kembali lagi setelah lama mencari kebahagiaan dan ternyata yang dibutuhkan hanya kewarasan diri
🪼

izzy's playlists!
d e v o n
h
Claire Keane
I'd rather be in outer space 🛸

PR's Tumblrdome
Misplaced Lens Cap

★

#extradirty

roma★
Keni
KIROKAZE
he wasn't even looking at me and he found me
occasionally subtle
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Stranger Things
sheepfilms

Discoholic 🪩
Cosmic Funnies
seen from United States

seen from Germany
seen from Guernsey
seen from Brazil

seen from United States

seen from Mexico
seen from Brazil
seen from Argentina

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Nicaragua

seen from Chile
@diaristaa
kembali lagi setelah lama mencari kebahagiaan dan ternyata yang dibutuhkan hanya kewarasan diri
Orang Tua
Ada masa dimana orang tuamu semakin tua dan kamu ingin membelikan mereka apa saja. Lalu ada masa dimana kamu seakan sudah punya semuanya, tapi kamu tak bisa lagi membelikan keduanya apa-apa.
Di samping kebahagiaan kita karena bisa memiliki ini-itu dan traveling kesana-kemari, orang tua adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Kamu pikir, kenapa rumah selalu menjadi tempat kembali paling nyaman kalau bukan karena orang tua? Tak peduli rumahmu semegah istana atau hanya rumah kontrak yang sempit.
Hari ini di wajah mereka ada kerut dan keriput yang tahun lalu belum ada. Hari ini di kepala mereka ada rambut putih yang tahun lalu belum seberapa. Hari ini di tubuh mereka ada kelemahan dan penyakit yang tahun lalu belum terasa.
Barangkali kita punya standar kebahagiaan yang berbeda. Tapi di antara itu semua, orang tua adalah ukuran kebahagiaan yang persis sama di antara kita. Di usia yang genting ini, tepat sebelum atau setelah melewati seperempat abad, jangan biarkan ambisi pribadi menutup matamu sehingga tak mampu melihat pintu surga pada keduanya.
Tentu, kapasitasmu berbatas. Tapi niat dan ketulusanmu berbakti pada keduanya, inilah yang tak terbatas. Dan semua niat baik akan Allah bukakan dan mudahkan jalannya.
Jangan malas untuk sekadar menanyakan kesehatan lewat telepon. Jangan berkeras untuk lama tak pulang. Jangan perhitungan membelikan suplemen kesehatan atau makanan yang mereka suka.
Umur memang tak ada yang tau. Dan semua kembali padamu. Jika sisa waktu yang mereka miliki di dunia ini tidak lebih lama dari sisa waktumu, bagaimana kamu akan hargai setiap waktu mereka yang tersisa itu?
— Taufik Aulia
if you’re staying positive and trying to heal and improve yourself even after falling back into the same patterns, I’m proud of you
More Than Jokowi and Prabowo
After watching this movie, I realize that our issue is more than who’s better between 01 and 02.
Demokrasi itu tidak terbatas di bilik suara. Maka setelah pemilu ini, tetaplah jaga stamina untuk kritis. Cerdaskan diri tentang politik yang nggak sebatas partai dan capres. Kita harus melek kebijakan publik. Kalaupun tidak semua bidang, tapi paling tidak, kita tahu isu prioritas seperti energi, ekonomi, kesehatan dan lingkungan.
Jangan capek diskusi.
Gue sendiri awalnya jengah dengan semua diskusi di dunia maya. Tapi apa yang gue rasa hari ini adalah, gue bersyukur awareness generasi kita terhadap politik meningkat. Meskipun diawali dengan bertengkar antara cebong dan kampret, gue berharap generasi kita punya mekanisme sendiri untuk belajar bareng dan membentuk ekosistem yang baik dalam hal diskusi dan literasi.
