“Kamu perlu sesekali mengambil resiko. Orang lain bahkan mungkin tidak punya pilihan“
Belakangan ini, saya sering sekali berdiam di kampus sampai malam. Kalau temen-temen ngikutin postingan foto saya, background-nya tidak jauh-jauh dari lab. Tahun ini, saya berazzam ke diri sendiri untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak malu-malu lagi mengungkapkan apa yang saya inginkan.
Minggu lalu, saya menyelesaikan banyak banget kerjaan dari jam delapan pagi sampai jam delapan malam. Selepas kerja, saya ke kafe sebentar bersama teman satu ruangan saya. Hal pertama yang saya ucapkan ke beliau adalah:
“Aku hampir nggak percaya kalau aku bisa kerja dengan ritme cepat lagi“
Setelah struggling dengan PTSD dari tahun 2018 yang mengharuskan saya menarik diri dari banyak aktifitas, saya sebenarnya kehilangan rasa percaya diri. Saya merasa bodoh dan lambat sekali. Dibilang insecure karena pencapaian orang tuh nggak juga. Saya tuh ngelihat diri sendiri aja menyedihkan sekali. Udah nggak sempat melihat pencapaian orang lain.
Awal 2021, setelah kondisi mental saya jauh membaik, saya doa sama Allah biar ditunjukkan jalan untuk menjadi orang yang lebih bermanfaat. Setelah itu, saya nyoba mengumpulkan bahan untuk membuat buku. Saya mewawancarai beberapa orang, mengumpulkan referensi tentang filsafat pendidikan islam, mengumpulkan referensi tentang studi etnografi untuk menyelidiki kebiasaan masyarakat adat dalam memelihara alam, serta mengumpulkan referensi tentang terkikisnya ruang hidup masyarakat adat. Intinya, saya ingin menuliskan bahwa pendidikan harusnya membawa kita menjadi makhluk yang memahami tugasnya untuk memelihara bumi dengan baik. Karena saya muslim, saya percaya bahwa ikhtiar kita dalam memelihara alam juga akan menghadirkan rahmat Allah yang berlimpah.
Pengerjaan buku saya ini masih dalam tahap pengumpulan referensi. Pertengahan 2021, ternyata amanah di kampus bertambah banyak sekali. Di tengah amanah tersebut, atasan saya tiba-tiba menyuruh saya untuk mengambil kursus IELTS dan memberi ultimatum agar segera berangkat kuliah. Setelah lama berdoa karena bingung harus kemana, saya menemukan fokus bahwa saya memang harus mengejar S3 lagi.
Selama ini, saya masih bimbang di antara dua pilihan. Mengambil doktoral di Indonesia setelah usia 40 nanti atau segera S3 di luar negeri. Bimbang banget. Saya takut pas saya kuliah nanti, Bapak sakit dan saya nggak ada di samping beliau. Tahun ini, entah kenapa saya mantap sekali untuk sekali lagi mencoba mencari beasiswa doktoral ke luar negeri.
Yang saya rasakan akhir-akhir ini berbeda dengan yang saya rasakan sebelumnya. Dulu, setiap saya menginginkan sesuatu, orang-orang di sekitar saya selalu bilang:
“Kamu itu cewek, kuliah di Indonesia aja nggak apa-apa”
Atau ketika saya mencapai achievement tertentu, nggak pernah ada pujian. Sejak kecil, saya nggak terbiasa dengan pujian selain dari orang tua. Kalaupun ada, pujian itu selalu dengan embel-embel:
“Emang Allah tuh adil ya. Orang kayak kamu punya kekurangan jadi dikasih kelebihan otak encer“
Padahal kita achieve sesuatu juga karena kerja keras. Sejak itu, saya percaya bahwa pujian yang tulus itu cuma pujian orang tua ke anak. Sisanya nggak tulus. Manusia itu tidak butuh pujian.
Tapi akhir-akhir ini, saya seperti mendapatkan kepercayaan diri kembali karena pujian-pujian kecil dari orang di sekitar saya seperti:
“Kerja kamu bagus, makasih ya“
“Selama aku handle ini, aku paling seneng sama kamu. Kamu ternyata keren banget ya“
“Aku kok lebih sreg diskusi sama kamu tentang ini“
dan seterusnya dan seterusnya.
Dan selama hidup 31 tahun, baru kali ini juga saya mendapat nasihat yang hangat:
“S3 itu menuntut ilmu. Kalau memang kamu suka belajar, jangan malu untuk menjadi high achiever. Masalah nikah, keluarga dan yang lain, titipin aja sama Allah. Kalau kamu memang merasa hanya bisa mengerjakan satu prioritas, adukan saja sama Allah biar prioritas di bawahnya dimudahkan juga“
Selama ini, saya selalu mengatakan hal tersebut ke diri saya sendiri sambil berharap sama Allah bahwa Allah akan menguatkan saya ketika orang-orang di sekitar saya melemahkan azzam saya. Kadang saya merasa keinginan saya salah dan akhirnya berdoa buat minta hidayah aja biar dikasih keinginan yang baik. Tapi setelah mendengar nasihat tersebut, saya pengen nangis karena saya sadar bahwa yang mikir kayak gitu bukan saya doang.
Menemukan support system yang baik setelah lama banget berjuang sendiri itu rasanya…….
Saya hampir tidak percaya bahwa saya bisa keluar dari depresi dan balik lagi punya cita-cita. Pelan-pelan bisa perform lagi. Meskipun yang jauh lebih baik dari saya tuh banyak banget. Cuman …. buat orang yang dulu sering banget beberapa hari nggak ngapa-ngapain karena depresi, kemudian sekarang bisa pelan-pelan handle banyak kerjaan dalam sehari tuh rasanya…..
capek banget tapi bahagia sekali :)
Semoga Allah juga memudahkan hidup teman-teman. Semoga Allah juga ngasih support system yang baik buat teman-teman.