Prinsip-prinsip Ngatur Keuangan
Karena di rumah tangga gw bertugas sebagai YANG HABISIN DUIT menteri keuangan, maka sejak beberapa bulan ini gw belajar dikit-dikit soal financial planning keluarga. Gak terlalu ribet sih kalo se-mikro keluarga biasa mah. Jadi ribet kalo duitnya sebanyak Bakrie atau sebaliknya, gak ada duit yang dikelola. Pfft. Ada beberapa prinsip yang coba gw terapkan dalam pengelolaan finansial dalam rumah tangga.
Hal ke nol, catat semua pemasukan dan pengeluaran harian, sekecil apapun itu. Jangan males, terutama perempuan hey!!
Hal pertama adalah perlu adanya dana darurat, terutama bagi rumah tangga gw mengingat risiko finansial pekerjaan cukup tinggi. Sama lah kayak orang berdagang, bisa untung banyak, eh bisa juga jatuh bangkrut seketika. Karena itu, habit ngumpulin dana darurat itu super penting. Berapa? Untuk yang sudah punya anak, setidaknya 12 kalinya pengeluaran sebulan. Dan uang ini ga boleh diganggu gugat kecuali untuk urusan darurat, misalnya sakit atau untuk menyambung hidup ketika tiba-tiba kehilangan pendapatan.
Wah banyak banget? Nah nyambung ke hal penting kedua, yaitu salah satu core dari financial literacy adalah mindset dan pola pikir soal uangnya, bukan selalu soal jumlahnya. Gapapa dana darurat nyicil, misalnya tiap bulan cuma bisa nyisihin 50.000, that’s okay. Yang penting itu habit ngumpulinnya itu loh, itu yang jarang dipunya orang. Termasuk dalam habit nabung, ternyata itu penting banget. Gak masalah kita nabung atau investasi 10.000 setiap bulan kalau memang mampunya itu, tapi kita rutin melakukannya.
Hal ketiga, copaste dari status FB senior, Bang Gesa Falugon, dia juga dapat dari sebuah seminar, katanya ‘hiduplah di bawah garis kemampuan’. Betul bahwa dalam agama Islampun, kita boleh menikmati harta. Rasul punya kendaraan terbaik, pakaian perang terbaik, akan tetapi hal-hal mahal dan terbaik itu memang pada tempatnya. Misalnya, perlu gak sih kita beli daster seharga 500 ribu? Perlu ga sih kita jajan Oreo seharga 500 ribu? Kan gak mesti. Tapi kita boleh banget beli baju kerja yang bagus dan mahal karena pekerjaan kita bersama para desainer, misalnya. Atau kita boleh beli laptop yang mahal karena yang kita butuhkan spesifikasinya tuh itu. Tapi jangan sampai kita hidup melebihi kemampuan.
Hal keempat, tidak bermudah-mudah dalam berhutang dan kredit. Mungkin agak berbeda dengan cara hidup orang tua sebagian dari kita, yang kadang punya prinsip kalo gak hutang gak punya apa-apa. Kalo gak hutang, bisnis gak jalan. Berhutang tentu boleh, tapi harus dipikirkan matang-matang apakah benar memang urgent atau hanya sekedar untuk gaya hidup. Kartu kredit untuk belanja, big no deh.
Gw sendiri sama suami sepakat untuk tidak mudah kredit (Ya Allah, moga-moga istiqomah, karena memang sungguh sulit). Kalau mau beli sesuatu yang mahal, kami mencoba nabung. Misalnya dia ingin beli laptop baru, dia minta tolong gw untuk nabungin uangnya, terus kira-kira cukup untuk beli laptop incarannya berapa lama? Orang-orang juga pada ngomporin beli mobil lah, beli itu lah, kalo duit belum cukup, ambil aja pinjaman. Selow aja gw, karena sudah punya prinsip tidak bermudah-mudah dalam hutang dan kredit. Kecuali kalau memang itu penting dan urgent banget ya.
Hal kelima, budgeting planning. Karena pendapatan suami tidak sama setiap bulannya (semoga naik terus, gitu maksudnya wkwk), setiap bulan gw akan melakukan budgeting planning. Karena selalu mencatat pengeluaran, gw tahu sebulan berapa yang kami butuhkan untuk kebutuhan mendasar. Jika ada kelebihan dana, maka sudah ada kolom-kolom alokasi dana. Misalnya untuk sedekah, untuk dikasih ke ibu mertua, untuk tabungan persiapan kelahiran anak, untuk dana darurat, untuk tabungan lain, untuk hobi (astaga kadang hobi lelaki tidak murah), atau lain - lain. Banyak ya Bu? Iya, ya gak harus terpenuhi semua kalau memang pendapatannya belum cukup. Atau dialokasikan tapi sedikit-sedikit. Misalnya yaudah deh kasih ke ibu bisanya cuma 100 ribu, dana darurat 50 ribu, tabungan anak 50 ribu, sedekah 35 ribu, gitu. Pusing sih, kadang gw mumet juga. Tapi dengan menabung, gw pribadi berniat supaya tidak merepotkan orang lain di masa depan, misalnya ketika gw lahiran nanti. Makanya dalam sebulan itu sudah tahu uangnya mau dipakai untuk apa saja.
Hal keenam, jika sudah menikah sepakati bagaimana dan siapa yang mengatur keuangan keluarga. Ada rumah tangga yang mengatur keuangan tuh suami, ada yang istri, ada yang bersama. Ada juga yang sepakat harta tuh dicampur milik suami maupun istri, kalo gw sih secara sepihak memutuskan bahwa harta dipisah, dan suami tidak terlalu ambil pusing. Kalau dalam kondisi tertentu rumah tangga butuh harta pribadi gw, ya gw kontribusi, tapi tidak dicampuradukkan begitu saja. Sumpah, gw tuh seperhitungan itu orangnya, sampe nyokap gw geleng-geleng. Pantes berat badan cowok gw menurun setelah nikah, astaga.
Ada juga rumah tangga yang semua uang dipegang istri, termasuk semua ATM nya. Ini gak gw saranin sih karena lelaki butuh dana operasional dan kebutuhan pribadinya juga, kecuali kalo suaminya udah terbukti pernah selewengin uang dan gak kasih istri. Banyak cerita kayak gitu soalnya. Anyway manapun caranya, asal sepakat dan sama-sama nyaman, dan juga terbuka.
Hal ketujuh, klise sih tapi sedekah mah harus. Berat kadang kalau menerapkan persentase pendapatan untuk sedekah. Kalo lagi turun pendapatan, itu tanda sedekah harus ditingkatkan, teorinya gitu, tapi sungguh susah!!
Haduh Mbak, uangnya masih dikit ngapain dikelola segitunya?
Kalo kata Bang Gesa, belajar financial planning ketika uang kita sedikit itu sebagai bentuk ikhtiar menyiapkan diri ketika Allah mempercayakan harta yang banyak nanti.
Uhuy, semoga di masa sulit ini Allah selalu kasih kita semua pertolongan dan rejeki yang lancar sehingga kita jadi umat yang mandiri, berdikari, bisa bantu orang lain, nyenengin orang lain, kasih orang tua. Kata suami mah, klise amat sih pingin kaya terus cita-citanya biar bisa berbagi. Bodo amat, suami istri ga sepakat dalam satu dua hal gak prinsip juga gapapa kok. Pffftt.