Sudah lebih dari empat tahun aku menutup hati
Sangat menolak perasaan itu datang lagi
Bulan ini aku terbesit untuk membuka diri
Namun ku tutup lagi :')

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Game of Thrones Daily
NASA
h
The Bowery Presents
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
he wasn't even looking at me and he found me

❣ Chile in a Photography ❣

gracie abrams
sheepfilms

No title available
untitled
The Stonewall Inn

izzy's playlists!
Claire Keane

#extradirty
art blog(derogatory)
EXPECTATIONS
seen from Germany
seen from Bangladesh

seen from Kenya
seen from Ukraine
seen from Niger
seen from Russia

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Ecuador

seen from Lebanon

seen from Bangladesh
seen from Palestinian Territories
seen from Brazil

seen from Russia
seen from France

seen from Ukraine

seen from Colombia
seen from Türkiye
@nrlfarida
Sudah lebih dari empat tahun aku menutup hati
Sangat menolak perasaan itu datang lagi
Bulan ini aku terbesit untuk membuka diri
Namun ku tutup lagi :')
Yang dipendam dalam diri, tertimbun hingga jurang gelap.
Hanya tekad yang bisa jadi penyelamat.
Ingin bilang 'maaf untuk segalanya' tapi tertahan dipita suara.
Sebagai gantinya, ku coba terus melakukan yang terbaik untuk membuktikan kata 'maaf'.
Supaya dia dan mereka bisa lihat, bahwa kata 'maaf' ku bukan hanya terucap dilisan. Tapi juga merubah pemikiran.
Menginginkan yg terbaik untuk teman.
Bukanlah hal yang asing untuk didengar.
Namun terkadang,
Kita terlalu buru-buru mengajak.
Tanpa merangkul dengan hangat.
Bagaimana denganmu?
Seharusnya sejak awal kita tidak saling mengenal satu sama lain. Sikapmu membuat tidak nyaman.
Aku sedang berusaha untuk tenang dan tidak terlalu fokus dengan judgement negative dari orang-orang. Karna masih banyak peluang di luar sana yang bisa kamu raih yang dengan itu kamu akan membuktikan bahwa kamu berkembang, kamu berproses, kamu menikmati semua jatuh bangun perjuangan.
Kamu bisa, kamu kuat :').
Kerahkan semua usahamu, semua untuk diri, kebermanfaatan, keluarga, kampung, negara dan yang terpenting adalah agama.
Tenangkan hati, masih ada temanmu yang lain.
Be strong :)
Apa kalian pernah,
Sudah berbuat baik dengan niat yang tulus menolong seseorang tanpa melihat sisi buruknya?
Ketika kalian sudah menolong mereka dan lambat laun mereka menggunjing dibelakang, tanpa kalian tau-menau perbuatan apa yang salah dimatanya atau kalian menduga-duga bahwa yang dibicarakannya adalah kalian (tapi sepertinya memang iya). Dan setelah terjadi seperti itu kamu lebih banyak diam, menjaga jarak dan hanya memendam.
Temanku berkata,
Memang mengganggu apalagi kalo satu atap. Kakakku pernah bilang kalo orang kayak gitu ya dibiarin aja, nanti kalo kamu mau nolong dia lagi ya...hanya sekedar tolongin dia aja.
Yap, kalian pasti bisa menemukan solusi dari permasalahan seperti ini. Hanya saja terkadang kita perlu bercerita untuk mengeluarkan segala rasa yang telah dipendam tentunya dengan solusi ;)
Kalo kalian ada solusi lain silahkan, sangat terbuka:)
Psychology Daily - Quotes
Tak Perlu Terlalu Dikeluhkan
Diantara kita pasti pernah merasakan begitu canggungnya meminta uang ke orang tua.
Ketika mereka bertanya "uangnya masih cukup gak?"
