Ada saja cara Allah untuk mengingatkan hamba-Nya
Hari ini, Allah (kembali) menunjukkan kasih sayang-Nya. Walaupun yang dirasa sakit dan tidak menyenangkan, tapi tentu teguran Allah terkadang memang begitu, mungkin bukan karena Allah murka, bisa jadi karena kita yang lupa
Pagi, aku sedikit memacu motor kesayanganku karena telat berangkat ke rumah sakit, harusnya pagi itu ada jadwal pasien untuk dirawat, tapi entah mengapa pagi itu, setelah subuh aku memutuskan kembali tidur dan terjaga jam 8 lewat.
Berangkatlah aku dengan perasaan yang tidak menentu, badan yang tidak nyaman, pikiran yang tidak fokus dan hati yang kosong..
Belum jauh dari rumah, motor sudah kupacu sambil sesekali melirik jam tangan memastikan waktu masih ada. Berdoa? Aku pun lupa apakah aku berdoa
Tak disangka, seorang pemuda yang mengendarai motor bebeknya memotong jalan untuk menyeberang dengan tiba-tiba.. Sontak aku mengerem mendadak dan ban belakang motor sudah tergelincir hingga.. Gubraak! Motor kami berdua terseret 2-3 meter, dalam keadaan jalan basah karena musim hujan, badanku bercampur antara dingin karena basah (becek) dan luka lecet di kaki dan tangan. 1 menit pertama, aku terduduk di tanah dengan meringis dan tertunduk, terucap istighfar.. karena baru beberapa hari lalu motorku pun tergelincir di parkiran mesjid sebelum mengikuti ceramah ustadz YM.
Tapi kembali berbaik sangka bahwa ini pasti teguran kasih sayang agar aku memperbaiki diri
Setelah itu aku bangkit, pemuda itu seperti merasa bersalah tapi sedikit membela diri, membela bahwa dia sudah menghidupkan lampu sein. Sambil membersihkan jaket yang dikotori lumpur, aku memarahinya agar kalau potong jalan, jangan langsung potong tanpa melihat kaca spion atau melirik ke belakang.
Singkat cerita, aku pun tak mau memperpanjang urusan, ku turunkan emosi dan ku nasehati agar hati-hati di jalan agar tidak membahayakan orang lain.
Dengan jaket kotor dan celana yang robek, aku memilih memutar balik ke rumah.. Ada perasaan yang berkecamuk dalam dada, ada prasangka yang menumpuk dalam sangka.
Rumah adalah tujuan, setelah tenang dan bersih nanti, baru ntar dipikirin.. pikirku.
Setelah dzuhur, aku bersiap untuk bergegas ke rumah sakit, pasien yang sudah terencana sedari pagi masih harus aku selesaikan siang itu.
Sesekali, rasa perih muncul karena luka lecet tadi, sepanjang perjalanan, aku hanya memperbanyak istighfar.
Sampainya di rumah sakit, ada peristiwa kecil yang membuyarkan pikiran yang kalut.. Aku melihat dia yang sedang berjalan dan menatap ke arah ku. Aku yang melirik, langsung berpaling menunduk berusaha mempercepat langkah dengan harapan aku tidak terlihat gagap dan salah tingkah.
Bahagia walau sepintas melihatnya, takut karena aku tak akan pernah bisa biasa-biasa saja jika bertemu dengannya
Siang itu setelah menyelesaikan urusan dengan pasien. Aku mendapatkan kabar bahwa dokter kepala bagian memanggil kami.. biasa, evaluasi pekerjaan bagi kami-kami yang betah berlama-lama dengan status dokter muda.
Dan... setelah menunggu giliran setengah jam dengan perasaan tak menentu. Tibalah giliranku..
Ku lihat beliau sedang melihat iphone nya, matanya masih melekat dalam layar di tangannya.. berberapa saat setelahnya, dilihatnya aku yang mencoba mendekat perlahan dengan wajah yang bersalah
Tahukah apa yang terjadi? Apakah aku dimarahi atau dibentak? Apakah responnya seperti yang aku dengar-dengar dari mereka yang pernah disemprot olehnya?
Wajahnya sangat bersahaja, dengan senyum terukir dan suara yang sangat halus.. Sejauh aku selama ini berkutat dengan seorang pendidik yang dihadapkan dengan anak didiknya yang bermasalah, baru kali ini aku mendengar suara yang sangat lembut dan penuh pengertian
Aku tidak mungkin merinci detail percakapan bersejarah itu. Segalanya seperti menancap dalam hati kecilku. Tak sedikitpun beliau menghubungkan apa yang telah kami lakukan dengan dunia, tapi hampir seluruhnya ke akhirat..
“Ada masalah apa, wan?” tanyanya, ya.. dengan sangat lembut
“Adaa dok, cumaa..” suaraku pun lemah, parau, dan tercekat tidak mampu ku teruskan
“Ada apaa.. Ayo cerita. Face to face? Atau tidak perlu disampaikan?”
Aku terdiam mencoba memilih kata-kata yang tepat, kepalaku menunduk sembari sesekali melihat matanya yang menatapku dengan penuh kelembutan
Ya Allah.. Bagaimana ini, haruskah aku curahkan segalanya?
“Jadi gimana.. kita bicarakan?” ujarnya yang membuyarkan fokusku
“Hmm.. rasa-rasanya tidak apa-apa dokter, saya insya Allah masih bisa menyimpannya sendiri” jawabku akhirnya dengan datar
Begitulah potongan kecil perbincangan bersejarah itu
Potongan-potongan berikutnya berisi dengan siraman rohani ala beliau yang sungguh di luar sangkaku.. Tidak sedikitpun menggurui, tidak sedikitpun menyinggung perkara duniawi.
Sedari pagi hingga saat tulisan ini ditulis, terimakasih ya Allah.. Engkau Maha Baik dan Maha Penyayang dalam mengingatkan aku hamba-Mu yang lalai dalam mengingat-Mu