— "Will it be a bad ending for us two, gone astray?"
In the twilight of a dying world, where shadows clung to fractured skies, two souls intertwined in a dance of love and despair. Echoes of melancholy whispered through desolate landscapes as they embarked on a journey, hand in hand, chasing fleeting moments of solace.
Amidst the ruins, where concrete skeletons stood as silent witnesses, their love unfolded like verses in a forgotten poem. The moon cast its silver glow on the remnants of what once thrived, and their footsteps echoed in the haunting emptiness of an apocalyptic ballet.
Through fields of wilted roses, they ran, hearts pounding to the rhythm of an impending demise. He, a painter of dreams, brushed strokes of hope on the canvas of her weary soul. She, a poetess of the forsaken, wove verses of passion and rebellion against the encroaching darkness.
As the crimson sun dipped below the horizon, casting long shadows that reached for their entwined silhouettes, they found refuge in the embrace of dilapidated cathedrals and forgotten libraries. Love blossomed like ivy reclaiming the walls, defiant against the crumbling reality.
"Far away in the universe, my love, Will you join me, like stars above?"
To a place unseen, where dreams take flight, "With you, my dear, in the eternal night."
In the final crescendo of chaos, as the symphony of destruction played its relentless tune, they faced the inevitable hand in hand. Their eyes, windows to a shared eternity, reflected the kaleidoscope of memories forged in the crucible of chaos.
And so, under the indigo canopy of a fading sky, they surrendered to the inevitable, embracing the cataclysmic finale. In the echo of their last breaths, a poetic silence enveloped them, and their love transcended the boundaries of a world spiraling into oblivion.
"Go to the end with me, my lover"
"Crush me in your arms. Give me a lovelier kiss, lover."
Together, in a final embrace, they whispered vows into the abyss, becoming cosmic dust entwined for all eternity. In the symphony of an apocalyptic swan song, their love story etched itself into the annals of a forgotten universe, a tale of passion that defied the very fabric of extinction.
Tak semua senandung harus menemui gema, tak semua seruan akan dibalas oleh gaung yang merdu. Ada doa yang terbang tinggi, memecah langit dengan rindu, namun layu sebelum sempat mencapai singgasana-Nya. Ada pinta yang mengalir, lembut seperti sungai, namun tenggelam di pusaran sunyi yang tak berbatas. Maka tidakkah kau mengerti? Tidak semua yang kita titipkan pada malam, akan sampai pada bintang.
Kita ini, makhluk yang menabur harap seperti petani menebar benih di ladang yang asing. Tapi apakah setiap bibit mesti tumbuh? Tidak semua tanah ramah, tidak semua musim bersahabat. Ada yang jatuh di tanah tandus, diserap oleh hampa, lalu menguap menjadi angin tanpa arah.
Dan bukankah hujan pun tak selalu menjadi berkah? Di tempat yang kering, ia adalah nyawa. Namun, di bumi yang telah basah, ia bisa menjadi beban. Begitu pula doa, ia tak selalu menjelma jawaban. Kadang, ia hanya menjadi riak kecil di lautan takdir, tak cukup kuat untuk mengubah arus.
Tuhan, yang Maha Mendengar, kadang memilih diam, bukan karena lupa, tapi karena tahu. Ia tahu kapan kita perlu dilimpahi, kapan kita mesti belajar kekurangan. Sebab, tidak semua kehilangan adalah celah, dan tidak semua penolakan adalah luka.
Maka, jika pinta kita seperti embun yang terhapus mentari sebelum sempat menyentuh bumi, mungkin bukan karena ia sia-sia, melainkan karena Tuhan sedang menyusun hujan di waktu yang lebih tepat. Jika doa kita seperti burung yang terbang, hilang di cakrawala tanpa arah, mungkin ia sedang mencari sarang yang lebih baik untuk hinggap.
Tidak semua yang tak berbalas adalah penolakan. Kadang, ia adalah cara semesta mengajarkan ikhlas tanpa syarat, dan keyakinan tanpa perhitungan. Sebab, cinta yang tulus pun tak selalu harus diterima. Dan di situlah, manusia belajar bahwa berharap adalah seni mencintai, bahkan ketika jawaban tak pernah datang.
