cari aku. aku menunggu permintaanmu.
I'd rather be in outer space 🛸
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe

JVL

Kiana Khansmith

Andulka
noise dept.
Stranger Things
Lint Roller? I Barely Know Her
Claire Keane
h

No title available
🪼
EXPECTATIONS
official daine visual archive
🩵 avery cochrane 🩵
Mike Driver

Love Begins
wallacepolsom
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Brazil
seen from Guatemala
seen from Brazil
seen from Saudi Arabia

seen from Lithuania
seen from Australia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
@nawaang
cari aku. aku menunggu permintaanmu.
me: I know, I'm not good enough
me: I can't even recognize myself
me: I feel lost inside
me: hey! is there anybody out there?
me: can you help me please?
me: hello!
me: can you hear me?
me: there is somethin' wrong with my mind.
me: please! help me.
me: I beg you.
me: hi!
me: please
me: please
me: please help me.......
Tuhan bila akhirnya aku tak cukup baik bagi dirinya, tak apa. Asal jangan biarkan dirinya kembali buruk karena kembali hadir menemui masa lalunya.
(via mbeeer)
Ada dua hal yang kusembunyikan darimu. Yang pertama adalah kehilanganmu sebenarnya aku masih tak mampu, dan yang kedua adalah diam-diam aku masih berdoa semoga kau baik-baik saja.
(via mbeeer)
“Ayah, menurut ayah mungkin tidak kita melupakan seseorang yang sebelumnya sangat berarti bagi diri kita?”
“Melupakan seseorang yang sangat berarti?”
“Iya.”
“Kalau dia sangat berarti, mengapa harus dilupakan?”
Aku hanya menyeringai.
“Mungkin demi kebaikan semua.”
“Hmmm.. Kamu sedang patah hati?”
“Belum sampai patah sih, Yah.”
“Coba sini, duduk di samping Ayah.”
Lalu aku merapatkan dudukku pada Ayah.
“Aku salah ya, Yah, terlalu menyayangi seseorang?”
Ayah membiarkanku bercerita.
“Jujur, aku tidak pernah menyayangi seseorang sampai sedalam ini sebelumnya. Dia mengajarkanku banyak hal, Yah. Aku merasa, aku menjadi lebih baik saat bersamanya bahkan hingga hari ini saat kami sudah tidak bersama.”
Suaraku sedikit bergetar.
“Aku selalu berusaha selalu ada dan mengupayakan yang terbaik untuknya. Tapi ternyata semua itu tidak cukup, Yah. Dia memilih pergi.”
“Dan....mungkin takkan kembali.”
Ayah membelai rambutku.
“Sudah? Boleh Ayah berbicara?”
Aku mengangguk sambil menahan rasa panas di mataku.
“Sayang, menyayangi seseorang itu tidak salah. Ia menciptakan rasa sayang di antara kalian.”
“Katamu, kamu merasa jadi lebih baik karenanya. Apa saat bersamanya kamu menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta atau kamu justru jauh dengan-Nya? Tuhan menciptakan rasa itu di hatimu, agar kamu bisa merasakan bahagia. Kamu harus bersyukur atas itu.”
“Tapi kenapa akhirnya aku malah terluka, Yah?”
“Terluka karena apa?”
“Karena kepergiannya.”
“Menurut Ayah, kalau kamu benar-benar menyayanginya, kamu takkan terluka.”
“Maksudnya, Yah?”
“Kamu sedih melihat dia menangis?”
“Iya, Yah.”
“Kamu senang melihatnya bahagia?”
“Tentu.”
“Sayang, kalau rasa sayang yang kamu punya untuknya benar-benar dari hati, kamu menyayanginya dengan ikhlas, biarkan dia. Biarkan dia menemukan bahagia seutuhnya. Jangan paksa dia untuk terus bersamamu. Dia berhak melanjutkan perjalanan, dia berhak menentukan arah hidupnya. Tak ada satupun burung yang senang hidup dalam sangkar.”
“Tapi mengapa dia memilih orang lain, Yah? Aku sudah berusaha sebaik mungkin.”
