aku hutang permohonan maaf jika kau temukan aku menyebalkan:
itu mungkin terjadi karena hatiku sedang coba merangkak keluar dari dadaku tanpa kendali—gusar menuju dirimu.
— Arief Aumar | form of fallin' in love.

shark vs the universe

No title available
trying on a metaphor

No title available

izzy's playlists!

No title available
Alisa U Zemlji Chuda

Andulka
RMH

roma★

Janaina Medeiros
ojovivo
wallacepolsom
Mike Driver
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Jules of Nature

PR's Tumblrdome
$LAYYYTER

pixel skylines
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Algeria
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Ukraine

seen from United States

seen from Algeria
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@idontknowurname
aku hutang permohonan maaf jika kau temukan aku menyebalkan:
itu mungkin terjadi karena hatiku sedang coba merangkak keluar dari dadaku tanpa kendali—gusar menuju dirimu.
— Arief Aumar | form of fallin' in love.
Bahkan sekadar merangkai namamu di atas kertas, serasa menggores luka lama yang belum sempat sembuh yang setiap hurufnya bagai duri yang menari di permukaan jantungku.
Aku mengabadikanmu dalam tiap paragraf, seolah ingin membungkus pedih menjadi puisi.
Setiap kenangan tentangmu kutarik kembali dari dasar ingatan, kuanyam ulang menjadi kisah yang abadi—sebuah buku yang bisa kupeluk sewaktu-waktu, saat rindu tak tahu harus ke mana pulang.
Kediri, 10:10
Jika berteman denganku membuatmu lupa untuk bersujud lebih lama, maka jangan duduk terlalu lama di sampingku. Aku bisa membuatmu merasa hangat, tapi barangkali itu hanya karena aku menutupi angin yang seharusnya membuatmu ingat: tubuhmu fana.
Kalau aku hanya jadi tempat kau menumpahkan keluh, tapi tak pernah membuatmu ingin mendoakan sesuatu selain dirimu sendiri, maka jangan panggil aku kawan. Mungkin aku hanya cermin yang memantulkan egomu, bukan jendela ke arah yang lebih tinggi.
Aku tidak ingin kau menyukaiku karena kita punya tawa yang sama, atau luka yang serupa, tapi karena saat bersamaku, kau lebih takut kehilangan Allaah daripada kehilangan aku.
Jika kita hanya saling mengisi waktu kosong dan bukan mengisi catatan amal, apa gunanya kita saling ada?
Jika bahuku nyaman, tapi tak pernah kau jadikan tangga untuk mendaki taubat, maka larilah dariku. Aku tak ingin jadi persinggahan yang membius.
Aku ingin, jika kita berpisah, ada malaikat yang mencatat bahwa pertemuan kita bukan sekadar cerita, tapi sebab diselamatkannya salah satu dari kita. Atau semoga, keduanya.
Kalau itu tidak terjadi, jangan anggap aku penting.
Dan jangan beri tempat di harimu
untuk orang yang tak membantumu
mengingat hari
yang tak punya
matahari.
Sebab sejatinya hidup adalah tentang memilih lelah, maka pastikan lelahmu bernilai ibadah; yang membuat Allah rida, yang melapangkan jiwa dan yang balasannya surga, bukan lelah yang sia-sia apalagi terhitung dosa; yang membuat Allah murka, yang menyempitkan jiwa dan balasannya neraka.
“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam: 7-10).
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
ini seperti aku temukan:
bahwa kau tidak bisa memilih pun menentukan mau seperti apa kau dicintai dan harus seperti apa mereka mencintaimu.
namun jika tiba saat kau mendapat bagianmu untuk dicintai.
aku harap cinta datang dalam bentuk yang tenang hangat dan penuh toleransi; ringan diskusi gaungkan penerimaan yang setara di akhir konfrontasi.
aku harap kau bisa menjadi bentuk cintanya itu sendiri.
itu akan datang nanti.
— Arief Aumar | ta eis heauton (when it's your time)
"Nak, memang tidak semuanya harus berbalas..."
Tak semua senandung harus menemui gema, tak semua seruan akan dibalas oleh gaung yang merdu. Ada doa yang terbang tinggi, memecah langit dengan rindu, namun layu sebelum sempat mencapai singgasana-Nya. Ada pinta yang mengalir, lembut seperti sungai, namun tenggelam di pusaran sunyi yang tak berbatas. Tidakkah kau mengerti? Tidak semua yang kita titipkan pada malam, akan sampai pada bintang.
