Hari Ini Terdapat Banyak Nikmat Hikmah Itu
Awalnya kau anggap pagi ini sebagai pagi yang penuh kesialan. Karena nyatanya, kamu di tanggal 29 Maret '24 ini telah menjatuhkan orang yang menabrakmu dr belakang. Cerita awalnya adalah kamu seoranv pengendara sepeda motor yang nekat mendahului dari kiri, tapi ternyata ada bapak bapak tua dengan motor bututnya dari arah kanan tiba-tiba belok kiri begitu saja tanpa lampu send.
Tentu kau ambil langkah aman dengan mengerem agak mendadak. Namun tanpa kendalimu, di belakangmu menabrak motormu bagian belakang dan dia terjatuh dengan motornya. Langsung saja kau eksekusi menghampiri Bapak yang tengah kesakitan menanggung beban motor dengan kaki kirinya. Kali ini dibantu oleh Bapak Bapak yang tengah membuka warungnya. Dengan begitu, kamu langsung meminta maaf namun tidak dijawab oleh Pak korbannya.
Hingga Bapak yg menolong memintamu untuk membeli betadine dan hansaplast untuk mengobati luka di jempol kaki kirinya. Alhamdulillah, tempatmu berpijak tepat di depan Alfamart yang memudahkanmu. Setelah kamu membeli, langsung kamu minta untuk menyiapkan kakinya agar bisa kamu obati.
"Saya itu mau kerja eg, mba," celetuk Pak korban. "Kemarin saya habis ambil cuti dua minggu untuk operasi."
" Operasi apa, Pak?" tanyaku cepat sambil sekilas melihat wajahnya.
"Operasi ginjal, mba. Terus almarhum bapak saya punya penyakit gula itu, mba," lanjutnya sambil menahan sakit.
"Bapak saya juga, Pak. Beliau pernah sampai infeksi, tapi nanti tinggal ke klinik langsung sembuh, Pak. Tapi waktu itu gula Bapak saya itu sampai 300, Pak," jawabku.
"Saya kemarin sebelum operasi di cek 190, mba," celetuknya lagi yang tentu membuatku semakin ketar-ketir.
Bukan apa-apa, tapi kali ini aku benar-benar seorang diri tanpa ada teman yang tadinya berjalan di belakangku. Jadi tentu aku sangat takut kalau nanti tiba-tiba Bapaknya memintaku ganti rugi lebih dari apa yang aku punya. Namun saat itu aku berpikir untuk berbaik hati dan menawarkan nomorku pada Pak korban dan beliau hanya saja. Langsung saja aku minta hp bapaknya dan menuliskan nomorku di sana. Setelah clear, saya dipersilakan pulang oleh Pak korban. Nah baru saat ini, permintaan maafku diterima olehnya.
Belum selesai, belum lama aku sampai di pesma, langsung ditelpon oleh nomor yang tak dikenal. Langsung aku angkat saja karena aku sudah ber-feeling kalau ini adalah nomor bapaknya tadi.
"Maaf mba, ini motor saya stang-nya bengkok. Apa saya bawa ke bengkel, ya?"
Deg! Kali ini takutnya melebihi tadi pas langsung bertemu dengan bapaknya. Karena sebelum aku ditelpon, aku benar-benar mencoba berpikir positif kalau tidak akan ada apa-apa.
"Maaf pak, biasanya kalau dibengkelin habis berapa ya, Pak?"
"Eum, belum tau mba, tapi kayanya dulu itu saya pernah bengkelin habis 200-an mba," jawab Bapaknya.
"Aduh Pak, maaf." Kali ini aku menjeda sedikit untuk menarik napas dan menahan tangis yang sudah di pelupuk mata. "Saya masih mahasiswa, Pak, yang uang saya hanya segini saja. Tapi coba saya bilang ke ortu dulu ya, Pak. Soalnya saya belum bilang ke ortu tadi."
"Atau begini aja mba, kalau setengah-setengahan, gimana?"
"Eum, sebentar nggih Pak, saya konfirmasi dulu ke ortu saya."
"Oh iya Mba, ditunggu secepatnya nggih."
Pembicaraan di telepon membuatku langsung ingin cepat menghubungi Ummi. Namun setelah diangkat, justru tangisku pecah langsung sampai tak bisa berkata-kata, wkwk
Setelah dirasa agak tenang, aku langsung menceritakan dan Ummi hanya bilang kalau aku harus bertanggung jawab, tapi jangan sampai Bapaknya ngejar-ngejar terus. Langsung aku mengetikkan pesan untuk Bapaknya yang dipandu Ummi dan meminta rekening yg ia punya. Setelah dikirim, langsung aku kirimkan pula uang sesuai perjanjian di awal.
Namun setelah itu, Bapaknya tidak kunjung membaca pesanku. Aku bener-bener ovt banget, dan baru dijawab 50 menit kemudian.
Setelah pesan yang Bapaknya kirim, langsung aku berkabar ke Ummi kalau dijawab dan meneruskan pesannya. Namun, jawaban Ummi diluar pikiranku. Beliau mengajariku untuk ikhlas dan berpikir positif atas kejadian kali ini.
Setelah Ummi memberi pesan itu, hatiku langsung terbuka. Mungkin apa yang dibilang ummi memang benar.
Setelah aku telusuri lagi, ada hikmah lain yang bisa aku ambil, yaitu :
Pikiran kita dimanapun dan kapanpun tetap harus terus bersih dari pikiran negatif, karena dengan begitu kita akan menemukan banyak pelajaran dari apa yang terjadi hari ini
Alhamdulillah, tidak ada teman yang di belakangku persis yang membuatku bisa belajar tentang tanggung jawab atas kesalahanku sendiri.
Belajar bertanggung jawab dan jadi mengerti bagaimana bersosialisasi dengan orang luar, khusus untuk aku yang selama 7 tahun menetal di pondok dan tidak tahu dengan dunia luar
Yang terakhir, tetap harus waspada akan kejahatan ya temann
mungkin cukup sekian hikmah dan cerita hari ini. semoga bisa membuat kita terus belajar tentang kehidupan ini.