" Aku adalah manusia berintuisi tajam; aku tahu ketika sedang disindir, dijatuhkan, dibicarakan. Aku memilih diam; namun diam-diam juga blacklist orang-orang tersebut dalam hidupku."

No title available

@theartofmadeline
Acquired Stardust

oozey mess
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Not today Justin

blake kathryn

JVL

titsay
taylor price
Claire Keane

★

izzy's playlists!
sheepfilms

⁂

祝日 / Permanent Vacation

roma★
Show & Tell
AnasAbdin
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Taiwan

seen from Indonesia

seen from Netherlands

seen from Australia

seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Chile

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Australia

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
@chocolatestrobery
" Aku adalah manusia berintuisi tajam; aku tahu ketika sedang disindir, dijatuhkan, dibicarakan. Aku memilih diam; namun diam-diam juga blacklist orang-orang tersebut dalam hidupku."
PERTEMANAN ?
"semakin sering berkumpul, semakin tinggi ekspektasimu terhadap seseorang."
frasa itu satu juta persen valid no debat! kok bisa? masa sih ? ngaco. ah, itu mah kamu aja.
well, gapapa sih untuk tidak sepaham, toh aku tidak meminta untuk disepahami atau diiyakan. ini murni kisah yang baru banget aku alami. anggap aja aku cuma sharing.
aku punya circle, atau dibilang kelompok pertemanan yang dimulai dari suatu komunitas dan akhirnya sepakatlah untuk melanjutkan dalam kelompok yg lebih kecil (10 orang) dalam grup arisan, tadinya memang berjalan baik dan mulus, semua oke, asyik, sharing segala hal sampai memasuki tahun kedua, ketiga dan seterusnya semakin banyak prahara yang terjadi, entah itu cekcok kecil hingga ada grup di dalam grup (lah gimana ini). mungkin karena saling tau baik busuknya satu sama lain sampai akhirnya saling merasa paling bener dan paling tau meskipun aslinya ga boleh gitu tapi asli hal kaya gitu akan muncul dengan sendirinya ketika kita terlalu sering berhubungan dalam suatu grup.
misal aja menurut kita berak dengan posisi jongkok lebih enak tapi kata mereka berak dengan posisi duduk lebih asoy. semua itu memang tergantung persepsi tapi inget perlu digarisbawahi, kita tidak berhak menghakimi pilihan "berak" masing-masing orang, karena yang tau kenyamanannya adalah yang menjalaninya sendiri.
back to topik ya, malah melebar ke berak segala ini. jadi, dalam circle yang tadinya sehat itu jadi semakin tidak sehat karena frekuensi pertemuan semakin sering tapi topik yang bisa dibahas semakin berkurang, jadilah pembaharuan topik beralih ke ranah personal salah satu anggota grup yang memang sedang dalam fase "bermasalah" dalam hidupnya. tidak bijaksana memang menjadikan problematika hidup seseorang sebagai topik seru untuk mendukung frekuensi ''ayo sarapan", "ayo ngopi", "ayo meet up", agar para penganut kuantitas bertemu itu ada bahan berbincang. tapi, asli ini beneran terjadi, realita yang miris. dan yang bikin super ekstra miris lagi adalah aku menjadi salah satu yang diikutsertakan di grup dalam grup tersebut meskipun aku ngga mau banyak ikut serta tapi tetap aja aku termasuk ke dalam salah satu manusia sampah yang diem aja ketika para anggota lain dengan seru membahas personal salah satu anggota yg di asingkan itu. sampai pada akhirnya aku muak dan jenuh dengan kompleksi pertemanan yang menguras energiku, aku memilih menepi, mengasingkan diri dan menghilang dari line. Loh, apa ga dicariin? ya dicariin jelas. bahkan