i'm in a deep tunnel,
lay in the palm of loneliness, down in a black hole,
things that i can't gently control is my own hormone change,
hard to manage.
deep,
down,
sick.

祝日 / Permanent Vacation
hello vonnie

Kiana Khansmith
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
macklin celebrini has autism
he wasn't even looking at me and he found me
Three Goblin Art
Keni

shark vs the universe
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
DEAR READER

PR's Tumblrdome
Misplaced Lens Cap

izzy's playlists!
Stranger Things
trying on a metaphor
dirt enthusiast
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available

ellievsbear
seen from United States

seen from Argentina
seen from Ecuador
seen from Australia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Syria
seen from India
seen from Bulgaria

seen from Bulgaria

seen from Philippines
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@kayukayuka
i'm in a deep tunnel,
lay in the palm of loneliness, down in a black hole,
things that i can't gently control is my own hormone change,
hard to manage.
deep,
down,
sick.
kewajiban mengutip, dosa awal mula. (bagian 1)
ya baiklah, sambil menunggu bel pulang, mencoba satu tulisan dulu. meski yakin ini juga cuma sekadar tulisan tidak beraturan, jauh dari cita-cita mulia, menulis esai, panjang dan dalam.
pertanyaan tentang bagaimana menulis sebuah artikel yang baik selalu jadi misteri dan (hampir) tidak pernah terjawab lengkap. menulis adalah pekerjaan yang sangat tidak enak, sepi, membosankan, harus berlama-lama berbicara dengan kepala dan nurani, dan seringkali jengah. perasaan seperti ini yang membikin jadi blunder bagi orang yang kepingin jadi penulis, cum peneliti, atau sebaliknya, peneliti, cum penulis. itu saya, yang blunder dan mengalami persoalan berulang sebagai subjek yang bebal karena tidak mau sering-sering menulis, meski tulisan bebas dan tidak beraturan. bebal.
peneliti, sebagai subjek yang (seharusnya) memiliki keahlian dan kemampuan akan ketelitian yang lebih dari lainnya, adalah pekerjaan yang setali tiga uang dengan dunia tulisan. cita-cita mulia ini yang ingin disandingkan dengan aktivitas yang katanya lebih dekat dengan banyak manusia, advokasi dan keaktivisan. tapi membayangkan ada gabungan tiga ketrampilan dalam satu subjek itu seperti sedang ingin menegaskan 'cemoohan' orang yang dialamatkan kepada " aktivis tidak bisa menulis (bagus)". kali ini saya ada di dalamnya, terjebak dan ada di dalam cangkang aman ketiga ketrampilan yang serba nanggung. menulis, malas. meneliti, sesekali. dan advokasi, dua tiga kali.
tapi kukira ada garis-garis tipis yang bertaut, kesejarahan, ini yang tidak akan pernah putus dan membedakan satu orang dengan lainnya, bahkan adik atau kakak sedarah sekalipun.
peneliti, penulis, dan aktivis selalu butuh "role model" atau siapapun, selalu butuh referensi. bagaimana tidak, di setiap tulisan, sudah pasti ada dua tiga kutipan yang nyangkut, di setiap penelitian, harus juga melakukan penelitian akan karya-karya yang pernah dikerjakan sebelumny, lalu di advokasi, selalu butuh 'patron' untuk menguatkan penyelesaian kasus yang sedang digarap. kewajiban mengutip, sudah pasti harus dilakukan.
ok, soal kesejarahan dan soal kewajiban mengutip. proses ini sudah berlangsung sejak lama. sejak lahir dan seorang bayi 'dibentuk' dan dipaksa 'meniru' apa yang orang tuanya kerjakan, inilah awal mula kewajiban mengutip dilakukan. saya mau katakan soal, kondisi sejarah apa yang menjadikan saya (yang akhirnya blunder dengan cita-cita yang terlampau muluk ini) ingin menjadi peneliti, penulis yang juga aktivis.