Jangan membatasi politik hanya sekedar perkara partai. Karena setelah coblosan, kita masih punya tugas buat mengawal.
Beneran deh, habis lihat film ini, gue ngerasa bahwa mencerdaskan diri tentang kebijakan publik adalah amal terkecil yang bisa kita usahakan untuk generasi selanjutnya. Kasihan kalau semisal generasi setelah kita nanti cuma mendapatkan warisan alam yang sudah rusak.
*
Anyway, habis nonton sexy killers ini, gue jadi ngobrol sama temen perkara saham perusahaan mining yang biasanya paling stabil di bursa. Yhaa, emang sejauh ini, banyak temen gw yang kalo beli saham lebih milih ke perusahaan mining dengan alasan kestabilan harga tadi.
Gue ga se-melek mimin Jouska sih perkara bisnis dan permodalan gitu wkwk
Cuman setelah obrolan ini, jadi kebuka topik diskusi lain. Jadi di bursa, sahamnya perusahaan mining dan energi itu banyak masuk ke saham syariah kan. Yang ga melek kan jelas ngambil ini take for granted aja. Yang penting menguntungkan hhe.
Kalo dalam kondisi kayak gini, kira-kira fiqihnya bagaimana ya?
Membeli saham di perusahaan energi yang dari segi transaksi dan bisnisnya sebenernya halal tapi pada kenyataan di lapangan, kita tau sendiri mudharatnya seperti apa.
Cuman, kalau misal saham dilepas begitu saja, kita juga ga tau, orang kayak apa yang bakal ngasih modal. Haish, gue ngomong gini udah kayak sultan aja hha.
Tapi bener lho. Hal-hal demikian harusnya masuk pembahasan fiqih kita. Bagaimana kekuatan ummat digunakan untuk menyelesaikan issue-issue semacam ini.
Selamat datang di Pustaka Persimmon Pie. Di episode selanjutnya, semoga ada buku, video atau film lagi yang menarik untuk dibahas.
Kita dan Semua yang Tergesa-gesa
Entah bagaimana, saat ini kita seperti sedang terjebak dalam hidup yang penuh ketergesaan. Tak terpikir apa yang menjadi permulaannya, kita menjadi serba tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal.
Pagi kita berlalu dengan tergesa-gesa: bangun kesiangan, bersiap dengan secepat kilat, lalu berkendara dengan kecepatan yang untung saja tidak sampai menyaingi kecepatan cahaya. Biar cepat sampai, katanya. Tak sempat lagi untuk mensyukuri satu hari lalu yang telah terlewati dan hari baru dengan kesempatan-kesempatan untuk menjadi baik lagi. Bismillahi tawakkaltu, itu pun luput dari kesadaran dan ingatan kita, sebab kita terlalu tergesa-gesa.
Siang hingga sore hari, kita juga banyak terges-gesa. Kita tergesa-gesa saat berbicara dengan orang lain: setiap kata keluar cepat seolah tanpa titik dan koma. Biar cepat selesai karena banyak yang harus ditunaikan, katanya. Lupalah sudah kita pada bicara dengan tenang, menurunkan frekuensi, membaca bahasa tubuh, mendengarkan perasaan, apalagi untuk memikirkan sudut pandang teman bicara. Tidak hanya itu, kita pun belajar, berkarya, bekerja atau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tergesa-gesa, kita jadi lupa pada esensi tentang mengapa kita melakukannya.
Begitu pun dengan malam hari, kita melalui dan menutupnya dengan tergesa-gesa. Makan tergesa-gesa, seringnya meninggalkan sisa makanan; membalas pesan tergesa-gesa, seringnya tak paham apa yang menjadi esensi obrolan; membaca dan mengkaji sesuatu tergesa-gesa, seringnya melompat dari satu bahasan ke bahasan lainya; dan seterusnya, hingga tidur pun tergesa-gesa, bersama laptop yang masih menyala, kertas yang berserakan, ponsel yang selalu sengaja tidak dimatikan sebab takut tertinggal informasi (yang terkadang sebenarnya tidak) penting, dan shalat-shalat malam yang tertinggal. Alih-alih sibuk dalam produktivitas, aktivitas kita menjadi seperti tak jelas arahnya, hilang dari tujuannya.
