroik. Iya kann, tapi spiderman tom holland tuh badass bgt hikss. Pengen nontonn, tapi gabolee boikott. Berending nelen smua spoiler orang-orang yang udah nonton, sambil ikut mikirin teori ending spiderman brand new day dan mupeng happy ending buat peter parker sama MJ one day nanti pkonya.
Pukul sembilan malam, gadis itu masih dengan vario merah tuanya melintasi jalanan kampus. Matanya sayu, kurang tidur katanya, ah atau siklus tidurnya saja yang berubah kacau semenjak memasuki rutinitas tahun ajaran baru(?). Binar mata yang meredup menunjukkan lelah yang tak bisa disembunyikan. Ia kosong menatap jalanan yang berangsur angsur sepi, menyisakan pedagang asongan yang tak kunjung pulang berharap masih ada pembeli yang akan melarisi dagangannya.
Pikirannya kembali memggelayut pada sisa-sisa diskusinya dengan teman, juga seputar hal-hal yang sudah ia lakukan hari itu, dan rencananya untuk hari esok. Malam selalu jadi waktu terbaik untuk menggerogoti pikiran-pikiran yang lelah, ia tak menyerah memutar memori, asa, kepayahan, yang dicampur jadi satu menciptakan "overthinking". Sesekali bola matanya berputar tanda ia berbicara dengan dirinya sendiri, memilah dan memilih statement yang ia lontarkan dan ia terima juga dengan dirinya sendiri.
"Haaahh"
Helaan napas panjang yang kesekian selama ia di atas motor. Ya, dan sepertinya gadis itu tidak akan bosan menghela napas bahkan di setiap lampu merah atau bangjo yang membuat ia harus berhenti. Sesekali lampu merah jadi waktu terbaik untuk hanya sekedar mengecek jam di ponsel, atau sekedar membetulkan resleting jaket yang turun. Tak lama begitu lampu berganti hijau, tangan kecilnya akan cepat memasukkan kembali ponsel dan memastikan ia aman di saku jaket. Dan vario merah itu kembali melaju.
Monolognya dengan dirinya sendiri;
"Kalau capek ya semua orang juga capek. Dunia kan emang tempatnya capek. Hahh, ya Allah. SurgaMu indah kan ya?"
Sisa sepertiga perjalanan sebelum gadis itu sampai di rumah, kali ini ia menurunkan kecepatannya. Sengaja ingin melihat-lihat jalanan lebih lama, dan tak mau terus-terusan membelah angin malam yang dingin. Matanya yang minus menyipit, di sisi kiri jalan ia melihat sosok berkostum badut yang menggendong anak laki-laki di punggungnya. Mungkin itu seorang ayah dengan pekerjaan serabutannya sebagai badut keliling, dan sang anak yang menemaninya hingga larut malam. Pemandangan yang membuat sesuatu pada diri gadis itu bergetar, menyadari akan satu hal yang membuatnya sangsi pada dirinya sendiri.
Sekian kalinya ia bermonolog, menyisakan isak tangis yang tiba-tiba muncul tanpa alasan. Spekulasi kecil dan idealisme nya yang lagi-lagi dipatahkan oleh kejamnya dunia. Ia bukan hanya menangisi dirinya, tapi juga segelintir orang yang perjuangannya belum selesai dari fajar hingga larut malam. Entah bagaimana makna cukup bagi mereka. Tapi, sisi hatinya yang lain, yang menyimpan kesal, kecewa, marah berkemelut membentuk ujaran kebencian pada para pemilik modal, para pemimpin negeri, yang mungkin di waktu yang sama mereka sudah terlelap diantara gelimpangan harta. Tidur nyenyak, tanpa sedikitpun terpikirkan bagaimana kehidupan di luar gedung-gedung kaca mereka.
To be honest, semenjak full "bersekolah" di sekolah biru itu aku belum sempet menguraikan satu persatu cerita, perasaan, dan pikiranku. Yaa, ada sih sempet nulis yang akhirnya cuma mendem di draft. Tapi kayak, ini gatau saking capeknya, atau kek lama-lama aku mulai simplify the way I release my emotion, idk. Tapi kayak, at least selama aku masih bisa menghela napas panjang, ya Allah ya Allah, pelan-pelan semuanya juga gapapa kok. Bahkan even belum sempet dituang ke tulisan-tulisan reflektifku, I think the process still there. Ya tapi, kadanv sayang juga sih, kalau ide ide itu cuma seliweran doang di kepala tapi ga sempet diabadikan di laman biru tua lawas my mine gweh ini wkwk.
