“Orang semakin lama semakin merasakan, bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya; tidaklah pantas untuk menganggap negeri ini sebagai tempat ke mana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan, dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa penduduknya terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut berbicara dalam soal-soal pemerintahan yang mengatur nasib mereka.” (H.O.S. Tjokroaminoto, rangkaian delapan hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam di Bandung pada tanggal 18 Juni 1916)
Hadirin yang sebelumnya terdiam dan terpaku, menjadi kagum dan bergelora semangatnya, teriak riuh ramaikan suasanannya. Pidato seorang lelaki yang tegar, setegar “benteng nusantara” itu telah menyuntikan semangat yang amat dahsyat, seakan menandai dimulainya pergerakan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Madura, Ambon, Sulawesi, bahkan tak terhindarkan sudah tertancap di jiwa seluruh lapisan rakyat seantero nusantara. Kurang lebih seperti itulah Aji Dedi Mulawarman menggambarkan sesosok “Raja Jawa Tanpa Mahkota” itu di dalam bukunya yang berjudul JANG OETAMA : Jejak dan Perjuangan H.O.S Tjokroaminoto.
“Meskipun jiwa kita penuh dengan harapan dan keinginan yang besar, kita tidak pernah bermimpi tentang datangnya Ratu Adil. Atau kejadian yang bukan-bukan, yang kenyataan tidak pernah terjadi. Tapi kita akan terus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur akan datangnya status berdiri sendiri bagi Hindia Belanda . . . Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan Zelfbestuur atau Pemerintahan Sendiri . . “ (H.O.S. Tjokroaminoto, rangkaian delapan hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam di Bandung, tanggal 17 Juni 1916)
Pak Tjokro merupakan representasi tokoh yang pertama kali menggemakan ide pemerintahan sendiri (Zelfbestuur), yang dapat diartikan sebagai Kemerdekaan Nasional. Itulah salah satu peristiwa yang tidak akan terlupakan sepanjang sejarah bangsa Indonesia dalam mencapai Zelfbestuur.
Bagaimana tidak, Sarekat Islam (SI) menjalankan pergerakan yang luar biasa di bawah komando Pak Tjokro. Melalui tangan dingin beliau, pada tahun 1919 SI memiliki 2.500.000 anggota. Gerakan raksasa yang membumikan semangat nasionalisme ke dalam jiwa-jiwa rakyat yang tertindas oleh para penjajah.
Paham dan sadarnya beliau akan keadaan rakyat, murninya nurani serta kedalaman intuisi memunculkan keberanian untuk menggemakan kemerdekaan, menggerakkan batin masyarakat, serta dengan penuh kegagahan melakukan aksi politik yang membuat Wong Londo ketar-ketir, aksi radikal yang membuat Kompeni gigit jari.
Raja Jawa Tanpa Mahkota. sang Pembuka Jalan menuju kemerdekaan.