kalau belum merasakan sampai seperti ini, bisa jadi belum ada yang dikorbankan :) seukeut pisaaan :___)
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
cherry valley forever

#extradirty

No title available
occasionally subtle
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
$LAYYYTER
Keni
we're not kids anymore.

Love Begins
trying on a metaphor
Mike Driver

if i look back, i am lost

Discoholic 🪩

Andulka
hello vonnie
No title available

祝日 / Permanent Vacation

shark vs the universe
taylor price
seen from United States
seen from Germany

seen from Portugal
seen from Indonesia
seen from Malaysia
seen from Venezuela

seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
@bambuputih
kalau belum merasakan sampai seperti ini, bisa jadi belum ada yang dikorbankan :) seukeut pisaaan :___)
Kualitas berpikir menentukan kualitas keputusan. Kualitas keputusan menentukan kualitas hidup.
Hafizh Qur'an Tapi Maksiat?
@edgarhamas
Kemarin di seminar, ada peserta yang curhat, “bang, saya punya teman hafizh Qur'an tapi sukanya ‘ngoleksi’ akhwat, gimana tuh bang?”
“Pertama, jangan cari sempurna dari muslim. Carilah dari Islam, maka kamu takkan pernah kecewa.”
Kedua, saya selalu bilang ke teman-teman, kalo lihat orang berilmu tapi maksiat, jangan sampe bilang, “yang hafizh aja kaya gitu, apalagi gue.”
Itu namanya menutup pintu kebenaran sejak dalam pikiran. Yakini bahwa, yang namanya hidayah itu, Allah yang punya.
Ketiga, saya bilang sama dia sebuah kaidah yang terkenal di antara ulama,
من ازداد علماً ولم يزدد هدى لم يزد من الله إلا بعداً
Siapa yang bertambah ilmunya tapi tak bertambah petunjuk baginya, Allah tak akan tambahkan kecuali bertambah jauh dari-Nya.
Ini adalah teguran keras. Syaikh Ahmad Mashri bilang pada saya suatu hari, “penuntut ilmu agama itu amanahnya sangat berat di hadapan Allah & di depan manusia”.
Kenapa?
“Ketika dia mengilmui, manusia akan lihat dia. Jika ia berbuat salah sekali, yang disalahkan adalah agamanya.”
Seorang hafizh Qur'an 30 juz, tidak menjamin dirinya akan jadi orang shalih. Al Qur'an memang tercopy-paste di memorinya, namun bukan berarti sudah terinstall. Itulah mengapa, teman-teman jika menemukan kasus serupa, jangan salahkan “hafalannya.” Hafalan Qur'an samasekali bukan masalahnya. Problemnya adalah “akhlaq” pribadi itu.
Maka, ini PR besar untuk penghafal Qur'an. “Menjaga hafalan bukan hanya dengan murajaah. Tapi dengan akhlak dan adab.”
Sebenarnya problem seperti ini hanyalah ulah oknum yang jumlahnya sangat-sangat sedikit. Betapa banyak penghafal Al-Qur'an yang menjadi teladan bagi umatnya. Betapa banyak penjaga ayat-ayat Allah yang hidupnya menggambarkan keindahan Al Qur'an. Kita saja yang lebih sering mencari kesalahan daripada kebaikan. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak patut dilestarikan.
Maka saya ingat perkataan sahabat saya, Ismail Shodiq, ketika diwawancarai oleh kru majalah tentang Cara Menghafal Qur'an, dia bilang, “kalau memang dari awal niatnya salah dalam menghafal, lebih baik tidak usah menghafal.”
“Tanggungjawabnya besar di hadapan Allah.”
Setelah itu Ismail bilang pada saya, “gar, ane takut ketika orang baca wawancara ini, mereka jadi takut menghafal Al-Qur'an.”
Saya jawab, “selain motivasi dalam menghafalnya, orang juga perlu rambu supaya hati-hati. Salah niat kan akibatnya besar.”
Bagi teman-teman, tetap semangat mentadabburi, membaca dan menghafal Al-Qur'an. Namun jangan pernah kita kira akan selesai semuanya dengan hafalan.
Ujung di depannya adalah; bagaimana Al Qur'an itu bisa jadi obat bagi bangsa kita. “Membumikan Al Qur'an, melangitkan manusia.”