Aku tersedu.
“Untuk itu, ayah tidak bisa menjawab. Kamu tanyakan pada Sang Pencipta, cepat atau lambat kamu akan tau jawabnya.”
“Jadi, aku harus ikhlas melihatnya pergi dan memilih yang lain, Yah?”
“Betul. Tapi ingat, ini belum berakhir. Sebelum kamu memeluk seseorang, peluklah dulu Penciptanya. Mendoakannya adalah caramu memeluknya dari jauh. Dengan atau tanpamu, dia harus bahagia. Begitu juga denganmu.”
Aku memeluk ayahku dengan erat.
“Aku sayang Ayah.”
— n
Aku tahu, semakin ku rindu kau semakin lari menjauh. Pun saat ku membutuhkan dekapanmu aku hanya mampu menangkap bayangmu, aku mengerti. Izinkan, kutitipkan namamu pada-Nya dalam siang dan malamku. Karena satu yang kuyakini, Ia akan selalu menjagamu, seperti yang kau lakukan padaku dulu, sebelum semua seperti ini. Tak mengapa jika kau meletakkan namaku di lingkaran paling luar kisahmu. Karena aku hanya masa lalu. Semua tidak bisa dipaksa, bukan? Aku hanya ingin kau tahu, jika suatu hari nanti kau mencariku, aku masih berada di tempat yang sama. Di dasar hatimu, tenggelam dalam tumpukan kisah barumu bersama mereka yang selalu kau anggap ada.
n
Hari ini aku akan menjemputmu. Tunggu aku.
Iya.
Aku segera memasukkan telepon pintarku ke saku pakaian seragamku lalu segera membereskan semua buku dan kawan-kawannya yang masih asik bercengkrama di atas meja.
“Kin, mau pulang denganku?“
“Tidak Cit, terima kasih. Aku dijemput hari ini.“
“Baiklah, aku duluan ya. Daah!”
“Daah!”
Aku bergegas keluar kelas melewati koridor tak berpenghuni. Cepat sekali pergerakan manusia-manusia itu, baru jam segini sudah tak ada suara-suara gaduh yang biasa mengisi koridor beralaskan lantai putih ini. Aku berjalan gontai, kakiku terasa berat. Kepalaku dipenuhi dengan seribu satu pertanyaan. Satu yang sangat mengganjal, ada apa tiba-tiba ia bersedia menjemputku? Hari-hari kemarin rasanya dia acuh tak acuh padaku. Rongga tubuh tempat jantung dan paru-paruku terasa lebih sesak. Nafasku tak terarah. Ah, sudahlah mungkin dia sudah berubah. Terdengar baik, bukan? Aku mempercepat derap langkahku.
“Kinaraaaa!“ia berteriak sambil melambaikan tangannya.
Aku mencari sumber suara dan berjalan menghampirinya. Hari ini wajahnya terlihat cerah. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu mengapa ia begitu sumringah. Yang jelas, bukan karena pertemuan ini.
“Bagaimana harimu di sekolah tadi?“tanyanya memecah keheningan diantara kami berdua.
“Biasa saja, tidak ada yang istimewa.“
“Kok bisa?”
“Entahlah.”
“Dilihat dari wajahmu, tampaknya kamu sedang tidak baik-baik saja.”
“Tapi aku baik-baik saja.”kataku dengan sedikit tersenyum.
“Baiklah. Sebelum mengantarmu pulang, aku akan mengajakmu ke kedai es krim yang biasa kita kunjungi dulu.“
Ku rasa aku tidak perlu merespon pernyataanya barusan.
“Mbak, pesan Chocolate Sundae, satu. Kamu mau pesan apa?”tanyanya menoleh padaku.
“Cassata Siciliana.”jawabku singkat.
“Take away ya, Mbak.”
“Loh?”kataku heran.
“Iya, kita makan di mobil saja. Aku tidak punya banyak waktu.“
Kalau kamu tidak punya banyak waktu, mengapa repot-repot menjemputku ditambah mengajaku ke kedai es krim. Dasar aneh. Kataku membatin.