referensi pertama saya adalah, bapak. penulis, eh punya ketrampilan lainnya, pemain teater, ah awalnya bapak adalah pembuat puisi. sastrawan-lah orang bilang. ya, seperti sebuah 'kewajiban' juga, bisa main teater sudah otomatis bisa menulis karya sastra. ah ya, bapak juga sering menulis kritik. dulu saya sempat ingin jadi kritikus juga, tapi hari ini saya bilang, cita-cita saya kebanyakan, terlalu progresif dibanding masa kecil saya yang setelah ditelusuri ternyata tidak pernah punya cita-cita. bapak menulis esai budaya, bermain teater dan menulis puisi. di tahun-tahun awalnya berkarya, bapak sering pentas teater, membaca puisi, menulis di koran, dan timbul tenggelam dengan kelompok teaternya. bapak yang pertama kali 'mengajarkan' pada saya tentang "realisme sosial" dan "politik kebudayaan" di banyak karya, lukisan, tulisan, film dan lagu. itu perkenalan mula yang mewajibkan saya untuk "mengutip bapak". meski relasi kami cukup aneh (waktu itu sepertinya bapak belum siap melepas euphoria berkaryanya karena kemudian harus menjadi pragmatis bekerja menjadi pegawai negeri sipil dan menjadi golkar), saya sepertinya diam-diam mengagumi bapak karena terlalu pendiam tapi punya banyak karya. waktu kecil saya hanya mengenal definisi harta warisan yang minim, mesin tik dan buku.
saya wajib mengutip bapak, karena dulu saya sering bermain dengan mesin ketiknya. lalu (mungkin) mengandaikan suatu saat saya juga akan menjadi seorang yang pendiam dan larut dengan tulisan-tulisan karena pekerjaan, menulis. garis pertama ini yang selalu saya ingat.
hari ini saya selalu bilang, saya butuh mentor. saya butuh pendamping yang mau memeriksa tulisan saya, membantu saya menelisik lebih dalam gagasan dalam tulisan, dan memaksa saya menyelesaikan tulisan. saya gagal. tidak pernah kenal mentor (sejak kecil) dan hari ini tidak bisa dapat mentor. mentor dan ikut kelas penulisan itu barang mahal, dari dulu sampai sekarang. ini kukira karena ada pengalaman traumatis yang dalam. suatu kali saya mendaftar 'kelompok penulisan sastra' saat di sekolah menengah, tapi tidak pernah jadi karena 'bapak saya mentornya, bapak tidak pernah mau ada semacam 'kolusi' dengan muridnya'. kali kedua, saya mendaftar menjadi wartawan di koran remaja, juga gagal, selain karena saya memang tidak mampu dan argumen saya saat wawancara tidak solid (saya adalah perempuan kecil yang minder dan tidak percaya diri), tapi juga karena 'bapak ada di dewan redaksi, bapak tidak suka'.
ini masih soal tulisan, kewajiban mengutip ini semakin bertambah saat akhirnya, saya juga menyukai film, mencintai mati-matian film, lalu di sma, saya punya cita-cita, menulis naskah dan menjadi sutradara. meski akhirnya saya berhasil membuat film, semacam 'Her' di tahun 2014 ini. saya membuat film dengan 'konsep cerita' yang sama. ya, sma.tapi juga tidak berlanjut, menekuni film bagi saya dulu adalah, harus bersekolah di insititusi film juga. dan, tidak boleh, "bapak mengajar di sana". lalu akhirnya saya terjebak di sosiologi dan lagi-lagi terjebak di sosiologi, meski saya sangat menyukainya.
hari ini saya masih membuat naskah film, dan nanggung. hari ini saya masih menulis, tapi butuh mentor dan tidak ketemu, lalu blunder. hari ini, saya juga masih wajib 'mengutip bapak' dalam tulisan ini, sudah bawaan.
tidak bisa hilang.
Pemberhentian pertama,
Berhentilah pada pemberhentian, sekadar buang air atau menghisap sebatang rokok atau hanya mengamati orang lalu lalang, setidaknya tulang-tulang tidak lagi kaku, kukira, perjalanan masih panjang.
Dinding diantara kamar ini belum juga penuh oleh suara-suara. Tidak juga coretan, ataupun darah; masih kusam dan temaram. Sesekali, ada pekerjaan, ada jam malam, lalu jam tidur, dan tiba pada keharusan mengagalkan jam kerja.