Analogi ini sangat bagus. “Ada orang yang siang-malam menghafal resep obat dokter sampai lancar di luar kepala. Tapi resep dokter ini hanya dihafal tanpa ia beli obat yang tertulis di resep itu. Bagaimana menurutmu?”
Itulah umpama kita menghafal Qur'an, tapi lupa mengamalkannya.
Noted!
Allah memuliakan manusia dengan Islam. Orang yang berjaya di masa jahiliyahnya, akan berjaya pula di masa hijrahnya. Yang berbeda adalah warna dan aromanya. Dari warna kedurhakaan menjadi warna ketaatan. Dari aroma neraka menjadi aroma surga.
— Taufik Aulia
Curhat : Kehormatan Diri di Zona Instagram
Akhir-akhir ini saya jadi resah sendiri sama judul di atas wkwkwkwkwk. Mungkin yang baca bakal menggumam: ih whyyyyyyy so serious? Ya namanya juga Apik. Tapi saya mending serius daripada terlena dalam beragama :D
Rasanya diingatkan berkali-kali baik dari buku, quran, maupun kajian. Tentang pentingnya seorang perempuan menjaga kehormatannya, pun kehormatan suaminya, kehormatan keluarganya. Perempuan bisa punya kunci surga kalau menjaga itu. Dan bisa ekspress punya kunci ke neraka kalau sudah hilang rasa malunya, sudah hilang upaya penjagaan kehormatannya.
Apalagi di era-era seperti ini. Yang tingal post atau share bisa cepat sekali informasi/konten itu menyebar. Wussssss. Sangat visual, dan banyak orang yang justru pengen ‘terlihat’. Terlihat sebenernya nggak papa ya, asal koridornya positif. Kalau nyerempet menggadaikan kehormatan? Kita harus hati-hati :)
Fenomena beli followers juga bisa berkaitan kalau ditelaah lebih lanjut. Ada motif biar terlihat, jadi selebgram, dipuji dan dapat endorse. Ladang bisnis baru untuk cari uang. Karena hari gini tarif endorse juga lumayan XD. Fenomena beli followers untuk personal juga bisa jadi investasi buat balik modal kalo udah diendorse dan paidpromote. Plusnya, jadi hits juga. Sesuatu yang cukup penting jaman now 😄😄😄😄.
Padahal hadistnya jelas : “Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu.” (HR Ad Dailami). Kehormatan diri jauuuh lebih berharga daripada harta. Kalo bisa pake harta buat jaga diri, lakukan. Bukan sebaliknya, kehormatan diri dikurangi buat harta :D. Eh kok malah bahas itu hihi, berhubung nggak lagi menyoroti tentang itu. Skip dikit dulu :D
Menjaga kehormatan yang dimaksud yang seperti apa? Dalam Islam kita mengenal kata Iffah. Iffah disini adalah upaya penjagaan diri dari hal-hal yang tercela. Memelihara rasa malu termasuk salah satunya :)
Di negri bebas berekspresi alias sosial media, khususnya di Instagram yang sangat visual, penjagaan kehormatan nggak bisa serta merta menjadi bawaan kita darisononya. Penjagaan kehormatan perlu dipupuk dengan bijak dan selalu diupdate, diasah kembali pemahamannya.
Lucunya, instagram sekarang cenderung mentrigger penggunanya untuk makin membuka tabir kehormatan supaya makin asyik. Apalagi sejak kelahiran IGstory. Filter makin sip, makin unyu dan banyak pilihan. Makanya mungkin sering ya berseliweran di timeline stories kita; posenya sebagai muslimah nggak semestinya–yang manyun manyunlah, gaya duck face, gaya fish gape yang mulutnya agak mbuka biar menggodah, kedip-kediplah, cerita manjah, dsb dsb wkwkwkwkwk. Kadang juga upload tentang kelucuan plus keromantisan dia sama pasangan halalnya, tapi kadang salah kamar, yg terlalu romatis ikutan kesebar juga haha, malah kadang ada juga yang merendahkan suaminya, bisa yang suaminya didandani sedemikian rupa, yang diisengin, kadang juga upload aib-aib kecil (yang kadang lucu sih, tapi itu aibnya suaminya gitu. Tapi ini subjektif sekali ya. Kembali ke kebijakan privasi masing-masing. Heu.) Karena ya memang fiturnya menggoda bangettt, bisa banget bikin lucu, bikin kita cantik, bikin lebih menarik. Bikin kita juga diapresiasi temen-temen. Bikin keasyikan dapet respon komentar-komentar yang masuk.