“Silakan.“
“Ini uangnya, terima kasih, Mbak.“katanya ramah.
Ia mengendarai Pajero Sport putih miliknya dengan kecepatan rendah. Mulutnya asik menikmati Chocolate Sundae miliknya. Aku juga sibuk melumati Cassata Siciliana-ku. Setelah menghabiskan waktu satu jam kami tiba di rumahku. Ia memarkiran mobilnya di garasi.
“Thank you.“ucapku.
“Okay.“
Ku langkahkan kakiku menuju rumah dan segera masuk ke kamarku. Seperti biasa, rumah ini selalu sepi. Bagiku, bangunan dua lantai ini hanya sebagai tempat tinggal bukan rumah. Aku tidak pernah merasakan kehangatan saat berada di sini.
Rasanya lelah sekali. Padahal aku tidak melakukan aktivitas berat hari ini. Mengangkat meja, kulkas, lemari, misalnya.
Dengan pakaian seragamku yang masih lengkap, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Hembusan angin buatan dari pendingin ruangan berpadu dengan kasur tebal nan empuk membuatku terlena hingga lambat laun kedua kelopak mataku terpejam.
Aku tidak tahu sudah berapa aku terlelap. Tetapi yang jelas.....
Dalam tidurku, aku merasakan ada sesuatu yang menimpa tubuhku. Bagian bawah tubuhku terasa dingin dan sakit bukan kepalang. Dadaku juga terasa linu. Aku merasakan jemariku digenggam begitu kuat dan di dorong ke samping telingaku. Perlahan, ku dorong kelopak mataku hingga aku bisa melihat sekitar.
Blas! Bola mataku beradu dengan bola matanya.
Beberapa menit kemudian dia memeleku erat dan melenguh tepat di telinga kiriku. Ia puas. Aku menggigit bibirku, menahan rasa sakit. Sakit yang menjalar ke aliran darahku. Air mataku bergulir dari sudut mataku, aku tak mampu membendungnya.
Ia segera mengangkat dirinya dari tubuhku. Memakai pakaiannya kembali dan menuju pintu kamarku.
Sebelum ia menjauh, aku memanggilnya lirih, “Kak....”
Ia berhenti sejenak tanpa menoleh. Ku lanjutkan kalimatku.
”Aku ini......adikmu.”
Tanpa rasa bersalah ia melanjutkan langkahnya meninggalkan ku dengan keadaan yang sudah terkoyak.
Ia masih seperti yang dulu.
Bajingan!
---n
Beberapa alasan aku diam meski sebenarnya aku sedang rindu.
1. Aku tidak bisa melihatmu terus kesal padaku. Apa yang kukatakan jadi salah saja di matamu. Padahal, aku hanya ingin apa yang kita jalani tetap baik-baik saja.
2. Barangkali kamu mengira diamku adalah ketidakpedulianku. Kamu salah. Diam justru caraku belajar bagaimana berdamai dengan diriku. Saat seseorang yang kucintai tak bisa memahamiku.
3. Kau tahu aku keras kepala. Tapi soal perasaan, padamu saja luluh segalanya. Hanya saja, aku terbatas, tak semua hal bisa kumengerti, tak semua hal mampu kusampaikan dengan cara baik, meski niatnya selalu baik.
4. Jika dengan banyak bicara hanya membuatmu terluka. Diam barangkali lebih baik adanya. Meski rindu tetap saja terasa menyiksa. Aku suka merindukanmu, tapi tidak dengan suasana-suasana seperti ini.
–boycandra
Benar, harusnya aku tidak bermain-main di belantara ini, ini kawasan terlarang.
„Kau tak bisa kembali, karena dunia ini tak seperti yang kau duga, dia lebat hingga mampu menyesatkan dan menenggelamkan orang-orang yang lengah.“ katamu.
—n terinspirasi oleh Herlinatiens
malam menjelang pergantian tahun masehi.
(via https://www.youtube.com/watch?v=bwB9EMpW8eY)
Love, you’re not alone. ‘Cause I’m gonna stand by you.
Nyatanya, kami tetap ada tanpa kalian.
