Sade Olutola

Janaina Medeiros
🩵 avery cochrane 🩵
Today's Document

Discoholic 🪩
🪼
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

tannertan36
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kiana Khansmith
sheepfilms
todays bird
d e v o n
almost home
TVSTRANGERTHINGS
Cosmic Funnies
Mike Driver

PR's Tumblrdome
he wasn't even looking at me and he found me

⁂

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from Germany
seen from Azerbaijan
seen from Japan
seen from United States

seen from Australia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Denmark
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from Slovakia

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Indonesia
seen from Canada
@menggapaibulan
Mental gratisan yg mungkin membuat kebahagiaan saudara kita memudar
Ada beberapa perilaku khas bangsa Indonesia yang sering kali dilakukan secara tidak sadar. Entah memang sudah tradisi atau bagaimana, tapi perilaku ini cukup meresahkan bahkan menyakiti atau memberatkan hati saudara kita yang sedang berbahagia.
1. Mental "nitip oleh-oleh" Mungkin bukan hal yang asing kita temui, ketika kita atau salah satu teman kita akan bepergian ke suatu tempat kemudian terdengar celetukan, "jangan lupa oleh-olehnya". Mungkin banyak dari kita tidak menyadari bahwa kata2 remeh seperti itu justru memberatkan hati saudara kita yang sedang berbahagia. Bukan do'a semoga sampai tujuan atau menikmati pemandangan, justru beban membawa buah tangan yang nyungsep tak terelakan. Ya, walaupun niatnya hanya bercanda atau sebatas mencari bahan bicara, tapi apa susahnya kata2 meminta spt itu kita ganti dengan memberi do'a. Kpd sesama manusia, bukankah memberi itu lebih baik dari pada meminta ? Walaupun terkesan do'a sederhana, namun siapa yang tidak suka mendengarkannya ?
2. Mental "ada kortingan harga gak ?" Sering saya membaca di grup yang berisi penulis-penulis baru ttg keluh kesah mereka akan banyaknya saudara dan kerabat yang minta gratis buku atau potongan harga. Atau teman yang baru saja memulai usaha kemudian ada yg merengek minta harga "saudara". Ayolah, saudara kita yang menulis atau sedang memulai usaha itu sedang berbahagia dan memulai jalan barunya, knp kita tega membuat senyumnya pudar dan jatuh mental dengan nyanyian khas "minta diskon" seperti itu. Lagi-lagi jika alasannya mau nyepik, knp tidak nyepik dengan do'a2 yg membuat saudara kita semakin optimis, semoga usahanya lancar dan berkembang atau semoga menjadi penulis hebat yang menginspirasi. Apa susahnya ?
3. Mental "traktiran" "Kamu ultah ya ? Traktiran dong." "Kamu lolos ini ya ? Traktiran dong." dsb. Sering dengar ? Sering dengar ? Kalo gak berarti anda bukan orang Indonesia dan harus segera dideportasi. Lagi-lagi, saudara kita sedang berbahagia, knp kita tega membebani hati mereka dengan permintaan perut bocor kita ? Apa susahnya kita berdo'a baik tanpa embel2 minta traktir ?
Hal ini mungkin bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama. Sebagai bangsa yang berharap Indonesia menjadi lebih baik, mau sampai kapan kebiasaan menadahkan tangan kpd sesama manusia ini kita lestarikan ? Mau sampai kapan mental gratisan dan pelit do'a ini kita tanamkan ? Masalah kita dapat bagian atau tidak, itu sudah diatur. Kalau rejeki pasti tak kemana. Masalah kita berhak mendapatkan percik kebahagiaan dari saudara kita tadi, knp tidak kita yang memulai memberi dia kebahagiaan ? Knp menunggu dia/mereka. #ntms
Ten steps to writing an essay //Science Scribbles
Noted
Noted!
(via Saturday Morning Cartoons: Baopu #15) by Yao Xiao
words to remember
Nice
ART PRINTS BY STEVE CUTTS
Tube Rats
Canned Life
Circle Of Life
Mickey
Evolution
What’s On TV
happy Halloween
Christmas Spirit
The Chipper
Also available as canvas prints, T-shirts, tapestries, stationery cards, laptop skins, wall clocks, mugs, rugs, duvet covers, All over print shirts, Phone cases, Throw pillows, tote bags and More!
