Untuk kamu yang memilih diam.
Hi kamu yang memilih diam di tengah gejolak politik negeri kita.
Yup kamu yang mendadak membaca tulisan ini.
Entah karena tidak sengaja, atau karena ingin tahu apa sih yang mau saya tulis?
Saya paham bahwa diam itu adalah pilihan karena itu maukah kamu memberikan saya sedikit waktu kamu? Toh kamu udah baca sampai kalimat ini kan?
Mari kita mulai dengan sebuah cerita singkat soal pilihan dan pemilu.
Seperti yg kamu dan saya ketahui selama 32 tahun masa OrdeBaru pemilu itu hanyalah ajang pesta basa basi. Si kuning adalah pemenang mutlak. Pemenang yang sudah ditentukan dari jauh hari. Presiden pun demikian. Demokrasi hanyalah kiasan. Suara rakyat hanyalah rangkaian kata tanpa arti.
Sampai reformasi mengguncang Indonesia. Perubahan yang nyaris membawa seluruh negeri ini runtuh. Tahun 1998.
Di tahun 1999 sebuah pemilu akbar digelar. Kelompok partai terbentuk. Semua orang ingin berkuasa. Saya belum bisa menggunakan hak pilih karena belum cukup umur saat itu. Di tahun itu PDI P mendapat dukungan luar biasa walaupun hasilnya Megawati hanya menjadi Wapres. Sayangnya walaupun kemudian menjadi Presiden menggantikan mendiang Gus Dur, Megawati sepertinya terjebak dalam kisruh DPR dan hanya menjadi sosok Pemimpin negara yang banyak diam dan tampak cerewet.
Di 2004 akhirnya saya bisa memilih.
Saya memilih golput saat pemilihan legislatif. Tetapi saat pemilihan presiden, saya memilih SBY. The less evil kata orang.
Prinsip yg sama juga saya gunakan di pemilu 2009. Asal coblos di Pemilu legislatif. Pilih SBY saat pilpres, kembali lagi tidak ada yang menarik di antara calon-calon tersebut. Harapan? Yah sedikit untuk SBY untuk meneruskan apa yang sudah dijalankannya selama 5 tahun kemarin.
Di 2012, pertama kalinya saya ikut pilgub Jakarta. Dan pertama kalinya saya menyuarakan dukungan kepada pasangan yang baru. Diantara deretan nama cagub ada sosok yang sudah sering saya dengar banyak membawa perubahan di tempat lain.
Di 2014. Ia menjadi capres.
Harapan itu mungkin jadi kenyataan. Harapan untuk negeri ini.
Itu cerita singkat kan?
Masih disini kan?
Sudah menemukan celah kebodohan cerita di atas?
Harapan.
Ada yang bilang adalah bodoh untuk berharap. Dalam hal romansa, iyah. Saya setuju sekali. Ngarep adalah resep mutakhir untuk hancurnya romansa. Kalau kamu tidak tahu siapa saya, coba buka www.hitmansystem.com, saya dan dua sahabat saya membuat sebuah audio khusus yang membahas bahaya dari harapan dalam romansa.
Kamu berharap gebetan kamu akan naksir, kamu PDKT, traktir, beli kado, nembak. Dan ditolak. Kamu coba lagi, PDKT lebih gencar, traktir lebih mahal, kado lebih wah, nembak. Dan ditolak lagi.
Harapan tanpa perubahan dalam romansa akan membuat kamu jadi tolol.
Harapan menjadi tolol adalah ketika harapan itu dijalankan menggunakan cara yang sama, metode yang sama akan berakhir sama.
Nah itu dalam romansa, tapi bukan berarti untuk hal lain saya tidak boleh berharap.
Harapan yang saya pegang saat ini, yang membuat saya menyerukan dukungan itu karena ada sosok yang bisa menunjukkan jalan yang baru, metode yang baru. Dan mungkin saja kali ini hasilnya akan lebih baik.
Saya mengerti kamu sudah lelah.
Untuk apa memilih?
Toh bangsa ini sudah kacau balau? Toh yang menang nantinya golongan tertentu dan kita akan kembali berputar pada yang namanya harapan palsu.
Satu suara saya kecil sekali dibanding ratusan juta suara!! Ini benar!
Tidaklah mungkin satu suara saya menjadi penentu kemenangan. Ini benar!
Mendingan diam saja daripada milih tar salah pilih trus disuruh tanggung jawab?
Tapi saya tidak berangkat dari konsep itu.
Perubahan tidak pernah datang karena diam. Perubahan selalu berawal dari harapan.
Sekali lagi! Harapan! Harapan itu ada.
Dan karena harapan itu, walaupun satu suara saya tidak memiliki arti, tapi saya ingin berpartisipasi.
Ikut memberikan suara pada satu sosok yang mau bekerja.
Satu sosok yang tidak menggunakan nama keluarganya.
Satu sosok yang bukan berasal dari sejarah kelam politik Indonesia.
Satu sosok yang bukan siapa-siapa tapi tidak takut siapapun.
Satu sosok yang mungkin bisa membawa negeri ini ke jalan perubahan.
Saya dan kamu tinggal di negeri ini. Indonesia.
Selama kamu dan saya masih hidup di Indonesia, maka saya dan kamu ikut bertanggung jawab terhadap negeri ini. Tidak perlu saya berikan analogi kan?
Harapan untuk Indonesia yang lebih baik itu ada.
Kalau ibukota kita yang carut marut ini saja bisa mengalami perubahan ketika dia pimpin, kenapa negeri ini tidak?
Masih berbentuk harapan memang untuk merubah negeri ini.
Tapi saya ingin menjadi bagian dari harapan itu. Bagian dari perubahan tersebut.
Bagian dari perubahan yang akan menentukan masa depan saya, kamu dan anak kita nantinya..
Saya ingin ketika semua harapan itu akhirnya menjadi kenyataan, ketika periode ini menjadi masa lalu, ketika anak saya kelak belajar sejarah, saya bisa berkata “Hey, ayah dulu pernah ikut dalam gerakan perubahan negeri ini loh.” sambil tersenyum.
Bukannya hanya diam, manyun.
Jet - 070714