Sesekali ada kepuasan dalam perdebatan, semacam pembuktian. Seringkali setelahnya tidak lagi ada suara. Tiap mulai rapi mengeja keteraturan, ada ketidakteraturan menjelma kegaduhan.
Pemberhentian ini biasa saja.
DISKUSI "MEMBANGUN SISTEM RUJUKAN LAYANAN KONSELING SINERGIS"
Meningkatnya kasus kekerasan pada perempuan dan anak dengan ragam isu dan latar belakang di DIY menuntut kita untuk membangun suatu system layanan sinergitas antar gerakan. Banyaknya lembaga yang memberikan layanan konseling bagi survivor belum bisa menjadi ukuran terpenuhinya kebutuhan survor akan layanan komprehensif. Layanan konseling Kekerasan berbasis Gender dan Seksual (KGBS) memberikan layanan pada survival KGBS semata. Layanan konseling HIV (VCT) memberikan layanan pada masyarakat untuk memeriksakan status HIVnya semata. Layanan konseling pelanggaran HAM memberikan layanan sebatas pada survival pelanggaran HAM
Diskusi ini bertujuan untuk merefleksikan layanan konseling sinergitas bagi SGBV, HIV dan HAM di DIY melalui bedah "Modul Konseling Sinergitas bagi SGBV, HIV, dan HAM&HAP di DIY". Selain itu, diskusi ini juga ingin menciptakan sistem rujukan konseling dan membangun komitmen antar lembaga layanan konseling yang sinergis di DIY.
Hari, Tanggal : Jumat, 11 April 2014
Waktu : 15.00 – 18.00
Tempat : Youth Center PKBI DIY, Jl. Taman Siswa, MG II 558 Yogyakarta
Pemantik diskusi :
1. Syamsudin Nurseha (LBH Yogyakarta)
2. Suharti (Rifka Annisa)
3. Vena (PKBI DIY)
4. Nurul (SAPDA)
Moderator : Gama Triono
Diskusi ini sangat penting sebagai tindak lanjut diskusi sinergitas layanan yang pernah diselenggarakan oleh JPY di tahun 2010. Sangat berharap kawan-kawan jaringan dapat hadir dan terlibat aktif dalam diskusi untuk memberi masukan bagi rencana modul ini.
Terima Kasih
Salam,
ika ayu
informasi lebih lengkap dapat menghubungi :
twitter : @ perempuanjogja
FB : https://www.facebook.com/jaringanperempuanjogja
HP : 0818278587
hidup di antara tambang
ini tautan yang okeh :D
http://www.mimundo.org/2014/01/10/2014-01-southwest-antioquia-microcosm-of-social-conflict-in-colombia’s-new-gold-rush/
Pernyataan Sikap Jaringan Perempuan Yogyakarta
Pernyataan Sikap Jaringan Perempuan Yogyakarta
Mendesak Penuntasan Proses Hukum Kasus Kekerasan Seksual
Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang penyair berinisial SS kepada RW, telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat, 29 November 2013. Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) yang beranggotakan lembaga dan individu memberikan dukungan penuh agar kasus ini diproses secara hukum.
JPY memandang bahwa kasus kekerasan seksual yang dilakukan SS dan diekspose media telah menjadi alarm pengingat bagi survivor kekerasan seksual diluar sana yang selama ini kasusnya belum terungkap.
Pemikiran bahwa pelaku kekerasan seksual adalah manusia biasa yang tak luput dari kekhilafan dan sebaiknya dimaafkan merupakan pemikiran yang menyesatkan. Pemikiran tersebut berdampak pada kasus yang akhirnya tidak diproses secara hukum dan itu artinya membiarkan pelaku melakukan kekerasan seksual lagi dikemudian hari karena tidak ada efek jera.
JPY juga mendorong keluarga SS untuk mendukung penegakan hukum yang sedang diupayakan oleh RW dan pendamping hukumnya sebagai bentuk pertanggungjawaban SS. Selama proses hukum berjalan survivor harus mendapatkan hak-haknya sebagai korban yang harus diberi perlindungan dan keamanan.
