Perjalanan Nafs Bagian II : Nafs Lawwamah
Hakim di Dalam Dada
Aku sudah pernah membahas tentang Nafs Ammarah di sini.
Aku tertarik melanjutkan bahasan ini ke Nafs Lawwamah soalnya jujur "janggal". Kenapa ya, Nafs Lawwamah didahului sumpah sedangkan Nafs Ammarah enggak? Kenapa ya Allah perlu bersumpah demi rasa bersalah manusia, tepat setelah sumpah demi hari kiamat? Seolah-olah topik 'mencela diri' ini jauh lebih krusial untuk dibahas daripada sekadar membahas kesalahan itu sendiri.
Untuk menjawabnya, kita bisa mulai dari 3 fitur utama manusia saat diciptakan (cek QS Al-Baqarah : 30-38).
Allah mengajarkan Adam nama-nama, implikasinya Bani Adam memiliki kemampuan berbahasa yang kemudian akan berkembang menjadi daya kognisi untuk mengonstruksi seluruh bangunan ilmu pengetahuan (kapasitas intelektual).
Allah mengontraskan antara malaikat yang sujud dan iblis yang enggan sujud. Lalu Allah juga memberi perintah "tinggallah kamu di sini" dan larangan "jangan dekati pohon itu". Karena diberikan free will, Adam memakan buah yang menunjukkan bahwa dirinya mampu membuat pilihan, baik itu benar maupun salah (kapasitas moral).
Allah menegur Adam, Adam pun bertaubat, "Rabbana dzalamna dst." Artinya, kombinasi dari dua fitur pertama, memungkinkan lahirnya fitur ketiga yaitu metakognisi (kemampuan memikirkan, mengilmui, memonitor, menilai, dan mengevaluasi pikiran, perasaan, tindakan, dan pilihan hidup) which is hewan nggak punya ini.
Lalu apa kaitannya semua itu dengan Lawwamah?
Metakognisi sendiri sifatnya deskriptif dan netral (hanya kemampuan mengamati pikiran atau helicopter viewing). Ada diri yang menilai dan ada diri yang dinilai. So.. manipulator ulung atau bahkan psikopat pun bisa sangat reflektif dan mengenal dirinya. Yang membedakan adalah (si)apa yang menjadi hakim atas hasil refleksi itu? Didasarkan pada apa penilaian diri itu?
Sementara itu, kata lawwamah (لَوَّامَة) berasal dari akar لَامَ – يَلُومُ (lāma–yalūmu) yang artinya mencela, menyalahkan, menegur, dan mengkritik. Anyway.. kapan jiwa bisa mencela dirinya? Yakni ketika hasil metakognisinya dihadapkan pada sebuah standar moral, lalu ia bersikap jujur dan rendah hati terhadap itu.
Standar moral yang dimaksud adalah fitrah yang Allah tanamkan, yaitu pengetahuan dasar tentang benar dan salah yang membuat Adam langsung mengakui, "Rabbana dzalamna," bahkan sebelum turun wahyu syariat secara terperinci. Jadi.. lebih dari metakognisi, lawwamah adalah kemampuan mengamati diri dalam penggarisnya Allah. Di konteks Adam tadi, penggarisnya adalah perintah dan larangan.
Menariknya..
Kemampuan metakognisi ini dieksplisitkan di Al-Qiyamah (75:14). Like.. manusia tau kok apa motif dirinya, apa yang sebetulnya dia mau, kapan dia sedang berbohong, dan kapan dia sedang mencari pembenaran.
بَلِ الۡاِنۡسَانُ عَلٰى نَفۡسِهٖ بَصِيۡرَةٌ ۙ Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Lalu ayat 15-nya menjelaskan, kenapa metakognisi aja nggak cukup untuk memunculkan Nafs Lawwamah (membangunkan hakim itu).
وَّلَوۡ اَلۡقٰى مَعَاذِيۡرَهٗؕ dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
Kesadaran diri dan metakognisi nggak otomatis menghasilkan pertaubatan, dan itulah yang membedakan Adam dengan iblis. Masuk akal kemudian, kenapa "haunan" atau kerendahan hati (re: self awareness yang berketuhanan) menjadi kualitas pertama yang diapresiasi Allah pada diri ibadurrahman (25:63). Sebab untuk dapat jujur, mengakui, dan membaca diri, kita perlu mereduksi kesombongan itu. Sombong sendiri menurut hadis ada dua jenis yaitu terhadap al-haq (menolak kebenaran) dan terhadap makhluk (merendahkan manusia).
Tentunya kita nggak mau bermetakognisi dengan cara seperti Iblis, yang setelah mengenal dirinya dengan baik malah menyusun narasi untuk tetap merasa benar, dengan membuat komparasi/rasionalisasi yang penggarisnya materialis (api vs tanah) dan melahirkan sifat istikbar (sombong).
