“We’ll survive, you and I.”
— F. Scott Fitzgerald
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
YOU ARE THE REASON
AnasAbdin
Peter Solarz

Product Placement
trying on a metaphor
Show & Tell
hello vonnie

★

if i look back, i am lost

JBB: An Artblog!
Misplaced Lens Cap
Sade Olutola
art blog(derogatory)

#extradirty

shark vs the universe
One Nice Bug Per Day
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from France
seen from Poland

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United Arab Emirates
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United Kingdom
@daengdoang
“We’ll survive, you and I.”
— F. Scott Fitzgerald
Sudah lama tidak menulis, sekali menulis tidak lama.
Sudah lama tidak 'menulis', menulis dalam artian menyelami diri sendiri lalu kemudian menuliskan apa yang didapat dari proses 'penyelaman diri' dengan diksi yang terbatas, yang terkadang sentimental, kebanyakan mengawang-awang dan akhirnya tidak jadi ditulis.
Sudah lama tidak menulis, dikarenakan terlalu sering 'melihat'. Iya melihat dalam arti sebenarnya, melihat layar gawai, laptop, televisi dan keseringan dan keranjingan melihat keluar diri; orang lain, dengan jarang melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin ini waktu yang sangat tepat untuk mengatakan bahwa selama ini saya egois, karena terlalu sering melihat ke luar, alpa menyelami dan melihat ke dalam diri.
Sudah lama tidak menulis, sedari dulu punya cita untuk rutin menulis artikel, jurnal, karya tulis ilmiah sampai buku, 'meniru' ayah dan kakek yang tulisan terserak dalam berbagai format tulisan, dan tentunya sampai saat ini hanya cita belaka, karena ya betul, sudah lama tidak menulis.
Sudah lama tidak menulis, saatnya memulai lagi kan? Yuk mari.
“Tahun baru tidak menjanjikan kebaikan, hanya kesempatan. Kita memilih: ambil atau lewatkan.”
—
Sekarang aku telah sampai pada titik di mana mengingatmu sudah tidak sesakit itu lagi. Mendengar pintas namamu tak serisih dulu lagi. Merindukanmu sudah tak menarik lagi.
(via mbeeer)
(tidak lagi)
Baru pulang sampai di rumah, langsung disambut paket bundel #CatatanJuang-nya bung @FiersaBesari ah terima kasih @mediakita @bukku.co.id dan 'subsidi' @zainalarifin.id yg telah membuat ketiga buku ini sampai rumah sebelum 2017 berakhir Masih semangat berjuang, kan? *Tahun baru sebentar lagi* #ada #tiga #pekan #lagi #untuk #menuntaskan #resolusi #tahun #dua #ribu #tujuh #belas #kuy #hashtag #bebasin #aja #da #bahagia (at Sarijadi)
Perasaanmu
Urusanmu terhadap perasaanmu, adalah urusanmu sendiri. Meski pernah ada yang datang, kemudian pergi. Ada yang memberi harapan, kemudian hilang bagai ditelan bumi. Semuanya menjadi urusanmu.
Sebanyak apapun kita membuat alasan, juga pembenaran. Dan seingin apapun kita menimpakan apa yang terjadi sebagai kesalahan orang lain. Justru, saat-saat seperti itulah yang membuat kita tidak bisa beranjak kemana-mana.
Hal yang paling sulit selain bersyukur adalah berlapang dada. Menerima kenyataan bahwa memang itu semua adalah kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mengendalikan diri. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan perasaan, emosi, pikiran, dan membiarkannya terbang bebas memikirkan apapun. Kita terperangkap dalam asumsi yang kita buat sendiri.
Biarkanlah perasaan itu hilang seiring perjalanan. Seiring waktu saat kita berusaha menerima bahwa kitalah yang salah dan kita bersedia untuk memaafkan diri kita sendiri.