Cyber Monday - 20% Off Everything + Free Worldwide Shipping - Ends Tonight at Midnight PT!
Pasangan anak tumblr, barangkali kalo berantem rumahnya justru sepi. Soalnya kalo berantem ga pake teriak-teriak, tapi pake tulisan. Pfftt..
**sotoy
(via
jagungrebus
)
WKWK INI.
(via sebuah-cerita)
di Padang
Ya, saat anak manja ini jauh dari orang-orang yang selalu sabar mengurusnya, saat itulah matanya baru terbuka
Belum Saatnya Berhenti
Kalau di tengah usia kita ini begitu banyak keinginan dan hal-hal yang ingin di raih, itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika segala keinginan itu tidak disertai dengan usaha, hanya duduk manis dan berangan, berencana di atas kertas dan seolah-olah semuanya mudah diwujudkan.
Akan ada banyak rintangan dan tantangan. Perjuangan yang tidak sederhana dan membutuhkan pengorbanan yang juga tidak sederhana. Waktu, tenaga, pikiran, dan juga perasaan.
Ujian untuk memperjuangkan semua itu tidak hanya datang dari dalam diri sendiri. Mungkin dari keluarga terdekat, teman, orang-orang di sekitar, bahkan dari orang-orang yang tidak dikenal. Perkataan menyakitkan pun akan sering berdatangan. Bahkan keraguan kita terhadap diri sendiri pun semakin sering kita rasakan.
Kalau semua itu datang dan kita merasa begitu lelah pada perjuangan kita. Duduklah sebentar tapi jangan berhenti. Kalau berhenti nanti tidak sampai di tujuan. Kadang bahkan kita harus melangkah mundur sebentar, mengambil jarak, atau untuk melihat ulang jalan di depan kita, atau bahkan mencari ulang pijakan yang lebih kuat. Intinya adalah jangan berhenti.
Karena sudah banyak orang yang menyesal karena dulu di masa mudanya tidak melakukan hal-hal yang ingin dilakukan. Ketika segala keinginan itu tidak menjadi terwujud, menjadi sesal, ketika ingin mewujudkan kemudian ingat bahwa usia sudah tidak pantas melakukan hal-hal itu.
Karena waktu tidak pernah bisa diajak jalan kembali, maka beranjaklah. Belum saatnya berhenti.
Makassar, 21 November 2015 | ©kurniawangunadi
Tidak ada yang mampu mengetahui isi hati. Yang terlihat begitu keras berbicara, bisa saja dengan mudah mengakui kesalahan dan bertaubat. Yang terlihat halus budinya, mungkin saja begitu keras tak mau menerima nasihat orang lain.
Dan, berhentilah menilai dalam sekejap mata masalah hati. | 21 November 2015 (via syifaerrahmah)
Anda Memang Pintar, Tapi...
Berikut ini note Facebook Pak Lukito Edi Nugroho (Pewawancara LPDP, Dosen Teknik UGM), yang sekiranya bisa menjadi renungan bagi kita semua.
***
Dalam tiga hari kemarin saya kembali berkesempatan mewawancarai pelamar beasiswa LPDP di Jakarta. Ini kali yang kedua saya mewawancarai mereka, setelah di Kupang beberapa bulan yang lalu. Ada perbedaan besar antara karakteristik pelamar di Jakarta dan Kupang. Exposure terhadap informasi, pengetahuan terhadap isu-isu kekinian, dan “mimpi” pelamar di Jakarta rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan pelamar di Kupang. Cara menilai diri dan menyampaikan keinginan juga berbeda, dan hal inilah yang ingin saya tulis kali ini.
Pelamar di Jakarta, dengan latarbelakang dari perguruan-perguruan tinggi terkenal, punya “mimpi” yang tinggi. Ekspresi mereka kira-kira seperti ini: “Saya punya kemampuan akademik tinggi, saya layak untuk bersekolah di Eropa, Australia, atau Amerika, dan dengan bekal pendidikan itu, saya akan membangun Indonesia!”. Self-esteem mereka tinggi, dan dengan nilai tinggi tersebut, mereka juga memasang target yang tinggi.
