Lampion Takbiran
"Lampion takbiran 17rb aja, untuk takbiran keliling bocil"
Bunyi sebuah pesan WA dari nomor baru yang belum kusimpan. Di tengah kesibukan H-1 menjelang malam takbiran, aku hanya membuka pesan itu, membacanya, dan berpikir sepertinya aku ngga butuh. Lagian siapa pula ngechat random banget sih gapake salam, gapake copywriting yang menjual. Cuma ngirim gambar lampion dan kata² super singkat.
Hmmm
Bbrp jam kemudian, pesan dari nomer yg sama masuk
"Sisa 2 pcs"
Hmm siapa sih. Maksa bgt jualannya wkwk
Akupun klik nomernya, ternyata kita tergabung di sebuah grup yaitu TPA Musola di dekat rumahku. Memang TPAnya diikuti banyak anak dr luar kampung kami juga. Pasti ini nomer slh satu wali murid anak TPAnya.
Sebenernya anakku jarang bgt dtg TPA, karena baru usia 2 tahun. Terhitung hanya sekitar 3 kali datang selama puasa ini.
Sekalipun itu wali anak TPA, menurutku chatnya kurang sopan. Kita belum kenal juga, tidak pakai salam, tidak pakai kata² ciamik ala orang jualan hehe.
Keesokan harinya saat aku ke rumah salah satu teman untuk mengambil jahitan baju lebaran. Tiba² ada seseorang mbak² memanggil
"Mbak wingi tak chat lho, piye?" Teriaknya sefrontal itu
Sedetik aku berpikir chat yang mana ya? Detik kedua alhamdulillah otakku connect secepat itu
"Oalah lampion? Iya mbak boleh? Aku bayar sekarang ya?"
Secepat itu aku merespon. Bukan karena terdesak.
Tapi.. lebih karena egoku seperti terpukul telak. Seseorang yg menjual lampion itu... ternyata adalah..
embak² yg pernah kukenal.. seorang ibu dari 3 anak, anak pertama usia TK, kedua 3 tahun, dan anak ketiganya usia 1 tahun. Sudah lama ia hanya tinggal berempat karena ditinggal suaminya pergi entah kemana tanpa kabar. Kedua orangtua mbaknya udah meninggal. Sekarang ia tinggal di sebuah tanah sengketa dg kondisi rumah yang jauh dr kata layak.
"Nanti sore mbak ta bawain ini dah habis" ucapnya
Aku terdiam menatapnya, mungkin hanya sedetik dua detik sembari bilang
"Oke mbak nanti ya"
Di momen sesingkat itu hatiku berkecamuk. Seharusnya kemarinpun aku bisa membalas "maaf ini siapa?" atau yang lainnya, daripada bersuuzon "jualan kok ga sopan gini"... siapa yang tau, jika ternyata chat random jualan yang menyasar WA kita itu datang dari tangan gemetar yang sedang kelaparan, dari hati yg gelisah memikirkan kebutuhan anak-anaknya, dan... dari tangis panjang karena kekurangan.
Aku yang mungkin terbiasa terdidik chat ala perguruan tinggi, harus sistematis, sopan, dan to the point, jadi terasa "sejahat" ini menghadapi chat yg datang dari mereka yg tidak terbiasa dg prosedur chat ala kampus itu. Astaghfirullah... apakah ini bentuk kesombongan..
Malam itu lampionnya kubeli.
"Mbak aku gabawa kembalian..."
"Gapapa mba gausah kembaliane, nggo jajan anakmu wae"
"Makasih mbakk.."
Malamnya dia masih chat aku lagi
"Mbak lemah teles ya, gusti Allah sing bales"
Ucapnya. Ya Allah ampuni hamba.. maafin aku mbak belom bisa bantu banyak...