—n
Semoga
Untukmu, semoga siapapun yang menemanimu nanti
Memiliki ketulusan yang sama denganmu
Memiliki kasih yang dalam sepertimu
Memiliki cinta yang mengalir untukmu
Aku tulis ini, tepat saat wajah kita saling bertemu namun dengan tatapan yang tak sehangat dulu.
---n
18nov17
Kau tau apa tentangku?
Kau bilang,
Kau tak sebaik yang ku pikir
Kau tau apa tentang pikiranku
Menoleh ke arahku saja, kau enggan
Kau bilang,
Aku bisa menapaki ini sendiri
Kau tau apa tentang kakiku
Menatap mataku saja, kau tak ingin
Kau bilang,
Aku mampu bertahan tanpamu
Kau tau apa tentang diriku
Sekedar tegur sapa saja, tidak
Kau bilang,
Aku pasti kuat melewati ini
Kau tau apa tentang hidupku
Untuk bercengkrama kembali saja, mustahil
---n
1/12/2017
Hi, Rel.
Untukmu Narel,
Aku cuma mau bilang kalo aku khawatir sama kesehatanmu.
Maaf ya kalo aku bawel banget ngingetin kamu buat periksa ke dokter.
Maaf ya kalo perhatianku ini berlebih dan mengganggu kamu.
Maaf kalau ini terdengar seperti roman picisan, menggelikan.
Aku cuma pengen liat kamu selalu sehat.
Mungkin kamu pikir “mana ada temen seperhatian ini, pasti ada perasaan lebih.”
Kamu tenang aja, aku masih berjuang untuk nggak jatuh cinta sama kamu.
Tenang aja, aku masih takut jatuh cinta sama kamu.
Aku tau kok kalo aku jatuh cinta sama kamu banyak risikonya.
Cintaku pasti akan bertepuk sebelah tangan kan? Iya aku sadar kok.
Makanya aku bertahan untuk nggak jatuh cinta sama kamu.
Prinsipmu, semua teman porsinya sama dan kamu memegang teguh itu.
Semoga aku bisa seteguh kamu dalam bertahan ya.
Iya, bertahan untuk nggak jatuh cinta sama kamu.
-Ayyara.
Mau jadi teman Si Depresi, yakin?
Siapapun kamu yang sedang baca ini, terima kasih.
Kamu pernah lihat beberapa atau mungkin banyak postingan mengenai depresi? Kalau kamu menjawab iya, aku pun sama. Sepertinya sekarang banyak orang yang sudah peduli dengan depresi. Aku hanya ingin membagikan sedikit saja apa yang aku tau mengenai depresi. Yang ku tau depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental, yang bisa menyerang siapa saja. Ada tiga ciri umum yang ditemukan pada orang yang menderita depresi. Pertama, penderita memiliki rasa sedih yang terus menerus, merasa capek dan mudah sekali lelah dan kehilangan minat terhadap hal yang biasanya di sukai. Gejala yang menyertai diantaranya gangguan tidur dan makan, rasa pesimis terhadap masa depan, memiliki harga diri yang rendah, dan yang paling sering terjadi yaitu menyalahkan diri sendiri. Menurut Psikiater yang menanganiku, pada intinya penderita depresi itu memiliki energi level yang rendah, sehingga bisa mengganggu aktivitas dan fungsi hidup termasuk lingkungan sosial. Kalau kamu ingin tau lebih lanjut mengenai depresi, kamu bisa baca buku, jurnal atau sumber apapun yang terpercaya. Dan sebelum kamu menyimpulkan bahwa kamu depresi, tolong periksakan terlebih dulu kondisi kesehatan mentalmu ke dokter spesialis kejiwaan. Jangan suka menyimpulkan sendiri, ah.
Sebelum aku melanjutkan tulisanku, ada beberapa pertanyaan untukmu. Pertama, apa yang kamu tau tentang depresi? Ada kah orang disekitarmu yang menderita depresi? Bagaimana tanggapan dan sikapmu jika orang terdekatmu atau disekitarmu ada yang menderita depresi? Akankah kamu bertahan dan tetap sabar menemani dan membantu orang tersebut? Yakin kamu sanggup akan selalu berada di samping penderita?
