mataku menangkap pijaran pelita
memicing karena terangnya menyilaukan di ruang gelap
pikiranku melalang buana tak ada arah, liar
tak sengaja berhenti pada masa kelam
teringat akan tubuh telanjang dan napas memburu
sedang menunduk di ujung ranjang,
merutuk kebiasaan berburu
pertanyaan-pertanyaan penuh sesal bermunculan
jika satu malam saja sudah cukup,
mengapa relung hati masih teriakan sepi?
jika memang hanya cumbu yang dirindu,
mengapa tangis tanpa suara masih jadi guruh?
jika memang ingin senangkan raga,
mengapa tinju tembok masih jadi kebiasaan?
jika memang ingin puaskan hasrat,
mengapa birahi tak kunjung terpenuhi?
tepukan ringan ibu di pundak menyadarkan,
" ayo sembahyang," ujarnya.
dengan patuh, aku tanggalkan lagi kenangan
untuk bersiap meminta ampun