Saya mendapatkan sebuah curhatan dari salah seorang teman. Bahwa, dia sulit menangis di saat momen-momen yang sedih dan menurut khalayak ramai, harus menangis. Seperti momen ketika dia harus berpisah dengan siswa tempat dia magang selama beberapa hari, saat dia lengser dari kepengurusan salah satu kegiatan yang dia ikuti, dan masih banyak lagi. Disaat yang lainnya menangis, dia hanya membisu sampai salah seorang temannya mengatakan, “Hei, kamu gak punya hati ya ?” Sebuah pertanyaan yang menurut saya pribadi sangat menyakitkan bagi yang menerima pertanyaan tersebut.
Menurut saya, jika seseorang tidak menangis bukan berarti dia tidak memiliki hati, hanya saja tergantung bagaimana kepribadian seseorang tersebut. Memang ada orang yang menangis berdasarkan faktor eksternal atau yang terjadi di sekitarnya. Tetapi ada juga seorang yang menangis berdasarkan faktor internal nya artinya apa, bahwa seseorang itu menangis jika memang dia benar-benar ingin menangis, bukan karena dibuat-buat yang akhirnya hanya mengahasilkan air mata buaya.
Hal yang berbeda sesungguhnya terjadi pada teman saya ini. Sebenarnya dia adalah seseorang yang cengeng tapi karena hatinya tersakiti oleh gebetan nya yang lebih memilih orang lain membuatnya seketika berubah. Teman saya ini menangis karena gebetan nya ini hingga air matanya habis dan suaranya menjadi parau. Sejak saat itulah ketika momen-momen yang menurut banyak orang seharusnya dia menangis tetapi tidak menangis. Karena dia beranggapan bahwa dia pernah merasakan sesuatu yang lebih menyedihkan dari hal tersebut.
Saya pernah membaca salah satu artikel dari Pak Jamil Azzaini bahwa salah satu penyebab seseorang sulit menangis adalah karena paling ‘merasa’. Ya, merasa adalah penyakit yang terpendam dalam diri kita tanpa disadari seperti merasa paling kaya, paling ganteng, paling pintar, paling mumpuni dalam suatu bidang dan hal tersebutlah yang membuat kita sulit menangis. Untuk kasus teman saya ini, dia merasa paling tersakiti, paling dikecewakan sehingga hal tersebut yang membuat dia sulit menangis.
Dari kasus ini saya bisa berkesimpulan bahwa hal tersebut lah yang membuat hatinya mati rasa. Hal itu merupakan salah satu bentuk defend mechanism dalam tubuh. Ketika hati kita terluka atau perasaan kita tersakiti, defend mechanism tersebut akan aktif agar kita dapat menjalani hidup seperti biasanya. Sebenarnya hal ini hanya untuk mengalihkan fokus kita untuk sementara waktu, agar kita merasa tenang dan dapat menemukan solusi untuk mengatasi hati kita yang terluka. Hanya saja, banyak orang yang terlalu terlena sehingga menghindari untuk menyelesaikannya malah keasyikkan untuk tetap menghindarinya. Mati rasa memang tidak berbahaya, tetapi ketika kita membiarkannya begitu saja dapat membuat kita mengalami gangguan mental.
Saya mendapat kesimpulan dari kasus ini, bahwa kita harus pandai-pandai menjaga hati dan menjauhkan diri dari pacaran. Apa kita harus menyatakan perasaan kita terlebih dahulu terhadap lawan jenis, lalu ketika diterima barulah bisa disebut berpacaran ? Menurut saya tidak, karena menurut KBBI, berpacaran itu sendiri adalah bersayang-sayangan, bercinta-cintaan. Dari definisi itu sendiri kita dapat berkesimpulan bahwa ketika dua insan yang berlawanan saling mencintai dan melakukan kegiatan seperti hangout berdua, nonton bioskop berdua, makan malam berdua. Itu sudah dapat dikatakan kedua insan tersebut sudah berpacaran, walau belum jadian.
Begitu banyak orang yang berubah karena cinta, baik itu positif maupun negatif. Jika ada hal positif itu pun hanya sedikit dari ribuan hal negatif. Apa pun perubahan itu, sungguh teramat tidak bijaksana jika kita menyalahkan cinta. Menghujat cinta dengan berbagai alasan.
Cinta adalah anugerah Tuhan yang terindah. Apa pun efek samping dari cinta, itu semua dikembalikan kembali kepada para lakon yang merasakan dan bermain api cinta di dalamnya. Ketika kita berjalan bersama iman, api cinta tersebut bisa menjadi sebuah obor yang menuntun kita ke dalam jalan yang benar dan indah. Begitu pun sebaliknya, ketika kita berjalan bersama api cinta yang sudah kita bumbui dengan nafsu, maka kita akan terbakar di dalamnya dan membuat kita hancur di dalamnya.
So, sayangi hatimu agar ia tidak terluka oleh hal-hal yang sebenarnya dapat kita hindari. Jangan biarkan hatimu tersayat oleh kata-kata manis yang sesaat namun membuatmu mati rasa untuk waktu yang lama.