Teruntuk jiwa yang gaduh, riuh bergemuruh.
Teruntuk raga yang dahaga di telaga kekeringan.
Mari kemari, Merebahlah.. Istirahatkanlah.. Sejenak saja, atau hingga engkau
bosan.
Hentikan usahamu menyalahkan diri sendiri. Sejenak, hentikan usahamu melawan ketetapan-Nya.
Sebentar saja, dunia ini hanya sebentar.
Saat nuranimu terdiam, saat hatimu berhenti berbisik-bisik. Saat jiwamu
tertindih kesedihan, terluka dengan duka-duka. Saat belantara dadamu itu
terasa sesak dan rusuk-rusuk menghimpit. Saat-saat itulah kesanggupanmu
untuk menjadi dewasa dididik, karena kita memang harus segera dewasa dan
bersahabat dengan kehidupan ini. Kehidupan untuk satu kehidupan yang
MahaHidup.
Ada saatnya keramahan, ketegaran dan kebaikan yang nampak hanyalah ilusi semata.
Dalam kejujuran hatilah tersimpan kemarahan dan kesedihan yang nyata.
Salam bahagiaku untukmu..
Untukmu, yang hatinya selalu berusaha rendah dan hina di hadapan-Nya.
Saat terbaring atau berdiri, saat semua bersamamu atau saat tak sesiapapun
peduli. Saat jiwa itu mulai terdiam, tiba-tiba saja sepi, atau gaduh dengan
kekhawatiran. Namun engkau masih tegar dan berdiri, menyendiri di
sudut-sudut malam pelarian.
Jika saja, pagi ini cahaya matahari tidak menemuimu ditempat yang
biasa, maka pastikanlah bahwa ia tidak enggan menyapa. Ia senantiasa setia
teguh dan patuh menerangi bumi, laksana nur-Illahi yang hangat di setiap jiwa
yang mengimani.
Ketahuilah, matahari tak pernah enggan menyinari pagimu. Mungkin hari ini
takdir lain sedang mencegahnya, awan misalnya. Awanpun takdir-Nya. Maka
bersahabatlah dengan mereka, karena semua adalah rencana-Nya. Mungkin
awan baru saja melintasi petani di saung kecilnya, memberi harapan hujan
untuk ladangnya yang kering.
Diantara gelapnya suasana, disana selalu ada cahaya yang membimbing senyum
di wajahmu. Segera setelah ujian mereda, disana bahumu selalu menjadi semakin
kokoh dan tegap berdiri. Kakimu tegak dan siap melangkah, wajahmu menunduk dan hatimu tetap basah, bertasbih bersama semesta. Disanalah
rekahan kebahagiaan memancar dari hatimu. Laksana pelangi di penghujung senja.
Bukankah alam melukis pelangi dari riuh-riuh gemuruh hujan dan
cekaman halilintar?
Maka untukmu yang senantiasa sabar menanti sang pelangi, tunggu sebentar lagi, dunia ini hanya sebentar.
Namun ketika kau merasa tak sanggup lagi tuk bersabar, maka dengar..
Anggaplah pena ini sahabatmu..
Sahabat yang baru saja menepuk bahumu
Sahabat yang merindumu kembali
Anggaplah pena ini sahabat yang menghampirimu dalam gelap. Seorang yang
membawakanmu lilin dan menyalakannya untukmu. Sosok yang mencoba meraih bahumu, membisikkanmu, menunjukkanmu, bahwa disana selalu masih ada
jalan.
Anggaplah pena ini sahabatmu, Sahabat yang tidak menertawakanmu saat engkau salah, yang senang duduk bersamamu saat dunia dan semua seakan menyalahkanmu.
Sahabat yang menitikan air mata saat engkau hampir menangis
Sahabat yang ingin memahamimu ketika dirimu marah
Sahabat yang tidak mampu tersenyum saat dirimu murung
Sahabat yang tak sanggup tertawa saat engkau terluka
Sahabat yang ikut terluka saat kakimu melemah dan terjatuh
Sahabat yang ingin mengingatkanmu lagi tentang masa-masa ketika
bahumu tangguh menatap harapan, menuntunmu lagi, melembutkan hatimu,
mengingatkanmu saat-saat seperti dulu, ketika engkau terduduk disudut
sajadah menangis memohon ampunan atas dosa dan kesalahan.
Sahabat yang senantiasa ingin menegur dan mengingatkanmu, berdo'a di belakangmu,
membersihkan namamu dan duri yang menusukmu.
Sahabat yang akan meraihmu saat bibirmu nanti mulai berkata-kata: "yah, hidup ini memang tidak mudah..."
Benar, memang tak mudah. Semakin dilawan, maka semakin kita tertawan. Jalani saja. Allah petunjuk jalannya.
Semoga persahabatan ini diberkahi-Nya. Lupakanlah siapa penulisnya, namun
dengarkanlah gemericik bisikannya.
Analogi dan diksi sederhana ini, sengaja kualirkan melalui jari, dari danau
ketenangan di hatiku untuk kebahagiaanmu..