~Menyentuh Keluarga Membangun Peradaban Mulia (butiran hikmah yang diambil dari padang hikmah dalam buku Sentuhan Parenting Karya Kyiai Budi Ashari)~
Mendidik anak dalam Islam bukan sekadar proses membesarkan manusia hingga dewasa. Ia adalah amanah besar yang menentukan masa depan umat. Buku Sentuhan Parenting karya Ustadz Budi Ashari mengajak kita melihat kembali makna mendidik anak dengan perspektif Al-Qur’an dan sejarah generasi terbaik umat islam. Dari halaman-halamannya kita diajak menyadari bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat lahirnya peradaban.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan adalah prinsip “Begin From The Ending.” Pendidikan anak seharusnya dimulai dari tujuan akhirnya. Banyak orang tua sibuk memikirkan masa depan dunia anak: sekolah terbaik, karier terbaik, dan kehidupan yang mapan. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Allah ﷻ berfirman:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba dalam kekayaan dan anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia tidak boleh menjadi tujuan akhir. Parenting yang benar dimulai dari kesadaran bahwa anak harus dipersiapkan untuk kehidupan akhirat. Orang tua tidak hanya menyiapkan anak untuk hidup di dunia, tetapi juga untuk bertemu dengan Allah ﷻ.
Buku ini juga mengajak keluarga Muslim belajar dari kisah Al-Qur’an melalui tema “Dari Keluarga Imran Untuk Keluarga Kita.” Al-Qur’an mengabadikan keluarga Imran sebagai contoh keluarga yang dipenuhi iman dan ketulusan. Ketika istri Imran mengandung, ia berdoa:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu.” (QS. Ali ‘Imran: 35)
Doa ini menunjukkan bahwa pendidikan anak bahkan dimulai sebelum anak lahir. Dari keluarga ini lahir Maryam yang suci dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Kisah ini memberikan harapan bagi setiap keluarga Muslim bahwa rumah yang sederhana sekalipun dapat melahirkan manusia luar biasa jika di dalamnya hidup iman dan doa.
Tema lain yang menarik adalah “Generasi Zabad, Peradaban Dzan.” Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ memberi perumpamaan tentang air hujan yang membawa buih. Buih itu tampak banyak di permukaan, tetapi akhirnya hilang. Sedangkan air yang bermanfaat tetap tinggal. Allah ﷻ berfirman:
“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra’d: 17)
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa yang bertahan dalam sejarah adalah sesuatu yang memberi manfaat. Oleh karena itu, anak-anak harus dibimbing menjadi generasi yang memberi manfaat bagi manusia. Dunia tidak membutuhkan generasi yang hanya mengejar popularitas, tetapi generasi yang membawa kebaikan bagi umat.
Dalam buku ini juga dijelaskan konsep yang menarik, yaitu “Setiap Anak Harus Lahir Kembar.” Maksudnya bukan kembar secara fisik, melainkan kembar antara jasad dan nilai fitrah keimanan. Anak tidak cukup hanya tumbuh secara biologis, tetapi juga harus tumbuh bersama iman, adab, dan tujuan hidup. Sejak kecil anak perlu diperkenalkan kepada Allah ﷻ dan kepada tanggung jawabnya sebagai hamba. Tanpa pendidikan nilai, pertumbuhan fisik saja tidak cukup untuk membentuk manusia yang utuh.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan bahwa anak memiliki berbagai posisi bagi orang tua. Dalam pembahasan “Lima Posisi Anak dalam Al-Qur’an,” dijelaskan bahwa anak bisa menjadi perhiasan dunia, ujian kehidupan, bahkan bisa menjadi sebab seseorang jauh dari Allah jika tidak dididik dengan benar. Allah ﷻ berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)
Namun pada ayat lain Allah ﷻ juga mengingatkan:
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS. At-Taghabun: 15)
Dari sini kita memahami bahwa anak bukan hanya sumber kebahagiaan, tetapi juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Jika dididik dengan baik, anak akan menjadi penyejuk hati. Sebaliknya, jika diabaikan, mereka bisa menjadi ujian yang berat.
Dalam bagian “Generasi Kurma,” anak diibaratkan seperti pohon kurma. Pohon kurma dikenal kuat, tahan terhadap panas, dan selalu memberi manfaat melalui buahnya. Demikian pula anak-anak harus dididik memiliki akar iman yang kuat, karakter yang kokoh, dan kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika iman menjadi akar kehidupan, seorang anak akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Sejarah Islam juga menunjukkan potensi besar generasi muda. Dalam kisah “Pemuda Pembawa Risalah ke Kaisar Romawi,” kita melihat bagaimana seorang pemuda dipercaya membawa pesan Islam kepada penguasa besar dunia. Demikian pula kisah “Anak 11 Tahun di Majelis Kekhalifahan” yang menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk memiliki kedalaman ilmu. Dalam peradaban Islam, anak-anak dipersiapkan sejak dini untuk memikul tanggung jawab besar.
Peran ayah dalam proses ini sangat penting. Dalam buku ini ayah digambarkan sebagai “Ayat Allah di Bumi.” Ayah adalah pemimpin keluarga yang bertanggung jawab menjaga arah kehidupan rumah tangga. Allah ﷻ berfirman:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan ini bukan sekadar otoritas, tetapi amanah. Kehadiran ayah dalam kehidupan anak akan memberikan teladan tentang tanggung jawab, keberanian, dan keteguhan iman.
Selain ayah, peran ibu juga sangat besar dalam membentuk generasi. Dalam bagian “Ibu Pulanglah,” ditekankan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Al-Qur’an mengingatkan betapa beratnya perjuangan seorang ibu:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS. Luqman: 14)
Dari kasih sayang seorang ibu lahir kelembutan dan kepekaan hati seorang anak. Pendidikan yang diberikan oleh ibu di rumah menjadi fondasi yang menentukan masa depan anak.
Buku ini juga menekankan pentingnya membangun generasi izzah, yaitu generasi yang memiliki harga diri karena iman. Allah ﷻ berfirman:
“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
Anak-anak harus dididik agar memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah mengikuti arus masyarakat. Mereka harus belajar untuk berdiri teguh di atas kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan.
Dalam mendidik anak, cara menyampaikan nasihat juga sangat penting. Kisah Luqman dalam Al-Qur’an memberikan contoh bagaimana seorang ayah menasihati anaknya dengan penuh hikmah:
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Nasihat yang baik bukan sekadar perintah, tetapi dialog yang disampaikan dengan kasih sayang dan keteladanan.
Namun cinta kepada anak tidak selalu berarti kelembutan. Dalam beberapa keadaan, orang tua perlu bersikap tegas. Ketegasan yang lahir dari kasih sayang justru melindungi anak dari kesalahan yang lebih besar di masa depan. Sebagaimana kisah Muhammad Al-Fatih yang dididik dengan ketegasan oleh gurunya Al-Kurani dan Aq-Syamsudin. Disiplin yang diberikan dengan niat mendidik akan menjadi pagar yang menjaga anak dari berbagai penyimpangan.
Pada akhirnya, pesan besar dari buku Sentuhan Parenting adalah bahwa rumah merupakan tempat lahirnya peradaban. Kita harus menyadari bahwa pernikahan itu harus menumbuhkan peradaban. Dari rumah yang dipenuhi iman, doa, dan pendidikan yang benar akan lahir generasi yang membawa kebaikan bagi bumi. Karena itu, setiap orang tua perlu menyadari bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga amanah besar bagi masa depan umat.