Hujan di pagi Januari ini menyelinap masuk lewat celah jendela kamarku, membawa harum tanah yang menggugah ingatan. Ia tak ubahnya seperti mantra sunyi, merapal kembali fragmen-fragmen silam yang kukira telah karam. Aku ingat ; dua tahun lalu, aku menjemputmu dengan motor tua yang mesinnya tak pernah benar-benar patuh kepadaku. Hujan mengguyur tanpa jeda, tapi kita—entah bagaimana—menemukan hangat di tengah dinginnya suasana.
Tawa kita meledak tiap kali roda motor menyentuh genangan, memercikkan air hingga membasahi rokmu. Kau memprotes kecil, tapi aku tahu setidaknya aku membuatmu tersenyum selama perjalanan singkat itu. Bahkan, pelukanmu di punggungku masih terasa begitu nyata hingga kini.
Namun, waktu selalu merubah sesuatu tanpa perlu izin dari pemiliknya. Kini aku tenggelam dalam kertas-kertas ujian, runtutan paragraf mati yang menuntut perhatian penuh. Bagaimana denganmu? Apakah hujan pagi ini juga mengetuk memorimu? Atau kau telah jauh melangkah, meninggalkan segala yang pernah kita rajut bersama?
Januari tetap hadir, hujannya setia menyapa, tapi ia tak pernah benar-benar sama. Apa yang dulu kita miliki kini membeku menjadi potret yang tak bergerak, tinggal kenangan yang mengendap di sudut-sudut benak. Kita, yang dulu begitu lekat, kini berjalan di jalanan yang berbeda—sibuk dengan dunia yang tak lagi memberi ruang untuk tawa dan hangat itu.
Aku hanya berharap, semoga hatimu tak dihantui bayang yang sama—tak terseret arus kenangan yang tak lagi punya tempat berpulang. Semoga langkahmu tetap ringan, tanpa beban masa lalu yang diam-diam menjelma rinai pagi ini.
Bukan untuk menawan diriku sepanjang waktu, kau hadir hanya sesekali, seperti sejumput angin yang membebaskanku dari letihnya hiruk-pikuk kefanaan dunia ini. Kau adalah jeda yang manis dalam riuhnya kehidupan, sekelebat bayangan yang tak pernah betah menetap namun selalu menyisakan jejak. Kau menghapus letih dalam sekejap, mengubah segala kelelahan menjadi kenangan yang begitu indah, yang tersimpan rapi di sudut-sudut ingatan—kenangan tentangmu yang tak pernah pudar, meski waktu terus bergegas meninggalkannya di belakang.
Kau adalah sebuah pelarian yang tak pernah kujemput, namun kerap kali hadir bak musim semi dalam padang gersang keletihan, menghadirkan sejenak rasa tenang di tengah deras arus kehidupan yang tak mengenal henti. Sesekali kau membebaskanku dari perihnya realita, memelukku dengan kenangan yang lembut, menjelma sepotong harapan yang mengendap di sanubari, menungguku kembali—bukan untuk selamanya, tapi cukup untuk membuatku bertahan dalam segala ketidakpastian ini.
Kelak, aku akan membuka kembali lembar-lembar kisah yang pernah kurangkai; di mana penaku menari indah di atas kenangan yang telah berlalu. Saat mataku menyusuri tiap barisnya, mungkin rasa itu tak lagi sama—entah berupa kelegaan yang patut kusyukuri, atau justru penyesalan yang meresap, menyayat hati yang dulu pernah kuberikan padamu.
Aku akan mengenang lagi pahitnya penolakan yang kau suguhkan, juga alasan-alasan yang kau bisikkan sebagai pembenaran. Kata-kata itu masih menggema, tak lekang oleh waktu, menjadi luka yang tak terlihat tapi selalu terasa.
Mungkin, di lembaran-lembaran itu pula, aku akan mendapati diriku yang dulu tersesat dalam ilusi yang kau ciptakan, memerangkapku dalam bayanganmu. Untuk terbangun darinya, aku harus bertarung melawan keinginan hati, melawan hasrat yang tak pernah rela untuk pergi. Sebuah perjuangan sunyi, antara melepaskanmu atau terus tenggelam dalam pesonamu.
ㅤ #hiraetheorèjaz — Layaknya dersik sangkala yang tak luruh bahari, lagi Nirmala hadir sebagai bayang-bayang pada chandraprabha, menari di atas riak memori pawana si adhikari. Tiap lekuk sasmita sang empu meretas batas senggang realitas dan ilusi – mencita tapak denai keabadian yang bernaung di sudut terdalam benak. Manik adikara puspa milikmu, pelias penaka pandang. Lerungan nan lembut, namun menembus, bak sorot lembayung yang membenam cakrawala, merayu esensi asa yang selesa terpatri di sanubari.
