Kalau saja kita tau kapan kita akan Mati
Seminggu terakhir banyak sekali kabar orang-orang berpulang dalam kehidupan ini. Pun, tanpa perlu dihitung kematian dan kehidupan baru akan selalu hadir setiap saat. Tapi, seminggu terakhir aku seolah membuka luka lama, aku merasakan rasa hilang, kosong, dan berduka kembali setelah menghadapi tiga kematian orang-orang terdekatku.
Kabar kematian ini serasa sangat mendadak, meskipun sudah diperantarai dengan sebab kenapa hari kematian itu bisa datang, tapi kabar tentang kematian selalu terasa mengejutkan bagi siapapun. Ada yang dihadapkan dengan sakit bertahun-tahun tapi masih tersisa harapan untuk sembuh, namun kemudian Tuhan menggariskan cerita lain. Ada pula yang berpulang tanpa ada tanda-tanda kematian akan datang, tiba-tiba daun bernama itu gugur menunggu gilirannya. Dan ada juga yang terlihat segar bugar, tiba-tiba menghadapi hari penuh pesakitan karena kemudian harus dirawat intensif dan berujung pada akhir cerita kehidupan. Memang batas umur tidak ada yang tau, mungkin jika berakhirnya ujung umur bisa kita ketahui bisa jadi cara pandang kita akan menyiapkan hari itu dengan sebaik-baiknya persiapan.
Kita seringkali menganggap memiliki banyak waktu, bisa melakukan dan merencanakan banyak hal diesok hari, tapi siapa yang bisa menyangka jika ternyata malaikat maut sudah bersiap menjemput untuk pulang. Tanpa menghilangkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan, nyatanya kita suka lalai kalau kehidupan ini sementara. Bisa tiba-tiba selesai dan berakhir kata cukup sampai disini saja.
Jika hari itu tiba, kita akan tau bahwa kebaikan yang sudah diusahakan selama kehidupan ini berjalan begitu sangat berarti. Niat baik, sikap yang santun, ringannya tangan untuk membantu sesama, bahkan sesederhana berusaha hadir pada kehidupan orang lain bisa menjadi jejak kebaikan yang bisa disaksikan banyak orang. Dan saat itu semua terjadi, kita menyadari sepenuhnya bahwa sebaik-baiknya teman dihari kematian adalah amal kebaikan yang sempat kita tanam.
Kalau saja kita tau kapan kematian itu akan datang, pasti kita akan sibuk menanam kebaikan. Kita tidak akan sibuk membalas keburukan orang lain, kita akan menganggap tidak penting asumsi orang lain terhadap perbuatan diri, seluruh harta akan kita keluarkan untuk agama Allah, bahkan bisa jadi apa yang tersimpan dalam diri kita yaitu keringat dan kemampuan berpikir akan kita keluarkan seluruhnya untuk memperberat amalan kebaikan itu. Kita akan disibukan pada tujuan yang paling pasti dalam menjalani hidup ini yaitu cinta, kasih sayang, dan ridha Allah yang paling penuh.
Namun, sayangnya kita suka lupa akan hari kematian itu bisa datang secara tiba-tiba. Sampai pada akhirnya kita suka lalai untuk mengingatNya disetiap aktivitas harian. Andai saja bisa semudah itu mengatur nafsu diri, ego dan kemauan manusia yang tiada batas itu, bisa jadi kita akan terus fokus hanya kepada Allah saja. Tapi disanala letak istimewanya manusia karena ia dibekali dengan akal. Maka selagi kita mau mengingat-Nya, Allah pasti tidak akan tinggal diam. Karena Allah sudah berjanji saat hati dan diri kita mau mendekat dengan berjalan maka Allah menyambut diri kita dengan berlari.
Perjalanan kita akan selalu dekat dengan kematian, dan semoga setiap usaha kita adalah jalan menuju ridha Allah yang paling kekal.
~nuritawa









