Mungkin, karena kita masih tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, jadi akan biasa saja jika banyak Muslimah yang masih belum mau menutup aurat. Masih merasa tidak ada beban apapun, dan nyaman-nyaman saja.
Namun, berbeda jika mungkin kita tinggal di luar negeri yang mayoritas penduduknya adalah non muslim. Tentu, kerudung adalah identitas atau simbol utama keislaman kita sebagai seorang Muslimah. Karena jika kita tidak mengenakannya, kita akan ‘dikenal’ sama seperti mereka dan diperlakukan 'sama’.
Contohnya seperti cerita seorang teman yang mengalami perbedaan perlakuan selama dia tinggal di Paman Sam, antara dia yang sudah menutup aurat dengan temannya yang belum.
Teman saya bercerita bahwa teman laki-lakinya, hampir semuanya, menghargai dia sebagai seorang Muslimah. Caranya berinteraksi sangat berbeda dengan teman perempuannya yang lain. Semua teman laki-lakinya seperti enggan melakukan kontak fisik, meski hanya sebuah “tos” atau jabat tangan. Padahal, kerudung teman saya belum syar'i.
Belum lagi, perlakuan para pelayan restauran yang selalu menginfokan kepadanya bahkan sebelum ia memesan. Katanya, “Maaf Nona. Di sini tidak menyediakan makanan halal.”
Bahkan, berlaku untuk tetangga kost nya yang selalu berhati-hati dalam memberikan makanan. Mereka selalu bilang, “Ini untukmu. Ini halal, aku membelinya di toko halal.” atau, “Ini untukmu. Ini kumasak sendiri dan aku sengaja memasaknya terpisah tanpa alkohol dan minyak B*bi untukmu.”
Dan, aneka kejadian lainnya yang membuat dia benar-benar bersyukur telah memakai kerudung jauh sebelum dia hijrah ke Amerika. Dia juga merasa sangat-sangat dilindungi oleh Allah melalui identitas kemuslimahannya. Merasa bersyukur dikenal sebagai seorang Muslimah melalui penampilannya.
Semua hal tesebut adalah bukti bahwa, hal yang menurut kita sepele di sini, ternyata dampaknya begitu besar di luar. Hal yang kita anggap nggak penting di Indonesia, sangat berharga di Amerika. Hal yang menurut kita norak dan kampungan di Indonesia, sangat istimewa perlakuannya di negara tetangga.
Juga, mungkin kita tidak sadar. Bahwa hal yang sama akan kita dapatkan ketika di akhirat kelak. Di mana, Rasulullah Shalalallahu 'Alaihi Wassalam hanya akan mengenali ummatnya di hari akhir dengan identitas keislamannya. Di riwayat memang hanya dijelaskan melalui wudhu lah, seorang Muslim dan Muslimah dikenali.
Tapi, kita sama-sama tahu. Bahwa bagi seorang Muslimah, wudhu tidak akan ada artinya tanpa aurat yang tertutup sempurna. Semua ibadah kita hanya akan menjadi abu, jika kita masih bermudahan dengan aurat.
Masihkah ingin, ibadah kita sia-sia? Hanya dibayar lelah saja?
Inginkah, di akhirat kelak tidak diakui Rasulullah? Padahal hanya beliau-lah yang kelak mampu menolong kita dengan syafa'atnya?
Kawan, aku ingin kita berjumpa di Surga. Saling tersenyum melempar tawa bahagia. Sebab kita, adalah bagian yang kelak Rasulullah temui dan sambut di Telaga Al-Kautsar. :“)
Tidak inginkah kamu, membantuku mewujudkannya?