Kutbah Jumat di Harvard (yang ingin kuingat seumur hidupku)
Setiap hari Jumat biasanya ada jumatan untuk komunitas Harvard di Lowell Lecture Hall, sebuah auditorium kuliah yang besar yang dimodif menjadi aula sholat berjamaah. Jumatan ini diorganisir oleh kantor Muslim Chaplain Harvard. Di Harvard dan di banyak kampus di Amerika, umumnya akan ada religious chaplain atau pemuka agama yang direkrut untuk membantu kehidupan religius mahasiswa dan civitas akademika. Termasuk juga Islam. Di tahun ajaran 2025-2026 ini saat aku menjadi mahasiswa S2, yang menjadi Muslim Chaplain adalah Ustad Khalil Abdul-Rashid. Beliau lah yang memimpin prosesi jumatan.
Ada suatu perasaan unik yang muncul setiap aku mendengarkan kutbah di Amerika. Aku merasa jauh lebih tergugah dan lebih senang mendengarkan kutbah di sini. Mungkin karena Amerika memiliki tradisi retorika yang kuat, atau mungkin juga karena aku sudah jenuh mendengar gaya ceramah yang umum di Indonesia. Mungkin juga karena disampaikan dalam Bahasa Inggris, bahasa yang selama 15 tahun ke belakang dalam hidupku adalah bahasa kognitif utama yang kugunakan dalam bekerja, belajar, maupun dalam kehidupan sehari-hari (mungkin 90% buku dan konten yang aku konsumsi adalah dalam bahasa Inggris). Entahlah. Yang jelas, kutbah Jumat di sini entah mengapa terdengar lebih menarik untukku.
Dalam kutbah Jumat hari ini, Ustad Khalil menyampaikan tentang pentingnya bersyukur dan melihat apa yang kita punya. "Kita sehari-hari sibuk berkompetisi" kata Ustad Khalil, "mengejar materi, mengejar pekerjaan, mengejar fellowship, mengejar beasiswa". Bam! Betul-betul kata-kata yang menghantam diriku, dan aku yakin menghantam banyak orang di aula Jumatan--bagaimanapun juga ini Jumatan komunitas Harvard. Kompetisi adalah makanan sehari-hari.
"Karena kita sering fokus pada kompetisi, kita berfokus pada apa yang kita tidak punya. Kita terus menerus mencari apa lagi yang perlu kita kejar", lanjut beliau dengan nada membara. Aduh.
Betul juga kalau dipikir-pikir. Kompetisi dipuja-puja di masyarakat kapitalisme modern. Orang-orang dengan bangga menyatakan bahwa mereka bekerja berjam-jam untuk meraih prestasi ini itu. Padahal kalau di lihat lagi, orang-orang berlomba-lomba untuk mengejar apa yang mereka tidak punya. Setelah berhasil kuliah di kampus impian, apa lagi selanjutnya? Setelah berhasil mendapatkan fellowship atau beasiswa, apa lagi selanjutnya? Setelah berhasil mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, apa lagi selanjutnya?
Buatku, kata-kata Ustad Khalil itu sangat kena dan mendalam. Sedari kecil aku lumayan kompetitif. Seringnya gagal, namun kadang berhasil. Jika berhasil, memang ada perasaan high yang sangat nikmat. Tapi setelah itu, mengejar lagi. Perasaan high itu kalau dipikir-pikir cuma sesaat, paling lama mungkin dua-tiga jam. Setelah itu mungkin akan menghabiskan ratusan jam dalam stres dan frustasi karena mengejar perasaan itu lagi.
Ini mengingatkanku pada salah satu video YouTube yang pernah kutonton: jangan-jangan kita ini sudah candu pada kesuksesan. Iya. Sukses itu bisa jadi candu juga. Dan mungkin nggak jauh beda dengan judi. Orang yang kecanduan judi, walau dia menang banyak, dia tidak akan puas dan akan mempertaruhkan lagi hasil kemenangannya. Begitu terus sampai bangkrut. Begitupun banyak orang di masyarakat kapitalis modern. Walau sudah sukses, mencapai apa yang diinginkan, tidak puas-puas dan akan terus mencari kesuksesan berikutnya. Mungkin aku pun kecanduan sukses, kecanduan prestasi, kecanduan pencapaian, dan aku perlu berobat.
Islam punya obatnya. Namanya bersyukur.
"Tidak memiliki bisa jadi membawa keberkahan" kata Ustad Khalil. Hah? Gimana gimana?
"Ada seorang yang dia bekerja keras untuk menjadi kaya. Awalnya dia rajin datang ke masjid untuk sholat Jumat. Namun lama kelamaan kekayaannya mulai bertambah, dan dia semakin sibuk mengurusi kekayaan tersebut sampai dia sering terlambat datang ke sholat Jumat. Akhirnya dia menjadi sangat kaya dan harus bekerja jauh lebih keras untuk mempertahankan kekayaan tersebut. Sampai di titik dia tidak pernah datang ke sholat Jumat lagi".
Tidak memiliki bisa jadi membawa keberkahan. Kita bisa jadi mengejar harta dan kekayaan yang kita tidak miliki, namun kita tidak sadar kalau harta tersebut bisa jadi menghalangi kita untuk beribadah atau bahkan memberikan beban tanggung jawab dan stress yang besar (more money, more problems, after all). Kita bisa jadi mengincar suatu pekerjaan atau posisi yang terlihat mentereng, namun kita tidak sadar kalau pekerjaan tersebut akan menuntut waktu yang sangat banyak, atau bahkan menyita waktu kita bersama keluarga dan orang-orang yang kita sayangi. Kita bisa jadi mengincar rumah besar yang mewah, namun kita tidak sadar kalau ada rumah tersebut menuntut perawatan yang tinggi.
Tidak memiliki bisa jadi membawa keberkahan. Tidak memiliki sesuatu pun adalah suatu hal yang bisa kita syukuri.
Tentu ini pola pikir yang baru kupelajari. Ya ya ya, mungkin kita semua sudah biasa mendengar "syukuri apa yang kita miliki" (walau ini pun valid total). Tapi kita juga perlu mensyukuri apa yang kita tidak miliki. Dan ini tidak selalu hal yang buruk ("aku bersyukur aku tidak memiliki penyakit kronis"), tapi bisa juga hal yang justru sangat kita inginkan ("aku bersyukur aku tidak mendapatkan pekerjaan tersebut" atau "aku bersyukur aku ditolak oleh kampus impianku").
Pada akhirnya, ini semua adalah tentang memandang hidup hanya sebagai persinggahan sementara dan tidak perlu terlalu pusing kalau kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Satu: ada banyak hal lain yang bisa kita syukuri walau kita tidak mendapatkan hal yang tidak kita miliki. Dua: justru tidak memiliki itu lah yang sepatutnya kita syukuri.
Ini semua kutulis sebagai pengingat untuk diriku di masa depan nanti. Hidup hanya persinggahan, dan di setiap titik, akan selalu ada yang bisa kita syukuri.
Cambridge, 10 April 2026.