sampai akhirnya aku juga menjadi topik pembicaraan mereka,karena ya mungkin aku ga asik, ga sefrekuensi. epic nya aku dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang bahkan aku ga perbuat wkwkw.. kocak, aku pengen ketawa tapi amarahku jauh lebih besar. yang tadinya aku manusia slay, bodo amat, ga mau tau urusan orang bahkan ga peduli mau diomongin apapun, saat itu aku lebih milih meluapkan amarahku yang memuncak, kecewaku yang besar kepada orang-orang tersebut. aku maki habis-habisan, kalau menurut kalian itu salah atau kurang tepat ya itu hak kalian, buatku aku harus menyelesaikan sampai akar cerita yang beredar itu dari mana dan kenapa? apa karena aku gamau gabung sama pertemanan tidak sehat itu?
untuk saat ini aku tidak berminat untuk "dekat" dengan circle manapun. aku suka kemana-mana sendiri, aku lebih suka memeluk diriku sendiri, berbincang dengan diriku sendiri, memahami diriku sendiri, aku tidak butuh validasi dari siapapun. aku bahagia dengan diriku dan pencapaianku.
karena orang yang suka bergerombol adalah orang yang penakut dan haus validasi akan keberadaannya.
cintai dirimu, jangan biarkan dirimu menerima penindasan.
self love and with love <3
Apakah benar kamu tidak seberharga itu?
Apakah diri ini tidak utuh sehingga kita merasa perlu sekali untuk dilengkapi? Apakah diri ini jika sendiri tidak bahagia sehingga kita merasa baru akan bahagia jika bersama? Apakah diri ini tidak berharga sehingga baru merasa berharga ketika kita bisa sama seperti orang lain? Apakah sebenarnya kita tidak mencintai diri kita sendiri tapi menutupinya dengan label mimpi dan cita-cita? Apakah sebenarnya kita tidak bisa menghargai diri kita yang seperti ini adanya? Berharap orang lain dulu yang bisa menerima kita, baru setelahnya kita bisa juga menerima diri kita sendiri? Apa kamu tidak kasihan dengan dirimu sendiri yang selama ini kamu hindari dan sembunyikan? Tak pernah kamu peluk, barang mengucapkan maaf dan terima kasih ke dirimu sendiri? ©kurniawangunadi
gegara fenomena anak gantengnya ustad nikah umur 17 tahun, fitur explore instagram gue dibanjiri akun-akun (katanya) dakwah pada nyuruh nikah muda, yang di-like entah siapa di list following gue. this is why I do not follow those (katanya) dakwah accounts. baik di line ataupun ig sebagai socmed aktif gue. bukannya mengajak perempuan untuk produktif agar lebih berguna bagi sesama, ini malah kontennya bikin galau dan mendorong perempuan agar buru-buru menikah. meh. apa bedanya akun yang (katanya) dakwah itu sama akun-akun abege labil yang isinya galauin cowok? beda bungkus aja sih. satu pakai bungkus agama, satunya enggak. tapi isinya sama. ngebet pengen berdua-duaan sama lawan jenis.
I mean, yes I believe marriage is completing half of our deen, tapi nikah bukan balapan yang harus diburu-buru kan? kenapa nggak lebih mengarahkan perempuan untuk mengejar pencapaian-pencapaian mereka? karena toh kalau memang yakin dengan takdir Allah, tulang rusuk yang hilang juga akan dipertemukan dengan pemiliknya at the right time, kan? bukannya maksain buru-buru minta dihalalin biar bisa saling pegangan, ciuman, dan ena-ena dengan dalih ibadah. marriage is so much more than making sex halaal.
output gerakan si akun-akun (katanya) dakwah ini bikin jadi banyak perempuan muda ngebet nikah karena ingin segera dihalalkan (duh, tapi kamu kan bukan babi?!?!?) dan ngebet minta dikhitbah. seolah pilihan hidup perempuan muda cuma dua: nikah muda atau pacaran. pacaran (katanya) mendekati zina. jadi daripada dosa mendingan nikah muda.