Aku akan selalu menjawab cukup, walaupun hanya beberapa keping ataupun kertas yang jumlahnya tak terbilang banyak. Aku dan kalian pasti punya alasannya masing-masing dgn jawaban tersebut dan biasanya itu terjadi pada anak sulung.
Tapi, apa kalian pernah meminta uang dengan cara berbeda? Aku pernah. Akupun melakukan itu karna ada event yang akan aku kunjungi hari lusa. Aku hanya bilang kalau uangku kemarin sekian jumlah sekian untuk beli ini jumlah sekian untuk beli itu tanpa aku berkata kalau uang yang aku punya itu kurang, ya...ku kira mereka akan mengerti tapi tidak. Entah mungkin karna aku tidak bilang langsung atau merekanya saja.
Walaupun mereka selalu bilang,
"kalau uangnya kurang bilang ya"
Ah aku terlalu canggung untuk berkata seperti itu.
Ya sudahlah, hal seperti ini tidak perlu terlalu dikeluhkan. Pengorbanan mereka sudah cukup banyak bukan?
Aku dan kalian anak sulung (ataupun bukan) berusahalah terlihat kuat dan baik-baik saja, kita tidak ingin bukan mereka berfikir dan bekerja terlalu keras?
Hey aku, kamu tidak taukan batas usia mereka? Jika tidak berikan semua yang terbaik untuk mereka tanpa lelah
Psychology Daily - Quotes
Yeah
6/366 (Searah Tak Satu Tujuan)
Aku rasa yang menyedihkan bukanlah bersama orang yang salah, namun bersama seseorang yang kita kira searah, ternyata tak satu tujuan.
Kita berjalan searah, ke arah sana yang kita sebut sebagai masa depan.
Ku kira kalimat itu sudah cukup menggambarkan bahwa kita sudah satu tujuan. Ternyata tidak, aku salah. Masa depan yang ada dalam kepalamu, berbeda dengan yang ada di kepalaku.
Jika kau ingin plan A, aku inginkan plan H. Terlalu sulit untuk bisa satu tujuan.
Analoginya, kita menaiki mobil yang sama. Namun berhenti di tempat berbeda. Kau di halte kedua, sedangkan aku ingin berhenti di halte yang terakhir.
Kenapa tidak mengalah, memutar arah, atau mengatur ulang rencana dan tujuan. Kau ingin bertanya itu, kan?
Maka ku jawab, kita hidup tidak untuk membuat dunia yang sama. Kita punya dunia masing-masing, dan semesta akan membawah kita bertemu pada mereka yang sefrekuensi, katanya begitu.
Terik, 13.55 | 6 Januari 2020.
Random
Gue bingung ngasih judul apa ke tulisan ini. Wkwk random aja abis curhat-curhatan sama temen tentang apa yang sebenernya bikin gue nggak insecure meskipun temen-temen gue udah banyak yang emak-emak dengan dua atau tiga anak.
Bukan gue benci atau enggan buat nikah. Tapi simply karena jodohnya emang belum dateng.
Gue pernah bilang bahwa terkadang yang menyakiti hati wanita bukan cuma laki-laki yang nggak mengerti tentang bagaimana situasi wanita dalam menjalani hidupnya. Tetapi juga sesama wanita yang memaksakan standard bahwa wanita harus begini, wanita harus begitu. Atau sesama wanita yang suka membanding-bandingkan hidup dengan orang lain. Atau bahkan diri kita sendiri yang belum punya konsep diri yang jelas sehingga ketika orang lain bergerak ke utara atau selatan, kita ngerasa harus ikut bergerak juga -_-
Menikah, punya anak, adalah fase-fase yang berat dalam hidup kita. Butuh banyak support biar survive. Sembilan bulan hamil, harus merasakan berbagai ketidaknyamanan. Orang hamil emang beda-beda ya. Ada yang santai-santai aja. Ada yang morning sickness-nya sampe 5 bulan. Ada yang nggak bisa makan apapun karena tiap makan dimuntahin. And many more.
