Bismillah..
Parameter Kebaikan
Siapa Bilang Baik = Bodoh dan Lemah?
Sepenuhnya tak kusetujui bahwa baik = bodoh, dan baik = lemah.
Sudahkah coba merenungkan tentang apa, siapa, dan darimana "baik" itu terdefinisi?
Memori ditarik mengenang perjalanan orang-orang dijamin surga oleh-Nya. Bagiku, di sanalah terdapat parameter kebaikan.
Allah Maha Baik, maka manusia-manusia yang dijamin-Nya surga adalah manusia-manusia baik yang hidupnya melakukan kebaikan dan ketaatan.
Lalu siapa yang terbaik?
Rasulullah ﷺ
Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).
Lalu, ada generasi terbaik yang dijamin Rasulullah ﷺ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”
(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)
Maka lihatlah, apakah kebaikan beliau ﷺ dan para sahabat terlihat lemah?
Apakah mereka terlihat tak mampu menyuarakan apa yang perlu mereka surakan?
Terlihat tak memiliki dinding batasan diri?
Tak berdaya?
Tidak.
Mereka sama sekali tidak demikian.
Keberanian mereka, adab yang luhur dan ketakwaan yang luar biasa membuat kebaikan mereka menjadi indah dan kuat. Bukan indah dan rapuh. Bahkan saat diri mereka dihina dan sudutkan oleh musuh-musuh Allah di masa itu kebaikan mereka tidaklah kalah dan surut. Bahkan apapun kesulitan yang menempa mereka tak menyurutkan mereka berbuat banyak kebaikan. Bahkan mereka berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Tanpa terluka karena manusia.
Tanpa membodohi diri.
Dan tanpa terlihat lemah.
Kebaikan dua manusia bisa berbeda meski sama amalnya. Apa pembedanya?
Darimana motivasi melakukan kebaikannya dan kemana tujuan ia melakukan kebaikan.
Perlu kita ingatkan diri juga, bahwa sebelum beramal, sebelum melakukan kebaikan pastikan bahwa amalan itu benarlah kebaikan dengan parameter yang tepat, dari sumber yang benar yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi Shalallaahu 'alaihi wa sallam. Bukan sekedar terlihat dan terasa baik di diri kita.
Sebab terasa dan terlihat baik belum tentu bernilai baik bagi-Nya.
Wallahu a'lam bisshawab.
____________
✏️ Inas Aurita
Rabu, 5 Juli 2023 | 10.12