Adyakala, di setiap nishkala malam, kula pujangga maksih menjejaki bisikan sang Laksmi – lirih mengalun, melantas sekat jumantara fana. Engkau bak puisi yang tak jangkap, terurai dalam aksara tak berafal, namun menggema dalam sukma. Menating nuansa manyapada yang tak pernah benar-benar sirna, menyadikkan akan karsa yang sempat kita ikrarkan di bawah purnama – menyertaimu hingga batas akhir semesta, merajut benang amorfati dalam kerangka harsa dan amerta .
Sangga, tak bisakah kamu memberiku kesempatan yang lebih lama? Rasanya seperti bisikan sunyi di antara gemuruh hatiku yang tak terjawab. Aku merindukan kehadiranmu, bukan sekadar sebagai kenangan, tapi sebagai sosok nyata di sampingku. Namun kini, yang bisa kulakukan hanyalah mencintaimu dalam bayangan yang semakin memudar, dalam puing-puing ingatanku yang perlahan terkikis oleh waktu.
Kau meninggalkan hadiah sekaligus luka terdalam di hatiku—cintamu yang tulus, yang belum sempat kubalas sepenuhnya. Cinta yang kusadari begitu besar, begitu dalam, tapi kini tak bisa kutunjukkan padamu lagi. Cintamu seperti cahaya di ujung lorong kelam, menerangi setiap sudut ingatanku yang mulai samar.
Aku terjatuh, Sangga, terlalu dalam. Jatuh cinta padamu, hingga batas di mana kenyataan dan ilusi tak lagi kubedakan. Kau adalah mimpi yang terlalu nyata, tapi juga kenyataan yang terlalu jauh. Sekarang, aku hanya bisa berhalusinasi, berandai bahwa kamu masih hidup dan bahagia... di sisi lain dunia ini. Bahwa di tempat entah di mana, kita masih bisa bersama—berdua, tanpa ada yang bisa memisahkan kita.
Jika ada yang abadi dari semua ini, Sangga, itu adalah rasa cintaku yang tak pernah pudar. Kau tetap hidup dalam benakku, menjadi bagian dari diriku yang tak tergantikan, bahkan ketika usia terus berlalu dan kenangan perlahan menghilang.
Terkadang aku berharap, meski hanya dalam mimpiku, bisa menghabiskan satu hari lagi bersamamu—satu hari di mana aku bisa mengatakan segalanya yang tertinggal di hatiku, menyampaikan semua yang belum sempat kusampaikan. Namun, aku tahu, mimpiku hanyalah bayangan yang takkan pernah terjadi.
Sampai kapan pun, kamu tetap menjadi cintaku yang teramat dalam, yang telah dan akan selalu hidup di hatiku.
Aku bertemu dengannya pertama kali di sore itu. Tampangnya yang mengesalkan dibalut dengan kaos sablon anime yang terlalu besar di dadanya begitu membekas di benakku. Wajahnya tak beraturan, senyumnya sarkastik, namun kini justru itulah yang kurindukan. Pertemuan kami yang awalnya tak menyenangkan, kini menjadi salah satu hari terindah yang pernah ada—hari di mana aku pertama kali diizinkan Tuhan untuk menatap netranya, mata yang hangat, penuh mimpi, seolah ia bisa menantang dunia dengan sepenuh hati.
Sore itu, angin membawa namanya kepadaku—Sangga. Ia hadir dengan setiap gesturnya yang polos sekaligus sombong, tiap helai rambutnya yang beterbangan karena angin sore itu, bercerita lebih banyak dari kata-katanya yang penuh canda. Seperti senja yang menua di atas langit Bandung, Sangga membuatku jatuh sedikit demi sedikit, tak terduga namun nyata.
Hubungan kami berkembang dengan cara yang halus dan perlahan; tiap pertemuan seolah merajut benang di antara kami, satu per satu, seperti … “satu-satu anak tangga yang tak mungkin kita daki berbalik, hanya terus mendaki ke puncak tertinggi.” Entah kapan, aku sadar aku mulai mengenalnya bukan hanya sebagai Sangga, tapi sebagai bagian dari diriku sendiri, seolah takdir sudah mengikat kami dalam ikatan yang tak bisa kuurai lagi.