Habis ngelewati fase kehamilan, kudhu lahiran, sakit pastinya. Habis itu langsung menyusui dan ngerawat bayi. Jam tidur banyak berkurang. Belum lagi kalau ditambah insecure kalau berat badannya nyantol banyak. Sebelum hamil 55 kg. Setelah lahiran 65 kg.
Gue nggak bermaksud nakut-nakutin. Gue cuma mencoba menempatkan diri kalo misal di posisi temen-temen gue. That’s why kadang ibu-ibu muda juga butuh me time, butuh ngobrol, butuh didukung pas mental load-nya lagi tinggi. Pernah suatu hari ada masalah kecil aja, temen gue ngamuk nggak jelas. Gue awalnya juga ikutan kesel karena ngamuknya dia di atas takaran banget. Habis itu gue langsung inget kalo dia habis lahiran, mungkin masih capek. Besoknya kami ngomong baik-baik dan dia bilang
“Sorry ya, aku kadang ga bisa ngendaliin diri sendiri. Hhaa aku capek, kurang tidur“
“Easy. Kalo ada yang perlu diomongin ya diomongin aja biar plong wkwk“
dan semua berujung pada ngopi-ngopi bareng. Ngobrolin anaknya dia yang pertama sakit terus yang kedua ikutan rewel jadi semalaman nggak tidur. Terus dia paginya masih harus ngantor.
Gue rasa dia ngeluh bukan karena ga bersyukur. Karena mau gimanapun, di setiap fase hidup pasti ada lelahnya. Dan alangkah indahnya kalau misal pas lelah, kita punya support sistem yang baik. Yang siap dengerin all ears tanpa judgement semisal:
“Kamu kudunya bersyukur. Kamu udah punya anak. Aku ketemu jodoh aja belom”
Orang ngeluh tuh karena capek aja kadang-kadang. Paling kesel kalo ada orang yang ngomong:
“Apa yang kamu rasain tuh nggak sebanding sama aku dulu“
Ya meskipun ga sebanding tuh tetep aja rasanya sakit. Gue ngeluh tuh buat ngurangin sakit bukan buat lombaaa.
*
Gue kalau denger cerita temen perkara balita mereka sebenernya happy-happy aja. Kayak berasa dapet ilmu juga. Dengerin cerita bumil sama busui itu jadi tau kebiasaan mereka kayak apa. Beli baju sama popok murah dimana. Day care yang bagus dimana.
Nggak toxic sama sekali.
Hawa toxic itu baru kerasa ketika kita mulai membanding-bandingkan. Bahkan kalau perbandingan itu dilakukan oleh sesama ibu.
Semisal:
“Anak kamu sekarang beratnya berapa?”
“xyz kg“
“Kok baru segitu sih? Anakku udah bla bla bla loh. Anakku udah bisa gini gitu tralala trilili. Anak kamu udah bisa belom?”
Tumbuh kembang anak tuh beda-beda banget. Jangan membanding-bandingkan anak kamu sama orang lain. Itu nggak sehat sama sekali. Toxic buat kamu sendiri. Toxic buat orang lain juga.
Gue tau, seorang ibu baru butuh ruang buat bercerita anaknya bisa apa saja. Tapi cara membuka percakapan tuh bisa kita pikirkan mannernya. Sering banget kok ada temen gue yang nyodorin hp nya ke gue sambil bilang:
“Lihat deh, anakku. Lucu ya. bla bla bla“
Gue ngerasain punya temen yang anaknya telat bicara. Dia cerita ke gue
“Anakku terlambat bicara. Nggak apa-apa kan ya? I know kamu belum nikah. Tapi aku bingung juga mau cerita ke siapa“
“That’s okaay. Kan ada klinik tumbuh kembang”
Usut punya usut, temen gue habis dibilangi ibu-ibu lain.
“Kayaknya ibunya kurang aktif”
“Mungkin nutrisi yang kamu kasih salah. Jadi tulang rahangnya nggak kuat“
“Kamu terlalu sibuk kali, makanya anaknya dikasih youtube mulu“
Dunia ibu-ibu emang kadang horror hha.
Gue sendiri sebagai single yang terjebak di pergaulan ibu-ibu baik-baik saja. Nggak takut ataupun insecure. Sampai gue random terdampar dalam obrolan yang ampun-deh-ini-apaan. Tersebutlah gue yang emang hobi banget pake makeup dan ngomongin diskonan harbolnas.
