Perasaan bersalah membuat seseorang tidak ingin mengingat kembali kesalahannya. Biarkan begitu. Yakin saja bahwa dia tidak lupa serta sudah belajar sesuatu dari sana. Mari hitung itu sebagai upayanya untuk melanjutkan hidup.
(via kotak-nasi)
Monterey Bay Aquarium
Show & Tell
h

Kiana Khansmith
NASA
tumblr dot com
Sade Olutola

ellievsbear

No title available

Origami Around
trying on a metaphor
hello vonnie

No title available
styofa doing anything
sheepfilms
YOU ARE THE REASON
KIROKAZE
Today's Document

titsay

JBB: An Artblog!

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Czechia

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
@candleinthe-dark
Perasaan bersalah membuat seseorang tidak ingin mengingat kembali kesalahannya. Biarkan begitu. Yakin saja bahwa dia tidak lupa serta sudah belajar sesuatu dari sana. Mari hitung itu sebagai upayanya untuk melanjutkan hidup.
(via kotak-nasi)
Tugas bagi para single, gak usah repot-repot menjaga anak orang. Cukup menjaga iman sama menjaga wudhu, itu aja udah cukup kok.
Belum waktunya Sabar ya, sabar. (via choqi-isyraqi)
Sometimes self care is studying for that test. Sometimes it’s cleaning your room. Sometimes it’s having that conversation you’re afraid of having, confront that person you’re afraid to confront. Sometimes it’s not just wrapping yourself up in a blanket and relaxing. Sometimes instead, it’s taking action against the problem.
You shouldn’t stop yourself from taking a break if you really need one! They can be healthy and add to your productivity. :D
Lindungi Wajahmu
Kemarin ketika pelatihan UKM, saya berkenalan dengan seorang ibu muda berusia 40 tahun. Ketika mengobrol, dia bercerita bahwa suaminya tidak mengizinkannya menggunakan make up. Ini bukan pertama kali saya menemukan seorang istri tidak diperbolehkan suaminya mengenakan apapun di mukanya.
Saya sedih, karena istri - istri itu jadi tidak melindungi wajahnya dengan apapun. Resiko kerusakan kulit pada kulit yang tidak dilindungi lebih besar. Memang sih air wudhu bisa mencerahkan wajah kalau kata dosen saya, tapi ikhtiar lain perlindungan dari pengaruh luar yang buruk juga menurut saya perlu.
Make up, sepanjang pengetahuan saya adalah kosmetik dekoratif (kosmetik yang berfungsi sebagai elemen estetika). Sayangnya, banyak laki - laki maupun kita sebagai perempuan yang tidak tahu bagaimana memilah fungsinya. Dianggapnya semua kosmetik yang menempel di wajah adalah make up (atau dekoratif)
Ibu - ibu, terutama bapak - bapak, kita harus tahu bahwa fungsi kosmetik di wajah tidak hanya untuk berhias. Oke wait, kosmetik itu sangat luas loh. Sabun, shampoo, parfum, deodoran, hand body lotion, itu semua adalah kosmetik. Jadi, para bapak juga menggunakan kosmetik setiap hari kecuali yang tidak mandi dan bebersih badan. Kosmetik pembersih biasa disebut wash rinse cosmetic (eh apa ya, saya lupa, intinya itu lah). Sedangkan handbody lotion, pelembab, butter lotion, termasuk pelembab wajah dan area mata, itu biasa disebut skin care cosmetics.
Ceritanya saya hampir tidak pernah mengenakan pelembab apapun di wajah hingga 27 tahun. Ketika saya bekerja di perusahaan kosmetik pada 2015, wajah saya dicek oleh alat kantor dan barulah tahu bahwa banyak kerusakan di sana. Sekarang juga muncul banyak sekali flek hitam yang tidak terkendali. Selain karena usia, karena ketidakperdulian saya merawat wajahlah yang menyebabkan demikian. Kalau kata dokter kulit di kantor waktu itu, usia 25 tahun kita sebaiknya sudah menggunakan krim anti agging, karena agging kulit sudah dimulai di usia itu (yah yang ini mah ga wajib, pake air wudhu aja).
Jadi, Bapak - bapak, melarang istri berhias untuk memenuhi syariat agama itu adalah yang terbaik. Tapi cerdaslah, jangan larang istrimu menempelkan krim - krim di wajah, karena krim - krim itu bukan agar cantik, tapi sebagai bentuk ikhtiar melindungi kulit wajah dari ultraviolet, polusi dan debu, udara dan cuaca yang ekstrim, dan hal - hal buruk lain yang seringkali menyebabkan penyakit seperti kanker kulit.
Bedak pun, selain sebagai make up dekoratif, dia juga melindungi wajah untuk terkena pengaruh luar secara langsung. Kalau saya pribadi menggunakan bedak agar tidak terlihat pucat (karena wajah asli saya sangat pucat), juga lipstik dengan alasan yang sama.
