Your own Brain is A Stranger?
Mengajak siswa tingkat SMK untuk berani berbincang-bincang Bahasa Inggris itu susah sekali. I got to admit that! Faktor penyebabnya banyak sekali, misalnya karena mereka dalam usia remaja, maka gejolak emosi untuk mendapat pengakuan rekan sejawat sangat tinggi. Alhasil, sikap jaim pun muncul, membuat kesalahan yang dapat mempermalukan diri sendiri pun teramat dihindari. Yap. Akhirnya keengganan untuk mencoba berbicara dalam Bahasa Inggris pun seakan jadi kebiasaan. Itu hanya satu dari serentetan faktor sulitnya "speaking skill" murid-murid saya untuk berkembang. Let's cut it short. That is not my point here. Jadi, kemarin saya kembali mencoba menyemangati mereka untuk "making mistakes". Salah satu siswa yang aktif bertanya, "What is infinitive, Miss?" Terus saya jawab kalau itu adalah istilah lain dari kata kerja dasar, yakni kata yang dapat ditemukan di kamus. Lantas saya beri contoh dengan menunjukkan struktur "I want to + Infinitive". Setelah tebak-tebakan beberapa kalimat dengan Translation Method, saya lumayan terkesan karena ternyata anak-anak didik saya sebenarnya sudah familiar dengan banyak kosa kata (yang herannya sulit muncul ketika mereka diminta making conversation dengan teman-temannya). Akhirnya saya membuat analogi yang menyebabkan gelak tawa di antara seisi kelas. Saya: alright, picture this. Imagine we have a friend. Teman ini sangat pendiam. Dia biasanya duduk paling belakang, tidak pernah memberian pendapat di kelas, tidak pernah ke kantin bareng yang lainnya, tidak pula suka bermain bersama. Nah, ketika kalian diberi tugas untuk membuat kelompok berpasangan, apakah kalian kepikiran untuk mengajak si "teman pojokan" tersebut untuk jadi partner kalian? Kelas: Ya tidak lah, Miss. Saya: That's it! Teman yang di pojokan tersebut sama saja dengan kosa kata Bahasa Inggris yang ada di otak kalian. Sebenarnya kalian sudah kenalan dengan mereka lama sekali, sudah tau apa artinya dan gunanya, tapi kalian cuekin mereka selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Akhirnya, mereka sembunyi di lorong-lorong gelap otak kalian, merasa tak berguna. Kalian pun lama-lama lupa akan keberadaan mereka. Nah, ketika kalian butuh teman-teman kecil tersebut untuk membantu menjelaskan maksud kalian dalam Bahasa Inggris, kalian bahkan tak kepikiran dengan teman yang terabaikan tersebut. (Kelas terdiam, ada yg meringis, ada pula yang tertegun larut dalam pemikiran serius - saya bertanya-tanya apa jangan-jangan dia lagi berusaha mencari teman-teman kecil di lorong otaknya) Saya: Well then, can I request something of you? Kelas: yesss...... Saya: From now on, greet those little friends of you in your brain. Sekali-sekali diajak main-main laah... diajak ngobrol supaya mereka tidak kesepian. Nah, nanti kalau kalian butuh bantuan mereka, mereka akan langsung molompat menghampiri. (Seluruh kelas tergelak dan manggut-manggut) Saya: Can you all promise me to do that? Kelas: Yesssss....... Dan kegiatan pembelajaran hari itu berjalan menyenangkan. Semua siswa terlihat "engaged" dengan speaking activity yang saya tawarkan (temanya "Asking for and.Giving Permission" - saya memberi masing-masing siswa sebuah kartu kecil berisi "situation" sebagai trigger conversation mereka. Selanjutnya mereka moving around sambil bercakap-cakap dengan teman-temannya lalu bertukar kartu hingga mereka mencoba beberapa situations - bahkan ada yang sampai 15 situations! Yang artinya dia berlatih berbincang-bincang dengan 15 teman lain). Dan mereka tertawa-tawa ketika mentok tidak menemukan English term yang dibutuhkan sehingga terpaksa berbicara campursari dengan Bahasa Jawa atau Indonesia (yess!! I encourage them to do so!). Bahkan, di akhir kelas, saya mengundang mereka untuk melakukan "impromptu play" (masih dengan materi yang sama) secara berpasangan dan menampilkannya di depan kelas, and voila! Seluruh kelas voluntarily maju dengan adegan-adegan kocak mengocok perut. Sebagai fasilitator pembelajaran, tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain menyaksikan peserta didik saya terlihat antusias "making mistakes" dan percaya diri berlatih berbicara Bahasa Inggris. The point is, language is all about habit, and making mistakes is part of it. So, make a looooot of mistakes, guys.... AND learn from it!