Ada yang lebih parah, kita pun memaksa Allah dalam ketergesa-gesaan kita: ingin doa kita segera dikabulkan, jika tidak kita uring-uringan; ingin masalah kita segera diselesaikan, jika tidak kita galau berkepanjangan; ingin kondisi kita segera diganti dengan perubahan, jika tidak kita sibuk meracau tentang mengapa semua tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa kita menjadi sedemikian tidak sopannya pada Dia yang menciptakan kita semua?
Tunggu! Bisakah kita berjeda dulu sebentar?
Ada yang salah, ada yang perlu kita perbaiki. Coba tengok diri kita sendiri, tanyakan padanya mengapa sampai setergesa ini. Mungkin ada yang terlewat untuk dimengerti, luput untuk dipahami, atau terlupa untuk disadari. Atau bahkan, mungkin diam-diam hati kita sedang menolak apa-apa yang telah diatur dan teratur di dunia ini, sebab ia tak bersesuaian dengan kehendak diri. Entahlah, mari kita berdialog dengan diri sendiri dan bercerita kepada-Nya tentang apa yang sedang terjadi.
Pesan untuk anak Ibu
Jika kamu ingin selamat sampai tujuan, maka mencari jalan yang aman bukan solusinya. Karena di Bumi tidak ada jalan yang benar-benar aman nak.
Ibu sudah pernah lewati hampir semua pilihan jalan yang ada di Bumi, dan memang semua punya resiko jahat sendiri-sendiri. Kalau pun satu kali kita dapati jalan yang rasanya aman, biasanya teman perjalanan yang akan menyakiti kita di tengah jalan. Ada banyak kemungkinan tidak baik selama di perjalanan.
Tapi nak, itu bukan jadi alasan untuk kamu diam di tempat, tidak kemana-mana. Ibu beritahu ini supaya kamu tidak kaget dan bersiap diri. Dulu ibu pernah berhenti ditengah jalan, di tabrak yang lain, terluka parah, menangis, ketakutan di jalan gelap, dan bingung di persimpangan. Apa ibu menyerah? Hampir. Untung saja bapakmu datang, membantu ibu.
Bapakmu baik nak, dia orang yang senang membantu yang lain. Termaksud ibu. Bapak bantu ibu sampai di tujuan ibu.
Jalan di Bumi memang tidak ada yang benar-benar aman, tapi kabar baiknya selain bapak, orang-orang Bumi banyak yang baik nak. Jadi ibu lega tinggalkan kamu di sini sama bapak.
Ibu minta tolong jaga bapak yaa, kasian bapakmu sudah lelah berjalan jauh.
Juga, ibu minta maaf pergi lebih dulu. Nanti kita bertemu ditempat yang lebih indah dari Bumi ya nak.
Menguatkan bahu sendiri
Setiap orang sedang berjuang menguatkan bahunya sendiri. Terlepas dari segala beban yang sedang dipikulnya seorang diri. Kita, semua sibuk dengan persoalan kita sendiri. Yang terkadang membuat kita merasa memiliki hidup paling berat di dunia ini.
Sedangkan kita hanya tidak tahu, kita enggan mendengar orang lain. Mendengar cerita orang lain. Memperhatikan lebih dalam. Mendengar lebih banyak. Kita egois. Selalu ingin dimengerti dan didengar ceritanya tentang hidup kita sendiri. Tentang persoalan-persoalan kita dalam hidup ini. Yang akhirnya, itu semua membuat kita merasa yang paling berat sendiri bebannya. Yang paling sulit sendiri persoalannya. Sampai kita enggan mengerti tentang persoalan orang lain. Ujian hidup orang lain. Beban hidup orang lain. Yang bisa jadi, itu semua ingin sekali mereka bagi ceritanya pada kita yang sedang sibuk dengan persoalan kita sendiri hari ini.
