Pekan depan peringatan 40 hari kematian Bapak. Keluarga kami mempercayai sebelum hari itu, jiwa Bapak masih ada di dunia, meski jasadnya sudah masuk liang lahat. Kematian belakangan menjadi begitu nyata buat saya. Memang sudah banyak sanak keluarga yang meninggal sebelum Bapak, mulai dari Kakek, Nenek, Uwak, Mbah. Namun, baru kematian Bapak yang membuat saya sesak.
Sepekan, dua pekan, hingga sebulan kematian Bapak, saya merasa dia masih hidup. Selama ini, kami memang tidak tinggal satu rumah, sebab Bapak dan Ibu sudah lama berpisah. Ketiadaan Bapak di rumah menjadi sesuatu yang biasa saja. Tapi, di luar rumah, Bapak buat saya sudah seperti kawan nongkrong, teman diskusi, dan orang yang paling bisa diandalkan--selain Ibu--kalau saya ada masalah.
Bapak terkadang memang kawan ngobrol yang asik, walau belakangan juga menjemukan dan kadang menjengkelkan. Kami punya banyak kesamaan selera, khususnya dalam hal musik dan gaya hidup. Dalam hal politik, kadang kami satu suara, kadang pula tidak. Tapi, kami sepakat pemimpin saat ini kurang keren.
Sebagai orang tua, Bapak dan Ibu selalu menempatkan diri menjadi kawan untuk saya dan Adik. Meski tak jarang pula mereka menempatkan diri sebagai orang tua yang memanifestasikan keinginannya pada anak-anaknya. Tapi saya akui mereka bisa menjadi sangat demokratis. Salah satu kehendak Bapak yang akhirnya saya turuti adalah berkuliah di jurusan teknik. Itu saya selalu klaim sebagai kehendak Bapak, bukan saya. Namun, untuk profesi selepas lulus, saya tidak mau menurut dengan Bapak, saya pilih menjadi jurnalis. Bapak sempat menentangnya.
Di samping soal pendidikan, Bapak cukup sering menemani saya di luar rumah dan sekolah. Misalnya saat saya menggeluti Pramuka, dia adalah salah satu yang paling mendukung. Begitu pula saat saya sering nonton Persib di stadion, dia juga sering ikut nonton. Padahal, saya tahu Bapak sebelumnya jarang sekali nonton bola. Ibu juga akhirnya begitu. Tapi kalau Ibu, dia lebih memilih mengajak saya dan adik nonton bola di kafe, ketimbang di stadion.
Selain nonton bola, kami juga sering nonton film di bioskop. Banyak film-film box office kami libas bersama, sebelum eranya Netflix. Sebelum saya hijrah ke Jakarta, sebuah klab jazz juga sering jadi tempat kami nongkrong dan ngopi. Setiap ngopi itu kami sering berdiskusi soal banyak hal, termasuk soal musik. Di klab itu, Bapak paling suka nonton musisi bergenre jazz fussion, blues, serta musisi cover The Beatles.
Setiap mendengar musik, kata Bapak, dia selalu merasa lebih muda dari usianya. Dia teringat dengan masa-masa kuliah. Lalu, kisah yang hampir selalu sama pun mengalir kembali. Dia bercerita soal demam Phill Collins dan tren musik di klab-klab Bandung. Bapak selalu tahu musik-musik yang keren dan enak di telinga. Dari Bapak juga, saya kenal musisi-musisi lawas Indonesia seperti The Favourite Group, D'Lloyd, Broery Marantika, dan tentunya Koes Plus.
Untuk musik luar negeri, spektrum musisi Bapak cukup luas. Hampir tiap pekan dia mampir ke toko musik bootleg di Bandung. Kata dia, meskipun bootleg, kualitasnya bagus bagus (ha... ha... ha...). Dari Bapak juga, saya akhirnya mendengar John Mayer, dulu. Kala itu, kalau tak salah pada era SMP, kawan-kawan sekolah saya sedang demam musik Emo versus Rock N Roll. Sementara, saya baru berkenalan dengan band-band Visual Kei Jepang. Prinsip Bapak yang cukup melekat di diri saya adalah menjadi orang hemat, tapi tetap jajan musik dan buku. Apa enaknya hidup tanpa musik, kata dia.
Selain musik, impian Bapak adalah berpetualang. Saya ingat dia beberapa kali bilang ingin beli motor untuk dipakai perjalanan ke Bali setelah pensiun. Impian ini tidak tercapai. Apa mau dikata, selepas pensiun Agustus tahun lalu, pandemi melanda. Bapak kemudian jatuh sakit dan meninggal tepat sebulan lalu, November 2020. Tapi, jauh sebelum itu, kalau tak salah 2010 silam, kami sempat melakukan perjalanan cukup jauh, berdua mengendarai mobil Taft kami.