“Emang harga lipstik kamu berapa?”
“xyz mbak. Keren banget sih diskonnya. Dari segini sampe segini”
“Ih aku duit segitu mending buat beli baju anakku. Emang kalo masih single, belanjaannya beda ya sama ibu-ibu. Kalo ibu-ibu mah boro-boro mikirin lipstik cyn. Mahal”
Gue sebenernya agak kikuk juga duduk di situ. Karena temen-temen gue biasanya nggak kayak gitu wkwk.
“Eh iya mbak ya, kalo ibu-ibu pasti suka yang frozen food gitu ya praktis”
“Iya dong. Kamu nggak ngerasain kan? Kamu nggak masak sih. Kalo single mah enak. Kebutuhan nggak banyak. Makan tinggal beli. Beli make up gampang”
Gue rasanya pengen ngamuk wkwk. Akhirnya gue pindah. Obrolan tidak terkondisikan.
Sebenernya kalau nada obrolannya jadi
“Aku kemarin beli baju anakku harganya segitu juga”
cukup berhenti sampe disitu. Nggak usah mengungkit-ungkit status single nya orang, insya Allah bakal selamet aja.
Atau
“Iya dong. Frozen food cepet. Kalo makanan lain sejam sendiri. Frozen food cuma 5 menit. Kamu kudu coba deh masak frozen food“
Itu juga bagus.
Hidup punya fasenya sendiri dan kita sedang hidup di fase kita dengan sadar. Kalau perlu berbagi lelah, belajarlah berbagi lelah. Jangan menutupi semua lelah dengan melihat hidup orang lain lalu berkhayal sendiri bahwa hidup orang lain pasti lebih mudah dst dst. That’s too much dan bakal ngebunuh diri kamu sendiri.
Terkadang pikiran negatif kita dan komentar-komentar kita pada kehidupan orang lain bisa membuat orang yang single jadi tidak berbahagia dengan singlenya. Ibu menyusui jadi insecure dengan badannya. Isteri yang belum hamil yang awalnya merasa cukup menjadi merasa terhina dan less human. Be kind kepada diri kamu sendiri dan kepada orang lain. Mari saling support.
Jeda di Antara
Ada yang setiap paginya sibuk bekerja. Baik itu mencari nafkah untuk keluarganya, menabung demi cita-citanya, atau bahkan hanya untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya. Ada yang setiap paginya belajar atau menuntut ilmu. Baik itu memperjuangkan suatu bangsa agar terus maju, meningkatkan kapasitas agar diri lebih bermutu, atau bahkan hanya untuk lulus sebelum dikejar oleh waktu. Ada yang setiap paginya berusaha. Baik itu berusaha untuk lepas dari penderitaan, berusaha bangkit dari keterpurukan, hingga berusaha untuk maju agar lebih baik di hari ke depan. Boleh saja kita jalani rutinitas setiap harinya. Tapi, ingatlah bahwa diri kita juga membutuhkan jeda. Untuk mengurai pikiran yang tak jelas kemana arahnya. Untuk menenangkan hati yang sedang sibuk dengan segala masalahnya. Yang terus berputar, biarlah dunia saja. Sedangkan kita, hanya seorang manusia biasa. Yang membutuhkan jeda di antara segala kesibukannya. Sebagaimana duduk, yang merupakan jeda di antara dua sujud. Sebagaimana waqaf, yang merupakan jeda di antara dua ayat. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk memberi jeda pada diri sendiri. Semoga dengan jeda ini membuat kita mengingat kembali, bahwa kita tidak bisa apa-apa tanpa kuasa Illahi Rabbi.
Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS. Al-Furqan : 47)
. . Nb: Mohon maaf karena telah sekian lama menjeda. Semoga kawan-kawan tetap menikmati tulisan kami yang apa adanya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan jangan lupa untuk memberi jeda pada hidup kita. Doakan kami agar istiqomah ya :)