Mari banyak mendengar. Banyak memperhatikan sekeliling. Tentang persoalan dan ujian yang sedang mereka hadapi. Teman-teman dekat, keluarga, kerabat, juga siapa saja yang kita temui sepanjang perjalanan. Barangkali dari sana, kita bisa kembali besarkan syukur di tengah segala persoalan hidup yang sedang kita hadapi. Yang sayangnya, sering membuat kita terlampau mengeluh dan egois pada kehidupan kita sendiri.
Istiana
Bersyukur
Sekian lama tidak menulis kembali semenjak menikah dan akses ke tumblr tidak lagi mudah.
Ya, banyak hal terjadi persis setelah seuntai kalimat terucap Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur , saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar tersebut. Kehidupan pasca menikah pun tidak mudah, bahkan jauh lebih menantang dari yang tadinya hanya mengurus diri sendiri. Tapi disitulah bahagianya meskipun ujian hidup bertambah. Bahwa mengarungi hidup tidak lagi sendiri, memiliki teman dalam ketaatan dan meraih ridho Allah, dan saling menguatkan serta menggenapkan fitrah manusia.
Sebab sebab lain jarangnya menulis kembali selain kesibukan, ada hal yang sedang dipelajari. Perkara hati dan niat. Bagaimana amal ibadah, kebaikan, tulisan dan hal positif lainnya bisa jadi tidak diterima sebagai amal ibadah jika dirusak dengan niat yang salah. Dan amalan baik bisa rusak pada saat sebelum mengerjakan, saat mengerjakan dan sesudah mengerjakan ketika niatnya berubah bukan semata mata mengerjakan karena Allah. Dan pujian, ketenaran serta perhatian manusia bisa menjadi perusak niat yang utama
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita)” - (H.R. Bukhari dan Muslim)
Kedua terkait walk the talk, melakukan apa yang telah dikatakan/tuliskan. Ini sangatlah sulit. Jaman sekarang mungkin orang akan bilang “ah teori aja jago, prakteknya NOL BESAR!” atau dengan istilah NATO (Not Action Talk Only). Seberapa sering anda melihat teman teman aktivis di kampus, seorang figur yang medsosnya penuh dengan postingan yang penuh nasihat, seorang yang menjadi pusat perhatian di kantor karena terkenal akan keberanian kata katanya ketika meeting, tetangga yang sangat vokal ketika rapat RT namun ternyata ketika kenal lebih jauh, tau lebih dalam, kesehariannya sangat tidak sesuai dengan kata kata atau apa yang mereka tunjukkan? (Semoga Allah menjaga saya dan kita dari sifat ini). Padahal sifat ini sangat dibenci oleh Allah sebagaimana dalam Al Quran disebutkan :
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)
Alhamdulillah atas segala rahmat dan keberkahan yang Allah berikan. Semoga Allah menjadikan kita hambanya yang lebih baik dari hari kemarin. Aamiin.
—— “Manusia itu makhluk paling tidak konsisten” “Mengapa?” “Ia selalu saja berubah. Keinginannya selalu saja bertambah. Banyak mau manusia itu!” “Bukankah seharusnya memang begitu? Segala hal harus berubah, sebab hidup kita tidak berjalan ditempat. Kita bergerak, dan tentu saja ke arah terbaik menurut versi kita. Lagipula kau salah. Aku manusia, dan Aku konsisten dalam satu hal.” “Apa?” “Merindukanmu.” ——
Jangan Ngerasa Aman
Jangan ngerasa kamu aman. Jangan ngerasa neraca pahala dan dosa kamu oke. Jangan ngerasa kamu dalam keadaan netral.