Kala itu, Bapak tiba-tiba mengajak saya pulang kampung ke Pandeglang, Banten. Namun, kali itu, kami memutuskan tidak lewat jalur yang biasa kami tempuh. Kami memutuskan berjalan lewat jalur Sukabumi, mampir ke Ujung Kulon, untuk selanjutnya ke Pandeglang dan pulang. Kami sempat menginap di antah berantah, yang saya juga sudah lupa nama wilayahnya. Namun, saya ingat kala itu warga berkumpul di depan penginapan kami untuk menonton pertandingan bola Piala Dunia 2010 di layar tancap.
Setelah itu, kami juga sempat melakukan perjalanan ke selatan Bandung, sampai menembus ke Ranca Buaya, Garut; dan terus ke Pangandaran. Dari sana, kami menginap sehari dan kembali melalui jalur Pangalengan. Bapak sangat suka petualangan. Meski, pada perjalanan kali itu, tubuhnya sudah mudah sakit. Sepulangnya dari perjalanan itu, Bapak langsung sakit, kalau tak salah masuk angin. Rasanya itu terakhir kalinya kami melakukan perjalanan jauh bersama. Mengingat-ingat masa itu, rasanya saya kangen sekali.
Waktu yang saya habiskan bersama Bapak lama kelamaan terus berkurang. Terutama saat saya akhirnya memutuskan bekerja di Jakarta, 2017 lalu. Apalagi, saya bukan orang yang sering menelpon. Hanya sesekali saja saya telepon ke Bandung. Saya tahu sekali Bapak mulai kehilangan teman di Bandung. Meski begitu, setiap saya pulang, kami sering santap malam bersama sembari bertukar cerita. Warung Sop Kaki Sapi di Soekarno-Hatta dan Banceuy kerap jadi pilihan kami bersantap.
Saya selalu membayangkan apa yang akan terjadi kalau Bapak meninggal. Sebab, Bapak selalu bilang ke saya, ia berharap tidak diberi umur yang terlalu panjang. Setidaknya, ia ingin lihat saya dan adik saya selesai kuliah dan dia menyelesaikan masa baktinya sebagai PNS. Saya tak menyangka juga kalau doa Bapak benar-benar dikabulkan. Selepas saya di Jakarta, Bapak mulai lebih dekat dengan Adik. Hubungan Bapak dengan Adik memang tak begitu dekat. Semenjak Ibu dan Bapak bercerai, Adik saya memang lebih dekat dengan Ibu.
Ketika Pandemi menerjang awal tahun 2020, praktis saya sama sekali tidak bisa pulang ke Bandung. Apalagi, di awal Maret, saya juga masuk rumah sakit. Kala itu pula Bapak dikabarkan sakit di Bandung. Untungnya Adik saya. Dia sangat bisa diandalkan. Saya tahu itu. Bapak juga masuk rumah sakit di bulan Maret itu. Sekeluarnya dari rumah sakit, Bapak diajak tinggal dengan adiknya, tante saya, di Bekasi. Kondisi Bapak ternyata tidak begitu membaik di sana. Pertengahan tahun, Bapak pulang lagi ke Bandung. Berat badannya turun drastis, hampir 30 kilogram rasanya.
Saya akhirnya bisa pulang ke Bandung lagi menjelang Idul Adha. Kala itu, saya akhirnya bertemu lagi dengan Bapak, yang kini menjadi sangat kurus. Dia minta saya antar beli pakaian, karena pakaian yang dia punya sudah kebesaran. Kami belanja, dan kemudian, kami bersantap di warung sop langganan kami. Semenjak sakit, atau setidaknya setahun terakhir, Bapak menceritakan ketakutannya akan kematian. Padahal, sebelumnya Bapak selalu menantang kematian. Dia merasa bekalnya belum cukup. Kami lalu membicarakan banyak hal soal hidup.
Bapak yang awalnya sempat menentang profesi saya sebagai seorang jurnalis, belakangan melunak. Saya dan Bapak selalu sepakat soal prinsip anti-korupsi. Buat saya, ini lah jalannya saya bisa hidup sesuai prinsip itu. Bapak setuju. Bapak hanya khawatir saya tidak bisa hidup layak dari gaji seorang wartawan. Saya selalu bilang rezeki sudah diatur, tidak akan tertukar. Bapak di setiap perbincangan selalu berpesan: hidup sederhana dan jadi orang baik. Kami bersepakat soal itu.