like… hell-o, man……
picik sekali rasanya kalau para penggerak (apa yang mereka yakini sebagai) dakwah ini berpikir perempuan kalau nggak nikah muda, ya pasti bakal buang-buang waktu dengan pacaran gak ada juntrungan. entah darimana sesat pikir macam ini berawal. mereka kayak lupa perempuan itu adalah madrasah pertama anaknya, yang pastinya seorang perempuan butuh banyak mengeksplor ilmu pengetahuan dan pengalaman supaya anaknya bisa dididik oleh sosok ibu cerdas dan berwawasan luas. jadi apa kalau nggak nikah muda, perempuan pasti akan menghabiskan waktunya cuma buat pacaran? emang otak perempuan isinya cuma lelaki doang?
duh!
gue bisa dibilang super jarang melihat akun (katanya) dakwah yang mendorong perempuan mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya atau memperluas pergaulan sampai ke kancah global sebagai bekal untuk mendidik anak masing-masing di masa depan nanti.
isi akun itu melulu cuma: ayo nikah, ayo halalin aku, ayo kasih aku kepastian…
dengan balutan agama.
buat saya efek yang diciptakan akun-akun (katanya) dakwah ini sama mengerikannya dengan (apa yang mereka yakini sebagai) konspirasi yahudi. sudah banyak perempuan yang “teracuni” untuk ngebet dihalalkan, meskipun bisa jadi secara mental belum siap. padahal anak butuh keluarga harmonis dan orangtua yang tidak labil.
all in all, mau nikah umur berapapun, itu pilihan masing-masing individu. tapi mbok ya janganlah menggencarkan nikah muda dengan cara-cara yang salah. dibalutkan agama dan membuat perempuan jadi galau menunggu pangeran berkuda putih datang meghalalkan (padahal si perempuan bukan babi peliharaan). ujung-ujungnya karena ngebet nikah tapi masih labil, banyak juga yang minta cerai karena nggak kuat menerpa badai rumah tangga. gue baca di artikel pikiran rakyat, angka perceraian di Indonesia bahkan mencapai 1000 per harinya, dan sekitar 40 kasus per jamnya. nggak bisa dipungkiri dari angka sebanyak itu banyak mereka-mereka yang menyesali kelabilan akan kengebetan mereka yang dulu ingin buru-buru minta dihalalkan. contoh masalah yang terjadi akibat fenomena ini adalah masalah keuangan. yes. doo-eet. (sumber: buku The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring)
padahal masa-masa muda itu bisa dipakai dengan melakukan banyak hal di dunia ini. terlalu banyak ilmu pengetahuan, terlalu banyak jenis orang, dan terlalu banyak tempat untuk dieksplor. so please, jangan mendoktrinkan sesat pikir “nikah muda biar lekas halal”. karena kamu bukan babi. eh bukan deng, karena nikah bukan cuma menghalalkan pegangan tangan, ciuman, dan seks. kalau memang sudah siap dengan segala konsekuensinya, oke, itu pilihanmu. tapi gak usah “meracuni” perempuan lain yang merasa belum siap untuk mengikuti jejakmu juga.
karena yang diekspos akun-akun (katanya) dakwah itu juga cuma bagian enaknya nikah muda doang. macam gunung es aja. di bawahnya jelas banyak masalah dan justru malah itu yang esensial tapi nggak pernah dibahas mendalam. entah kenapa. padahal masalah basic seperti problem finansial atau emosi kedua belah pihak yang masih mirip bocah merupakan hal krusial yang penting dibahas kalau mau menikah muda.
jangan berdalih dengan cuma punya modal nekat aja ngelamar dan atau menerima lamaran anak orang. ini pernikahan, bukan mau terjun buat sky diving. nekat doang gak bakal bisa beli susu bayi atau bayar listrik. kecuali situ mau nekat menodong kasir minimarket atau kasir pln buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. yakali banget kan?