Banyak pelembab wajah yang tidak mempengaruhi warna wajah secara signifikan. Yang pernah saya coba Hada Labo, Wardah sun cream gel SPF 30 (yang ini sudah banyak testimonial dari konsumen bahwa mereka sangat suka), Wardah White Secret SPF 35, Body Shop pelembab wajah (duh yang ini enak banget), SK II miracle water. Dua brand terakhir itu saya coba karena kantor beli untuk referensi, jadi saya wajib mencoba. Merk - merk yang lain lupa.
Pelembab yang saya beli sendiri adalah produk menengah yang terjangkau dan aman. Jadi, merawat wajah ga selalu harus mahal, ga harus kok beli SKII (tapi kalo mampu sih ga papa, karena bagus, hahaha). Semuanya teksturnya ringan, mudah diaplikasikan, sehingga kalau kita habis berwudhu, kita bisa mengaplikasikannya lagi dengan cepat dan mudah. Jadi Bapak - bapak, pake kosmetik tidak selalu membutuhkan waktu lama loh, aplikasi pelembab dan bedak hanya 2 menit, tapi sebagai ikhtiar melindungi kulit istrimu sepanjang hari. Masa gamau punya istri yang kulitnya sehat?
CMIIW
Setidaknya jika hati ini dalam keadaan sekarat, sisakan detaknya tuk mudah beristighfar pada-Mu, Rabb
Bila engkau ingin berdoa, sementara waktu yang kau miliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi banyak keinginan, maka jadikan seluruh isi doamu istighfar, agar Allah memaafkanmu.
Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan Ia penuhi tanpa kamu memintanya.
(Ibnu Qoyyim)
You shouldn’t stop yourself from taking a break if you really need one! They can be healthy and add to your productivity. :D
Here we are
Kita ada di masa yang makin mencekam. Di negeri sendiri kita melihat kehebohan yang diakibatkan sendiri oleh penguasa. Mereka lagi belajar untuk jadi diktator.
“Kamu gak nurut saya, saya hapuskan.”
Penyerangan beberapa tokoh yang membela Islam sudah mulai nampak. Boikot sana sini juga sudah mulai nampak.
Apa yang terjadi di luar sana?
Apakah lebih baik?
Apakah lebih damai?
Tidak juga.
Pemboman masih ada di sana sini. Masjidil Aqsa bahkan sudah tak lagi terdengar adzan.
Apa solusinya?
Persatuan ummat.
Jangan bilang ini mimpi di siang bolong setelah lihat berita. Ini bukan lagi khayalan si pemimpi. Hari ini persatuan ummat sudah tinggal menunggu waktu saja. Bukankah ummat sudah banyak yang mulai sadar dan membangunkan yang lain?
Kita hanya tinggal menunggu sambil terus berjuang melawan berbagai kedzolimam yang ada. Persatuan ummat bukan hanya tentang ummat yang duduk diam bersama-sama tapi tentang ummat yang berdiri dan berjuang bersama.
Generasi Muzzammil dan Sonia
Di timeline bersliweran foto-foto Muzzamil dan Sonia yang (katanya) bikin baper para gadis dan mamak-mamak. Bagian mana yang paling bikin baper mak? Waktu Muzzammil megang kening Sonia seraya mendoakannya? Waktu Muzzammil ngelap keringat Sonia saat di pelaminan? Atau waktu Muzzammil (nyoba) nggendong Sonia?
Apa? Semuanya bikin baper? *Puk-puk* Sebagai sesama wanita, saya pahamlah perasaan patah hati itu. Akhwat jomblo mana yang ga pengen dapet imam masjid bersuara merdu dan berprestasi pula. Jauh lebih berasa patah hatinya ketimbang ketika mas Siapa itu namanya dan mbak Endless love mengumumkan resepsi pernikahannya. Dan sebagai emak-emak, saya juga bisa ikut menjiwai patah hatinya para emak yang kehilangan calon mantu.
Baca undangan Muzzammil dan Sonia aja bikin merinding. Undangannya sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan akad nikah. Untuk bisa bikin kita baper sebaper-bapernya seperti ini, Muzzammil engga kaya tahu bulat yang digoreng dadakan, jadi imam masjid Salman ITB yang memikat hati semua orang. Ada proses panjang sebelum itu. Ayah Muzzammil adalah seorang kepala sekolah, ibunya seorang guru MAN. Dua-duanya pendidik, bahkan ibunya adalah seorang pendidik ilmu agama. Muzzammil belajar ngaji dari umur 4 tahun. TK udah tamat iqro’. Masuk SD (Muzzammil masuk MIN) udah bisa baca quran. SD, SMP, SMA selalu ranking satu bahkan juara umum. Jadi ga heran klo bisa masuk ITB (alumni ITB mana suaranya, kenalkan saya alumni UNS.xixixi). Jadi imam masjid Salman ITB dari semester satu. Masyaalloh….
Coba lihat anak kita mak. Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil. Atau kita pengen anak kita bisa mengikuti jejak Muzzammil. Lihat prosesnya mak. TK udah tamat iqro’. Anak saya mau masuk SD iqro’ aja belum tamat. Klo lagi ngajarin iqro’ emaknya ga sabaran. Pengennya diajarin sekali si anak langsung bisa baca quran lancar jaya.