Surat Al-A'raf (7:77) juga isinya menohok.
Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka mendzalimi diri sendiri.
Jangan dipikir ayat-ayat tuh Al-Qur'an aja. Ayat-ayat di dalam diri kita masing-masing tuh banyak banget. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang diumpamakan sangat buruk hanya karena:
Nggak mau mengenal diri (melalui si/apapun) dan denial dalam prosesnya.
Mengenal diri dengan baik tapi malah bikin alasan ini itu.
Fir'aun pun bermetakognisi.
Bahkan, Fir'aun adalah master of self justification (pembenaran diri). Perhatikan dialognya di surat Al-Qasas (28:38), "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku."
Untuk bisa mengatakan kalimat sebesar itu, dia harus melakukan proses mental yang kompleks mencakup evaluasi situasi politiknya, penilaian ancaman Musa terhadap kekuasaannya, dan monitoring efek pidatonya terhadap rakyatnya.
Sayangnya metakognisi Fir'aun tidak melahirkan Nafs Lawwamah. Dia sadar akan pikirannya sendiri dan malah menggunakannya untuk strategi propaganda. Dia tau Musa membawa kebenaran. Namun dia menolak tunduk secara moral terhadap pengetahuan itu.
"Mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakininya..." (QS 27:14)
Menariknya diksi dzalim dan sombong di-mention lagi di sini. Kalau bahas dzalim, pasti berkaitan dengan hak sih biasanya.
I mean.. diri kita tuh punya hak loh untuk dipertemukan, dikenali, disaksikan, bahkan dipelajari oleh dirinya sendiri (kayak aneh ya?). Nggak cuma itu. Diri kita juga punya hak atas kebenaran. Diri kita berhak diukur dengan penggaris Allah, dan baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya.
Lalu kenapa Nafs Lawwamah matter dan disetarakan dengan Yaumil Qiyamah?
Qiyamah sendiri berasal dari kata قام – يقوم (qāma–yaqūmu) yang artinya berdiri, bangkit, tegak, muncul, dan mengambil posisi. Sebuah gerak dari keadaan pasif menuju keadaan aktif.
Menyambung konteks Nafs Ammarah sebelumnya, di sana kesadaran itu terninabobokan. "Dunia ini ada untuk memuaskanku," sehingga realitas jadi sangat subjektif dan egosentris di mode Ammarah.
Begitu hakim di dalam jiwa berdiri (melalui metakognisi yang bertemu fitrah tadi), realitas pun berubah menjadi objektif dan teosentris. Helicopter viewing dari sudut pandang Ilahi, bahasa kerennya mah. Sehingga diperoleh penemuan bahwa ada kebenaran di luar diri kita yang harus dipatuhi, dan kita telah melanggarnya. Get it? That makes a lot of sense ada istilah spiritual awakening. Ada realitas yang hancur dan realitas lain yang bangun. Mungkin itu kali ya maksudnya, Nafs Lawwamah = mini Qiyamah di dalam dada.
Semua manusia pada dasarnya punya nurani untuk bisa merasa bersalah kalau nyakitin orang, atau merasa nggak adil kalau nemu kedzaliman, atau merasa yang baik harusnya dibalas baik. I mean.. jiwa manusia memang diarahkan ke pertanggungjawaban moral. Dengan begitu, lawwamah itu sendiri adalah "tanda" (ayat) yang mengarah pada kepastian hari pembalasan. Karena bayangin aja, kalau nggak ada pengadilan terakhir, maka rasa harusnya adil itu jadi absurd dan nurani manusia cuma jadi fitur sia-sia di alam semesta yang amoral (jika tanpa akhirat). Kayak.. ngapain Allah "repot-repot" ngasih manusia nurani/moral yang nuntut keadilan, kalau pada akhirnya realitasnya memang nggak peduli keadilan sama sekali?
Berpegang pada premis andalanku (3:91), Rabbana maa khalaqta haadza bathila, diperoleh konsekuensi logis bahwa kapasitas moral manusia ini harusnya nggak sia-sia, pasti nge-link ke sesuatu. Pasti ada tujuan final yang mengikatnya. Dan apa lagi tujuan final itu, kalau bukan hari penghakiman?
Menulis ini membuatku sadar betapa menggelikannya menghadapi diri sendiri saat kita justru benar-benar ingin lari darinya. Orang yang rajin "mengerjakan dirinya" pasti akrab sama perasaan nggak betah ini.
Berapa banyak kita melakukan flight response atau avoidance terhadap tanggung jawab moral? Sayangnya menghindari refleksi sama sekali nggak bikin kita terbebas dari itu. Surat Al-Qiyamah ayat 10-13 menelanjangi kita habis-habisan.
