It's my 15 year anniversary on Tumblr 🥳
Yang jarang terisi, padahal selalu menemani ❤️
I'd rather be in outer space 🛸

Love Begins
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
EXPECTATIONS
The Bowery Presents
No title available
almost home
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
Monterey Bay Aquarium
Claire Keane
art blog(derogatory)
No title available

PR's Tumblrdome
h
Interview Vampire Daily
Lint Roller? I Barely Know Her

Origami Around

#extradirty

shark vs the universe

seen from Czechia
seen from Malta
seen from France

seen from United States

seen from Sweden

seen from Uruguay
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from Morocco

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Iraq

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@muufid
It's my 15 year anniversary on Tumblr 🥳
Yang jarang terisi, padahal selalu menemani ❤️
Pernah ga sih sahabat saliha sedang dalam proses belajar kemudian mendapatkan hasil yang tidak maksimal dan tidak sesuai ekspektasi?
Kadang rasanya sudah berlari sekencang mungkin tapi hasil tak sesuai harapan.
Kalau sahabat saliha sedang mengalaminya saat ini, yuk sama-sama kita kembali mengingat bahwa kebermanfaatan ilmu untuk diri dan umat lebih utama daripada hasil yang kita dapatkan saat ini. Dan tak perlu berkecil hati karena sesungguhnya lelahnya belajar adalah satu dari delapan lelah yang disukai Allah (QS. 3:79).
Muhammad bin 'Ajlan dari Az Zuhri berkata, "Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan seorang mujtahid (ahli ibadah) sebanyak seratus derajat, dan setiap dua derajat (jaraknya seperti antara) lima ratus tahun yang ditempuh dengan menggunakan kuda yang larinya sangat cepat."
Masyaa Allah
Jadikan hasil yang kita dapat hari ini sebagai penambah semangat belajar lebih giat lagi ya saliha 🙌🏻✨
Marahnya Sama Manusia, Kenapa Ngamuknya Sama Tuhan?
"Kalo anjing itu nggak najis, aku pasti akan lebih milih pelihara anjing daripada kucing."
"Kalo nggak wajib pake jilbab, gaya rambutku kayaknya bakal gini. Kalo pas kasual gini."
"Kalo pork nggak haram, kayaknya aku bakal suka samgyupsal sama tangsuyuk."
Kalimat-kalimat di atas kadang mampir dalam obrolan harian bersama para teman. Omongan itu bukan ungkapan keberatan atau panjang angan-angan, tetapi justru pembuktian penghambaan.
Kata Ust. Salim A. Fillah, rasa cinta kita hendaknya berhenti di titik ketaatan. Melompati rasa suka atau tidak suka.
Walau ingin sesuatu, seingin-inginnya, kalau tahu itu dilarang, ya sudah. Berhenti saja.
Kemauan untuk berhenti di titik taat, belakangan menjadi hal yang selalu aku rapal dalam doa. Agar aku dimampukan.
***
Hari-hari ini ada berita yang mengerikan. Seorang gadis meninggal karena dipukuli, akibat tidak berjilbab sesuai aturan.
Siapa pun yang mendengar atau membaca berita, pasti akan tersayat hatinya. Terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh seorang belia ketika seharusnya dia masih punya kesempatan panjang untuk belajar dan memperbaiki diri.
Kemudian, orang-orang di sana melakukan protes dengan cara beramai-ramai melepas jilbab mereka. Bagian ini membuat aku mengernyitkan dahi. Mencoba memahami adanya kolerasi.
Semoga para perempuan di belahan bumi lain tidak latah melakukan hal yang sama untuk mengungkapkan protesnya.
Karena bukankah kita seharusnya mau membedakan antara kesalahan manusia dan peraturan Tuhan?
Bukankah semarah-marahnya kita, tidak akan menghilangkan ketentuan yang telah ditetapkan?
Walau sangat ingin menunjukkan keberpihakan, tidak kemudian membuat kewajiban memakai jilbab bisa diabaikan. Walau hanya sesaat, walau hanya sebuah simbolisasi kemarahan tanpa benar-benar ingin menanggalkan.
Semoga kita selalu ingat bahwa batas kita adalah ketaatan. Semarah-marahnya pada manusia, jangan sampai pelampiasannya adalah melanggar aturan Tuhan.
***
Kamu kenapa udah nggak mau ngaji lagi?