Kejernihan objektivitas mengupas persoalan ini sangat dibutuhkan agar tidak melahirkan sebuah ironi, dimana publik salah kaprah dan justru berupaya membangun pembenaran atas tindakan yg telah dilakukan SS sementara survivor yang seharusnya didukung menjadi terabaikan. Dalam tinjauan analisa rantai kekerasan, keluarga (istri dan anak) SS dalam hal ini adalah juga korban kekerasan.
Setelah mencermati perkembangan kasus ini, maka Jaringan Perempuan Yogyakarta mendesakkan point-point berikut :
SS harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum dan berkomitmen memberikan pemenuhan hak anak yang kelak dilahirkan RW.
Polri dan aparat penegak hukum harus menuntaskan kasus ini secara adil dan memberikan perlindungan keamanan kepada RW selama proses hukum berjalan dengan memberikan hak rehabilitasi secara psikis, sosial dan hukum.
Menghimbau kepada masyarakat agar fokus pada kasus kekerasan seksual yang dialami RW dan mendukung proses hukum bagi SS.
Dewan Pers dan atau Komisi Penyiaran Indonesia wajib menindak tegas jurnalis dan media yang menulis pemberitaan kasus kekerasan seksual yang tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Yogyakarta, 4 Desember 2013
Jaringan Perempuan Yogyakarta
Aksara, Asian Women Resource Centre for Culture and Theology (AWRC), CIRCLE Indonesia, DIAN Interfidei, Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP), Institute Development and Economic Analisys (IDEA), Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Lembaga Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak (LSPPA), Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), Mitra Wacana, Peace Generation, People Like Us Satu Hati, Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Perkumpulan NARASITA, Rifka Annisa, Rumah Kalbu, Rumpun Tjoet Njak Dien, Samsara, Sapda Yogyakarta, Satunama, SOS Children Village, Solidaritas Perempuan Kinasih, ViaVia Yogyakarta, Yayasan Annisa Swasti, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (YLKIS), Yayasan Umar Kayam.
Contact Person :
Naila NK - Hp 081328731882 | e-mail [email protected]
#dalanbanyu
tahun ini tahun keberapa kita menikmati hujan?
terhitung sejak lahir atau dari kita benar-benar memahami hujan, hujan adalah narasi puitis yang menginspirasi prosa-prosa. meski sesekali ia menjelma kemarahan.
tumbuh di negeri tropis agaknya 'memaksa' kita menerima kenyataan bahwa kita cukup punya dua musim, kemarau dan penghujan. kemarau, bagi konsepsi Jawa disebut dengan mongso ketigo.sedangkan penghujan, dikenal dengan mongso rendeng. penandanya jelas. sepanjang musim yang akan kita temui hanyalah matahari, mulai yang berjumlah 12 atau 10 dan kadang tertutup awan. itu ketigo.
rendeng selalu hadir di bulan berakhiran -ber dalam penanda masehi. september, oktober, november, desember, adalah bulan yang penuh limpahan air hujan. konsepsi jawa, mendekatkannya dengan berkah yang tidak habis. gedhe-gedhene sumber, begitu orang jawa memaknai musim rendeng.
namun sayangnya ilustrasi ideal yang menggambarkan keintiman manusia dengan alamnya sudah sulit kita jumpai hari ini. kini kita justru dekat dengan istilah, global warming. ini adalah masa ketika jalan manusia tidak lagi selaras dengan semestanya. penandanya juga jelas. musim penghujan dan kemarau seringkali bertabrakan. atau kemarau terlampau panjang dan mengambil jatah penghujan terlalu banyak. lalu kita mulai mengenal ancaman, dari atau terhadap lingkungan? kalau kita adalah bumi, maka manusia dan ciptaannya adalah ancaman. kalau kita adalah manusia, maka alam dan semestanya adalah ancaman. begitu kira-kira saya menempatkan relasi yang dulunya akur menjadi bertolak belakang.
jogja hari ini juga sama. rendeng yang dinanti-nanti datang menggantikan panas yang terlampau nylekit, rupanya tidak disambut dengan baik. mulai masuk mongso rendeng akun @jogjaupdate 'kebanjiran' gambar-gambar dari para pengikutnya tentang genangan dan luapan air.