(10) Pada hari itu manusia berkata, "ke mana tempat lari?" (11) Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. (12) Hanya kepada Tuhanmu saat itu tempat kembali pada hari itu. (13) Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya.
Tadi aku mention, baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya. Ini senada dengan kutipan dari Carl Jung, "manusia akan melakukan apa saja, betapapun absurdnya, untuk menghindari menghadapi jiwa mereka sendiri."
Dari apa? Dari rasa malu, rasa bersalah, runtuhnya citra diri, dan dari tanggung jawab itu sendiri. Caranya banyak wkwk kita juga pasti pernah melakukannya. Entah sibuk, ngeles, pura-pura lupa, nyalahin sistem atau orang lain, atau bikin narasi/rasionalisasi. Nah, manusia pikir selama masih di dunia, bisa-bisa aja kabur untuk menunda tanggung jawab itu.
Tapi.. ke mana coba seseorang bisa lari dari dirinya sendiri? Dan kalaupun bisa, mau sampai kapan? Ujung-ujungnya mah manusia dipaksa berhadapan dengan kebenaran tentang dirinya (aduh suka tiba-tiba sedih sebenernya ngebayangin bahwa di dunia ini ada jiwa yang bahkan nggak betah tinggal di dalam dirinya sendiri).
Lihat betapa persis alias sama-sama nggak bisa kaburnya baik itu di pengadilan diri maupun di pengadilan yaumil qiyamah. Betapa serius dan agungnya proses jiwa ini hingga disetarakan dengan hari kiamat. Maka dengan bahasa yang filosofis, Al-Qiyamah (75:2) bisa jadi berbunyi,
"Demi kemampuan manusia untuk menjadi pengadilan pertama bagi dirinya sendiri. "
Kejanggalan (re: keajaiban linguistik) terakhir yang ingin kubahas adalah penggunaan diksi lawwāmah, soalnya secara tata bahasa bisa aja pakai bentuk لائمة (lā'imah) yang artinya "orang yang mencela" atau "yang sedang mencela."
Tapi Allah pilih diksi لَوَّامَة (lawwāmah) yang ngikutin wazan فَعَّالَة (fa''ālah) which is sering dipakai buat nunjukkin intensitas, frekuensi, kebiasaan, dan sesuatu yang menjadi karakter. Contohnya, غفّار (ghaffār) = Maha Pengampun (sering mengampuni) dan توّاب (tawwāb) = Maha Penerima tobat (berulang kali menerima tobat).
Jadi, berbeda dengan la'imah yang mungkin terjadi sesekali, lawwamah itu seperti mekanisme internal yang terus mengaudit diri sendiri. Dengan kata lain, lawwamah sebenarnya adalah fungsi bawaan dari jiwa yang sehat. Bukan suatu tahapan statis seperti yang suka dibahas di kajian-kajian. Bukan juga perasaan yang datang dan pergi. Kupikir fitur inilah yang membuat manusia tetap terhubung dengan realitas dan hari kiamat.
Hadis rasul yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga menghargai proses ini, "orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." The goal is not only I endlessly analyze myself. It’s I can see the process generating my interpretation, adjust if necessary, then act coherently.
Buat penutup.. proses mengenal diri dan menempatkan diri di "pengadilan internal" tuh nggak pernah mudah. Selalu dibutuhkan orang lain untuk mengenal diri sendiri. Kalau memang belum terbiasa menemui dan mengenal diri, boleh banget kok waktu ketemu "diri yang lainnya" minta ditemenin sama teman-teman yang kenal kamu. Pinjam "mata" atau pandangan mereka jadi cermin untuk memantulkan dirimu dan usahakan yang rasio halal-haramnya sekufu bahkan lebih baik (cenah kata tren di reels mah). Mudah-mudahan teman-teman kita sangat baik dan bersedia ngasih pemantulan yang baik, sejernih dan seotentik yang mereka bisa, dan genuine.
— Giza, segala puji bagi Allah yang telah memberi Giza kekuatan menyelesaikan draft yang sudah dicicil dari setahun lalu ini (mo nangis terharu karena udah capek banget mikirin ini nggak kelar-kelar). Gila, sungguh kerja kognitif yang berat, subhanallah, masyaallah. Mudah-mudahan metakognisi kita punya cukup daya pengaruh pada sistem eksekusi kita, (notes: abaikan inkonsistensi teknis dalam penulisan sebab Giza males koreksinya). Kebenaran datangnya dari Allah, kekeliruan datangnya dari Giza. Terbuka untuk diskusi lebih lanjut dan CMIIW!













