Nol
. Dalam keseharian, mungkin kita termasuk orang yang sering menuliskan target-target dalam hidup. Baik target harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Menurutku, hal tersebut merupakan aktivitas yang cukup bermanfaat. Membantu kita untuk senantiasa fokus pada apa yang ingin kita raih, ataupun manfaat lainnya menurut versi masing-masing orang.
Namun, ada satu masalah disitu.
Ada analogi yang cukup menarik. Disini kamu diminta untuk menjumlahkan angka berapapun dan sebanyak mungkin. Kamu diberi waktu, namun kamu tidak tahu batas waktu itu. Sepanjang waktu kamu menjumlahkan banyak angka. Dengan ambisiusnya menuliskan angka dan terus menjumlahkan nya. Kemudian tibalah disaat kamu diberitahu bahwa waktu untuk menjumlahkan sudah habis.
Terakhir, semua angka yang telah kamu jumlahkan, harus dikalikan dengan angka nol.
Maka, kamu dapati bahwa hasil akhir dari perhitungan tadi adalah nol.
Oke, bayangkan jika angka-angka yang kamu jumlahkan tadi adalah seluruh pencapaian dalam hidupmu, nilai dari seluruh targetmu yang telah tercapai. Contohnya, tahun ini kamu berhasil mencapai satu target, kamu tuliskan angka 19 untuk itu. Tahun depan kamu berhasil mencapai target yang lain lalu kamu tuliskan angka 78 untuk itu, dan kamu jumlahkan dengan nilai angka sebelumnya. Begitu seterusnya. Begitu ambisiusnya kamu dalam menjumlahkan angka-angka itu. (19+78+76+65+4+7+....) Namun, kita makhluk yang diberi hidup ini, suatu saat akan mati. Dan kematian adalah angka nol.
Seluruh angka yang kamu jumlahkan dalam kurung besar itu, pada akhirnya akan menjadi nol.
(19+78+76+65+4+7+88+800+70000) x 0 = 0 Artinya, apapun dan seberapa besar berbagai pencapaian, tidak akan ada nilainya jika bertemu dengan kematian. Orang yang bisa berbahasa inggris akan sama saja dengan yang tidak. Orang yang kaya akan sama saja dengan yang miskin. Orang yang mempunyai jabatan tinggi, akan sama dengan yang hanya orang biasa.
Maka, satu-satunya solusi yang dapat kita lakukan adalah mengganti nilai kematian menjadi angka satu.
Bagaimana caranya ?
Hanya Dia lah, Sang Khalik yang dapat memberi solusi tersebut.
Dia berfirman كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ
“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah” (Q.S Al Qashash ayat 88)
Berdasarkan pemaparan dalam kitab tafsir karya Ibnu Katsir, dapat disimpulkan ayat itu bermakna bahwa tiap-tiap sesuatu akan binasa, akan hilang, akan musnah, kecuali Zat Allah. Kecuali segala sesuatu yang ditujukan kepada-Nya.
Mujahid dan As-Sauri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Al-Qashash: 88). Yaitu terkecuali sesuatu yang dimaksudkan demi Dia; Imam Bukhari meriwayatkan pendapat ini di dalam kitab sahihnya seakan-akan dia menyetujuinya. (Ibnu Katsir)
Guys, itulah solusinya !
Agar seluruh pencapaian kita tidak terhapus oleh kematian, Maka ayo meniatkan segala apa yang kita citakan untuk-Nya. Kita tujukan seluruh tujuan dalam hidup, demi meraih cinta-Nya. Kita memperjuangkan hal-hal yang bisa berkontribusi dalam kemajuan umat. Mengapa demikian ?, agar setiap amal kita mendapat cap eternal (abadi), yang tidak akan terhapus oleh kematian.
Misalnya, kita belajar bahasa inggris, agar nantinya dapat berdakwah menggunakan bahasa tersebut, baik lisan, tulisan, maupun bentuk karya lainnya. Kita menambah target penghasilan dari tiga juta menjadi tujuh juta, agar nanti dapat berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan orang-orang yang kurang mampu, agar nanti dapat membagikan mushaf Al-Qur’an di lingkungan kita. Atau mungkin kita menyelesaikan membaca sebuah buku per minggu yang bertema apapun agar dapat menambah kualitas tulisan dakwah kita. Kita rajin berolahraga agar selalu sehat dan dengan baik melaksanakan ibadah kepada-Nya.
لا تحمل هم الدنيا فإنها لله
“Jangan risaukan perkara duniawi sebab dunia milik Allah” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
Poin disini adalah, segera luruskan niat. Jika terlambat, semua akan terhapus oleh kematian.
Hapus angka nol itu. Raih angka satu itu.
{كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ} Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27) . Boyolali, 26 Desember 2017.