Kita ini, makhluk yang menabur harap seperti petani menebar benih di ladang yang asing. Tapi apakah setiap bibit mesti tumbuh? Tidak semua tanah ramah, tidak semua musim bersahabat. Ada yang jatuh di tanah tandus, diserap oleh hampa, lalu menguap menjadi angin tanpa arah.
Dan bukankah hujan pun tak selalu menjadi berkah? Di tempat yang kering, ia adalah nyawa. Namun, di bumi yang telah basah, ia bisa menjadi beban. Begitu pula doa, ia tak selalu menjelma jawaban. Kadang, ia hanya menjadi riak kecil di lautan takdir, tak cukup kuat untuk mengubah arus.
Tuhan, yang Maha Mendengar, kadang memilih diam, bukan karena lupa, tapi karena tahu. Ia tahu kapan kita perlu dilimpahi, kapan kita mesti belajar kekurangan. Sebab, tidak semua kehilangan adalah celah, dan tidak semua penolakan adalah luka.
Maka, jika pinta kita seperti embun yang terhapus mentari sebelum sempat menyentuh bumi, mungkin bukan karena ia sia-sia, melainkan karena Tuhan sedang menyusun hujan di waktu yang lebih tepat. Jika doa kita seperti burung yang terbang, hilang di cakrawala tanpa arah, mungkin ia sedang mencari sarang yang lebih baik untuk hinggap.
Tidak semua yang tak berbalas adalah penolakan. Kadang, ia adalah cara semesta mengajarkan ikhlas tanpa syarat, dan keyakinan tanpa perhitungan. Sebab, cinta yang tulus pun tak selalu harus diterima. Dan di situlah, manusia belajar bahwa berharap adalah seni mencintai, bahkan ketika jawaban tak pernah datang.
Terlalu mengkhawatirkan luka orang lain, hingga tidak sadar luka sendiri masih belum sembuh.
Terlalu memperdulikan perasaan orang lain, hingga mengabaikan perasaaan diri sendiri.
Terlalu overthinking dengan sikap orang lain, hingga lupa bagaimana bersikap yang baik ke diri sendiri.
Baik -baik sama diri sendiri. Jangan jahat - jahat pada diri sendiri, orang lain tidak benar benar peduli jika kamu terjatuh, terluka, atau sakit. Jadi rawat sendiri lukamu, sedihmu, kecewamu, bahagiamu, pilu mu dan mimpi mu. Mari mereda untuk mereka yang tidak ada untuk kita.
Selamat menyendiri dengan Rabb yang Maha baik.
pict by pinterest.
kalau bisa, aku juga ingin segera. maka, jangan tanya aku prihal kapan ini dan kapan itu, atau lainnya. sebab kalau bisa aku juga ingin giliranku tiba.
seberapa bahagianya hidup setelah menikah
sehingga ibu dan orang-orang terdekatku memaksaku untuk bergegas
seberapa bahagianya hidup setelah menikah
jika aku tau banyak dari mereka yang bahkan sering berduka dan kecewa
seberapa bahagianya hidup setelah menikah
apakah mereka ingin merenggut bahagiaku juga?
Semoga kita ga lupa, kalo kita cuma hamba.
Jangan nyetir takdir sendirian.
Beuratt.
Jangan ya dek, yaaa..
aku hampir berada di satu langkah menuju pelukmu, namun percuma jika kau tak begitu mengusahakanku
bahkan meski hampir 4 tahun sejak kejadian itu, aku masih belum sempurna melupakanmu
kalau bisa, aku juga ingin segera. maka, jangan tanya aku prihal kapan ini dan kapan itu, atau lainnya. sebab kalau bisa aku juga ingin giliranku tiba.
kamu ikhlas, kamu senang akhirnya bisa memulai menerima semuanya. walau terkadang ada waktu dimana ketika teringat, kamu kembali menangis. sebab memendam pedih tak pernah benar-benar mudah untukmu.
Jika ditanya apakah dirimu kuat? Jelas tidak sekuat itu. Allaah yang kuatkan, Allaah yang mampukan. kamu hanya terus memupuk percaya bahwa takdir Allaah jauh lebih baik dari apa yang kamu rencanakan.
langit tetaplah langit, mana boleh kamu ingin memeluknya...
bagaimana cara memberitahu mereka bahwa Allah itu maha baik?
manusia mengatakan "aku mencintaimu" dengan cara yang berbeda-beda.
"hati-hati, dengerin aku. hati-hati ya".
"sing sabar (sambil tersenyum)"
"dipake jaketnya, cuaca dingin"
"gausa dipaksain, nanti lagi"
"ya?"
sebagian bisa memahami dan bereaksi, sebagian lain menjawab apa adanya karena mereka rasa itu hanya sekedar pertanyaan saja.
dahlah, :(
Karena kau hanya terengkuh kala langit sebar bunga mimpi.
jadi, aku banyak tidurnya.
Penyesalan ku kali ini adalah, aku menyesal karena telah mengenalkan bagaimana cantiknya langit malam ke padamu. Karena setelah itu, setiap kali aku duduk teras menatap sendu gemintang, , aku justru kembali mengingat mu.