buat kamu-kamu yang sudah menikah dalam usia yang terbilang muda: selamat! kamu sungguh sangat berani menempuh hidup baru yang isinya kamu dan pasanganmu (dan juga anak-anak kalian), bukan cuma dirimu sendiri lagi. gue paham, meskipun dua orang yang hidup bersama akan lebih menggandakan masalah daripada satu orang, tapi jelas kebahagiaannya juga berlipat ganda dibandingkan dengan kami-kami yang masih hidup untuk diri sendiri. gue berdoa semoga kalian selalu diberkahi hidup dan pernikahannya.
buat kamu-kamu yang galau-galau pengen dikhitbah: yakinkan hati, beneran udah siap? atau cuma disiap-siapin, padahal sebetulnya cuma pengen bisa punya pasangan halal buat pegangan tangan dan enak-enakan? kalau beneran udah siap, selamat! semoga pangeranmu lekas datang. kalau ternyata belum, ya santai cyin, hidupmu masih panjang. di Pakistan sana, dulu Malala Yousafzai sampai ditembak taliban karena memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bersekolah. lah kamu sudah hidup di negara yang tidak mempermasalahkan sekolah bagi anak perempuan, masa galau berkepanjangan hanya karena Allah belum memberi sang pangeran? malu atuh ih sama Malala. padahal akses kamu untuk mendapatkan pendidikan dan memperluas pengetahuan gak sesulit saudara-saudara kita di pakistan. ingat an-nuur 26 laaah. pastinya perempuan cerdas juga untuk lelaki cerdas juga kan?
buat kamu-kamu yang masih ingin mengeksplor banyak tentang dunia sebelum menikah: selamat! anak-anak berhak terlahir dari rahim ibu yang cerdas dan suamimu berhak mendapatkan pasangan hidup yang mampu menopang keutuhan rumah tangga dengan pengetahuan dan pengalamannya.
buat kamu-kamu lainnya yang kebetulan baca tulisan gue sampai disini: ini suara hati gue dan beberapa netizen di ask.fm Om Manampiring yang lelah dengan fakta kalau tren nikah muda tapi modal nekat semakin dikuarkan oleh akun-akun (katanya) dakwah. beberapa dari kalian mungkin nggak setuju dengan opini ini dan beberapa mungkin berpikir “liberal amat sih lu jadi cewek”. it’s okay, kita punya sudut pandang masing-masing. saya hargai pendapat kalian bila berbeda dari saya. and i hope you guys do the same thing too.
depok, 9 agustus 2016
-RRF-
sumber gambar: ask.fm/manampiring sumber artikel: Pikiran Rakyat Online sumber buku: The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring. milik pribadi penulis. worth to read.
#opini
Kok aku setuju banget. 😊
Dats rait
jeda ///
Terdampak dari cuilan-cuilan kesalahan yang sekiranya sengaja ditumpuk. laksana petang menyapa di tiap ejapan mata. menunjuk puingan rekoleksi yang sempat dipuja - puja, namun kini malah menjadi sampah yang disesali.. apa guna?
Tiada kesah yang berkesudahan tanpa nyata menyadari kealphaan dari diri membuat pertiwi merintih lirih bergemakan erangan pedih.. perih.
Aku, dalam catatan itu turut andil sebagai sosok ego yang mengkamuflasekan diri sebagai sosok peri, namun tak lebih keji.
Malu.. ? Lebih dari itu!
tak sedikit pula acap acuh mengedarkan pandang sekeliling yang nyata sekarat. Namun, dimana nurani?
mati!
Ketika perut lebih didengar, nafsu lebih membara, harta lebih bertahta.
Kelak semua akan menjadi sejarah global - Nurani ‘tak sadar diri’.
Perempuan dan pilihannya
Akan lebih aman bagi seorang perempuan bila memilih orang yang mencintainya dari pada orang yang ia cintai. Namun beberapa perempuan bersedia mengambil resiko dengan menjatuhkan pilihan pada orang yang ia cintai dan menjalani hidup dengan harapan-harapan bahwa suatu saat cintanya akan berbalas.