Memaafkan diri kita di masa sebelumnya yang lalai, yang lengah, yang tidak bisa mengendalikan perasaan, yang membiarkan orang lain masuk dan pergi begitu saja, yang membiarkan perasaan berbunga-bunga dengan asumsi bahwa ini akan berakhir indah selamanya. Padahal, kita tahu, kita tidak bisa mendahului takdir.
Upaya kita adalah menerima dan memaafkan, diri sendiri.
Yogyakarta, 2 November 2017 | ©kurniawangunadi
BANTU BANG TATO WUJUDKAN IMPIAN ISTRINYA
Jika Anda melihat foto pertama di album ini, itulah sosok Bang Tato. Pria berusia 29 tahun ini, seperti diceritakannya kepada saya, di masa lalunya menjalani hidup secara ‘ugal-ugalan’.
“Kacau!” Itu kata yang sering ia pakai untuk menggambarkan betapa keras, kejam, dan gelap masa lalu dalam hidupnya.
Namun, kini ia sudah berhijrah. Ada satu momen besar dalam hidupnya yang mengalahkannya secara telak. Membuatnya tak sanggup lagi menahan silau cahaya yang menghampiri dirinya. Sejak saat itu, ia memilih untuk bertaubat.
Tetapi jalan hijrah bukanlah jalan yang mudah. Apalagi saat itu ia juga harus menjalani peran sebagai seorang suami, kemudian sebagai ayah.
Beruntung ia menikahi Nurmah. Putri seorang ustadz yang entah bagaimana rela dipersunting laki-laki seperti Lalan alias Bang Tato. Bagi Nurmah, tato yang memenuhi hampir sekujur tubuh Lalan tak menghalangi cintanya. Ia mencintai Lalan dengan tulus, seperti juga Lalan kepadanya. Meski mereka berdua harus berjuang bersama melawan stigma negatif dan pandangan miring masyarakat terhadap keluarga kecil mereka.
Foto kedua adalah Lalan bersama para 'santri’ didikan istrinya. Di rumah kontrakan mereka yang sederhana, berbekal pendidikan agama yang baik dari pesantren dan bangku kuliah, serta bekal sang ayah yang seorang da'i, Nurmah tak memupus impiannya untuk mengajar anak-anak mengaji dan menghafal al-Quran.
Di TPQ yang diberi nama al-Hijrah itu, Bang Tato dengan tulus menjadi pendampingnya, bekerja menyediakan berbagai fasilitas yang Nurmah butuhkan sebagai pengajar, meski Lalan juga baru belajar mengaji. Pengajian itu dibuka gratis di kampung Medang, Rumpin, Bogor.
Tak disangka, meski awalnya mendapat banyak penolakan dan tanggapan 'nyinyir’ dari masyarakat, kini anak-anak yang ikut mengaji kepada Nurmah sudah hampir 80 orang. Anda bisa melihatnya di foto ketiga, Nurmah dan Bang Tato harus membagi jadwal pengajian anak-anak itu menjadi tiga shift.
Saya mengenal Bang Tato sejak hampir dua tahun lalu. Bagi saya, ini berkah yang dikirimkan Allah agar saya belajar dari sosok bernama Lalan ini. Tentang banyak hal dalam kehidupan. Sebelumnya, tak terpikir sedikitpun oleh saya ada orang dengan kehidupan dan masa lalu sekelam Lalan… Tetapi sungguh Allah maha pengampun, taubat dan hijrah selalu menyediakan harapan yang cerah untuk masa depan setiap orang.
Kisah-kisah Lalan akhirnya saya tuliskan menjadi sebuah novel. Kini novel itu akan terbit sebentar lagi, sekarang masih dalam masa pre-order.
Melalui novel itu, saya ingin menceritakan kepada dunia bahwa kesempatan kedua itu selalu ada. Dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang baik, pribadi yang luar biasa, selalu tersedia sekelam apapun masa lalu yang kita miliki. Lewat novel itu, saya juga ingin membantu Bang Tato, lebih jauh lagi…
Saya sudah meniatkan untuk mendedikasikan sebagian dari keuntungan buku ini untuk tabungan pendidikan putri Bang Tato, Qia namanya. Di masa pre-oreder ini, saya berinisiatif menjadikannya sebagai sebuah proyek sosial, crowdfunding untuk membiaya pembebasan lahan dan pembangunan TPQ Al-Hijrah yang dikelola Nurmah dan Bang Tato.
Idenya sederhana, setiap orang bisa membeli novel hijrah Bang Tato edisi tandatangan dan bonus plus ongkos kirim senilai Rp. 75.000,- Namun, dengan Rp. 75.000 sebenarnya setiap orang sudah berdonasi sebesar lebih kurang 40.000 untuk turut membangun TPQ Al-Hijrah.
