Di usia sekarang, merawat pertemanan semakin sulit. Karena sumber daya kita sebagai manusia, baik itu waktu, tenaga, dan juga energi makin berkurang. Akhirnya pertemanan kita semakin mengecil, hanya diisi oleh beberapa orang yang kita pilih untuk tetap kita pertahankan, karena memang gak semua orang pantas dan punya nilai yang sejalan dengan kita, untuk terus kita simpan.
Menjaga pertemanan di usia dewasa juga makin membutuhkan effort. Kalau dulu pertemanan kita diawetkan sendiri oleh keadaan yang mengharuskan kita bertemu dan bertukar sapa dengan mereka, seperti teman satu sekolah, teman satu tempat kerja, atau punya tempat tinggal yang berdekatan, sekarang untuk me-maintain hubungan tersebut agar terus erat kita harus bersedia mengeluarkan usaha ekstra. Mengatur waktu untuk bertemu dan berbagi cerita di tengah kesibukan, memenuhi undangan, dan juga membalas pesan. Hal-hal seperti itu tentu tidak bisa kita lakukan ke semua orang yang kita kenal. Namun, keadaan itulah yang membuat pertemanan kita tersaring dengan sendirinya. Menyisakan orang-orang yang benar-benar bersedia mengeluarkan effort yang sama dengan apa yang kita lakukan.
Sebagai seseorang mantan people pleaser, tahun ini tuh benar-benar jadi tahun throw back di mana aku kembali belajar untuk memasang boundaries lebih kuat, dan menyortir orang-orang yang pengen aku jaga. Dulu tuh rasanya semua orang pengen aku simpan. Pengen aku pertahankan. Namun sedihnya, di saat yang bersamaan, orang-orang tersebut bahkan tidak menunjukkan niat yang sama. Selalu aku yang mau effort. Selalu aku yang mempertahankan. Selalu aku yang mencari kabar. Selalu aku yang berusaha untuk tetap konek dengan mereka.
Sekarang aku akhirnya sampai pada fase, "oh ternyata gak ada mereka aku tetap baik-baik aja. Oh ternyata tanpa mereka hidupku jadi jauh lebih tenang. Oh ternyata gak lewat mereka, berbagai kesempatan baik tetap mampir ke hidupku lewat jalur orang lain yang baru datang ke hidupku."
Saat ini pun, jangankan kembali melakukan hal-hal yang dulu kulakukan untuk mempertahankan seseorang—membalas pesan pun rasanya malas. Capek. Udah gak mampu basa basi lagi. Dan emang kayaknya bener, umur gak bisa bohong. Dulu rasanya semua chat pun aku ladenin. Sekarang please to do point aja. Butuhmu apa. Maumu apa. Pengennya ketemu sama orang yang juga bisa bersikap asertif: pandai menyampaikan pesan dengan baik, dan mengkomunikasikan apa yang dibutuhkannya dari kita.
Pernah ada temanku yang bilang kalau yang namanya pertemanan itu memang harus pilih-pilih. Tapi usahakan jangan mempersempit pergaulan. Aku setuju dengan hal itu. Karena aku sekarang tidak membatasi diriku bergaul dengan siapa saja. Tapi aku pilah-pilih mana yang mau aku masukkan dalam kategori "teman", dan proses seleksinya lumayan panjang. Padahal dulu semua orang yang baru pertama kali ketemu bahkan baru kenalan aja udah kusebut sebagai teman.
Sekarang mindsetku, yang penting kita saling kenalan aja dulu dan tau informasi yang umum. Gak perlu harus saling tukar kontak, atau polou-polouan sosmed, tapi yang penting masing-masing tau harus ke mana bila butuh.
Tahun ini aku belajar bahwa ternyata gak papa punya teman yang itu-itu aja. Tapi gak menahan diri untuk kenalan dengan lebih banyak orang. Dan aku harus berani untuk menutup pertemanan dengan orang-orang yang tidak lagi relevan dengan apa yang menjadi nilai, dan juga tujuan hidupku kini. Kita harus melepaskan beberapa orang untuk menyediakan ruang dan tempat untuk kedatangan orang-orang yang lebih baik di masa depan.