Hidup memang tentang pilihan-pilihan. Setiap pilihan tentu punya resiko. Dan perempuan lebih cenderung egois terhadap pilihannya.
Dharmasraya, 12 Februari 2019
Seorang yang mencintaimu, tak akan memperlakukanmu dengan begitu buruk. Cinta, seharusnya tak menjadi alasan untuk tetap bersama seorang yang tidak dengan benar memperlakukanmu.
Tia Setiawati
Aku Sudah Berhenti Sejak Lama
Aku sudah berhenti sejak lama. Kemudian, memilih untuk berdiam diri bersama diri sendiri saja. Tak lagi bergumul dengan cara-cara dan nama-nama yang sudah memberiku lara, meski aku sangat mampu membalasnya.
Aku sudah berhenti sejak lama. Kemudian, memilih untuk berdiam diri di dalam dirimu saja. Menyaksikan bagaimana dan siapa yang sudah, masih, dan akan kau sakiti, sebelum kau yakini aku ada.
Aku sudah berhenti sejak lama. Kemudian, memilih untuk berdiam diri di atas tanah perjumpaan kita saja. Tak lagi beranjak menuju tempat yang percuma. Tak lagi berangkat menuju hati yang pandai basa-basi, namun penuh sia-sia.
Aku sudah berhenti sejak lama. Kemudian, berharap, kau pun segera. Demi kita.
Kautahu apa yang membuat hati dan sikap seseorang berubah menjadi sangat dingin? ; Luka yang dia terima dari orang tercintanya
Mungkin jumlahnya tak bisa kita hitung dengan satuan ukuran (via krisanyuanita)
Demikianlah. Tubuhnya sekadar tempatmu sembunyi dari suara hatimu sendiri. Bahwa, aku yang paling kau cintai ini, hanya terpilih sebagai yang paling kau sakiti.
(via elsasyefira)
katakanlah aku merasaimu tapi tak merengkuhmu. naif-ku mengambang di pelataran penantianmu. kau beranjak setelah sekian windu berputus asa karena ketolol an yang terciptakan. aku menertawakan candaan takdir yang menyakitkan, yang enggan mengejahwantahkan ejaan yang tak pernah sekalipun terucap dari bibir masing-masing. dalam pangkuan rindu - mu - ku, tak satupun yang disampaikan oleh semilir angin, mereka membisu. mempermainkan kita yang hanya memagut bayangan masa lalu.
kita berhenti,,
kita menepi,,
bersisihan,,
kebas.
kutemukan lagi gurauan nasib yang mengarahkan pertemuan itu, tanpa canggung. aku kembali mengejang duka menghisap lara hati atas rasa yang tak pernah terungkap. kau tergagap mengecup bias goresan yang tersematkan saat kita berpisah tanpa tahu sebab. sebegitu dalam-kah luka? sebegitu perihnya-kah duka?! Ya!.. aku mengamininya dalam sendu, bisu, dengan ruang hati yang kedap tersembunyi setelah bertahun itu.
mengorek yang telah terkubur bukanlah hal mudah. kita demikian adanya, hanya berusaha mengesampingkan sisa hasrat yang tersemat, menyikapi takdir yang akhirnya terjalani dengan dewasa.
kita pernah bergumul dalam diam yang nyata suatu kesalahan!.
-dia yang pernah mengisi dan sedang dalam dekapannya.-
menuliskanmu dalam takdirku adalah urusan Tuhan, melafalkan namamu adalah urusanku sebagai pendoa.
Do not be a cause
Pernah ada suatu masa, dimana gue kelabakan pertama kalinya menerima seorang teman yang sedang dalam fase suicidal. Gue kebingungan ada orang nangis-nangis dengan tangan berdarah-darah. Gue tau harus apa tapi saat itu gue mendadak tidak tau apa-apa.
Gue menghubungi teman dekat gue yang kebetulan adalah seorang psikolog. Gue bertanya kepada dia apa yang harus gue lakukan ketika berhadapan dengan orang dalam suicidal phase.