Bagus. Anak-anak sekarang memang harus didorong untuk melompat setinggi mungkin, lalu kembali untuk memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Sayangnya, saya melihat ada yang kurang…
Saya sulit menjelaskannya dengan singkat tentang apa yang kurang tersebut, tetapi intinya antara self-esteem yang tinggi dengan apa yang kelak akan dikontribusikan seperti ada gap. Tidak nyambung. Beberapa pelamar yang bisa dengan lancar menceritakan rencana studinya, tapi mereka kesulitan untuk merangkai cerita itu dengan penjelasan yang logis tentang bagaimana mereka kelak dapat berkontribusi. Contoh: ada yang ingin belajar tentang renewable energy (RE) dan kelak ingin berkontribusi membangun infrastruktur RE untuk melistriki Indonesia bagian timur. Ketika ditanya caranya bagaimana, dia bilang dia akan membuat perusahaan RE dan membangun pembangkit-pembangkit mikrohidro di sungai-sungai di pedalaman Papua dan Maluku, lalu dengan itu dia bisa melistriki desa-desa. Oh come on boys…sebaiknya kalian turun ke bumi dan melihat realitas yg ada.
Inti pembicaraan saya adalah, self-esteem tinggi yang tidak diikuti dengan kontekstualisasi hanyalah asesoris tak bermakna. Potensi yang dimiliki seseorang hanyalah bernilai dan bermakna ketika menemukan saluran yang pas: bagaimana potensi itu bisa membawa kebaikan bagi lingkungannya. Meski anda pandai, tapi kalau tidak bisa bermanfaat, ya hanya cocok untuk jadi asesoris pajangan saja… :D
Dan di sinilah poin yang paling penting: kontekstualisasi potensi hanya bisa dilakukan dengan kerendahan hati (humble). Kerendahan hati diperlukan untuk bisa melihat potret lingkungan sekitar dengan jernih dan mengidentifikasi apa yang mereka perlukan. Kerendahan hati akan menumbuhkan empati dan pemahaman terhadap lingkungan, dan dari sini baru kemudian bisa lahir solusi-solusi yang masuk akal, realistis, dan implementable. Tanpa kerendahan hati, yang ada hanyalah “aku”, perspektifnya adalah “sudut pandangku”. Dari fokus yang keliru, bagaimana bisa muncul solusi yang efektif?
Kepercayaan diri yang berlebihan (overconfidence) juga tidak baik, karena itu bisa “membutakan” dan membuat tidak mampu menerima saran yang baik. Dalam interview, kadang pewawancara melihat bahwa keahlian yang akan dipelajari sebenarnya tersedia di dalam negeri, tetapi pelamar ngotot untuk ingin bersekolah di luar negeri meskipun sudah diberi pengertian. Mau belajar manajemen teknologi tepat guna kok sampai ke Oxford, Inggris. Pewawancara sebenarnya oke-oke saja jika memang ada argumentasi yang solid untuk kengototan itu, tetapi kalau ngototnya semata didasari oleh kepercayaan diri bahwa “saya layak sekolah di LN” atau hanya dengan alasan “dengan sekolah di LN saya akan mendapatkan wawasan baru”, itu yang tidak bisa diterima. Ingat ya mas dan mbak, beasiswa LPDP itu berasal dari duit rakyat.
Jadi bagi para generasi muda yang akan melamar beasiswa, rendahkan hati anda. Lihatlah problem-problem di sekitar anda, lalu refleksikan ke dalam diri dan bertanyalah, apa yang bisa anda lakukan. Selanjutnya, buatlah rencana yang logis dan realistis. Memang, kalian pasti belum bisa membuat rencana yang rinci dan lengkap dengan segala kompleksitasnya, tetapi menempatkan diri kalian beserta potensi yang kalian bawa pada konteks permasalahan, lalu berikan yang terbaik yang kalian miliki, itu sudah cukup. Kami bisa kok, melihat dan menghargai usaha seperti itu. Kembali ke contoh di atas, setelah kalian balik dari luar negeri membawa ilmu tentang manajemen RE, ceritakan saja bahwa kalian akan bergabung dengan LSM yang bergerak di bidang energi untuk rakyat dan bersama-sama dengan mereka mencari cara yg lebih baik untuk memberikan akses listrik yang lebih baik bagi masyarakat. Sesederhana itu saja sudah cukup bagi kami untuk bisa melihat bagaimana kelak anda akan berkontribusi.