Saya menyediakan terbatas 1.000 buku #HijrahBangTato untuk project ini. Jika terjual semua, dana yang terkumpul kurang lebih Rp. 40.000.000 (Empat puluh juta rupiah). Sementara, untuk membangun TPQ dana yang diperlukan diperkirakan Rp. 70.000.000 (tujuh puluh juta rupiah). Ada kekurangan sekitar 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah), Insya Allah saya dan beberapa teman bersedia menutup kekurangannya itu. Mudah-mudahan dilancarkan…
Foto keempat di album ini adalah Bang Tato bersama istri dan anaknya. Kepada saya, ia mengatakan ingin menjadi pribadi yang berguna untuk sebanyak mungkin orang. “Saya nggak bisa ngaji,” katanya, “Tapi saya ingin belajar. Dan saya ingin anak-anak nggak ada yang nggak bisa ngaji, syukur-syukur menjadi para penghafal al-Quran.” Ujar Bang Tato. “Itu impian istri saja, saya ingin mewujudkannya.” Sambungnya.
Kini, saya ingin mengajak Anda untuk terlibat dalam ikhtiar Bang Tato ini. Ikhtiar untuk membangun sebuah Taman Pendidikan al-Quran. Ikhtiar untuk menabung kebaikan. Ikhtiar untuk merancang amal jariyah yang tak putus.
Mari bergerak. Bantu Bang Tato di tautan ini: https://kitabisa.com/hijrahbangtato
Salam baik,
FAHD PAHDEPIE
PS. Silakan bantu sebarkan. Mudah-mudahan menjadi kebaikan untuk Anda.
Masako Wakamiya. Nenek usia 82 tahun ini merupakan pengembang perangkat lunak, tepatnya aplikasi untuk iPhone. Usianya sudah di atas 60 tahun ketika ia mulai belajar coding serta berbagai keterampilan maupun ilmu lainnya. Ia belajar secara mandiri, otodidak. Khusus berkait pengembangan aplikasi untuk iPhone, awalnya karena merasa cukup frustrasi dengan aplikasi iPhone yang tidak menarik bagi lansia. Ia kemudian memutuskan untuk belajar pemrograman agar dapat membuat aplikasi sendiri. Jangan salah. Pribumi Jepang asal Fujisawa ini sebelumnya tidak menguasai ilmu komputer. Pensiunan pegawai bank ini memerlukan waktu 3 bulan untuk bisa melakukan koneksi internet melalui komputer, menandakan bahwa sebelumnya ia masih asing dengan internet. Ia terus menerus belajar sampai akhirnya mulai menguasai keterampilan komputer sederhana. Ada ungkapan sederhana yang menarik kita pelajari dari nenek Masako Wakamiya. Ia berkata sebagaimana dilansir oleh AFP, 7 Agustus 2017, dalam tulisan bertajuk Never too Old to Code, “Begitu Anda tua, Anda kehilangan banyak hal: suami Anda, pekerjaan Anda, rambut Anda, penglihatan mata Anda. Kekurangan tersebut cukup banyak. Tetapi ketika Anda mempelajari sesuatu yang baru, apakah itu bahasa pemrograman ataukah piano, ini sebuah kelebihan, ini memotivasi.” “Begitu Anda meraih kehidupan profesional Anda, maka Anda perlu kembali ke sekolah. Di era internet, jika Anda berhenti belajar, ia membawa berbagai konsekuensi dalam kehidupan Anda sehari-hari,” jelas Wakamiya yang mulai belajar piano usia 75 tahun tersebut. Atas prestasinya ini, Wakamiya mendapar kehormatan untuk tampil pada ajang bergengsi Worldwide Developers Conference ke-17 (WWDC 17) di mana para pengembang aplikasi dari seluruh dunia berkumpul. Dia datang atas undangan Apple dan dia merupakan pengembang aplikasi tertua di antara seluruh yang ada. Sebuah pelajaran penting betapa kita tidak boleh berhenti ketika mendapati keterbatasan dalam diri kita. Pelajaran berharga lainnya tentang kiprah dan keterbatasan adalah kisah Nurma, ibu rumah-tangga tamatan SD yang menjadi guru bagi penduduk kampungnya. Ia mengubah desanya, Meudidi yang terletak di kaki Gunung Leuser, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur dari desa dengan mayoritas penduduk buta huruf menjadi desa aksara. Perempuan penuh semangat ini melakukan perubahan besar tanpa gaji, tanpa dukungan finansial memadai, tanpa fasilitas yang bagus. Tetapi titik awal perubahan memang bukan dari fasilitas. Titik awal perubahan itu maa bi anfusihim (مَا بِأَنْفُسِهِمْ). Apa-apa yang ada pada jiwa mereka.
