Kamu Menertawakan Folklore—Padahal Folklore Adalah Perpustakaan Terbesar yang Pernah Ada
Leiden University di Belanda telah meneliti budaya dan tradisi lisan Nusantara selama lebih dari dua abad. Lembaga risetnya, KITLV, berdiri sejak 1851, khusus untuk mengkaji Asia Tenggara. Perpustakaan Asia mereka menyimpan koleksi Indonesia terbesar di luar negeri kita sendiri. Sementara di sini—di tanah asalnya—cerita yang sama sering kali hanya disambut tawa, bahkan diabaikan.
Selama ini kita mengajukan pertanyaan yang salah. Kita bertanya: "Apakah Nyi Roro Kidul itu nyata?" Seolah-olah itu satu-satunya cara untuk menilai apakah sebuah cerita layak didengar atau tidak.
Padahal leluhur kita tidak sedang menulis laporan ilmiah. Mereka sedang menulis sesuatu yang jauh lebih penting, yakni sistem nilai, peringatan keselamatan, dan kearifan hidup—dalam bahasa yang bisa diingat, diteruskan, dan dirasakan selama berabad-abad. Dan kita, generasi yang katanya lebih cerdas, sedang membuang perpustakaan itu hanya karena sampulnya terlihat asing.
Apa sebenarnya tujuan Folklore?
Folklore bukan sekadar cerita hantu atau larangan-larangan yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Dalam kajian antropologi dan etnologi, folklore adalah sistem pengetahuan kolektif—cara sebuah komunitas merekam pengalaman, meneruskan nilai, dan memberi makna pada hal-hal yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan pada zamannya.
Ukurannya bukan apakah ceritanya masuk akal secara literal. Namun, indikasinya adalah: apakah ia berfungsi? Apakah ia menjaga orang tetap aman? Apakah ia merekatkan komunitas? Apakah ia mewariskan nilai yang terbukti relevan lintas generasi? Jika ya—maka ia bukan takhayul. Ia adalah teknologi sosial yang lahir jauh sebelum kita punya nama untuk menyebutnya.
Buktinya ada di depan kita—kalau mau melihat
Pertama, fungsi saintifik. Ambil contoh yang paling sering ditertawakan: larangan memakai baju hijau di Pantai Selatan Jawa. Kedengarannya aneh. Tapi berhenti sebentar dan tanyakan—kenapa aturan itu lahir?
Ombak Selatan Jawa adalah salah satu yang paling berbahaya di dunia. Arusnya tidak terduga, kedalamannya tidak bisa ditebak. Leluhur kita tahu ini, sebab mereka hidup di tepinya dan mungkin kehilangan orang di dalamnya. Namun, mereka tidak punya papan peringatan. Tidak juga punya aplikasi cuaca. Yang mereka punya adalah cerita. Dan cerita itu harus mudah diingat, mudah diteruskan, dan cukup kuat untuk membuat orang patuh.
"Jangan pakai baju hijau. Nanti dibawa Nyi Roro Kidul."
Hanya satu kalimat, tapi diingat selama berabad-abad. Lebih efektif dari papan peringatan mana pun.
Kedua, fungsi psikologis. Nyi Roro Kidul bukan hanya tentang laut yang berbahaya. Ia adalah cara leluhur kita memberi nama pada sesuatu yang lebih besar dari manusia—rasa takut, ketidakpastian, kehilangan yang tidak bisa dijelaskan. Setiap budaya di dunia punya cara untuk memproses hal-hal seperti ini. Beberapa menulis filsafat, beberapa menulis doa, dan leluhur kita menulis cerita. Caranya berbeda, tapi fungsinya sama.
Dan penelitian psikologi modern justru membuktikan bahwa manusia yang punya narasi—cerita yang memberi makna pada pengalaman mereka, cenderung lebih tangguh menghadapi kesulitan dibanding mereka yang tidak. Folklore adalah narasi kolektif tertua yang kita punya.
Ketiga, fungsi sosial. UNESCO dalam Konvensi 2003-nya menyebut warisan budaya takbenda—termasuk tradisi lisan dan folklore sebagai fondasi kohesi sosial: cara sebuah komunitas membangun identitas bersama dan rasa memiliki terhadap tempat di mana mereka hidup.
Bukan klaim yang abstrak. Penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa komunitas yang masih aktif menjaga tradisi lisannya memiliki ikatan sosial yang lebih kuat, rasa saling percaya yang lebih tinggi, dan identitas kolektif yang lebih kokoh menghadapi perubahan.
Ketika folklore hilang, bukan hanya ceritanya yang pergi. Yang pergi adalah alasan mengapa orang-orang di sekitar pantai yang sama, gunung yang sama, atau desa yang sama—merasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka masing-masing.
Tentu saja ada batas. Ada ekspresi kepercayaan yang memang perlu dikritisi—ketika folklore dijadikan alasan untuk menolak pertolongan medis, atau digunakan untuk melanggengkan ketakutan yang tidak perlu. Itu nyata dan itu masalah.
Tapi kritik itu seharusnya ditujukan pada ekspresi yang ekstrem, bukan pada seluruh tradisi yang berlapis dan kaya. Menolak semua folklore karena sebagian disalahgunakan adalah seperti membakar perpustakaan karena beberapa bukunya berisi informasi yang salah.
Kembali ke pertanyaan yang benar.
Jadi, bukan apakah Nyi Roro Kidul itu nyata. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang cerita ini coba jaga? Apa yang ia lindungi, ajarkan, dan wariskan? Dan apakah kita cukup sabar untuk mendengarnya sebelum menghakiminya?
Universitas di Belanda itu sabar. Mereka membaca. Mereka meneliti. Mereka menemukan sesuatu yang berharga. Sementara kita—yang mewarisi cerita itu secara langsung, yang tumbuh di dekat pantainya, yang punya nenek yang pernah menceritakannya—masih sibuk tertawa.
Folklore tidak butuh kita, untuk mempercayainya. Ia hanya butuh kita, untuk tidak membuangnya sebelum kita benar-benar membacanya.