Sungguh tidak mudah menjadi teman seorang penderita depresi. Maksudku, teman yang selalu ada. Begini, seseorang yang menderita depresi akan selalu menyalahkan diri sendiri apapun yang terjadi pada hidupnya, ia akan terus menerus mengeluh dan menangis. Apa kamu siap mendengar keluh kesah dan tangisnya secara terus menerus? Yakin kamu tidak keberatan kalau dia mengeluhkan hal yang sama setiap hari? Mood penderita juga tak menentu, tapi sering sekali berada di garis bawah.
Bayangkan, ketika kamu dan teman-temanmu sedang berkumpul membicarakan hal-hal yang menyenangkan, merencanakan ide-ide gila tapi ada salah seorang dari temanmu yang terlihat tidak bersemangat dan kamu menanyakan mengapa, ia hanya menggeleng. Kamu dan teman-teman lainnya tidak tahu apa yang terjadi padanya, kemudian semua terdiam dengan kebingungan. Seketika, suasana tongkronganmu menjadi bisu. Bingung, canggung untuk memulai kembali percakapan. Jadi tidak asik, kan?
Kemudian, jika ada seorang teman yang selama ini terlihat sangat ceria, tak ada beban, seperti semua baik-baik saja, tiba-tiba datang kepadamu menceritakan bahwa setelah memeriksakan kesehatan mentalnya, ia menderita depresi. Ia menceritakan semua trauma masa lalunya. Apa tanggapanmu? Kaget? Kasihan? Biasa saja? Atau malah tak peduli? Kalau kamu memilih tetap berada di sampingnya, sampai kapan kamu sanggup bertahan? Ia datang berkali-kali padamu, menceritakan hal yang berulang atau selalu mengeluhkan apa yang terjadi pada hidupnya kemudian ia menangis dengan alasan lelah dengan hidup. Mungkin kamu yang tidak pernah merasakan di posisinya akan mengumpat dalam hati. Yailah lebay amat nih orang gini doang, kayaknya hidup gue lebih susah deh tapi gue biasa aja. Gue juga punya urusan kali nggak ngurusin lo doang. Hidup tuh dibawa santai aja kali. Hei, menjalani hidup saja penderita depresi harus berjuang dan kamu memintanya untuk santai menghadapi hidup? Bagaimana caranya? Lanjut, kamu bingung harus apa. Kamu sudah berusaha selalu mendengarkannya, kamu juga sudah mencoba memberikan saran, tapi ia selalu merasa gagal. Sampai akhirnya kamu bilang, “Hm gimana ya. Sabar aja ya.” Boleh aku jujur? Sejujurnya kata itu tidak membantu. Tanpa kamu bilang pun, ia tau ia harus sabar. Lalu sesudah sabar bagaimana? Lebih lanjut, kamu bertanya apa yang harus kamu lakukan. Kamu bingung dan akhirnya kesal sendiri. Aku sudah bilang ini tidak mudah. Sulit.
Atau kalau kamu punya teman yang terlihat sangat senang setiap harinya, tiba-tiba ia tidak terlihat lagi di sekitarmu, tidak dapat dihubungi, lenyap begitu saja. Suatu pagi kamu mendapat telfon dengan nomor tak dikenal. Suara panik di seberang sana adalah orang tua temanmu yang sedang mencari anaknya yang sejak dua hari lalu tak merespon semua panggilan. Kamu mungkin ikut panik atau malah kesal karena merasa terbebani. Kamu menanyakan seluruh temanmu dan temannya temanmu. Tak ada yang tahu. Akhirnya kamu menyambangi kamar kosnya dan mendapati ia sudah terbujur kaku di lantai kamarnya. Si Depresi pergi selama-lamanya. Kamu yang selama ini berada di sampingnya, merasa sudah jadi temannya tetap tidak bisa mencegah keputusannya untuk mengakhiri hidup. Kamu bingung harus apa. Ya meskipun tidak sebingung jika ia masih hidup. Toh, dia sudah pergi. Tak ada lagi yang datang tiba-tiba untuk berkeluh kesah.
