Catatan Seorang Pesimis: Waktu
Jika waktu adalah entitas dengan niat, maka ia tidak pernah berhenti, tidak pernah letih, dan tidak pernah berbelas kasih. Ia berjalan tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang terseret, siapa yang tertinggal, siapa yang memohon.
Waktu adalah algojo yang sabar. Ia tidak membunuh sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, dalam dosis yang terlalu kecil untuk kita sadari sehari-hari.
Lihatlah tubuhmu. Tiap hari ada sel yang mati, rambut yang rontok, kulit yang mengelupas. Kau tidak merasa, tapi itu adalah eksekusi kecil yang dilakukan waktu. Kau kira kau masih muda, padahal keriput sudah bersiap di bawah kulit, menunggu momen untuk menampakkan diri. Kau kira kau masih kuat, padahal sendi-sendi sudah mulai retak. Begitulah cara waktu bekerja: bukan dengan pukulan keras, melainkan dengan serangkaian goresan halus yang akhirnya membuat tubuhmu roboh.
Waktu juga merampok ingatan. Pada awalnya, kau bisa mengingat wajah, suara, setiap detail. Lama-lama, wajah itu buram, suara itu hilang, detail itu lenyap. Hingga yang tersisa hanyalah rasa samar bahwa seseorang pernah ada di hidupmu. Kau bisa mencoba melawan dengan foto, catatan, atau cerita, tapi itu pun akan lapuk, seperti kertas yang menguning di laci. Tidak ada yang bisa melindungi ingatan dari gigitan waktu.
Yang lebih kejam, waktu menjadikan semua hal fana. Cinta yang kau kira tak tergoyahkan, pelan-pelan akan berubah jadi rutinitas, kemudian jadi beban, lalu mungkin jadi kebencian. Janji-janji besar mengecil, idealisme muda menguap, semangat yang dulu membara akhirnya padam sendiri. Waktu tak butuh api untuk membakar; ia cukup menunggu.
Orang sering berkata waktu menyembuhkan luka. Itu dusta. Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Ia hanya membuat luka kehilangan bentuk, hingga kita lupa letak persisnya. Rasa sakitnya tidak benar-benar hilang, hanya berubah jadi kesunyian yang lebih sulit dijelaskan.
Aku pikir, ketakutan terbesar manusia bukanlah kematian, melainkan fakta bahwa waktu terus berjalan bahkan setelah kita tiada. Dunia akan tetap bising, matahari tetap terbit, anak-anak tetap berlari, seakan-akan hidup kita tidak pernah berarti apa-apa. Waktu tidak berhenti untuk berkabung. Ia berjalan dengan kejam, menelan kita tanpa jejak.
Dan kita, yang menyebut diri berakal, tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan algojo itu. Kita hanya menunduk, pura-pura lupa, sementara jam di dinding tetap berdetak mengingatkan, bahwa setiap detik yang lewat adalah satu potongan nyawa kita yang tak kembali.