Yauda, gapapa. Stay midful dulu aja, sambil terus minta dikuatin sama Allah, dimudahin, dilancarin semua urusan kita yah, aamiiinnn.
Di Balik Kata
Apa yang menjadi kata, lahir dari pikiran, lahir dari hati. Ia membentuk narasi yang menunjukkan sisi lain diri kita. Seperti sebuah teko, hanya akan mengeluarkan apa yang menjadi isinya.
Seringnya, bahasa tulis, menunjukkan sisi lain seseorang. Orang yang tampak tegar di kehidupannya, mungkin akan kita baca berbeda saat menemukan tulisan-tulisannya. Orang yang nampak ramah sehari-harinya, mungkin kita akan menemukan hal berbeda di tulisannya.
Bahkan, tidak hanya sering. Kita menemukan hal yang kontradiktif, antara apa yang ia sampaikan dan apa yang menjadi kesehariannya. Begitulah. Ia hanya menunjukkan sisi lain kehidupan.
Jika kita menemukan yang demikian, tidak usah terkejut. Begitulah manusia, ada banyak sisi. Hanya saja, semakin kita kenal, semakin kita tahu hal yang selama ini tertutup tabir.
Di balik tabir itu, kita mungkin menemukan ketenangan, bisa juga menemukan keterkejutan. Menemukan hal yang membuat kita terpana, ternyata manusia bisa seperti itu.
(c)kurniawangunadi
Mengapa Akhirnya Aku Percaya bahwa Kita Perlu Menghindari Jalan Menuju Dosa.
Manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus menguji batasnya.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah soalan yang sudah sering dibahas: mengapa manusia yang mengaku beriman harus menghindari kesempatan atau celah yang memungkinkan terjadinya maksiat dan dosa sedini mungkin.
Disclaimer lagi. Ini salah satu contoh yang kebetulan tersedia di dekatku. Contoh kasus pada catatan ini bukan sedang membahas siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Bukan pula menghakimi mereka yang pernah atau bahkan masih berada di tempat-tempat seperti itu. Lebih merupakan pengingat untuk diriku sendiri—atau untuk Akku, jika suatu hari ia kembali lupa pada keterbatasannya.
Aku mengenal seorang perempuan. Sebut saja Akku. Akku mudah sekali penasaran pada hal yang menurut banyak orang, tidak perlu diberi rasa ingin tahu. Setelah sekian puluh tahun hidup, ini kesekian kalinya Akku penasaran dengan suasana bar. Akku pernah bilang, "aku pernah melihat konten tentang diskotik POV seorang Newbie. Alih-alih bergoyang di lantai dansa, dia malah lebih sibuk memungut uang uang di bawah kaki orang-orang yang sibuk berdansa. Benar begitu?"
Aku adalah manusia pertama yang mendengarnya dari Akku. Entah apa jawaban yang berhasil Akku himpun dari orang-orang berpengalaman di sekitarnya. Yang jelas, karena merasa kini sudah cukup dewasa—dengan mengajak seorang yang paling Akku percaya—pada suatu malam, Akku berhasil menembus masuk ke dalam sebuah bar di pusat kota.
Singkat cerita, tak ada uang-uang seperti konten yang pernah dia saksikan, sebab bar yang didatanginya berada di salah satu hotel bintang 5. Dan yang disadari oleh Akku kemudian adalah, ternyata untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu, tidaklah murah walau Akku tahu tak ada yang gratis di zaman ini. Ada cost ratusan ribu/pax untuk sebuah meja. Ada biaya mental sebab di dalam sana, dia harus bertarung dengan dirinya sendiri—walau menguji batas diri memang tujuan Akku datang ke tempat itu. Dan, jika lengah, bisa saja ada biaya yang jauh lebih mahal—yang harus dibayarnya dengan "hati".