Sejak saat itu, gue beberapa kali dipertemukan orang-orang yang having suicidal thought ataupun attempt. Tuhan kalo iseng kadang suka kelewatan. Bahkan pernah satu minggu gue tidur subuh dalam 4 hari karena menemani berbagai teman atau kenalannya teman (yang entah kenapa dikenalkan ke gue) dalam keadaan suicidal. Dan gue akui, gue masih kelabakan menghadapinya.
Gue tidak akan memperpanjang tulisan ini dengan pendapat soal bunuh diri yang sedang marak ataupun pentingnya kesadaran tentang mental health dll, sudah banyak yang tulis hal ini. Gue, hanya ingin mengingatkan, berdasarkan pengalaman gue berhadapan dengan sekelumit kecil orang-orang yang sedang dalam fase suicidal.
If you can’t be a help, please do not be a cause.
Berusahalah untuk tidak menjadi alasan seseorang putus asa dan ingin mengakhiri hidup.
Iya, gue tau, coping mechanism dan ambang batas pertahanan tiap orang berbeda dan itu ada di luar kendali kita. Gue tau kalo yang namanya pikiran suicidal orang tidak bisa kita kontrol karena pikiran itu bukan punya kita. Tapi setidaknya kita tidak memperparah, apalagi sampe jadi penyebab.
Berusahalah untuk tidak berkomentar negatif.
‘Ih lo gendutan’, padahal bisa aja dia udah diet ketat sampe stress dan sakit-sakitan. ‘Ih jerawat lo banyak amat’ , padahal bisa aja dia udah abis milyaran buat perawatan muka. 'Ih sepatu lo aneh banget modelnya’, padahal bisa aja dia udah nabung banget demi beli sepatu itu. 'Ih masa gitu aja gabisa’, padahal bisa aja dia udah usaha super keras sampe belajar kesana kemari.
Berusahalah untuk tidak menanyakan keputusan dan pilihan hidup orang lain.
'Kapan kawin?’, padahal bisa aja dia trauma pernikahan karena keluarganya broken home. 'Kok anaknya ngga dikasih asi sih malah dapet sufor?’ , padahal bisa aja ibunya sakit dan produksi asinya sedikit. 'Kuliah seni mau jadi apa ngga ada duitnya’, padahal bisa aja dia udah susah payah belajar demi bisa lulus tes di jurusan itu. 'Perempuan kok rambutnya cepak kayak laki’, padahal bisa aja dia sering sakit kepala sehingga lebih enteng kalo rambutnya pendek.
Berusahalah untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Berusahalah untuk tidak menyamakan standar bahagia lo dengan standar bahagia orang lain. Berusahalah untuk tidak memaksakan kehendak lo kepada orang lain.
Berusahalah untuk tidak merasa lebih baik dibanding orang lain.
Karena sadar atau tidak, sebagian dari kata dan perilaku lo bisa aja jadi penyebab seseorang lelah dengan hidupnya dan memutuskan untuk mati. Lo bisa aja dengan mudah menghakimi lemahnya iman atau pertahanan si orang ini, padahal rupanya lo berkontribusi melemahkan sejak awal.
Gue pernah punya temen yang 3 bulan self-harm mulu, hampir tiap malem nelpon cuma buat ngabarin dia abis harming dalam bentuk apa lagi, terus nangis2 sambil cerita hal yang sama berulang-ulang dalam 3 bulan. Lo bayangin, 3 bulan tuh hampir 100 hari. Susah banget mengubah mindset dia, atau bikin dia aware bahwa it’s just a phase that will soon pass, bahwa dia berharga, bahwa dia masih dibutuhkan di dunia ini.
Dan itu semua disebabkan oleh segelintir bacot tidak bertanggungjawab yang bikin hidup dia penuh tekanan.
Oh tenang, 3 bulan itu termasuk cepet. Ada yang 3 tahun, ada yang bertahun-tahun. Itu mas Chester myluv, dia hidup dengan tekanan dan depresi sejak bocah dan tetep tidak menghilangkan keinginan dia untuk suicide sampe bertahun kemudian.
Lo ngga mau kan, hanya karena bacot busuk lo itu satu detik komentar, atau kelakuan lo satu detik bergerak menyebabkan hidup seseorang berakhir selamanya?
