Girl’s “Fall-In-Love” Phase - from delusional to self-acceptance
I don’t know about boys, tho. But what I know, cewek punya beberapa fase dalam memandang dinamika percintaan selama mereka lagi growing up and growing mature. Oh ya, ini bukan sebagai tolok ukur bahwa semua cewek kayak gini ya. Mungkin ada juga yang nggak ngalamin. Pokoknya, ini bukan nge-judge semua cewek sama ya. Ini cuma sebagian aja.
Fase ke-1: the delusional phase.
Pokoknya masa ini, si cewek masih muda, mungkin dari SD-SMP lah. Tapi kadang ada yang sampai kebawa sampai mereka udah dewasa sih. Cewek dalam fase ini masih delusif, menganggap hidup akan berjalan sesuai keinginan kita, menganggap ketika kita naksir cogan nan pinter, maka kita bisa mendapatkan dia, pokoknya ngarepnya ketinggian dah. Nah, karena cewek-cewek di fase ini ngayalnya suka ketinggian, maka dari itulah kalian bisa lihat media massa kita (novel, drama, dll) lebih banyak menjual sesuatu yang memuat mimpi-mimpi delusif cewek di fase pertama ini. Kayak, kisah di mana si cewek biasa bisa dapetin cowok ganteng pemain basket/ketua OSIS/badboy kaya raya dsb. Itu untuk teenfiction. Kalau buat romance mungkin penaklukan CEO ganteng player kaya raya???
Tapi tenang, saya nggak apatis. Hal-hal seperti di atas (cewek biasa bisa dapetin cowok ganteng kaya raya) itu memang pernah terjadi di dunia nyata kok.
Tapi, kisah di dunia nyata jelas nggak semanis di novel kan ya? Hehe.
Fase ke-2: the low self-esteem phase
Pada akhirnya, cewek-cewek dari fase pertama pun sadar bahwa dunia ini kejam.
Dunia tidak berjalan sebagaimana kehendak mereka. Cowok ganteng nan pintar yang mereka taksir justru naksir cewek lain yang sama pintar (atau mungkin lebih pintar) dan cantik banget (cantik yang sudah masuk ke ‘standar society’). Kemudian cewek pun sadar, bahwa sejatinya mereka bukan apa-apa, bahwa dunia tidaklah berputar untuk mereka, bahwa dia nggak cantik, bahwa dia nggak pintar, bahwa dia tuh pokoknya bukan apa-apa dibanding si cewek cantik nan pintar yang ditaksir sama cowok pujaannya. Fase ini bisa berlangsung cukup lama, mungkin sampai dewasa.
Pada fase ini, cewek-cewek mulai jera. Dia mulai muak sama novel-novel atau drama yang cuma jualan mimpi, cuma ngayal babu. Dan saat dia naksir cowok, mulai ada self-defense mechanism yang mereka ciptakan entah secara sadar ataupun tidak. Contohnya bisa macem-macem sih, kayak, pas dia naksir cowok dia langsung menyugesti diri sendiri bahwa dia bukan apa-apa, gak layak bersanding sama si cowok karena cowok tersebut terlalu menyilaukan dengan segala macam prestasi/jabatan yang pernah/akan dia emban. Pokoknya nggak pedean gitu dah, menganggap diri sendiri cuma butiran debu yang nggak pantas mendapatkan sosok cowok pujaan yang WOW di mata dia.
Padahal si cowok mungkin diem-diem klepto. Siapa tau kan.
Dan, yah, biasanya—biasanya ya, biasanya—pada akhirnya si cowok yang ditaksir ini bakal naksir sama cewek lain yang lebih cantik (versi standar society) dan lebih pintar (secara akademik) sih.
Di fase kedua, cewek akan menganggap dirinya bukan apa-apa dibanding si cowok yang dia taksir. Hal ini jelas berpengaruh buruk ke tingkat kepercayaan diri (self-esteem) dia. Cewek akan berpikir dia nggak layak dapat kebahagiaan sebagaimana mestinya. Dan dia mulai merasa bahwa pikiran ‘gue bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dibanding cewek-cewek cantik dan pinter yang hits’ itu bisa menyelamatkan mereka dari halusinasi atau dari ngarep ketinggian. Padahal, fase kedua ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi pemikiran ini (mungkin) bisa membuat cewek nggak ngarep ketinggian, tapi di sisi lain malah menurunkan tingkat kepedean si cewek. Akhirnya mereka nggak embrace themselves.
Fase ke-3: the self acceptance phase.
It’s really, really, really, really, REALLY, REALLY, HARD to accept yourself for who you are.
Makanya, fase ini sangat bervariasi dari satu cewek ke cewek lainnya. Karena selain emang background tiap orang beda-beda, lingkungan mereka juga beda-beda. Banyak faktor yang bisa memicu cara berpikir kita. Dan menurutku, faktor yang paling besar adalah faktor pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu bukanlah pendidikan formal (kayak sekolah sampai setinggi apa lalalala). Orang yang udah kuliah atau bahkan udah lulus S2 aja kadang masih ada kok yang bahkan masih ada di fase satu; delusif. Jadi, maksudnya pendidikan karakter itu bukan tingginya tingkat pendidikan formal kalian (sekolah, S1, S2, S3), tapi tentang tingkat kedewasaan mental.
Fase ketiga itu, cewek bakal lebih nge-value diri mereka sendiri. Mereka nggak lagi berusaha buat jadi seperti cewek yang diinginkan oleh cowok yang mereka suka. Misal, ada cewek yang kulitnya gelap natural, trus naksir sama cowok yang emang demennya sama cewek berkulit putih lucu-lucu gitu. Kalau udah di fase acceptance, si cewek nggak akan berusaha jadi putih demi cowok yang dia suka. She already embrace herself. Dia cinta sama warna kulitnya, meski banyak orang yang lebih mengagungkan ‘cantik itu berkulit putih’.
Ketika sudah masuk tahap acceptance, cewek bakal sadar bahwa kita tidak selalu harus jadi cewek cantik (standar Indonesian’s society), pintar (secara akademik), high class, lalala yang jadi pemeran utamanya. Hidup menurutku itu selalu punya dua sisi bahkan lebih. Tidak selamanya kita adalah pemeran utama, pun tak selamanya kita adalah figuran.
Sebenernya penjelasan lebih lanjut tentang fase acceptance itu ada di cerita non fiksi saya yang berjudul “The Heartbreak Therapy”. Saya rujuk ke sana karena kalau dijelasin di sini kayaknya jadi kurang ngena. Saya lebih mudah menjelaskan sesuatu lewat sebuah cerita sih daripada menjelaskan langsung.
Dan setelah berada pada fase ini, mungkin kalian akan mulai menyadari bahwa orang-orang yang selama ini kalian nilai bukan apa-apa atau biasa aja, mungkin sebenarnya punya potensi lain.