Aku Untuk Ku
Dear Weni Septi Susanti,
Hai Weni, kali ini aku tidak akan menanyakan kabarmu karena aku yakin kamu pasti baik-baik saja. Aku tahu persis jika kamu adalah pribadi yang tangguh dan penuh semangat yang menggebu. Aku hanya akan bertanya bagaimana mimpi-mimpimu? Bukankah kamu memiliki satu note khusus untuk mencatatat semua mimpimu dan mencoretnya satu persatu ketika itu sudah berhasil kamu raih?
5 tahun yang lalu kamu adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi di salah satu universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Saat itu kamu dikenal dengan julukan “Anak Pemerintah” . Julukan itu kamu dapat karena kamu terkenal sebagai mahasiswa aktivis yang hidup dengan beasiswa dan program-program pemerintah yang lain seperti Pekan Kreatifitas Mahasiswa dan sejenisnya. Bahkan kamu bersama timmu berhasil menjadi penggagas Kuliah Kerja Nyata Tematik di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di kampusmu dan membuat banyak orang berdecak karena melihat usahamu dan tim “gila”mu.
Saat itu juga ada banyak laki-laki yang menyatakan mundur sebelum benar-benar bisa menakhlukan pertahanan hatimu yang terkenal sangat kokoh itu. Banyak teman yang bilang jika mereka minder dengan prestasimu dan menyarankan kamu untuk mengurangi sedikit kegiatanmu. Dengan tegas kamu menjawab, "tidak!". Bukankah harusnya laki-laki itu berjuang lebih ketika mereka benar-benar menginginkanmu bukan mundur teratur seperti itu, itulah yang terbesit dalam benakmu saat itu.
Tapi, ada satu laki-laki yang berhasil mencuri setengah dari dirimu. Dia yang tidak pernah terfikirkan olehmu sebelumnya, dia yang cukup jauh dari kriteria idealmu. Dia tampan, tinggi dan atletis tapi dia bukan aktivis. Ya, saat itu kriteria idealmu adalah aktivis kampus karena kamu selalu ingin jatuh cinta dengan pemikiran bukan dengan rupa.
Kalian begitu berbeda. Aku juga sering bertanya-tanya bagaimana bisa laki-laki itu mengambil hatimu. Itulah pertama kalinya kamu merasa jantungmu berdetak cepat bukan karena akan mempresentasikan hasil karya tulismu di depan juri tapi karena seseorang. Dan setelah kamu jatuh kepadanya, hatimu juga dia jatuhkan begitu saja hingga berkeping-keping, lantas kamu mencoba merapikan kepingannya selama bertahun-tahun. Dan itulah pertamakalinya kamu menangis bukan karena kalah lomba, tapi karena seseorang. Sampai-sampai kamu membuat akun tumblr pribadi untuk menuliskan semua isi hatimu selama 2 tahun sampai kamu benar-benar melupakannya.
Kisah cintamu memang tidak semulus cerita FTV tapi setidaknya kamu belajar banyak hal dari kisah itu. Sekarang, kamu harus bersyukur karena sudah menemukan sosok baru yang bisa menerimamu apa adanya. Sosok yang kamu temukan setelah 2 tahun lamanya berusaha menyatukan kepingan-kepingan hati yang jatuh hancur dan lebur. Sosok yang bisa kamu ajak membicarakan mimpi dan satu visi denganmu, walaupun bukan aktivis tak apa. Setidaknya lelaki itu selalu sabar dengan sifat cerobohmu yang tidak akan pernah sembuh dan kebiasaan jarang mandimu itu. Tuhan memang romantis. Dia memberikanmu cinta yang sangat.
Rasanya tidak akan pernah habis membicarakan masalah hati. Kali ini aku ingin mengucapkan selamat atas S2mu yang baru saja kamu selesaikan di salah satu kampus ternama di Indonesia. Memang bukan London, tapi aku yakin keputusan yang kamu buat adalah yang terbaik. Aku tahu persis bagaimana pejuanganmu untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Siang dan malam waktumu kamu gunakan untuk belajar bahasa inggris yang merupakan mata pelajaran kelemahanmu. Bahkan kamu rela mengikuti berbagai macam lomba dan menggunakan hadiahnya untuk membayar biaya les bahasa Inggris selama satu bulan. Namun, takdir berkata lain. Kamu harus tetap di Indonesia untuk merawat ayahmu yang sudah mulai senja. Bukankah tugas anak adalah berbakti ? Itulah alasanmu mengundurkan diri dari beasiswa yang kamu dapatkan dengan susah payah saat itu. Kali ini Tuhan sedikit humoris, Dia memberikan pintu lain untukmu.
Kamu tahu jika restu orang tua adalah segalanya, apalagi ayahmu sudah lama ditinggal oleh wanita yang dicintainya. Ibumu meninggal saat kamu SD kan ? Bahkan sekarang kamu bisa melakukan banyak hal yang lebih bermanfaat disini. Sambil bekerja dan merawat ayahmu, kamu kembali menghidupkan komunitas sosial yang sempat kamu dirikan bersama timmu semasa kuliah S1 dulu dan sempat berhenti selama beberapa tahun karena kesibukan masing-masing.
Memang terkadang kenyataan tak seindah mimpi tapi kamu yakin akan ada banyak jalan menuju mimpimu sebagai salah satu pengambil keputusan di Bank Indonesia, melalui restu orang tuamu semua akan baik-baik saja. Ridho orang tua adalah ridho Tuhan, itu yang selalu tertancap dalam benakmu. Kamu tetap kuat dan tangguh hingga saat ini, kamu tetap hangat dengan nyalamu. Dan satu lagi, entah senyumu tidak pernah pudar.
Kamu pasti heran bagaimana bisa aku begitu mengenalmu sampai detail hidupmu. Ya, kamu adalah aku di 5 tahun kedepan.

