Intinya, LPDP tidak mencari sosok-sosok muda yang pintar saja. Yang dicari LPDP adalah insan muda yang pintar dan mampu menggunakan kepintarannya untuk membantu bangsa ini.
Satu hal lagi. LPDP juga perlu diyakinkan bahwa pelamar memang benar-benar tulus dan serius dalam menyiapkan kontribusinya. Urusan meyakinkan ini juga tidak mudah, karena memerlukan bukti, sementara kontribusi baru akan terjadi pada masa yang akan datang. Dalam kondisi seperti ini, yang kemudian dilihat adalah track record, konsistensi pola, dan gesture.
Kalau bilangnya kelak ingin membangun sarana kelistrikan bagi masyarakat pedesaan tapi tidak punya pengalaman dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, ya jelas sulit bagi siapapun untuk percaya. Kalau inginnya menjadi dosen tetapi saat wawancara menunjukkan pola-pola komunikasi yang tertutup, ya jelas orang akan meragukannya. Dan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi bicara kadang juga bisa menunjukkan ketulusan dan keseriusan seseorang.
Jadi sebenarnya studi lanjut (apalagi dibiayai beasiswa) itu adalah sebuah kegiatan yang seharusnya dirancang sebagai bagian dari perjalanan hidup. Studi lanjut bukanlah kegiatan sambilan atau sesuatu yang bisa dilakukan mumpung ada kesempatan. Ia perlu disiapkan. Ia perlu didukung oleh pola-pola kegiatan sebelumnya yang konsisten. Dan ia perlu ditindaklanjuti dengan kontribusi nyata bagi bangsa.
Jangan sampai LPDP menganggap pelamar memandang beasiswa sebagai kesempatan untuk “unpaid leave” atau “jalan-jalan gratis”. Jika seperti ini niatnya, percayalah, studi lanjutnya tidak akan berkah, karena beasiswa LPDP hakikatnya adalah amanah dari seluruh rakyat Indonesia.
Aku menulis, semata-mata untuk diriku. Untuk orang-orang disekelilingku. Barangkali ketika kelak aku telah kembali ke pangkuan-Nya, generasiku bisa belajar dari catatan kecil sederhana ini
Senin Sore
Maafkan Kami
Maafkan kami, untuk jiwa-jiwa muslim yang telah terenggut oleh kezaliman dan kedurjanaan. Dan kami masih tidak sanggup berbuat apa-apa–termasuk mengganti profile picture untuk kalian.
Maafkan kami, untuk setiap anak yang lucu-lucu, yang saat ini sedang terbaring kaku, dari Baghdad, Damaskus, Gaza, hingga Mogadishu. Dan kami pun tetap tak mampu berbuat banyak–termasuk menyusun hastag.
Maafkan kami, untuk setiap respon yang terlambat, hati yang terlalu kaku untuk merasai luka yang kalian rasakan. Terkadang kami ragu, bahkan lebih sering tak mau tahu–termasuk kapan dan bagaimana kalian tertimpa kekejaman. Butuh waktu bagi kami untuk terenyuh. Banyak dari kami baru tahu, di Suriah 250.000 jiwa telah terbunuh. Padahal sudah empat tahun berlalu. Respon kami? Masih terlalu biasa; bahkan tak seheboh Paris sehari lalu. Di Palestina, semenjak bulan lalu, 84 orang lebih tertembus peluru. Banyak pula di antara kami yang tidak tahu apa itu jihad menggunakan batu.