Kurasa, persoalannya sejak awal bukan pada kemampuan Akku menolak godaan. Persoalannya adalah keputusan untuk sengaja membawa dirinya berdiri di hadapan godaan itu.
Meski berhasil keluar dari sana tanpa menyentuh sesuatu yang katanya seteguk sama saja dengan berbotol-botol itu, ada alasan yang sangat kuat mengapa baiknya kita memotong jalur menuju dosa atau maksiat sedini mungkin, dan bukan baru bertarung saat godaan itu benar-benar ada di depan mata.
Pertama. Manusia memiliki keterbatasan dalam menahan godaan. Jika sengaja menempatkan diri dalam situasi yang mendekati maksiat, seseorang sedang menguras energi mental untuk terus-menerus berkata "tidak". Lambat laun, pertahanannya akan runtuh. Semakin lama seseorang berada di dekat sebuah godaan, semakin akrab pula pikirannya terhadap godaan itu. Sesuatu yang semula terasa asing perlahan berubah menjadi biasa. Ini berkaitan dengan alasan yang Kedua. Jarang sekali sebuah maksiat dimulai langsung dari pelanggaran besar. Biasanya, ada langkah-langkah kecil yang tampak remeh dan seolah aman.
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an berkali-kali menggunakan diksi "jangan mendekati", bukan sekadar "jangan melakukan". Dalam larangan zina, misalnya, yang dilarang bukan hanya perbuatannya, melainkan juga jalan yang mengarah ke sana.
Prinsip ini tampaknya berlaku jauh lebih luas daripada satu jenis dosa. Banyak larangan dalam agama bukan hanya melarang akibat akhirnya, tetapi juga mengingatkan agar kita tidak berjalan menuju sebab-sebabnya.
Kenapa?
Karena dosa hampir tidak pernah datang dengan wajah yang menakutkan. Ia datang sebagai satu langkah kecil yang tampak masuk akal. Setelah langkah pertama berhasil dilewati tanpa sesuatu yang terasa buruk, langkah kedua menjadi lebih mudah. Lalu ketiga. Hingga akhirnya batas yang dulu tampak jelas berubah menjadi kabur.
Menghalangi diri di langkah pertama jauh lebih mudah dibanding mengerem di langkah kelima.
Ketiga. Melindungi ketenangan hati yang sudah dimiliki. Sekali memberi celah pada maksiat, rasa bersalah (guilt) dan kecemasan akan langsung datang merusak ketenangan tersebut. Menghindari celah dosa adalah cara terbaik untuk memagari dan melindungi nikmat kedamaian hati saat ini.
Dan tak ada yang tahu kapan seseorang melampaui batasnya. Seperti halnya tidak ada yang bangun pagi lalu memutuskan untuk tersesat. Orang-orang biasanya hanya mengambil satu langkah kecil yang terasa aman, lalu satu lagi, lalu satu lagi, hingga suatu hari saat menoleh ke belakang, barulah ia sadar, kalau ia sudah berdiri jauh dari tempat semula.
Choose your battles. Tapi mendekati pintu-pintu dosa untuk membuktikan bahwa diri cukup kuat melewatinya adalah pertempuran yang, mungkin menghasilkan sesuatu, tapi apakah sungguh-sungguh sebanding dengan tenaga dan banyak aspek yang harus dikeluarkan? Tampaknya juga terlalu melelahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bisa tidak dibuka sejak awal.
Kuharap nanti akan kau temukan ia yang pandai berselancar di atas badai-badai isi kepalamu. Paham arus ombak dan arah mata hatinya yang akan selalu tertuju ke bahteramu.
Kuharap nanti akan kau temukan ia yang tau sisi tergelap hutan hujanmu, letak hewan buas berbahaya yang sering melahap kepercayaan dirimu, letak bunga-bunga langka yang cantik dan tidak bisa dilihat kecuali oleh ia yang tahu persis dimana kau menyembunyikannya.
Kuharap nanti lembutmu tidak lagi takut-takut untuk memperlihatkan diri, sebab telah kau temukan ia yang gagah dalam mengambil peran. Melindungimu, memeluk erat ringkihmu.
