Teruntuk Kamu Yang Tak Kunjung Pulang
Teruntuk kamu yang tak kunjung pulang,
Aku ingin bercerita sedikit, boleh ya?
Kamu tau, senja sudah beberapa hari ini tak menampakkan semburat jingganya. Hanya sebuah kelam yang membuat sedikit ketakutan dengan gemuruh ditemani kilatan yang datang silih bergantian. Entah kenapa, aku merasa ini sebuah kebetulan. Kebetulan ketika aku sedang merindumu dengan keterlaluan dan semesta ternyata mendukung, mungkin saja kan?
Kamu tau, setiap melintas di persimpangan jalan, aku merasa tanganmu masih memelukku dari belakang sembari berkata “hati-hati sayang”. Kata-kata yang b egitu terngiang yang tak bisa aku buang.
Kamu tau, ternyata merindu sendirian itu menyakitkan loh. Kamu pernah merasakan karena kamu kehilanganku? Atau hanya sebuah perasaanku yang terlalu percaya diri bahwa kau akan merinduku hingga sejauh itu? Ah maaf aku tidak tau diri ya?
Sekarang, aku sedang berterima kasih kepada Tuhan.
Terima kasih atas semua cerita bahagia walau sekarang hanya menjadi sebatas pernah. Dicinta olehmu ternyata luar biasa.
Terima kasih atas segala pelipur lara ketika duka sedang menjadi menggebu pilu walau sekarang hanya menjadi sebuah kenangan yang perlahan punah. Bersamamu adalah sebuah kisah yang tak pernah aku duga.
Terima kasih atas segenap tawa ketika dunia sibuk mencaci meluka walau sekarang hanya menjadi seonggok roman yang sedikit demi sedikit musnah. Dipelukmu adalah sesuatu anugrah tak terkira.
Terima kasih atas seluruh cita untuk merapuh berdua walau pada akhirnya segala asa harus menguap menghilang ditelan oleh mimpi-mimpi; secara sendirian, sebuah sesuatu yang tak pernah aku bayangkan.
Dan untuk seluruh kenangan manis yang tak pernah luruh, seluruh rindu yang tak bisa sayu, aku hanya bisa menunggumu untuk kembali- lagi. Menunggu tanpa pernah tau apa ujung dari sebuah rasa yang tak pernah sirna, hanya menyelesaikan cerita yang pernah kita janjikan bersama; hidup bahagia-berdua.
-karena meninggalkan Bandung adalah salah satu bagian terberat dalam hidup-