ini diunggah oleh akun @RagilSempronk pk. 17:54 - 17 Nov'13 (bisa dibuka di pic.twitter.com/WN3y7qNDYa untuk gambar yang lebih jelas)
siapa yang tidak kenal daerah ini? sejak tahunan lalu, kolombo memang tidak pernah surut dari genangan air. dan sejak tahunan lalu pula, persoalan ini tidak juga surut.
diunggah oleh akun @dwidjodito pk. 14:28 - 17 Nov 13 (bisa dibuka di pic.twitter.com/93vLsu3Gxm untuk gambar yang lebih jelas)
perempatan jalan kaliurang. siapa juga yang tak kenal dengan lokasi ini? tiap hujan deras, air seolah terlalu bahagia hingga jumlahnya meluap-luap. sejak awal kuliah di dekat sana hingga hari ini, lokasi ini juga tak pernah surut.
diunggah oleh akun @licgraphy pk. 14:16 - 17 Nov 13 ( bisa dibuka di pic.twitter.com/ogrq8YUNLY untuk gambar lebih jelas)
coba tebak, dimana kira-kira lokasi ini? menurut pemotret, gambar ini diambil di jalanan kotagede. untuk yang ini saya kurang hafal, karena jarang melintas.
seperti bukan jogja!begitu komentar seorang teman.tapi mari kita bangun dari tidur panjang dan buaian slogan-slogan. jogja kota budaya, kota paling ramah, kota paling nyaman untuk ditinggali. air sudah meluap di jalan-jalan yang menjadi jalan alternatif bagi kita saat jalan-jalan di gambar di atas meninggi. hari ini, luapan air semakin ramah dan semakin ingin mengingatkan kita lalu hadir di halaman depan rumah kita.
ini adalah gang di jalan kaliurang km.5 diunggah oleh @pujiastariii pk. 14:53 - 17 Nov 13 (bisa dibuka di pic.twitter.com/5lHMkzyqtbpic.twitter.com/5lHMkzyqtb untuk gambar yang lebih jelas)
saya menyesal. tahun-tahun lalu saya sering mengamati genangan air di atas lubang drainase yang tidak juga jatuh ke alirannya dan tidak memotretnya. selalu dan sering saya mengamati lubang-lubang di pinggir jalan. dan hari ini banyak lubang semakin tertutup.
kalau saja saya punya gambar lokasi-lokasi ini tahunan lalu saat hujan, mungkin saya bisa meyakinkan diri saya kalau jogja memang berubah.
tapi sayangnya saya luput satu hal. tiap akhir tahun, banyak galian-galian di jalan dibuka kembali. mungkin ada baut atau sambungan kabel yang belum terpasang jadi terpaksa setiap akhir tahun galian itu dibuka kembali. saya luput menyadari, kalau tiap akhir tahun aspal-aspal panas selalu berulang ditumpahkan di jalanan yang makin mendekati tinggi trotoar dan menutup lubang-lubang air.
saya juga luput mengingatkan diri sendiri, kalau di atas sana. di tempat yang katanya jadi kawasan hijau jogja, sudah tidak terhitung lagi bangunan modern dan supercanggih yang bercokol di atas tanah yang mungkin bisa menyerap lebih banyak air hujan sebelum sampai ke bawah sini.
dan hari ini, di hitungan hari awal musim rendeng datang, air hujan sudah sangat baik mau menyapa kembali. mereka datang dan saya tidak bersiap. mereka datang dan kita malah menutup jalan bagi mereka pulang menuju muaranya.
besok saat hujan belum datang atau sebelum banjir jakarta membayang, mungkin saya akan datangi lubang-lubang air itu lalu menjebolnya. agar air bisa melanjutkan hidup, tidak mati karena tergenang lalu manusia mengumpatnya karena ia terlalu lama menggenang.
ini soal jalan hidup. di musim rendeng ini soal #dalanbanyu.
