Dewasa Menanggapi Rasa
Beberapa kali ditinggal orang yang kupercaya membuatku lebih berhati - hati dalam memberikan suatu pilihan rasa. Beberapa kali diacuhkan orang yang kuberharap padanya, namun tak sedikit pun Ia menoleh. Membuatku mengerti bahwa rasa itu harus dimiliki keduanya, bukan salah seorang saja. Membaca berpuluh jilid cerita cinta - dan patah hati, membuatku banyak mengetahui bagaimana suatu rasa ada dan bisa saja hilang entah kemana. Bisa Ia digantikan orang yang berbeda atau digantikan orang yang mungkin dekat denganku sejak lama - sahabat misalnya. Atau bahkan, mungkin, orang itu adalah orang yang sama. Dan sekarang, adalah dia yang tiba-tiba datang dari masa lalu yang kelam. Menawarkan lembar cerita berisikan harapan dengan sebuah cover bertemakan senja. Memesona, indah dipandang mata. Semua masa lalu yang kupunya akhirnya berkata. ’Janganlah dulu kau terima dia, cukupkan semuanya. Jangan berikan sedikit pun harapan kepada Ia yang telah meninggalkan luka. Jangan kau biarkan luka lama tersayat dengan mudahnya oleh pisau yang sama.’ Dan ku tersadar, bahwa cover senja, seindah apapun elok dimata, tetap saja sementara. Kucoba menghadapi semuanya. Berdewasa menanggapi sebuah rasa. Karena, masih belum saatnya untuk menerima orang yang sama. Lalu bagaimana bila orang yang datang itu berbeda? Tetap saja, cukupkanlah dulu semua, beri aku sedikit ruang waktu beberapa lama. Sekarang akan kucoba melupakan luka, memaafkan, mempertimbangkan semuanya. Namun, sampai kini aku tak tahu, entah pilihan itu jatuh pada hati sama atau jatuh pada hati yang berbeda.
El-Isbat