Ingat oi, dosa-dosa kamu. Ingat dosa-dosa yang ngga ketauan sama orang-orang. Meski orang-orang ngga tahu, bukan berarti dosanya ngga ada kan? Gimana kalau dosanya masih ada karena kamu belum pernah minta maaf dan bertaubah ke Allah untuk dosa tersebut? Gimana kalau ternyata istighfar satu-dua kali yang kamu lakukan alakadarnya habis shalat itu ngga menyentuh dosa yang ini dan itu?
Sadar, mungkin aja kamu dalam kondisi minus. Jangan kepedean.
Tobat. Istighfar terus-terusan, daripada ngelamun. Karena kamu ngga tahu seberapa dalam lubang dosa yang udah kamu buat, yaudah sekarang gempur aja lubang itu dengan perbuatan baik yang banyak banget. Udah, jangan banyak mikir lagi kalau mau generate pahala. Just do it, dengan penuh totalitas.
Siapin kematian kamu. Jelas banget bahwa semua orang akan mati, jadi ngga usah takut sama kematiannya, takutlah bahwa kamu ngga cukup bawa banyak tabungan.
Seringkali kita hanya menyadari bahwa di usia seperti ini banyak teman kita yang telah menggenap, tanpa kita sadar bahwa banyak juga yang justru berpulang kembali kepadaNya untuk menghadap.
Jadi, mana yang lebih dulu menghampiri kita?
- Renungan beberapa hari terakhir
Kalau hidup sekedar hidup, ikan di laut juga hidup. Tapi kita manusia dengan karunia luar biasa. Berdoa dan berusahalah lalu Allah akan mengijabah. Teruslah bersyukur meski teelihat kurang dimata orang-orang.
Tentang Menikah #1: Seni Mengalah
Saat mempersiapkan pernikahan, saya mendapatkan ide untuk meminta tips dalam mengarungi rumah tangga dari sahabat, rekan, atau saudara yang hadir dalam pernikahan kami, dengan cara menyediakan kertas dan meletakkan toples yang saya namai dengan ‘Tip Jar’ di depan pintu masuk.
Beberapa hari setelah resepsi usai, saya mulai membaca satu persatu pesan yang ditulis. Menyenangkan rasanya mendapatkan saran dari orang - orang terdekat kita, karena kita tahu pasti mereka akan memberi saran yang terbaik dari mereka, dan belajar dari pengalaman orang lain akan jauh lebih efisien dibandingkan untuk menunggu belajar dari pengalaman kita sendiri. Dari beberapa saran tersebut, rata-rata yang saya dapatkan adalah saran untuk mengalah dengan pasangan.
Dari buku-buku yang pernah saya baca sebelum menikah, saya sudah cukup memahami bahwa salah satu bekal untuk menikah adalah bagaimana kita belajar mengalah. Dan setelah menikah, pentingnya seni mengalah dalam berumah tangga makin terasa :).
Setelah menikah, kepentingan keluarga menjadi lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi.
Bagaimana kita harus mengalah dengan menunda meraih ambisi diri jika kondisi rumah tangga belum memungkinkan, atau bahkan mengurungkannya jikalau ternyata setelah diskusi dengan pasangan hal tersebut kurang sesuai dengan cita-cita bersama.
Bagaimana kita harus mengalah demi kebutuhan pasangan. Bagaimana sang suami membatalkan agenda berlibur dengan rekan sekantor saat sang istri membutuhkannya untuk mengantarkannya memeriksakan kehamilan misalnya. Bagaimana sang istri menunda keperluannya demi mengutamakan kebutuhan suami. Seorang istri wajib memenuhi kapanpun panggilan suami untuk menunaikan hajatnya, meskipun ia sedang di dapur. Bahkan untuk berpuasa sunnah pun, Allah haramkan jika tanpa seizin suami.