Aku sering skeptis dengan nasihat bahwa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Karena artinya aku harus menemukan alasan untuk mencintainya.
Mencoba memahami, mencoba memberi, mencoba berbagi, mencoba memperhatikan, mencoba berkomunikasi. Membangun hal-hal yang dirasa dapat menumbuhkan perasaan.
Sedangkan jatuh cinta, yang aku tahu tidak pernah memiliki alasan. Seperti seorang ibu yang mencintai bayi di dalam kandungannya. Ia tidak punya alasan, ia menyayanginya.
Tanpa berharap balas, naluri seorang ibu adalah memberi. Mencintai, dan hanya itu saja yang ia tahu.
Mungkin benar, perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Tetapi kadarnya kurasa tidak sebanyak ketika kau mencintai sesuatu tanpa kau tahu alasannya.
Sekarang ingat, bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta. Bagaimanapun caranya kau akan tetap mengejarnya, bukan? kau akan tetap memberi meski hadirmu tidak dipedulikan.
Termasuk yang kau bilang mencintai dalam diam. Bukan berarti kau diam saja, kau akan tetap melakukan segala upaya untuk menarik perhatiannya. Bedanya, kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu.
"Belajarlah untuk mencintai pekerjaanmu" katanya. Tetapi kenapa tidak diminta untuk mengejar segala sesuatu yang kau cintai?
Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, adalah sebuah ungkapan realistis untuk mengatakan "jika kau tidak mampu mengejar apa yang kau cintai, maka terimalah apa pun pilihannya sekarang."
Masalahnya, menurutku jika kau tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mencintai sesuatu, ketika kau menemui masalah, kau akan lebih mudah untuk menyerah.
Tetapi seberapa beratpun masalahnya, jika perasaanmu lebih kuat, kau akan berusaha untuk tetap bertahan.
Maka yang perlu kau temukan bukan bagaimana untuk bisa saling mencintai, karena cinta tumbuh tidak butuh alasan.
Tetapi soal siapa yang akan dengan keras kepala kau pertahankan, meski seluruh dunia memintanya untuk pergi.
Sekali lagi, semoga ini hanya keterbatasan sudut pandangku.
—ibnufir
Seperti hari yang tak pernah kehilangan pagi, begitulah aku yang selalu percaya pada puncak mimpi.
Seperti bunga yang tak pernah kehilangan wangi, percaya saja Allah akan memudahkan langkah kaki.
Seperti menyaksikan senja dipuncak bukit, indahnya terbayar meski seluruh badan mungkin saja sakit.
Untuk seluruh usahamu...
Kamu kuat, kamu bisa
Perempuan belajar banyak hal bukan bermaksud membuat laki-laki minder.
Belajar yang bahkan mungkin itu adalah bagian dari yang biasa laki-laki kerjakan.
Perempuan belajar semua itu ya untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Karena belum tentu setiap ia butuh akan ada laki-laki yang selalu sedia atau yang diandalkan setiap saat.
Pun seorang ayah akan tetap memberi kebebasan kepada anak perempuannya untuk tahu dunia luar sesuai batasannya.
Tidak semua perempuan bisa kau cap manja, tuan :)
Sama kok saya juga harus memulai semuanya dari nol. Tanpa banyak dukungan harta dan jabatan orang tua. Cuma modal keyakinan bahwa mimpi itu harus diwujudkan bukan digantungkan.
i’ve been losing motivation lately. i think, though, this is a great reminder to myself that motivation is something that comes and goes– it’s more important to be disciplined. so far, i’m still working on that, but i hope i can be better at it.