Maaf, untuk setiap hak persaudaraan yang tak sanggup kami tunaikan. Maaf, untuk setiap waktu yang terlupakan. Maaf, untuk absennya kalian dalam hati kami. Maaf, untuk ke sekian kali, lagi dan lagi.
Hargailah sebuah hubungan lewat datang dengan cara yang baik, tinggal dengan baik, dan jika terpaksa pergi–pergilah pula dengan baik-baik. Karena menjaga tak sesingkat itu. Mengobati juga taksesederhana melukai.
Apik dan pikiran acaknya. (via ajinurafifah)
little wild things by O. Joy …Following my bliss
Dahan dan Pohon
Aku menyebut ini sebagai dahan dan pohon. Dimana semula kita berasal dari biji yang sama. Ditanam di tanah yang sama. Terkubur dalam satu inti yang sama. Disiram dan diberi pupuk dengan porsi dan komposisi yang sama. Tumbuh menjadi benih yang kecil mungil. Berkembang dan berkembang menjadi tanaman. Saat itu masih kusebut sebagai tanaman. Saat itu kita sudah mulai tampak. Tapi belum kuat untuk menopang banyak daun. Belum bisa merindangkan lingkungan sekitar.
Kemudian kita berkembang dan berkembang. Hingga pada tahun yang kesekian, batang tegak itu mulai terlihat bergelombang. Apakah itu bentuk kecacatan ? Tidak. Ternyata itu calon ranting, yang nantinya akan menjadi dahan.
Kemudian kita tumbuh, dan tumbuh. Tanaman semakin tinggi. Ah, mungkin sudah bisa disebut pohon kecil. Ranting-ranting halus tadi semakin panjang dan kuat.
Lalu ranting-ranting halus kembali bermunculan, yang kali ini justru tumbuh di ranting yang sudah besar. Dari ranting ini, hiduplah daun-daun hijau menyejukkan mata.
Musim berganti. Tahun demi tahun terjajaki. Sekarang, aku menyebutnya pohon. Tidak ada lagi kulit hijau muda yang mudah tergores dan terpatahkan. Berganti menjadi kulit kecoklatan yang tebal dengan isi kokoh. Tonjolan-tonjolan yang dulunya aku kira kecacatan, ternyata memang bukan kecacatan. Sekarang justru menjadi dahan yang kuat dengan daun yang rindang, yang mampu menopang ribuan ranting baru dan menjadi tempat bagi ribuan makhluk hidup yang tinggal disekitarnya.
Dari jauh, pohon itu tampak meneduhkan sekitar. Walau terbakar terik, diterpa angin dan hujan, pohon itu menjadi tempat perlindungan. Dan satu yang baru kusadari. Dahan itu, yang semula kukira sebagai sebuah kecacatan, tanpa ada dirinya, apakah pohon itu bisa begitu rindang ? Apakah pohon itu bisa menghidupi dan melindungi ribuan makhluk disekitarnya. Mungkin, jika pohon itu tidak bercabang, dan tumbuh lurus tinggi menjulang, akan berbeda cerita. Justru memunculkan kekhawatiran. Sampai mana dia berujung ? Justru mungkin memunculkan ketakutan, ada makhluk raksasa tinggi menjulang hidup disekitar kita.
Dan mungkin demikian aku memaknai perbedaan jalan setiap orang. Adanya cabang, bukan berarti kecacatan. Adanya cabang, bukan berarti tidak sefaham, tidak sefrekuensi. Karena dengan cabang-cabang itulah, kita bisa melindungi sisi yang tidak bisa kita lindungi. Kebermanfaatan akan merata di segala arah. Karena dengan cabang yang tersebar, orang-orang disekitar kita lebih mudah memetik buah, lebih luas wilayah untuk berteduh dan bercengkrama. Karena dengan cabang atau dahan, kehadiran sebuah pohon terasa begitu bermakna.
Pelajaran pertama : Filosofi Dahan dan Pohon
#Ujian #LapisLapisKeberkahan #SalimAFillah #kutipan
Tiada orang baik yang tak punya masa lalu. Tak ada orang jahat yang tak punya masa depan. Saling menghargailah kita. Setelah itu, istiqamah.
Salim A. Fillah