Kuharap nanti kau tidak perlu berlelah untuk menyembunyikan rintik di ujung matamu, sebab telah kau temukan ia yang paham bahasa matamu, mana rintik sendu, mana rintik haru.
Kuharap nanti akan kau temukan penulis sajak-sajak ini, meskipun entah nanti ia telah usang dan layu, melebur dengan waktu.
-@ceritadear
Aku menyadari, aku kehilangan diriku dengan pikiran yang sederhana. Aku yang mudah enjoy dengan what i get in the present, and let it flow everything is gonna be alright:)
Sometimes aku mikir it was a trap, kalau kelamaan mikir bgitu. Tapi kadang juga, aku kangen sih tenangnya saat itu. Ga pengen kebanyakan cemas dan ovt-an, ga pengen mikir duit mulu, ga pengen pretending that i was totally fine di depan temen-temen. Hahh, ga harus jadi finansial freedom dlu kan ya, ya Allah, buat terus punya hati yang sederhana?
Hikmah yang menunggu untuk dipungut.
Akhir-akhir ini, aku melewati berbagai garis takdir-Nya. Ada hari-hari yang datang dengan begitu berat, ada pula hari-hari yang datang dengan banyak kemudahan. Dari semuanya aku belajar, bahwa Allah tidak akan membiarkan satu hari terlewat tanpa penawarnya.
Allah selalu punya ribuan cara untuk menguatkan hati ini yang retak karena dunia. Menunjukkan betapa rahmat dan kasih sayangnya tidak pernah putus, sekalipun saat manusia mulai lupa caranya berdoa.
Maka, semakin dewasa aku semakin memahami, bahwa tidak ada takdir Allah yang datang untuk mendzalimi hamba-Nya. Ada yang hadir sebagai ujian, ada yang datang sebagai hadiah, dan semuanya membawa hikmah yang menunggu untuk dipungut.
Tugas kita mungkin bukan selalu memahami alasan di balik setiap peristiwa. Melainkan menjaga hati agar tetap percaya bahwa apa pun yang Allah tetapkan, selalu mengandung kebaikan yang kelak akan menemukan waktunya untuk dimengerti.
You know what, di "ketidakpastian era" ini—dalam hal apapun, karir, jodoh, studi lanjut—sepertinya memang yang perlu kita siapkan adalah hati seluas samudera untuk apapun itu jawaban yang bakal Allah kasih buat kita. Kita boleh punya rancangan mimpi, sedetail mungkin juga boleh, tapi balik lagi, "semua yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Allah" jadi yaa gimana yaa.
Ini mungkin terdengar pesimistis yak, seolah mau kita merancang masa depan sehebat apapun, ikhtiar sengoyo apapun, endingnya yaa who knows—Allah knows. Keknya sebagai manusia, terutama muslim, yang as we know kita punya akidah, kita punya iman, mimpi kita tuh gabisa seremeh temeh pen punya 74kg emas. Yah, kenapa yah seolah sekarang surga jauh banget, luntur sama kenikmatan duniawi yang selalu tampak lebih menjamin. Hidup tuh emang harus susah ya? Biar besok di akhirat bisa dapet surga?
Yaa, padahal apasi rin susahmu? Ga sesusah dilemparin batu sama orang lain kayak Rasulullah dan para sahabat. Ga sesusah harus berlindung dari jatuhan rudal kayak saudara- saudaramu di Palestina. Ga sesusah Umar bin Khattab yang emang milih susah, disaat ada pilihan buat hidup ber-privilege as Amirul Mukminin. Tapi kenapa excusenya kita selalu banyak banget?
Ini suara hati aku atau hasil brainwash an sih:')
Yang mana yang bisa kita sebut brainwash? Nilai-nilai ridho ikhlas yang dijadiin pegangan semua yayasan kebaikan, atau cuitan dan keluh kesah orang diluar sana yang demanding nya selalu terdengar relate seolah akan senasib?
Padahal yang ngatur rejeki, takdir, juga cuma Allah.