Jika aku bisa mengulang waktu—kembali ke sore di tahun 2017 itu—aku akan memeluknya erat, tanpa ragu, dan langsung mengatakan, “Aku mencintaimu. Ayo hidup lebih lama lagi bersamaku.” Aku ingin membisikkan kalimat itu, tak peduli seberapa nyaring suara dunia yang mungkin menghalangi. Seandainya aku bisa, aku ingin mengajaknya lari, menuju dunia mimpi yang tak berujung, dunia di mana hanya ada kami berdua, tanpa takdir yang datang untuk memisahkan. Dunia di mana senyumnya takkan pernah pudar, di mana aku bisa mencintainya tanpa takut hari esok.
Kukira aku punya banyak waktu untuk mencintainya. Kukira pertemuan ini adalah awal yang panjang, persis seperti hujan pertama yang membawa harapan. Tapi ternyata semua itu hanya pengandaian yang fana. Aku sadar kini, bahwa tidak setiap perjalanan bisa kita tempuh tanpa akhirnya—aku tahu ini akan usai, cepat atau lambat. Namun, aku hanya ingin, setidaknya, bisa bersamanya sedikit lebih lama. Aku masih ingin mendengar tawanya yang bisa membangkitkan musim semi di hatiku yang gersang. Aku masih ingin ia menyebut namaku, lagi dan lagi, dengan nada yang hanya dimiliki Sangga.
Aku masih ingin berharap banyak hal yang mungkin takkan pernah terwujud—hanya kenangan kecil yang terus bersenandung dalam hatiku, tentang hari itu, saat aku pertama kali menatapnya dengan rasa yang kini tak lagi bisa kugenggam.
Aku masih ingat jelas malam itu ketika aku mulai menulis tentangnya, di bawah langit yang perlahan meredup, bintang-bintang yang dulu bersinar seterang Venus kini ditelan awan gelap, yang, jika tak salah, berjenis Nimbostratus. Seperti langit yang kehilangan gemerlapnya, hatiku pun merasa kehilangan. Tak peduli berapa purnama telah berlalu, pikiranku—atau mungkin hatiku—masih saja terikat pada sosoknya.
Namanya Sangga Nabastala. Pria yang tak tinggi semampai, namun hadir dengan aura yang tak pernah hilang dari benakku. Pakaiannya sederhana, bahkan kerap kali terlihat slengekan. Sudah tak terhitung berapa kali dosen menegurnya karena penampilannya, namun tak pernah tampak gusar di wajahnya. Sekarang, ketika semua sudah terlambat, aku baru mengerti alasan di balik ketenangannya yang aneh itu.
Ia selalu membawa tas cokelat tua, penuh gantungan kunci anime, dan sebuah kamera Fujifilm yang terselip di kantong jaketnya. Nyentrik, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kehadirannya di antara para mahasiswa. Dia adalah seorang periang dengan otak yang brilian. Seluruh teman sekelas hampir sepakat, “Apapun masalahnya, Sangga solusinya.”
Namun, tak ada yang benar-benar bisa mengikuti jalan pikirannya. Kadang-kadang, ia bisa tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat kepala orang lain berdenyut, “Jika gravitasi adalah tarikan antar benda bermassa, kenapa cahaya yang tak memiliki massa bisa tertarik oleh gravitasi black hole?” Atau, “Kenapa Revolusi Prancis yang ingin menumbangkan aristokrasi malah menjadikan Napoleon Bonaparte kaisar seumur hidup?”
Berat, sungguh berat hanya untuk sekadar berbincang dengannya. Kadang, rasanya aku ingin menimpuk kepalanya dengan buku tebal yang tergeletak di mejaku, hanya karena betapa rumitnya setiap pembicaraan yang ia mulai. Namun, meski ia menyebalkan, Sangga memiliki daya tarik yang tak bisa diabaikan. Otaknya yang cerdas dan kepribadiannya yang cerah membuatnya menjadi idola banyak wanita di kampus.