~ usai hujan di bantul, menikmati orkestrasi air hujan turun ke jalannya~
jalan-jalan, melihat lebih dalam
apa yang ingin kita temukan saat bepergian?
apakah kita bepergian untuk mencari lalu menemui sesuatu?
atau kita bepergian karena ingin bepergian, melepas penat karena setiap hari berdesakan dengan pekerjaan?
atau karena ingin mendapat pengalaman baru, cerita baru, foto baru dan isu baru.
ini bagian yang paling saya suka saat bepergian, mendapati begitu banyak warna hadir dalam satu frame dan cerita-cerita terselip di antaranya.
ini salah satu situs yang saya suka yang baru saja saya hampiri :
http://www.nytimes.com/slideshow/2013/08/09/opinion/sunday/01exposures-ss.html?smid=tw-share&_r=0#
the non chemical age #part 1
sebenarnya tema ini bukan tema yang baru. sudah sejak bahan kimia ditemukan berikut dengan dampaknya ke tubuh, sejak itu pula perlawanan terhadap bahan kimia mulai berdengung. ya, bahan kimia itu mengepung. dan kita hanya berdengung.
hidup di kepungan resiko rasanya memaksa kita untuk menjadi 'pasien' sekaligus 'tabib'. menjadi yang menerima resiko atas apa yang kita masukkan ke dalam tubuh, sekaligus tidak pernah berhenti mencari penawar atasnya. kalau dalam hitungan matematika, itu seperti mengurangi satu lalu menambah satu. tapi sayangnya, resiko (kimia) itu tinggal, ia menetap di tubuh kita. dan mestinya pilihan yang kita ambil adalah tidak mengurangi dan tidak menambah. begitu mungkin bunyi hukum alam (bagi tubuh kita).
soal memasukkan bahan kimia. tiap orang sebenarnya tidak pernah berhenti bereksperimen. mendapati 'produk' baru lalu mencoba. mendapati resiko baru, lalu mencari penawarnya. begitu seterusnya. tapi sebagai seorang laboran organic, saya menikmati mencari sensasi dengan bereksperimen dengan segala yang tumbuh di sekitar, atau minimal mencari bahan baru di pasar basah.
dan hari ini saya menemukan tulisan dari jalan-jalan.
http://simplemom.net/how-to-clean-your-hair-without-shampoo/
mudah dan konkrit. ini akan jadi eksperimen lanjutan dari shampoo jeruk nipis salah takaran yang dulu pernah saya coba. enjoy!
A Letter for The World Statesman Award - SBY
Dear Sir / Madame,
My name is Ika Ayu, I’m one of Indonesian citizen who really appreciates commitments done by Appeal of Conscience Foundation to against offenses on behalf of religion. I’m now working with Jaringan Perempuan Yogyakarta, a network that concerns on women and human right issues in Yogyakarta, Indonesia. Few days ago, I read an article about Mr. Susilo Bambang Yudhoyono who's going to awarded “World Statesman” from Appeal of Conscience Foundation for his works and commitment in tolerance and faith freedom in Indonesia.
But due the condition of Indonesia today that I and many people, especially minority group, directly face in my everyday life, Indonesia seems to get significant threat from intolerance group that use violence. Jogja, a city that stand on the basis of diversity and a place where I’ve been stay for more than 25 years, is also now facing a threat from the growing of those intolerance group.
According to incident that I’m now working with the advocacy, there were 2 big incident which happened in 2012, such as :
- Demolition of Catholic site named Gua Maria in Giri Wening in May 2012
- Assault and molestation of Irshad Manji discussion at the office of LKiS Foundation in May 2012; I was one of the victim of the assault.
The incident I show above are only few intolerance cases in Yogyakarta, and one thing that draw my attention is that Mr. Susilo Bambang Yudhoyono as The President of Republic of Indonesia didn’t show any good intention to solve the problems and giving protection to the followers of minority religions and beliefs who are susceptible to be the victim of intolerance.
This situation is not conform to the Constitution Mandate of Republic of Indonesia, The Fundamental Constitution of Republic Indonesia section 28 verse 1: ‘That the freedom to unite and to gather, to state their mind both oral or written are established by law’.
According to the datas about intolerance cases above and the background problems in Indonesia, I may conclude that The President of Republic of Indonesia Mr. Susilo Bambang Yudhoyono is not appropriate to accept World Statement Award. Due that problems, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono is against The Fundamental Constitution of Republic Indonesia (UUD 1945) and during his govern, plenty of intolerance cases have happended.