If you can’t solve, do not be a cause, please.
ketika harus bertahan karena sebuah komitmen yang lacur terjadi karena keadaan. manusiawi bukan tatkala rasa ketidakmampuan meluap seiring berubahnya perasaan. menggunung pertimbangan ini-itu, baik-buruk, sukar-mudah, nyata semakin memporak porandakan hati yang mencoba bertahan dalam kegamangan. terkadang lingkungan kerap mengkamuflasekan situasi yang nyatanya tidak seperti yang kita lihat dan kita rasakan. mereka yang tidak merasakannya sendiri adalah yang awam terhadap bagaimana takdir bermain di dalamnya, dan memaksa kita untuk ikut terjebak dalam alur yang tersembunyi di tiap lekuk. rasa bosan membuncah, rasa amarah meluap, tapi untuk apa? toh untuk mereka yang selalu merasa benar, tiap realita yang keluar dari mulutku hanyalah ocehan dongeng pengantar tidur belaka. didengar? mana mungkin. mereka yang selalu merasa berpengalaman karena usia, yang merasa telah banyak makan asam-garam kehidupan, merasa bahwa mereka adalah kunci untuk tindakanku berikutnya. untukku mereka tidak jauh dari makhluk yang telah banyak membuat kesalahan pada kehidupannya sehingga mereka berlagak sok menjadi guru berpengalaman. lantas apa bedanya denganku yang seolah baru belajar berjalan dan harus jatuh agar mengerti sakitnya proses untuk berdiri tegak.? mungkin ini bentuk keletihanku dengan komitmen sekitarku, dimana usia mempengaruhi tindakan dan benar-tidaknya ucapan, atau mungkin terlalu banyak manusia bermuka dua, bermulut ular yang sedang bermain dengan takdir demi menggapai perhatian.?
i know that dress is karma, perfume regret. you got me talkin’ ‘bout me in my back. you just want attention, you just hate the thought of me.
~zhiecha arselia~
aksara kata terkadang begitu rupawan mengembara ke ruang bahasa, tak perlu mengkonotasikan perihal keberadaanku untuk selalu membenarkan tindakan kearifanmu, sebab dasarnya-pun kau sudah begitu memukau.. entah harus berapa ribu bait untuk mengeksplorasikan rupawan dalam sketsa kata yang nyatanya hanya mampu aku ketikan di punggungmu. seolah candu dalam cawan yang harus kuteguk, aromamu.
~perempuan di balik topeng~
Sampaikan Pada Pasanganmu, Bahwa Aku Pernah Begitu Dalam Mencintaimu
Saat kita berpisah, pernah kukatakan padamu untuk memilih pasangan yang benar mencintaimu. Karena aku tak rela kau disia-siakan. Karena aku pernah begitu mencintaimu tanpa pengecualian.
-
Bila kau merindukanku atau pernah sekali saja memikirkanku, barangkali itu bukan kebetulan Karena embun yang menetes di pagi hari pada sehelai daun pun, punya alasannya sendiri, kan? Barangkali saja, itu memang waktumu untuk mengenang kita, yang tak seharusnya dilupakan begitu saja Atau barangkali, aku memang sosok yang tak perlu kau gantikan.
Bila suatu saat pasanganmu bertanya perihal aku, jawablah dengan jujur Bahwa dulu pernah ada seorang yang begitu dalam mencintaimu Ia begitu tulus, sampai rela melepaskanmu karena ingin kau lebih berbahagia dibandingkan saat sedang bersamanya
Katakanlah padanya, bahwa aku akan mengutuknya menjadi apapun yang tak ia kehendaki, bila ia menyakitimu. Sampaikan padanya, bahwa ia boleh cemburu pada sosokku. Namun tak perlu khawatir bahwa aku akan kembali padamu. Karena aku tahu, kau tak pernah begitu dalam mencintaiku, untuk tetap tinggal dan berjuang bersama lagi.
-
© Tia Setiawati | Deli Serdang, 7 Juli 2017
I love sleep. My life has the tendency to fall apart when I’m awake, you know?
Ernest Hemingway (via bookmania)