Setelah pertemuan kami kembali di Bandung, saya lalu banyak menghabiskan waktu kembali di Jakarta. Begitu pula Adik dan Ibu. Adik hanya sering mengirim makanan untuk Bapak. Hingga, suatu saat, saya dapat kabar dari sepupu bahwa tubuh Bapak sangat kuning. Mereka berjumpa di pemakaman Uwak--Kakak Bapak. Ia khawatir Bapak sakit hepatitis atau sirosis, yang sebelumnya menyebabkan meninggalnya Kakak Bapak yang pertama, November 2019.
Singkat cerita, Bapak masuk rumah sakit lagi. Saya akhirnya memutuskan kembali ke Bandung, untuk sesekali menemani Bapak di rumah sakit, bergantian dengan Adik yang setiap hari menjaga Bapak. Hampir dua pekan di rumah sakit, penyebab kulit kuning Bapak tak kunjung diketahui. Setelah MRI, baru diketahui Bapak terkena kanker pankreas. Masa hidup Bapak divonis tidak lagi lama. Meski demikian, hingga meninggal, dia tidak tahu soal penyakit itu. Saya, Adik, dan Ibu, sepakat tidak bilang, untuk menjaga semangat hidup Bapak.
Sekeluarnya dari rumah sakit, kami memutuskan untuk menyewa kos untuk Bapak dekat rumah kami. Semenjak itu, kami terus memantau perkembangan kesehatan Bapak. Setelah beberapa kali bolak balik ke dokter, Bapak dirujuk untuk masuk ke meja operasi. Bapak setuju. Entah kenapa, kali itu saya merasa Bapak tidak akan kembali lagi ke kamar itu dari rumah sakit. Hari-hari saya menjadi melankolis kala itu.
Selepas dioperasi, kondisi Bapak sempat tampak membaik. Namun kemudian, lama kelamaan kondisinya melemah lagi. Banyak hal yang masih dipikirkan Bapak kala itu. Perbincangan saya dengan Bapak, atau Adik dengan Bapak selalu berujung perdebatan. Dua hari sebelum meninggal, Bapak dan saya berbincang soal ini itu. Namun, kala itu, saya merasa kesadaran bapak mulai menurun, dia banyak meracau. Tiba-tiba saja, dia minta saya membantunya gosok gigi dan sisiran.
Malam hari, kami sepakat tidak menjaga Bapak di rumah sakit. Karena biasanya Bapak akan baik-baik saja di malam hari. Namun kami salah. Pagi-pagi, Adik saya ditelpon Bapak. Katanya dia mau pulang. Dia bilang infus dan alat-alat akan dicabut. Adik saya bilang perbincangan pagi itu aneh, dia pun langsung ke rumah sakit. Di sana, ternyata situasi kacau. Bapak katanya mengamuk pada dinihari. Selang-selang infus dicabut dan kondisi kamar berantakan. Saya tidak bisa menggambarkannya secara akurat karena tidak lihat langsung.
Sore harinya, saya ke sana. Kesadaran Bapak sudah benar-benar berkurang dan hilang timbul. Dia tak tidak mengenali lingkungan. Namun sesekali dia bicara cukup gamblang. Kepada saya, yang saya ingat, dia berpesan agar saya mencari pekerjaan yang tidak menghabiskan waktu, entah kenapa. Kalimat yang juga saya ingat adalah: "Caesar Akbar, aku minta maaf, terima kasih banyak." Mata saya berkaca-kaca kala itu. Saya semakin yakin waktu Bapak tidak lama lagi. Bapak sempat bilang juga, "Aku bahagia."
Jumat sore, 13 November 2020, kondisi Bapak terus memburuk. Cairan dan darah keluar dari lambungnya lewat selang. Saya tinggalkan Bapak sejenak untuk salat Ashar. Sekembalinya dari salat, Bapak sudah tidak ada. Bapak meninggal. Itu adalah pertama kalinya saya menangis kembali, entah kapan terakhir kali saya menangis. Sedih tentunya, tapi ini semua sesuai dengan keinginan Bapak. Saya tahu ini yang terbaik. Sesuai permintaanya, Bapak dikuburkan di kampungnya, Pandeglang.
Melihat Bapak terbujur kaku, kematian ternyata begitu nyata. Waktu begitu nyata. Saya lantas ingat sebait lagu John Mayer, "John, honestly we'll never stop this train". Ya, waktu ibarat kereta yang tidak akan pernah berhenti. Kematian adalah fase selanjutnya dari kehidupan. Selamat jalan Bapak.
Bandung, 13 Desember 2020