Setelah menikah, keharmonisan keluarga tak mungkin datang tiba-tiba. Ia adalah sesuatu yang harus diupayakan. Karena mencintai, adalah kata kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk berusaha memahami karakter satu sama lain. Bagaimana kita harus mengalah untuk menerima kekurangan pasangan, kalau perlu kita beri masukan nasihat namun tetap dengan cara yang baik. Bagaimana sang suami harus mengalah untuk bersabar saat sang istri lupa di mana menaruh kunci untuk kesekian kalinya misalnya. Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk bersabar saat sang suami menaruh barang secara sembarangan sepulang kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk belajar memahami kondisi pasangan. Bagaimana sang suami harus mengalah untuk meminta maaf pada istrinya yang sedang ngambek meskipun sang suami masih belum tahu apa salahnya. Mungkin sedang PMS :). Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk tidak berkeluh kesah kepada suami jika melihat suaminya sedang kelelahan dan tidak mood sepulang kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk menyesuaikan diri kita dengan apa yang disuka atau tidak disuka pasangan. Suami suka masakan pedas istrinya tidak, ya sang istri mengalah untuk belajar membuat sambal. Sang istri penyuka jalan-jalan tapi suami tidak, suami hendaknya mengalah untuk mengantarkan istri :). Suami tidak suka durian tapi istri suka banget, sang istri jangan mengkonsumsi durian saat bersama suami dan berkumur atau menggosok gigi setelah mengkonsumi durian. Istri tidak suka suara dengkuran, suami belajar posisi tidur supaya tidak mendengkur.
.
Yang harus diingat, awas, jangan sampai terbalik. Posisikan diri kita sebagai pihak yang mengalah, bukan sebaliknya. Jangan sampai ada perkataan atau perbatinan seperti ini, ‘Dia kan tahu aku begini-begitu, harusnya dia maklum dong, bukannya ngomel aja tiap hari’. Jangan, ya! :)
Karena mengalah berbeda dengan kalah, mengalah merupakan suatu sifat pemenang yang merasa tidak akan membuatnya kalah dengan mengalah. Terima kasih telah memenangkan banyak hal dengan caramu dalam perjalanan ibadah kita mengarungi kehidupan. :)
Tentang Menikah: 2# Aku Bukan Malaikat, Kau Bukan Bidadari
Setelah akad terucap, perasaan bahagia menyeruak di hatinya. Senyumnya terus mengembang. Akhirnya ia menghalalkan sesosok wanita yang di matanya terlihat sempurna tanpa cela.
Seminggu, dua minggu, sebulan, setahun berlalu. Perlahan - lahan ia melihat hal yang kurang ia sukai dari pasangannya. Karakter pasangannya perlahan - lahan mulai tampak, termasuk kekurangannya. Begitu banyak kekurangan pasangannya yang ia lihat dan betapa seringnya cekcok yang terjadi, hingga terbersit di pikirannya, apakah aku telah menikahi orang yang salah?
Naudzubillahi min dzalik.
Saat mencari pasangan hidup, tidak jarang seseorang memiliki segudang kriteria. Semuanya harus baik. Padahal tidak ada insan yang sempurna, tanpa salah, tanpa cela. Insan, jika dilihat dari aspek bahasa, berasal dari tiga akar kata. Salah satunya نَسِيَ (nasiya) yang berarti lupa. Sehingga manusia terkadang bisa lupa dan mudah dipengaruhi syaithan untuk melakukan perbuatan tercela.
Bahkan sesosok Nabi pun pernah melakukan kesalahan. Seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan Paus sebagai teguran dari Allah karena marah dan meninggalkan kaumnya karena dakwahnya tidak diindahkan. Pun Nabi Muhammad yang pernah ditegurNya karena mengharamkan madu yang hukum asalnya halal untuk menyenangkan istrinya.
Kau bukan Malaikat, dia pun bukan Bidadari. Jika akhlaqmu tak seperti Muhammad, mengapa mendamba sosok yang serupa Khadijah?