Diktator selalu punya balasan yang setimpal
For real, dibanding picky eater aku adalah si picky ecosystem. Let me introduce my pickines. Sejak awal di kampus, dengan vibes ku yang mungkin cukup kuat dan agak beda yagesya (ih ekslusip amat lu rin) aku kek males aja gitu ada di lingkungan yang aku harus menjelaskan setiap nilai yang kupegang. Atau sekedar menyampaikan suatu hal yang konfrontatif menurutku, tapi nggak buat mereka. Yapp, call me si avoidant yang sukanya cari aman, nyaman, sentosa, menghindari konflik. Well, dalam konteks bertumbuh dan sedang mengenali diri sendiri, menyadari hal-hal kayak gini justru gaada salahnya. Semakin sadar, semakin kita bisa develop mau pilih jalan yang mana nih.
Dulu aku masuk dua lembaga, BEM sama UKMI yang literally beda banget atmosfer ekosistemnya. Ya ga perlu aku jelasin lah ya, as we know aja juga udah kelihatan. Aku ga bisa betah lama-lama di BEM, well ini bukan menjelekkan satu pihak yah. Ini rill tentang responku aja. Rasanya duduk lama-lama di tengah mereka kek bikin aku banyak kagoknya atau as simple as bahasa keseharian kita. Aku sama sekali ga masalah dengan jilbab lebarku di tengah anak-anak BEM, walaupun mungkin tetep aja sih ada moment yang secara ga sadar aku jadi mendekkin jilbab buat keliatan lebih pas di tengah mereka. Tapi tuh lebih ke ini loh, pikiran kita tu kek ga nyampe, kek gaada saru irisan yang bikin kita nyambung. Capek banget rill. Belum ditambah ketoxican kalimat anjir, anjing, dsb yang bikin kuping kita ga nyaman.
So proud buat kalian yang teguh sm prinsipnya even di lingkungan kek gini. Bahkan bisa melebur dan bikin chemistry ditengah mereka, waw, sangat impressive sih. Karena aku dah hands up duluan dan yap kaburnya ke ukmi. *Jangan ya dek ya, kalo kalian kuat ya udah lanjutin aja:v
Mungkin ada beberapa moment yang aku gabisa milih, tapi serius picky ecosystem tuh aslinya kalau mau dikecilin lagi adalah picky friendship juga wkwk (alamak susah kali kau ini rin wkwk). Kek misal tugas-tugas kelompok, PLP, KKN, walaupun aku ga yang seeffort itu buat make a friend sama mereka, tapi kek otomatis kefilter sendiri wkwk. Yaa dan sebenernya ga masalah ya, selama kita masih tawadhu, bermuamalat dengan baik sm siapapun, komunikatif juga. Tapi yaa itu, kek semuanya terjadi begitu saja wkwk.
Nah terus, my pickines ini berlanjut dong ke life after graduate yang sangat unpredictable. Tapi yah dibanding milih yang sgt unpredictable, sampai saat ini aku baru berani di kolam yang aku udah tau kedalamannya berapa. Wajar lah ya, gapapa lah ya, pelan-pelan dari pinggiran dulu. Hhwhw.
Termasuk milih lingkungan kerja. So far aku baru ngerasain tiga lembaga sih, yang sama-sama outcomenya ngajar, ngebina, ngedidik, yah seputar dunia pendidikan lah. Ofc because I am S. Pd, and I love teaching. Yaa dan dari tiga lembaga ini, ada satu yang aku kurang pengen kalau harus berkarir lebih jauh disana. Tapi gimana ya, aku aktif sih anaknya wherever whenever wkwk jadi kek mo dimanapun ga bisa kalau ga all in (alahh sok iyee). Kenapa satu lembaga ini aku kurang sreg? Yap, masalahnya masih sama kek yang aku rasain di BEM dulu. Jadi, kalau udah bergesekan dengan hal-hal yang bersifat esensial buat aku, aku gabisa.
Sebenernya ga terlalu parah sih, tapi lagi-lagi aku kurang nyaman aja. Kita tau apa yang seseorang katakan, tuliskan, what else lah yang keluar dari seseorang, itu hasil dari banyak input yang tentu beda-beda. Sometimes kita gabisa ngontrol itu ga si? Tapi kenapa justru respon mereka lebih aneh saat refleks yang keluar tuh kek kalimat-kalimat baik(?) daripada anjir anjing ato umpatan lainnya yg kosong?
