Meluaskan Kapasitas
Hari itu, karena agenda sebelumnya di cancel akhirnya aku datang ke acara tersebut. Pelatihan Da`i dan Da`iyah katanya. Datang saja menggunakan baju putih dan kopyah. Hanya satu yang lupa. Sepatu. Duh, hal seremeh ini selalu terlupa. Bahkan ke kantor pun aku cukup pake sendal. Sepatu aku bawa tapi aku taruh disana. Dasar kantornya yang di kelola oleh temenku sendiri.
oke, cukup bahas sepatu. Aku sedang tidak akan membahas sepatu.
Hadir di acara tersebut, karena terlambat acara pun telah di mulai. Biasa, tausiyah panjang oleh ustadz yang didatangkan dari aceh katanya. Sambil terkantuk - kantuk aku dengarkan ceramah beliau.
Singkat cerita, masuklah sesi tanya jawab. Dan ini yang membuatku mendapat pencerahan baru hari itu. Penanya adalah seorang ibu yang telah memiliki anak tapi masih kecil. Beliau berkeluh kesah tentag aktifitasnya dirumah yang mengurus anak, mengurus keluarga yang juga harus melakukan dakwah ke masyarakat seperti memberi pengajian, membangun relasi untuk meluaskan dakwah dll. Seakan - akan tugas itu sudah overload sehingga ketika dikerjakan pun terasa sulit.
Lalu dijawablah oleh sang ustadz. Jawabannya yang membuatku mendapat pencerahan. Kalimat beliau yang cadas menurutku adalah â Dakwah itu adalah kerja langit, jadi jangan di logika dengan logika dunia. Harus menggunakan logika langit juga.â Lalu beliau melanjutkan bahwa ketika seseorang melakukan tugas atas titah langit, maka yang perlu dilakukan adalah mendekatkan dengan sang pemberi titah. Agar Sang Pemberi Titah berkenan âmeluaskan kapasitasâ kita. Rasa tidak mampu itu berawal karena kapasitas kita masih kecil sedang tugas didepan mata jauh lebih besar. Maka berdoalah agar Sang Pemberi Titah meluaskan kapasitas kita. Ibarat gelas yang diisi air, ketika gelas kecil, diisi air sedikit sudah langsung luber. Sedangkan ketika gelasnya besar, maka gelas itu mampu menampung lebih banyak air. Air disini bisa kita ganti dengan amanah, tanggung jawab, rizky dll. Jadi menurut beliau, ketika kita merasa tidak mampu, maka sebenarnya kapasitas kita yang masih kecil. Jadi harus diluaskan dengan Tahajjud, membaca buku, menuntut ilmu, berinteraksi dengan orang lain.
Tentu penjelasan di atas sudah tercampur dengan tafsiranku atas ucapan bliau hehe
Jadi intinya adalah meluaskan kapasitas diri kita. Semakin besar kapasitas diri kita, maka yakinlah, tidak ada amanah yang tidak sanggup diselesaikan. Simple saja, Rasulullah itu juga manusia. Pernah salah hingga ditegur langsung oleh Allah, pernah sedih, pernah cemburu, pernah tertawa. Namun Allah berkenan meluaskan kapasitas beliau sehingga beliau mampu mengemban tugas sebagai seorang Nabi. Tidak, tidak hanya nabi. Beliau bahkan menjadi seorang kepala negara, kepala keluarga, Panglima perang. Bahkan dalam sejarahnya, beliau memimpin perang sebanyak 72 kali dalam 8 tahun. Itu artinya hampir setiap bulan dalam 8 tahun, Rasulullah berperang. Tentu kita tau bahwa berperang butuh persiapan pra perang, ketika perang dan recovery pasca perang. Lalu kapan waktu beliau bekerja? berdagang? bercengkrama dengan istri dan keluarga? berinteraksi dengan masyarakat? semua ndak masuk logika!
Ternyata logika yang kita pake adalah logika dunia. Sedangkan Allah dan Rasulnya bermain dalam logika Langit. Sekali Allah meluaskan kapasitas seseorang, maka seseorang tersebut akan mampu melakukan berbagai hal yang bahkan seakan tidak masuk akal jika dipikir dengan logika manusia.
So, gaes, Luaskan kapasitasmu. Dan berdoalah kepada Allah agar Allah meluaskan kapasitasmu.
Khusnudzon, dan rubahlah mindset kita untuk bisa meluaskan kapasitas kita.