Dan masih banyak kasus lainnya yang mungkin kamu alami sendiri. Aku sudah bilang kan? Ini sulit. Sampai kapan kamu akan bertahan menjadi teman yang selalu ada buat Si Depresi? Sementara kamu juga punya kehidupan. Seberapa kamu benar-benar peduli dengan Si Depresi? Sementara pertemanan harus dua arah. Mungkin kamu juga butuh saran, perhatian, sikap peduli dari temanmu. Kamu manusia, punya rasa lelah juga. Tapi kamu juga tidak bisa memaksakan apapun terhadap si Depresi karena ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Tapi kalau kamu selalu mendengarkan dia, memeluknya ketika nangis dan mampu memberi kasihmu dengan ikhlas dan kamu tetap bertahan ada untuknya, maka kamu memang orang berhati mulia yang dikirim Tuhan untuknya. Tetapi kalau kamu tak tahan dengan semua sikapnya, mungkin sebaiknya kamu mundur perlahan dari hidupnya. Dia pasti sakit karena kamu pergi tapi kepergianmu juga mengajarkan padanya, bahwa ia harus bisa berdiri di kakinya, bahwa dia harus melanjutkan hidup dengan atau tanpa kamu.
Rabu malam, 25/10/2017 6.36p.m.
Tertanda,
---n
Teruntuk
Untuk kalian yang tidak percaya bahwa mental juga bisa sakit dan depresi merupakan penyakit nyata, aku berharap semoga mental kalian sehat selalu. Karena kalau mental kalian sudah sakit, lelahnya lebih dari sakit fisik. Dan itu akan berdampak pada hidup kalian.
Untuk kalian yang bisa jadi sedang mengalami hal ini (re: depresi), mari saling menguatkan. Maaf mungkin aku tidak bisa banyak membantu karena aku juga sedang berjuang mati-matian. Jangan ragu untuk mencari pertolongan ahli atau kemanapun kalian bisa. Keluarga, saudara, teman, psikolog atau psikiater. Aku, kalian, kita dan semua manusia di muka bumi ini berhak hidup bahagia.
Untuk kalian yang memilih tetap berada di sisiku dan menerima keadaanku, terima kasih banyak atas waktu dan perhatian yang kalian curahkan. Terima kasih telah membantuku bangkit. Tiada kata selain kata terima kasih. Semoga Tuhan selalu bersama kalian.
Untuk kamu yang selalu mendukungku, yang berusaha peduli padaku, yang pernah memberikan aku kesempatan untuk menyentuh sedikit kehidupanmu, yang dahulu selalu memberikan pelukan hangat saat duka melanda, yang bersedia mengusap ujung kepalaku untuk memberikan ketenangan, yang pernah memberiku kasih sehingga aku merasa dicintai, yang selalu kusebut dalam doa, aku selalu memohon agar Tuhan beserta malaikatnya senantiasa menjaga dan memelukmu serta menyampaikan rasa rinduku ini padamu. Sungguh aku minta maaf kalau selama ini aku terlalu memaksakan dan percaya bahwa kita bisa menjadi........sahabat. Maafkan egoku. Menjauhlah, aku ikhlas.
Untuk ayah ibu dan adikku, orang-orang yang paling aku cintai dalam hidupku. Terima kasih telah menerima aku dan depresiku. Maaf aku tidak bisa menjadi insan yang kalian harapkan. Aku memang tidak bisa diharapkan. Cinta, kasih dan doaku takkan pernah usai untuk kalian. Ayah, Ibu jika nanti, aku yang pergi dulu jangan pernah menyalahkan diri kalian. Sungguh kasih yang kalian beri, seperti udara bagiku Biarlah derasnya keringat kalian yang keluar untukku menjadi ladang pahala untuk Ayah Ibu. Aku minta maaf atas keputus-asaan ini, tapi aku tak punya pilihan lain.
Tuhan, untuk kesekian kalinya aku memohon. Jaga mereka semua, seperti mereka menjagaku. Sampaikan ini pada mereka.
Rabu, 25/10/2017 1.21p.m.
---n