Aku kemarin marah besar sama guruku. Kami debat hebat akhirnya yaudahlah aku nggak mau ngaji lagi. Aku marah.
Kamu kenapa udah nggak mau ini dan itu?
Orang-orang di sekitarku bikin aku kecewa. Mereka nggak mendukung aku berkembang, justru aku dikasih kerjaan-kerjaan nggak masuk akal. Yaudah aku berhenti aja. Sekarang hidup baruku ringan tanpa beban.
Kamu tau nggak kenapa aku lepas jilbab?
Kenapa?
Karena aku mau meninggalkan aku yang dulu. Aku yang sekarang adalah aku yang baru. Aku yang lebih open minded dan nggak kayak dulu yang manutan sama orang.
Satu, dua cerita aku tanggapi dengan anggukan. Berusaha memahami walau lebih sering yang tersisa adalah kebingungan.
Marahnya sama manusia, kenapa ngamuknya sama Tuhan?
Ternyata, kesedihan atas sebuah kehilangan itu tidak bisa disembuhkan.
Dia hanya bisa diterima.
Dan duka itu akan tetap di sana. Selamanya.
22.08.2022
Doa yang Memburu Waktu
Bagiku, ada doa yang lebih indah daripada "semoga segera".
"Semoga berbahagia dengan dirimu yang sekarang" misalnya.
Atau "semoga menikmati hidupmu hari ini."
Karena kata "segera" membuat seseorang seakan tertinggal dan kehabisan waktu untuk buru-buru bersejajar pada entah siapa.
Mengapa harus segera padahal waktu dari-Nya pasti sempurna?
Jika garis waktu antar manusia berbeda, memang kenapa?
Bukankah yang kebanyakan tidak selalu menjadi satu-satunya kebaikan?
@muufid
Kalau orang-orang gaduh; kamu cuma perlu berteduh; di bawah pohon rindang; yang jauh dari kerumunan.
— Taufik Aulia
:")
Dan semua yang lusuh, dibenamkan takut
Akan jua sembuh, ditenangkan waktu
- Hiruplah Hidup, Ananda Badudu
Awalnya aku iri dengan orang-orang yang gabut gegara WFH.
Pengen juga gabut sampe bisa baking-baking atau bikin dalgona coffee.
Tapi sekarang udah enggak. Selain karena kita harus bersyukur atas segala keadaan dalam hidup, juga harus inget bahwa segalanya akan dipertanggungjawabkan kelak. Semoga besok aku dimudahkan menjawab, "Pas WFH kamu ngapain aja?"
Secangkir Isyarat
Selalu, sejak kali pertama tentangnya aku tahu Menghadapinya laksana menghadapi matahari Aku hanya mampu tertunduk atau memicingkan mata Sambil menuang senyum dalam secangkir isyarat
Tidak ada kata-kata Sebab ku tahu mereka kan berbaris tak bermakna Biar langit saja yang sesak oleh doa-doaku yang sederhana Apa adanya Dan rahasia
achmadlutfi | 19 Februari 2020
Jogja adalah ruang bagi setiap rindu yang meminta untuk ditenangkan. Rumah bagi setiap ingatan yang ingin pulang dan kembali ketika jarak sudah mulai menyesak.
—ibnufir
Bait Pertama
Hari ini, hujan seperti tidak ingin reda
Ia seakan tahu banyak orang sedang merapal pinta.
Hari ini, orang-orang sibuk merancang rencana.
Aku salah satunya.
Di tengah rintik dan deras yang datang berlomba,
Aku khusyuk melangitkan doa.
Pada bait pertama
Aku berterima kasih atas segenap rangkaian cerita
Tahun kemarin aku berjibaku dengan banyak hal baru. Aku belajar banyak sekali, dan aku teramat bersyukur atasnya.
Pada bait-bait selanjutnya,
Aku menitipkan asa yang tak terhitung jumlahnya.
Iya, aku ini hamba tukang minta
Kadang seakan tak tahu malu, padahal sudah tak terhitung segala karunia pemberian-Nya
Namun,
jika tidak kepada-Nya,
lalu bermohon kepada siapa?
01.01.2020
@muufid
Empat deadline di hadapan tidak lah bikin senewen.
Yang bikin senewen adalah:
1. Pagi tadi. Chat percetakan buat cek progres buku edisi hari ibu, tiba-tiba dijawab dengan entengnya, "Dikirim tanggal 23 ya, mba."
Yang akhirnya harus jelasin ulang deal-dealan di awal, dan negosiasi untuk memastikan buku terdistribusi sebelum tanggal 22. Padahal, negosiasi sejujurnya adalah hal yang paling nggak kusuka karena kesannya aku ada ruginya dia juga ada ruginya. Padahal kalo udah deal di awal kan semua bisa merasa untung secara full. *eh gimana bahasa gue
2. Pagi tadi di-chat mitra.
X: Mba, kami harus transfer berapa ya?
Aku: Copy paste chat dua minggu lalu yang udah ngirimin rincian pembayaran.