Tentu, kalau kita bijak, gimanapun asyiknya filter-filter–kita nggak akan tergoda.
Tapi saya ini labilnya tumpeh-tumpeh…kadang masih banyak tergodanya. Kadang juga pengen euy lucu lucuan begituuu. Perlu banyak diingatkan hahaaaaa.
Jadi seringkali, saya berusaha mati-matian untuk nggak mempublish foto selfie kekinian penuh filter genit atau pose-pose lucu suami saya yang pengen saya abadikan (padahal IG story nggak abadi. Cuma 24 jam. Catatan amal kita abadi. Pft). Seberusaha itu :“”“”) Sampe kadang melobi, “mas boleh nggak aku upload ini? Lucu banget.”
Dulu saya bete, masa gini-gitu aja enggak boleh. Tapi ternyata, beban kewajiban suami gede juga ya buat mendidik dan menjaga istri. Dulu juga pernah disidang sama ayah ibu pas pasang pose melet jaman facebookan. Hahaha. Ternyataaaa kewajiban menjaga anak perempuan itu lumayan berat. Pelan-pelan saya ngerti…
Ternyata, selektif mengupload juga upaya saya beribadah. Menjaga kehormatan saya dan menjaga kehormatan suami, kehormatan keluarga. Bagi yang belum nikah ini juga upaya penjagaan diri yaaa dari laki-laki. Hehe kita kan gabisa tuh memisahkan diri secara utuh dengan laki-laki dalam bergaul, tapi kita bisa membatasinya 😄.
Selepas nikah saya jadi lebih sadar soal ini, mungkin dulu pas single belum kerasa ya. Masih pose macem-macem. Pecicilan. Suara mendayu-dayu. Foto cantik biar menarik. Tapi sekarang, saya jadi lebih hati-hati. Jadii yang belum nikah dan udah berupaya sedemikian rupa menjaga kehormatan, masyaAllaaaahhhhhhh huhu. Karena saya nggak bisa ngulang jaman gadis, jadi ikhtiarnya nanti disalurkan ke mendidik anak-anak gadis kelak. Pemahamannya dipupuk dari sekarang wkwkwk.
Jadi sekarang saya ngewanti-wanti diri saya sendiri: kalau saya malu-maluin, kalau saya nggak menjaga diri saya sendiri, suami saya, ayah saya, dan adik laki-laki saya juga kena hisab. Kami semua kena. Cuma karena postingan-postingan saya. Oh. Ya Rabb. Mahalnya harga menjaga kehormatan. Semoga, kita senantiasa dimampukan yaaaa.
Hahaaa curhatnya panjang sekalii. Semoga jadi manfaat. Kalau ada salah persepsi, bolehlah di kolom komen. Semoga bisa saling belajar :D
*Disclaimer : sekali lagi, ini subjektif sekali. Kembali ke kebijakan privasi dan standar temen-temen sendiri. Semoga tulisan ini dihitung upaya untuk mengingatkan sesama muslimah, kan kita bersaudaraaaaa :)
Salah Kaprah Tentang Mendidik
Mereka bilang, “Al-umm madrasatul ula”. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Mengapa hanya sepenggal ini saja? Mereka mengabaikan kalimat selanjutnya, “Wal-ab mudiruha..” Dan seorang ayah adalah kepala sekolahnya.
Jadi, siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab mendidik anak?
Keduanya dengan adil sesuai porsinya masing-masing.
Tentang QS Al-Insyirah Kalo kita lihat di alquran kita masing2, ayat 5 dan 6 Artinya “maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” itu diulang sampe dua kali “Inna ma'a al'usri yusran” Kalo diperhatikan ada dua kata disitu : al'usri dan yusran Sebenarnya artinya itu lebih luas drpd sekedar “bersama kesulitan ada kemudahan” Al ‘usri : kesulitan, adalah isim yg memakai aliflam (ma'rifah) yang berarti mufrad (tunggal). Maka artinya “satu kesulitan” sedangkan Yusran : kemudahan, isimnya tidak memakai aliflam, melainkan fathah tanwin di belakangnya (nakirah) yg berarti jumlahnya tidak ditentukan alias bisa banyak. Maka yusran artinya “banyaaaak kemudahan” Maka ayat tsb mengartikan jika ada satu kesulitan akan ada kemudahan yang tak terhingga menyertainya~ Pas tau tafsiran ini, baru nyadar, betapa Allah itu Maha Pemurah banget, jd terharu dan semangat lagi °\(^▿^)/°