Mohammad Fauzil Adhim (via fauziladhim)
Antara Rela dengan Makna
Manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya ujian. Maka, janganlah kita hindari atau berlari menjauhi. Tetapi, kita lalui dan hadapi. Dengan segala kemampuan yang kita miliki. Kemampuan berupa kesabaran dan kemampuan untuk merelakan.
Rela ialah berarti bertindak tanpa paksaan. Menyerahkan apa-apa dengan segala keikhlasan. Memberikan dengan sepenuh hati, karena tahu bahwa sesungguhnya kita semua hanya dititipi. Ya, pada kenyataannya memang tidak ada hal yang benar-benar kita miliki. Semuanya sejak awal adalah milik-Nya, Allah Sang Pencipta.
Yang hilang, itulah yang kembali. Pergi kembali ke pemilik yang asli, Allah Yang Maha Mengetahui. Dia tahu mengapa kita perlu merasakan kehilangan. Dia tahu kapan yang tepat bagi kita untuk merasa kehilangan. Karena Dia tahu yang terbaik untuk kita semua. Karena Dia tahu apakah kita layak atau tidak untuk menerima yang lebih baik dari sebelumnya.
Percayalah bahwa kedatangan tidak akan ada tanpa kepergian. Hal yang baru tidak akan ada tanpa kehilangan. Maka maknai segala apa yang kita relakan. Maknai segala peristiwa ataupun segala kejadian, Mungkin yang datang tidak sama dengan yang hilang, tetapi percayalah bahwa itu yang terbaik. Karena Allah tidak akan salah memberi hikmah.
Merelakan segala yang hilang dan pergi berarti membuka pintu bagi yang lebih baik dan baru. Dunia aliran ujian, jangan berhenti memaknainya. - Salim A. Fillah
sudah mencoba membuka pintu lagi?
Don’t judge one survivor’s healing by how fast another has let go. Healing is not a competition. Everyone needs to heal at their own pace and at their own time.
Nikita Gill (via meanwhilepoetry)
we different
Selamat ulang tahun, ateu Ami @drpascautami si pangais bungsu. Bahagia-berkah-baik, sukses dan jangan jutek selalu. . Jangan lupa, traktiran nontonnya sis. Gakpapa lah nobar #pengabdisetan juga, asal jangan pelm pengabdi mantan *uhuy* . Jangan minta kado boneka atuh sis, pan éta boneka banyak kénéh di kamar belum abis, abisin dulu aja. Gimana kalau dikasih kado adik ipar aja? 😗 *uhuy lagi* wkwk #16oktober #enambelas Salam pipi bapau 🍽
The Truth will set you free.
If you aren’t free, so you must begin set your ‘Truth’
Satu
Ramadhan! bulan yang dalam tanda kutip selalu dinanti dan dirindu. Yakin rindu Ramadhan? Semoga saja. Semoga kita termasuk yang merindu, rindu perubahan-peningkatan, rindu akan intensitas aktivitas non-duniawi yang meledak-ledak dibanding bulan yang lain, juga rindu kepada orang-orang terkasih dan rindu sayang-kasih mereka kepada kita, kepada sesamanya. Ah. Aamiin. Ramadhan selalu jadi waktu yang baik untuk mengawali dan mengakhiri sesuatu bukan? Dan semoga tulisan ini jadi sesuatu 'perubahan-peningkatan' yang baik untuk mengawali Ramadhan tahun ini, mengawali keinginan 'menulis'. Misi Satu: Menulis! Selamat ber-Ramadhan. Terima kasih sudah sengaja membaca tulisan ini (;
10 things that require zero talent.
Mari berhenti berpura-pura; bahwa kita baik-baik saja.
;DMF
Dengan bantuan secangkir kopi dan buku coretan, aku selalu bisa menemukan-ulang dirimu seutuhnya, di dalam sudut ingatanku. Segala tentangmu kusimpan rapi di situ.
7 Mei 2017, 00:29