X: Okee mba nanti aku transfer.
Siang hari.
X: Mba, jadinya total transfer berapa ya?
Aku: (mulai KZL karena chat masih di atas pas, bahkan nggak perlu scroll) Ini mbaa (RT aja chatnya)
Sore hari
X: Mba aku transfer berapa ya buat pelunasan?
Aku: (sudah kehilangan kesabaran dan kelembutan) (nge-RT-in terus di komen) Ini lhoo mbaa rinciannya. Mba sehari ini udah tanya tiga kali lhoo..
X: (Menjawab dengan santai) hehe. Maaf mba soalnya lagi riweuh.
Aku: (pengennya jawab) GUE JUGA LAGI RIWEUH MBAA INI LHO KEPALA UDAH MAU KELUAR ASAPNYA TAPI GUE NGGAK JADI BGO KARENA RIWEUH. Tapi aku nggak jawab gitu sih. Lebih tepatnya, nggak jawab chatnya aja. Daripada panjang makin riweuh.
*
Apa yang bikin senewen?
Ekspektasi.
Sering tanpa sadar kita berekspektasi seseorang kerjanya kayak kita. Sesuai standar kita. Se-effort itu, kayak kita. Ternyata kadang enggak. Itu yang bikin capek.
Kadang kalo lagi waras, suka ngadem-ngademin diri sendiri. "Sabar nggak semua orang kayak kamu." "Sabar, nggak semua orang seniat kamu kalo kerja." "Sabar. Liatlah pendidikan mereka. Pengalaman kerja mereka. Bidang mereka. Umur mereka." "Mereka beda sama kamu." "Kamu yang paham, kamu yang harus lebih maklumin"
Itu kadang. Kalo waras. Tapi hari ini PMS. Rasanya berat sekali buat jadi orang baik hari ini. Haha..
16.12.2019
Semoga kita tidak melupa, jika apapun ketetapan Allah yang terjadi pada kita bukanlah hal yang biasa-biasa saja.
Allah selalu memberikan sesuatu yang terbaik. Kehendak yang lebih baik dari apa-apa yang kita inginkan. Lebih besar dari apa-apa yang kita harapkan.
Itulah mengapa hati perlu dilatih untuk lebih peka, agar mampu memaknai bagaimana cara Allah menyayangi kita.
Kita adalah hamba dari Dzat Pemilik Semesta. Semoga tak lupa pula untuk kita selalu menghamba padaNya.
:")
Ketika keriuhan bilang, "kalo ngomong pake data!"
Apalah aku yang ngomong pake rasa.
Bahkan mikir aja aku pake perasaan ._.
Aku
Aku kira hujan akan datang, maka aku berpayung menyambutnya. Menyambut untaian rintik yang telah lama ku nanti bersama doa-doaku yang panjang.
Namun aku keliru. Rupanya hanya awan saja yang kelabu, lantas pergi dan berlalu, bersama payungku yang terhuyung-huyung dibawa angin.
Di waktu yang lain aku putuskan tuk berubah jadi hujan, sebab aku ingin disambut. Ingin sekali. Tapi yang ku kira menyambut, justru sedang nyenyak terlelap. Sementara aku, yang jadi titik air berjatuhan, ditatap bulan penuh kasihan.
Hei. Aku tak menyerah.
Esok lusa aku menyamar. Pura-puranya aku menjadi payung. Biar terancam dibawa angin, tersesat hingga entah kemana, tapi tak apa, asal pernah dianggap ada.
Tapi sayang, kini hujan yang tiada, terik pun entah kemana.
Hei. Aku tak bersedih. Dan tak akan bersedih.
Ada memang sebagian hati yang cedera. Tapi itu sedikit. Karena sebagian besar dari keseluruhan hatiku berkata, “Aduhai, beruntung sekali kita, bahwa ternyata mengusahakan yang kita cita-citakan itu semenyenangkan ini. Tak bisa begini, kita berpikir tuk begitu. Tak tercapai dengan cara ini, kita bersungguh dengan cara itu. Terjatuh terserak, kita bangkit dan segera menghapus luka-luka. Seakan luka itu kecil saja. Sebab kita tersulut oleh rasa bahagia, oleh rasa tangis yang mengharu biru, jika nanti apa yang kita cita, benar-benar jadi nyata.”
Maka kemudian aku tersenyum mendapati kata hatiku sendiri. Lelah-lelah bukan jadi tiada, tapi memudar dengan lekas. Dan aku sibuk dalam renungan yang panjang, mengusahakan lagi yang terbaik, yang ianya aku titipkan bersama pintaku kepada Tuhan.
achmadlutfi | 28 Juni 2015
Yang ketika suatu hari nanti aku berhenti untuk mengambil jeda dan menengok ke belakang, aku akan takjub karena ternyata, aku mampu melangkah sejauh ini.
Dan akan lebih jauh lagi :')
Kepada yang mulai lelah meminta.
Bertahanlah, dan terus merapal doa.
.
Karena Sang Pemilik Semesta selalu menjawab "iya" pada setiap doa hamba-Nya.
02.11.2019
@muufid