Jadi imam masjid itu berarti hafalannya banyak mak. Ngga cukup juz 30 yang juga ngga lengkap-lengkap itu. Kita ngajarin anak buat hafalan sehari eh seminggu berapa kali? Atau biar belajar di sekolah aja lah. Emak udah capek dengan tugas domestik.
Jangankan ngajarin anak, tilawah sendiri aja belepotan. Niat tilawah, kepikiran piring kotor. Nyuci dulu. Anak numpahin susu. Ngepel dulu. Anak minta makan.nyuapin dulu. Udah sore, waktunya mandi. Mandiin anak. Nemenin belajar sambil kutak-katik hp, ngobrol seru di grup. Anak tidur, suami pulang. Nemenin suami. Tidur. Bangun udah pagi. Tilawah? Eh iya, belum jadi tilawah ya. Ibu Muzzammil udah pasti ngga kaya gitu mak.
Dan Sonia, siapa dia? Sonia adalah salah satu admin ODOLA (one day one line akhwat). Sehari ngapalin ayat quran satu baris mak. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Alloh milihin Sonia buat Muzzammil karena mereka sekufu. Satu level gitu.
Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil, maka anak kita juga harus kaya Sonia yang sekufu dengan Muzzammil. Untuk bisa punya anak seperti Muzzammil dan Sonia, kita harus kerja keras mak, ga cukup dengan mimpi dan harapan.
Lawan kantuk demi nyimak bacaan quran anak-anak. Lawan capek demi nyimak murojaah anak-anak. Klo kita juz 30 aja ilang-ilangan, maka anak kita harus bisa hafal 30 juz. Aamiin. Berat mak. Siapa bilang enteng? Kalo enteng, akan banyak bertebaran Muzzammil-muzzammil di dunia ini dan kita ga bakalan baper hanya karena Muzzammil menemukan tulang rusuknya. Memang berat mencetak generasi Muzzammil dan Sonia. Tapi Alloh udah naruh surga di telapak kaki kita mak. Ga mungkin kan Alloh naruh surga yang diimpikan semua orang begitu aja di kaki kita. Ada harga yang harus dibayar.
Minta mak, minta sama Alloh agar kita dimampukan mencetak generasi Muzzammil dan Sonia.
Jangan lelah mak, jangan lelah mengenalkan quran ke anak-anak kita. Meskipun jalannya tak mulus, meskipun di bangku SD anak kita masih berkutat di iqro’ jilid 2, jangan lelah, Alloh melihat semua usaha kita. Jangan lelah…
*Menasihati diri sendiri di akhir liburan
Maa syaa Allah, buat emak emak dan calon emak 😂
Kekhawatirannya
Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.
Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.
Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.
Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.
Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.
Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.
Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi
Bener banget :“”
Sekali-kali lihatlah lebih dalam. Ketika kau temukan sosok yang selalu periang, sesungguhnya ia sedang menyembunyikan banyak kesedihan untuk dirinya sendiri.
270617 (via farhakamelia)
(:
(via catatan-sederhana)
Kekhawatirannya
Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.
Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.
Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.
Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.
Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.
Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.
Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi
Bener banget :“”
Untuk menjadi ahli di suatu bidang, kamu perlu tiga hal utama: fokus, konsisten dan tekun. Fokus memilih, konsisten menjalani, dan tekun mengikuti pathway untuk menuju ke sana.
hasil obrolan makan siang (via spektrumcahaya)
Anak-Anak Subuh
Ada anak lelaki yang hampir setiap subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah Ayahnya. Meniru semua gerakan Ayahnya, si Ayah sholat sunnah ia ikut, begitu seterusnya.
Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut Ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping Ayahnya mengikuti Ayahnya sholat sunnah sebelum subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga Ayahnya selesai sholat, ternyata ia tertidur sambil sujud.
Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah Ayahnya, namun pada saat sholat subuh tak berapa lama setelah takbir dan Imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga sholat subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu Ayahnya selesai.
Ada pula Ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Di gendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang Ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun.
Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada Ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa Ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid.
Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini.
Selama masih ada orang tua, terutama para Ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya sholat subuh berjamaah di masjid, akan kokohlah barisan pejuang agama Allah. Negara pun akan selamat.
Khawatir lah bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jamaah subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?
Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang Aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat Aceh adalah, Teuku Umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu subuh.
Mereka yang bangun subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.
Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk sholat berjamaah subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh raga dan jiwanya.
Tak perlu khawatir, bila subuh saja bisa dikuasai, kelak masa depan bisa digenggam. @bayugawtama
semoga ayah anak2 ku kelak adalah seorang pejuang subuh. dimana nanti anak2nya pun akan menjadi sesama pejuang. aamiin.
“Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini.”
Banyak orang mengira dengan mempercepat, memangkas waktu shalat, tergesa-gesa dan tidak khusyuk saat sedang banyak sesuatu yang harus dikerjakan, bahkan hingga tak sempat membaca Al-Qur'an beberapa waktu lamanya karena kesibukannya seringkali beranggapan bahwa cara demikian bisa mempercepat selesainya pekerjaan. Padahal, semakin khusyuk dalam shalat, semakin menikmati ibadah dan kedekatan dengan Al-Qur'an, kekuatan untuk bertahan dalam tekanan dan konsisten dalam semangat akan ditambah. Barangkali malaikat pun akan senantiasa mendoakan, agar rahmat dan pertolongan Allah senantiasa diturunkan. Sayangnya, justru seringnya kita terlalu merasa pandai dan cenderung tinggi hati. Merasa semua bisa diselesaikan sendiri, dengan semua daya dukung dan kekuatan yang dimiliki tanpa sungguh-sungguh memperhatikan bahwa sejatinya Allah yang maha memberi solusi, Allah yang senantiasa menguatkan hati dan derap langkah kaki.
©Quraners, Self Reminder (via quraners)
Ugh 😣
(via nenekmisu)
BUKA TUTUP
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika posting keburukan-keburukan orang lain?
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika posting masalah kita dengan orangtua kita?
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika posting foto kita berduaan dengan yang belum halal bagi kita?
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika posting tentang berita fitnah?
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika menceritakan keburukan-keburukan yang kita lakukan?
Kadang kita bilang Tuhan itu baik karena Ia menutupi aib-aib kita. Tapi kenapa kita bangga ketika kita mengumbar-umbar aib kita sendiri.
Bukankah mengherankan, kenapa kita melakukannya? Apa karena kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan itu adalah aib karena sudah merasa itu adalah hal yang wajar dilakukan, atau justru kita memang sadar itu adalah aib dan kita memang ingin menantang Tuhan dengan membukanya kembali?
Kadang mengherankan, melihat hamba-Nya yang bersyukur karena aibnya ditutup oleh Tuhan, tapi di lain waktu ia membuka aib-aibnya sendiri.
Semoga, orang itu bukan kita.
BUKA-TUTUP Bandung, 21 Juli 2017
Tertohok
ka din giman ya cara bersabar untuk mendapatkan pekerjaan disaat teman yg lain satu per satu sudah mendapatkan pekerjaan dan saya masih ngirim lamaran kesana kemari dan nunggu interview. rasanya saya mau cepet2 dinafkahin aja ka din
Caranya, tetap positif thinking. Sambil evaluasi kenapa kamu belum juga dapat pekerjaan. Apakah CV mu sudah maksimal? Apakah cara interview mu sudah meyakinkan? Jangan2 ada yang salah dengan CV atau pembawaanmu sehingga pewawancara kurang berkenan?
Jangan nunggu dinafkahin doang ah. Alangkah kuatnya perempuan yang bisa mencari nafkah sendiri sehingga ketika suami tiba2 meninggal atau pergi atau terjadi musibah, perempuan ga tiba2 limbung kehilangan sandaran ekonomi lalu berbuat aneh2. Berjuang dong, tenang aja, kamu ga sendiri, banyak pengangguran di dunia ini yang susah cari kerja. Ya itu tadi, coba evaluasi apa kesalahanmu, dan di mana gagalmu.
Harus pinter2 evaluasi diri sendiri biar ga gagal lagi. Kalo peka sama kegagalan, kita akan belajar hikmah dari sana dan ga mudah menyerah. Yah, ini jg nasihat buat diri saya sendiri sih hahaha. Gudlak