Mungkin istrimu tak pandai memasak, namun ternyata ia amat piawai mendidik anak.
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.“
( QS An-Nisa’:19)
Mungkin suamimu tak pintar merayu, namun jerih payahnya dalam mencari nafkah untukmu, mendidikmu dan menjagamu dari api neraka, cukup menjadi alasan atas sabda Rasulullah,
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”.
Maka, kuncinya adalah:
1. Tidak berekspektasi berlebihan, karena tak ada manusia yang sempurna.
Sebelum atau awal-awal menikah terkadang ekspektasi dan pandangan seseorang terhadap pasangannya begitu besar. Hal tersebut wajar karena saat jatuh cinta, seperti dikatakan seorang Profesor Neurosains Harvard Medical School (klik di sini untuk melihat sumber), terjadi perubahan neurotransmitter di otak, dan terjadi deaktivasi jalur neural yang bertanggung jawab terhadap emosi negatif. Salah satunya menurunnya fungsi penilaian kritis terhadap orang lain, termasuk penilaian orang yang dicintai. Ketika kadar neurotransmitter tersebut menurun, pikiran pun seakan ‘kembali jernih’.
2. Bersyukur akan apa yang ada pada pasangannya. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Karena boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal menurutNya itu baik untuk kita.
3. Menundukkan pandangan, serta tidak membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain.
Ada sebuah kisah yang beberapa kali pernah saya baca, tentang seorang suami yang mengadukan perasaannya kepada seorang Syaikh. Ia berkata,
"Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku ALLAH tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik darinya di dunia ini. Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak wanita seperti dia. Ketika aku sudah menikahinya aku lihat banyak wanita yang jauh lebih cantik dari dirinya. Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari pada istriku."
Sang Syaikh berkata,
"Apakah kamu mau aku beritahu yang lebih dahsyat dari pada itu dan lebih pahit?"
Pria tersebut menjawab,
"Iya, mau.”
Syaikh melanjutkan,
“Sekalipun kau kawini seluruh perempuan yang ada di dunia ini, pasti anjing yang berkeliaran di jalanan itu terlihat lebih cantik dalam pandanganmu daripada mereka semua."
Pria penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar,
"Kenapa Tuan Syaikh berkata demikian?"
"Karena masalahnya bukan terletak pada istrimu. Tapi masalahnya adalah bila manusia diberi hati yang tamak, pandangan yang menyeleweng, dan kosong dari rasa malu kepada Allah, tidak akan ada yang bisa memenuhi pandangan matanya kecuali tanah kuburan.”
Sang Syaikh melanjutkan,
“Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah. Sekarang, apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan mengembalikan kecantikan istrimu seperti pertama kali kamu mengenalnya? Ketika ia menjadi wanita tercantik di dunia ini?"
Pria itu menjawab,
"Iya, mau sekali.”
“TUNDUKKAN PANDANGANMU“, jawab sang Syaikh.
THE LAST but not least, untuk kamu yang sedang dalam pencarian atau penantian, jangan bosan untuk terus memperbaiki diri yaa :). Karena laki – laki yang baik untuk wanita yang baik, kan, begitu pula sebaliknya :).
Bekasi, 17 April 2018.
Dari seorang istri yang masih belajar menjadi istri terbaik untuk suami terbaik.
Zaujati jannati, Ya Allah sesungguhnya ia bagian dariku dan aku bagian darinya, maka ridhoilah kami didunia dan diakhirat.
“My Mom is the strongest woman I know.”
—
“Agama tidak pernah mengecewakan manusia. Tetapi manusia yang selalu mengecewakan agama.”
—
Segala Puji bagi Allaah.. serahkan segalanya pada Allaah, in shaa Allaah semua akan membaik. Sabar tidak ada batasnya, perbanyak bersyukur dari segala cobaan hidup, karena tiap apa yang dilalui pasti ada hikmah dan rencana yang Allaah simpan.