Well, kalau mau cerita lebih jelas lagi, kemarin aku cuma nyeletuk nyebut "belum diamalkan" di salah satu forum diskusi. Dan apa responnya? "AAMIINN". Kek dimana letak nyambungnya? Ya mungkin aku juga salah sih ga pakai bahasa yang lebih membumi, even sebenernya itu juga udah sangat membumi at least di bumiku wkwk. Hahh, gapapa. Aku sebenernya ga mikir pusing, tapi kek memoriku cukup lama merekam dan mengulang kejadian ini di kepala. It's okeyy really, selama aku ga dirugikan apapun just okay.
Tapi ya itu, aku pengennya ga mau se-all in itu, tapi kok ya nanti dzolim sama siswa atau gajinya kek kurang berkah. Gapapa lah rin, jadiin bahan belajar aja sihh yaa sksksk.
Again, reflection in the middle of the night.
Coba deh inget-inget kapan pertama kali kita memutuskan langkah kita sendiri dengan penuh sadar? Aku kayaknya begitu lulus SD deh, dengan keinginan pengen lanjut ke SMP mana. Pas udah mau lulus SMP, giliran milih mau SMA mana, begitu seterusnya sampai lulus kuliah.
Ya dulu waktu masih sekolah, kita kayak dikasih checkpoint sama "hidup" tiap mau kenaikan jenjang pendidikan. Rasanya emang tumbuh lewat pendidikan formal tuh lebih kerasa aja gitu tumbuhnya, sistematis, rapih, measurable. Terus di tiap jenjangnya, kita tinggal fokus sama what to do nya aja sampai nanti waktu bergulir, SMP selesai 3 tahun, SMA selesai 4 tahun, kuliah juga selesai 4 tahun. Selama belum transisi jenjang, kayak kekhawatiran kita tuh gaakan sebegitu besar, kita masih tau kalau besok ya kayak hari-hari sekolah/ kuliah biasanya.
Nah giliran moment transisi jenjang nih, kita otomatis dihadapkan dengan pemutusan pilihan yang sangat amat berpengaruh buat langkah kita kedepannya. Mungkin selama masa sekolah, bad and good nya suatu pilihan masih atas pantauan dari orang tua ya. Tapi kayaknya ttp balik ke latar belakang keluarga masing-masing sih. Misal, SMA negeri atau mondok ya, sekolah A atau sekolah B yaa. Tentang resiko dan konsekuensi dari apapun pilihannya kan juga masih ditanggung ortu dulu mah.
Terus sekarang, gimana nasibnya lulusan sarjana yang pengennya banyak ini? Mana checkpoint kita hari ini bukan tentang transisi jenjang lagi kan? Maksudnya bahkan checkpoint nya tuh nyaris gaada, karena kita sendiri yang menciptakan checkpoint itu. Ya tentu saja dengan kebijakan antara keinginan dan realita yang selalu berkelindan.
You know what, kadang kalau udah sampai di pikiran-pikiran ini rasanya akan sangat mudah kalau seseorang emang punya privilege dari awal. Hahh, sebaiknya emang jangan ngelihat orang lain sih. Tentu beda orang yang baru bangun dari batu bata awalan sama yang hanya meletakkan satu persatu di atas tumpukan bata yang udah rapih lebih dulu. Yap, issokeyy gais. We born to be strong:)
Ada lagi part lucunya in this addulting era, gatau ya, tapi seolah setiap hari kita kek dihadapkan sama banyak pilihan yang sama-sama sangat berpengaruh buat kedepannya, tapi kek waktu buat mikirnya sedikit banget. Kek woy, tenangin diri lu wkwk. Serius, could I just trust to you, Ya Allah hikss. Giliran part beginiannya aja baru bilang ya Allah.
Tapi umur seginian tuh, emang udah seharusnya ga neko-neko sih. Banyakin minta taufiq sama Allah. Kalau emang setiap harinya sebegitu banyak pilihan sulit, ya berarti yang ditingkatin kualitas istikharahnya. Ajak Allah, libatin Allah dalam setiap keputusan + konsekuensinya. Yah, emang ngetik mah gampang. Yg sulit dilakuin nya:)