Hai hai hai, mau refleksi perjalanan memantaskan diri yang baru berlangsung selama 3 bulan yaitu tentang luasnya kesabaran dan melepaskan ketergantungan pada manusia
Dua hal tersebut yang paling berat selama proses memantaskan diri, so here we go..
Dalam penantian ini, bukan seberapa kuat menunggu tapi seberapa luas sabar kita dan hal-hal positive apa yang dilakukan selama prosesnya.
Tahun ini, gue sampai di titik di mana;
Kalau memilih percaya pada takdir dan waktuNya, berarti sabarnya harus lebih banyak.
Akhirnya dimulai lah dengan mencari segala jenis ceramah bertemakan keikhlasan dan kesabaran. Yang paling ngena di hati tentu saja tafsir Al-Qur’an-nya Nouman Ali Khan. Mendengar beliau ceramah selalu pengen tobat.
Selain itu, dibantu dengan doa. Minta dilembutkan hatinya dan diberikan kesabaran untuk melalui fase ini. Kita akan bisa melaluinya karena Allah yang menjaga.
Memang kelihatannya tidak adil, ada yang hidupnya mulus banget, dari karirnya yang selalu lancar sampai mudahnya mendapatkan jodoh. Tapi sesungguhnya Allah yang paling adil. Mereka yang dapat jodohnya cepet, mungkin Allah mengujinya ketika mereka membina rumah tangga, bukan di proses menemukan jodohnya. Mungkin Allah mendewasakan dan meluaskan sabar mereka melalui ujian di dalam pernikahan tersebut.
Mungkin Allah melihat gue atau kalian, ketika hidup dengan orang lain kesabaran kita tidak akan seluas mereka oleh karena itu kita diuji kesabarannya sebelum berumah tangga. Kita diuji dengan status single, menunggu dan bersabar untuk mengingatkan lagi bahwa Allah lah sebaik-baiknya penolong.
Contoh, dulu gue pernah mengatakan, “lebih baik susah sendiri dibanding ada orang lain.”
Karena ketika itu lagi traveling berdua aja sama temen dan ketika nyasar, gue lebih baik nyasar sendiri dibanding ada temen gue yang dikit-dikit, “duh masih jauh ya? duh panas banget. Duh pegel. Duh salah elo ni pasti.“
Contohnya lagi, dulu pertama kali tinggal di Malaysia, dalam setahun gue pindah rumah dua kali hanya karena temen serumah ngeselin. Dua kejadian itu membuat gue sekarang sadar,
nanti kalau menikah mungkin seperti itu. Belajar bersabar berdua dengan suami yang mana menjadi lebih berat. Kalau susah sendirian kan ada gue doang, kalau sudah berumah tangga nanti ada suami yang mungkin ngeselin juga kalau lagi bad mood.
Sekarang-sekarang ini ketika memantaskan diri dan semakin dekat dengan Allah, gue selalu berpikir bahwa dua tahun di KL adalah persiapan yang Allah berikan sebelum berumah tangga dalam hal mental dan emosi. Nah sekarang waktunya memantaskan diri dalam hal ketaatan pada Allah.
Kalau kita sedang dipersiapkan oleh Allah, harus yakin Dia akan mempercayakannya ketika kita berhak menerimanya. Insya Allah, Aamiin.
2. Melepas Ketergantungan Pada Manusia
Yang selalu dikatakan orang bijak tentang kegagalan dalam proses menggenap adalah "mungkin saatnya kita dekat dengan Allah, Dia cemburu kita lebih menaruh harap kepada ciptaanNya atau hal duniawi lainnya.”
Menurut gue pernyataan tersebut pas sekali dengan ceramah Ustadz Firanda Andirja yang berjudul Sebab Mencintai dan Dicintai Allah. Ada sepuluh sebab yang disebutkan beliau dan salah satunya adalah menjauhi sebab-sebab yang dapat menghalangi hatimu dari Allah.
Contoh paling nyata dalam masa pencarian adalah stop berharap ke calon, “duh mau banget banget banget diaaa jadi jodoh gue karena udah cocok.”