Kebiasaan Sangga yang paling kuingat adalah ketika dia sering mengikuti kelas yang bukan pilihannya hanya untuk duduk di sampingku. “Lengkara, serius banget sih,” ucapnya suatu kali dengan wajah cengengesan. Konsentrasiku buyar, dan aku menahan segala umpatan di bibir. Ingin rasanya aku melemparnya dengan buku yang sedang kupelajari, namun urung kulakukan karena takut menarik perhatian dosen di depan kelas.
Setelah merusak fokusku, Sangga tanpa merasa bersalah membuka bekal dari Tupperware hijau, aroma masakannya menyebar, membuat seluruh kelas menoleh ke arahnya. Dia selalu bangga memamerkan masakan ibunya—nasi putih dengan cah kangkung, cap cay, dan sosis goreng. Setiap hari, ia selalu menyebutkan menunya dengan bangga, membuatku hafal dan kadang merasa kesal. "Ini masakan Mamah," katanya setiap kali, seakan-akan kami belum pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.
Namun, satu hal yang selalu kurenungi tentang Sangga adalah kemampuannya untuk hadir ketika aku membutuhkannya. Pernah suatu kali, aku tidak masuk kelas karena sakit. Tanpa kabar, tanpa ponsel yang aktif, tiba-tiba Sangga muncul di depan kosku. “Lengkara! Aku bawain nasi uduk sama obat nih!” teriaknya, berdiri di depan pagar kos yang dijaga oleh anjing German Shepherd milik Pak Sutrisna.
Meski ditolak berkali-kali oleh Pak Sutrisna, Sangga tidak menyerah. Suara gonggongan anjing pun kalah oleh teriakannya yang berulang-ulang memanggil namaku. Dan, seperti biasa, aku harus turun dari kamar kos hanya untuk menemuinya. Sangga memang keras kepala, tapi di balik semua itu, ada sisi dirinya yang melankolis. Ada sisi tenang, peduli, namun sedikit egois, seperti ombak yang menghantam pantai tanpa basa-basi.
“Aku ingin tetap tinggal di sini, bukan untuk diriku sendiri,” katanya suatu kali. “Aku ingin menjaga teman-temanku, mamahku, bahkan kucing-kucing jalanan. Jika aku hidup hanya untuk diriku, aku mungkin sudah kehabisan alasan untuk melanjutkan hidup.”
Sangga Nabastala—sosok yang tak mudah dipahami, namun entah bagaimana, selalu berhasil membuatku merasa aman. Seperti senja yang selalu membawakan hangat dan rasa pulang, dia adalah rumah. Rumahku. Aku ingin mengenalnya lebih dalam, ingin menjadi seseorang yang ia percaya, seperti aku mempercayainya. Namun, seperti teka-teki yang rumit, Sangga tak pernah mudah dipahami.
Dan hingga kini, aku masih menunggu, kapan dia akan berlabuh di dermaga yang sama, mengarungi samudera hidup bersamaku. Ini adalah teka-teki Sangga, dengan aku sebagai penyusunnya.
Siaran ulang adalah tentang mengenang seseorang kata Ibespalogai. Tapi, bagiku mengenangmu adalah tentang lorong ingatan. Bukan menawanku sepanjang waktu, hanya sesekali membebaskanku dari letihnya hiruk pikuk kefanaan menjadi kenangan indah tentangmu.
Ada milyaran kisah cinta yang telah dituliskan Tuhan untuk hamba-Nya, dan cerita cintaku, cerita cintamu—cerita cinta kita—mungkin tak tergolong yang terindah. Namun, memiliki "kamu" dalam narasi hidupku adalah keindahan yang tiada tara.
Teruntuk kamu, yang (nantinya) akan selalu menghiasi sudut-sudut pikiranku, mengisi setiap celah dalam relung hatiku. Terima kasih, ya? Terima kasih karena telah memilihku sebagai Tuan yang bersemayam di hatimu. Ku harap, dalam setiap detik yang kita lewati bersama, aku tidak akan mengecewakanmu atau membiarkan rasa yang kau titipkan sirna tanpa makna. Aku akan berusaha menjaga setiap embun harapan darimu ini agar selamanya amerta.
— "Will it be a bad ending for us two, gone astray?"
In the twilight of a dying world, where shadows clung to fractured skies, two souls intertwined in a dance of love and despair. Echoes of melancholy whispered through desolate landscapes as they embarked on a journey, hand in hand, chasing fleeting moments of solace.