The award which is going to be awarded to Mr. Susilo Bambang Yudhoyono by Appeal of Conscience Foundation is not only not appropriate but also hurts the hearts of intolerance vitims in Indonesia.
Thank you very much for your attention and commitment.
Best Regards
Ika Ayu
Member of Jaringan Perempuan Yogyakarta
*surat ini saya adaptasi dari surat keberaran yang dibuat oleh Aliansi Sumut Bersatu
SATU TAHUN POLDA DIY GAGAL TUNTASKAN KASUS PENYERANGAN DISKUSI IRSHAD MANJI
Yogyakarta, 09 Mei 2013. Tepat 365 hari berlalunya kasus penyerangan diskusi Irshad Manji tanpa ada kejelasan hukum. Diskusi yang berlangsung di Yayasan LKiS, dihentikan secara paksa oleh seratusan massa berjubah tahun lalu adalah bentuk pencideraan terhadap kebebasan berkumpul dan menyampaikan pendapat yang diamanatkan dalam dasar negara Indonesia. Tidak cukup dengan penghentian paksa, pelaku penyerangan juga menganiaya 7 orang korban, 5 diantaranya perempuan dan salah satunya merupakan warga negara Perancis.
Keterlibatan Majelis Mujahidin Indonesia dalam penyerangan tersebut telah diakui oleh pimpinan tertinggi ormas tersebut. Namun hal itu tidak dijadikan bukti pendukung dalam penuntasan kasus. Padahal saksi dan korban sangat kooperatif dalam proses penyidikan, bahkan terlampau kooperatif dengan turut serta mencarikan berbagai macam bukti dukungan, mulai dari foto kejadian dan rekaman kronologi penyerangan versi pelaku dari sosial media. Ironisnya, selama proses penyidikan korban dan saksi berulang kali diminta menunjukkan pelaku pemukulan, suatu hal yang mustahil dipenuhi oleh korban.
“ Dukungan agar kasus dituntaskan datang dari Gubernur, Komnas HAM, Komnas Perempuan, kami juga telah mengirim surat desakan kepada Presiden RI, POLRI dan bahkan meminta ORI untuk melakukan audit kinerja POLDA DIY, tapi kasus ini mandeg”
Komitmen dan kemampuan POLDA DIY sebagai aparat penegak hukum layak dipertanyakan ulang! Dengan tidak diprosesnya kasus ini, POLDA seolah menegaskan ketidakmampuannya menyelesaikan kasus ini dalam kerangka hukum dan justru terjebak dalam politisasi kasus. Padahal saat kasus ini dilaporkan ke POLDA DIY, pernyataan yang diberikan oleh Pak Tjuk Basuki sangat jelas, “Kami take over -ke POLDA- supaya penuntasannya lebih cepat. Saya khawatir jika ditangani Polres apalagi Polsek, bisa lama,” ujar Kapolda DIY, Kamis (10/5/2012).http://www.tribunnews.com/2012/05/10/polda-diy-ambil-alih-kasus-pembubaran-diskusi-irshad-manji
“Selama satu tahun kasus ini digantung tanpa ada kepastian, kami tidak ingin kasus ini jadi seperti kasus kekerasan lainnya, digantung hingga kadaluarsa” tegas Ika dari Jaringan Perempuan Yogyakarta.
Oleh karena itu, dalam peringatan satu tahun penyerangan diskusi ini kami menuntut :
Pertama, KAPOLDA DIY menangkap dan menghukum pelaku penganiyaan dan penyerangan diskusi dengan hukuman seberat-beratnya. POLDA DIY juga harus memastikan korban yang dirugikan mendapatkan jaminan atas hak-haknya.
Kedua, KAPOLDA DIY beserta jajarannya bersikap profesional sehingga dapat menjalankan peran dan fungsi kepolisian dalam penegakan hukum.
Yogyakarta, 9 Mei 2013
Jaringan Perempuan Yogyakarta
besok, sudah 365 hari
besok, 9 Mei 2013. genap setahun penyerangan diskusi irshad manji di yayasan LKiS. apa yang tersisa? ingatan akan luka.