Ketika berharap kepada selain Allah, kita akan kecewa. Perasaan kecewa yang akan membawa pada amarah dan hilangnya kepercayaan pada rencanaNya.
Kegagalan perihal menemukan jodoh ini beda dari kegagalan lainnya. Contoh, ketika gagal wawancara kerja, yang dilakukan selanjutnya hanyalah evaluasi dari pengalaman sebelumnya dan banyak-banyak doa. Gak akan ada orang yang nyuruh lo, “makanya cintai Allah terlebih dahulu, baru mencintai ciptaannya.” Ya kan?
Apa yang gue rasakan setelah berhenti berharap pada manusia?
Suatu ketika, ada seorang temen nyuruh download dating apps lagi. Rasanya? Hambar. Dulu semangat ya kan kalau ada match trus chat, sekarang “hadeuuhh paan si lo ah.” langsung Uninstall apps-nya.
Pernah diceritain di sini dan sini ketika temen mau mengenalkan gue kepada dua orang cowok, ada aja kendalanya ketika mau ketemu. Selain itu, ada juga yang nge-chat tapi gak gue bales sama sekali karena mati rasa aja gitu.
Selama proses memantaskan diri, ketika ada laki-laki yang datang dengan niat “ingin deket dan jalanin aja dulu”, gue anggap mereka sebagai ujian dari Allah. Seberani itu gue menolak padahal usia juga udah 28. Karena perasaan gue udah beda, lebih datar aja sekarang.
Salah satu janji Allah ketika kita menjagaNya adalah Allah akan memberikan penjagaan dan bimbingan kepada kita.
Pernah diceritain di sini. Gue nonton video tentang penjelasan istikharah dari 5 ustadz berbeda. Pun di atas dijabarkan tentang mencari arti kesabaran yang sesungguhnya dari berbagai sumber.
Dulu, gue gak pernah melakukan effort yang sebesar itu untuk lebih dekat denganNya. Usaha terbesar malah dilakukan dalam mencari calonnya; dating apps, dari temen, saudara atau ortu.
Lalu hal-hal tersebut mengingatkan gue akan perkataan Ustadz Adi Hidayat,
ketika tiba-tiba doa dan usaha kita lebih dari biasanya, apa yang diinginkan sudah tinggal sedikit lagi akan kita miliki. Karena apa? Allah yang gerakkan hati kita untuk melakukan usaha dan doa lebih dari sebelumnya.
So please, kalau kalian masih biasa aja dalam memantaskan diri, yuk barengan kita keluarkan effort terbesar dan menyerahkan hasi akhir padaNya.
Mari baper berjamaah dari kutipan yang gue temukan di TikTok dan cocok banget sama keadaan hati.
Di saat kamu sedang mencari pendamping hidup, ada yang menawarkan diri ingin bersamamu dan menjadi pendampingmu. Tapi, kamu tidak bisa menerima siapa pun yang datang ke hidupmu.
Itu bukan trauma karena cinta atau mati rasa. Melainkan ada seseorang yang doanya begitu kuat menginginkanmu dan mengalahkan siapa pun yang berusaha mendekatimu.
Terusss, pas banget sama yang pernah gue tulis di sini !!!!
Bisa jadi, alasanku masih menunggu adalah dia yang ada di sana tengah mendoakanku. Iya, dia berdoa setiap malam dengan menyebutkan apa-apa yang diharapkan ada dari calon istrinya kelak. Lalu, Allah mendengar dan merasa bahwa semuanya sesuai dengan yang ada pada diriku.
Tanpa aku dan dia sadari, ketika tengah tidur, kerja dan sibuk dengan urusan masing-masing, kita sedang didekatkan. Lalu, dipertemukan dengan banyaknya kebetulan. Berlanjut ditepuk dengan sebuah harapan akan masa depan. Yang sejatinya, semua itu adalah bagian dari rencanaNya untuk menyatukan aku dan dia dalam mahligai suci pernikahan.
Setelah iman kita kuat, aamiin kita pasti terikat dalam akad. aamiin ya Allah.