Dari ulya (via nyovi)
Lovin this verse so much 💞 This is for everyone who is going through a tough time
Menangislah selagi air matamu masih tersisa. Menangislah penuh arti bahwa tangisanmu adalah bentuk kelemahanmu, bukan terhadap apa yang menimpamu namun terhadap kedudukanmu di hadapan Allah.
Agar setetes air matamu berarti (via arimdayu)
Di tengah gegap gempita kehidupan manusia di dunia.. Masih ada sekelompok orang-orang yang tetap bertahan memperjuangkan aqidah dan mempertahankan kehormatan Islam. Masih. Masih ada yang mau terus merangkak dan melangkah untuk membela keyakinannya. Mereka terus maju tak kenal lelah dan lesu, tak takut dicela dan dihina, mereka tetap teguh dan istiqomah. Adakah kita terlibat bersama mereka? Ataukah kita hanya jadi penonton saja? Sudahkah kita mencari sekelompok orang-orang shalih yg senantiasa berusaha untuk menegakkan kalimat Allah?
A.S. Hadie
ya Allah aku berlindung dari perjuangan keras tanpa arti :)
Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil
(Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi, hal. 109)
Bersyukurlah karena kamu masih Allah sibukkan dengan kebaikan. Artinya Allah ingin menjaga kamu selalu dalam jalurNya. Salah satu cara bersyukur adalah dengan menjalankan setiap kesibukan dengan ikhlas karena Allah dan mengharap Rahmat dan Ridho Nya. Karena setiap kesibukan adalah amanah, maka terus bersemangatlah untuk menunaikan amanahnya..
When Allah is My Lord
كيف أحزن واللهُ ربي
How can I be sad when Allah is my Lord?
Buat apa. Udah usaha semaksimal itu, kerja sekuat itu. Tapi Allah ga ridho dengan semua yang kita lakukan. Buat apa. Semuanya sia-sia. Ga ada nilainya
S A B A R Bersabarlah dalam penantian, Sebagaimana sabarnya Nabi Ibrahim Tatkala meminta pada Allah keturunan, Lalu Allah anugerahkan padanya Nabi Ismail
Bersabarlah dalam usaha, Sebagaimana sabarnya Bunda Hajar dan Nabi Ismail Tatkala ditinggal suaminya tanpa bekal, Lalu Allah kurniakan pada mereka air zamzam
Bersabarlah dalam ujian, Sebagaimana sabarnya Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim Tatkala Allah meminta nyawanya, Lalu Allah selamatkan mereka dan Allah berkahi keturunan mereka
Bersabarlah dalam dakwah, Sebagaimana sabarnya Nabi Muhammad Tatkala harus difitnah, diancam, diusir, dicaci, dilempari, disakiti, Lalu Allah muliakan namanya di langit dan di bumi
Bersabarlah dalam kelapangan, Sebagaimana sabarnya Nabi Sulaiman Tatkala Allah uji dengan kekayaan yang tak pernah diberi pada siapapun jua, Dia tak pernah merasa memiliki selain berucap “Ini hanya karunia dari Tuhanku!”
Bersabarlah dalam kesakitan, Sebagaimana sabarnya Nabi Ayyub Tatkala Allah uji dengan badan dan jiwa, harta dan keluarga, Lalu Allah tinggikan darjatnya di surga
Bersabarlah dengan cara apapun, Kerna malaikat di Syurga nanti akan mengucapkan “salam keselamatan pada kalian, tersebab kesabaran kalian” ••• (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (13: 23-24)
Allah tidak menilai besar kecilnya tugas, tapi Dia menilai dari kualitas jiwa. Jadi sekecil atau sebesar apapun tugas, kerjakan dengan ikhlas (murni) karena Allah.
Mr. Syam
Rasanya untuk bertahan saja sudah sesulit ini. Lalu bagaimana bisa melangkah maju ….. Belajarlah dari bayi yang berlatih untuk tetap bisa berdiri dan berjalan semampunya Jatuh lalu bangun lagi lalu jatuh lagi lalu bangun lagi. Perjuangan memang sesulit itu Satu hal kegagalan akan menggenapkan kesuksesanmu Bismillahi tawakkaltu ‘alallah
Terlalu asik sibuk sendiri. Sampai lupa, kalau jarum detik terus berputar. Sampai lupa kalau hal-hal baik sudah terlewatkan