Amidst the ruins, where concrete skeletons stood as silent witnesses, their love unfolded like verses in a forgotten poem. The moon cast its silver glow on the remnants of what once thrived, and their footsteps echoed in the haunting emptiness of an apocalyptic ballet.
Through fields of wilted roses, they ran, hearts pounding to the rhythm of an impending demise. He, a painter of dreams, brushed strokes of hope on the canvas of her weary soul. She, a poetess of the forsaken, wove verses of passion and rebellion against the encroaching darkness.
As the crimson sun dipped below the horizon, casting long shadows that reached for their entwined silhouettes, they found refuge in the embrace of dilapidated cathedrals and forgotten libraries. Love blossomed like ivy reclaiming the walls, defiant against the crumbling reality.
"Far away in the universe, my love, Will you join me, like stars above?"
To a place unseen, where dreams take flight, "With you, my dear, in the eternal night."
In the final crescendo of chaos, as the symphony of destruction played its relentless tune, they faced the inevitable hand in hand. Their eyes, windows to a shared eternity, reflected the kaleidoscope of memories forged in the crucible of chaos.
And so, under the indigo canopy of a fading sky, they surrendered to the inevitable, embracing the cataclysmic finale. In the echo of their last breaths, a poetic silence enveloped them, and their love transcended the boundaries of a world spiraling into oblivion.
"Go to the end with me, my lover"
"Crush me in your arms. Give me a lovelier kiss, lover."
Together, in a final embrace, they whispered vows into the abyss, becoming cosmic dust entwined for all eternity. In the symphony of an apocalyptic swan song, their love story etched itself into the annals of a forgotten universe, a tale of passion that defied the very fabric of extinction.
Nggak apa-apa, nggak apa-apa banget. Setiap orang pernah salah, setiap orang pernah memilih sesuatu yang buruk, setiap orang pernah marah dan kecewa, setiap orang pernah berlagak sok tahu, setiap orang pernah sombong dan pongah. Meski untuk kamu, ada beberapa pilihan yang keterlaluan. Nggak apa-apa.
Aku tahu gimana kamu bertahan, gimana kamu berusaha menahan diri dan mencoba menikmati hidup saat yang tersaji bukan yang diinginkan siapapun. Aku tahu seberapa lelah kamu berjuang, bahkan pernah menyerah dan nyaris melayangkan nyawa. Nggak apa-apa untuk semua itu.
Sekarang jadikan ia masa lalu ya. Udah uji cobanya, kamu udah belajar banyak hal. Udah melawannya, kamu udah terlalu banyak menghabiskan energi. Udah ya, sekarang tundukkan egomu, rawat pengalaman itu untuk lebih baik.
Luka yang udah menganga itu anggap sebagai pintu agar kebaikan datang, kesadaran untuk tetap melaju. Ini hanya siklus hidup, ini hanya fase yang akan terlewat. Kalaupun semua rencanamu nggak terwujud, ingat hal yang terjadi tanpa terduga juga ngasih pengalaman yang kalah hebat. Kamu cukup sedikit lebih peka dan menerima, bahwa nggak semua hal harus seideal yang kamu pahami.
Nggak apa-apa ya, pijak lagi bumi dan mari menikmati hari.
Terimakasih sudah sekuat ini, meski sudah lebam, tubuh dan kakimu masih melangkah, tanganmu masih mengayun kedepan. Terimakasih karena masih mau bertahan ditengah badai. Tidak mudah, tapi masih mau sekuat tenaga beranjak.
Terimakasih diri, karena mau membantuku beranjak.
Tubuh dan kaki akan terus melangkah, aku tidak akan luruh, aku tidak akan jatuh.
Hai, apa kabar dirimu hari ini? Sudah bisa keluar dari hal-hal yang kamu takutkan? Sudah membuat langkah menyelesaikan hal-hal rumit dihidupmu? Sudah berani mendengar dirimu sendiri daripada orang lain?
Bagaimana kamu hari ini? Sudah melangkah lebih jauh dari sebelumnya, setelah kemarin hanya bisa yang dekat? Sudah bisa untuk tak mendengarkan orang lain yang mencaci kamu? Sudah bisa menghilangkan pikiran-pikiran liar dihidupmu, setelah sebelumnya kamu hidup didalam pikiran liar yang merusak dirimu sendiri?
Sudah mampu untuk tak mendengar makian orang lain terhadap dirimu? Sudah bisa menghilangkan sisi gelap dari dirimu sendiri?