Mungkin semua ayah begitu
Sore ini aku berjalan di sekitar jalan Margonda. Suasana terik begitu masih terasa, padahal jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Belum lagi polusi udara dan bising kendaraan yang berbunyi. Kota ini cukup riuh dan seringkali lumpuh karna macetnya. Meski begitu, aku begitu menyukainya. Dari semua cerita buruk dan baiknya.
Sore ini di seberang jalan yang kulalui, ada seorang bapak yang sedang memanggul barang dagangannya. Sebuah bambu yang diberi tali diujungnya beserta sebuah wadah untuk menaruh barang dagangan. Yang dijual bapak itu adalah keripik singkong beraneka rasa. Tak lupa pula diatas kepala ia kenakan topi berbentuk kerucut, seperti yang digunakan banyak petani. Supaya tidak terlalu tersengat matahari barangkali.
Samar-samar kuliah bapak itu berjalan dengan tertatih-tatih. Kedua kakinya tidak sempurna seperti yang kita punya. Langkahnya pun tidak tegap. Begitu terlihat sulit untuk berjalan. Selain itu tangan dan lehernya tidak sesempurna yang kita miliki. Karna saat memanggulpun terlihat begitu amat sulit.
Melihatnya begitu semangat mencari nafkah, kemudian saya menyebrangi jalan untuk membeli salah satu barang dagangannya. "Berapa pak satunya?" tanya saya. Sembari menunjukkan kelima jari kanan dan melipat tiga jari kiri yang artinya Rp. 7.000. Beliau juga berusaha untuk menjawab dengan mulutnya, namun rupanya begitu sulit. Padahal tadinya saya ingin bertanya-tanya tentang beberapa hal kepadanya. Melihat kondisinya saya tidak tega untuk meneruskan bertanya. Kemudian saya memilih keripiknya dan memberikan uang Rp. 10.000. Ia berusaha memasukkan uang dan mencari kembaliannya. "Ga usah pak, biarin aja" kata saya. Ia hanya tersenyum dan berkata "Makasih" dengan suara yang tidak begitu jelas. Dalam hari saya berkata "Pelit sekali saya hanya memberinya Rp. 3.000" rasanya pengen sekali memberi uang lebih. Tetapi takut beliau tersinggung, karna beliau bukan penggemis. Dan tentunya tidak ingin dianggap pengemis. Andai saja ia mau, ia sudah menjadi pengemis sejak lama. Tetapi ia memih jalan yang berbeda. Semoga saja hal kecil, sekecil uang Rp. 3.000 bisa untuk membantu.
Aku begitu yakin kalau beliau adalah sosok seorang ayah. Dengan keterbatasan yang ia miliki tetap saja bersikukuh untuk menjadi sosok yang bertanggung jawab untuk keluarganya. Satu hal yang aku yakini, beliau tidak pernah bercerita tentang susahnya mencari nafkah untuk mereka yang ia sayangi. Ia tidak pernah mengeluh meski berpeluh. Mungkin saja persis sama seperti ayah kita. Yang cintanya mengalahkan lelahnya. Kitanya saja yang seorang anak terkadang kurang ajar, menuntut ini itu untuk dipenuhi.
Untuk bapak tadi, betapa banyak saya belajar sebagai seorang manusia biasa yang banyak sekali mengeluhnya. Padahal kesempurnaan sebagai seorang manusia, saya miliki seluruhnya. Barangkali jika diakhirat nanti, saat saya dan bapak tadi berada di barisan yang sama. Dengan mungkin saja timbangan amal yang juga sama. Beliau akan lebih dulu dipersilakan menginjakkan kakinya disurga. Sebab saya harus lebih dahulu mempertanggung jawabkan kaki, tangan, leher dan mulut yang begitu sempurna. Tetapi dengan segala yang begitu sempurna, amalnya segitu-gitu saja. Sedang dosaku justru berlipat ganda. Semoga bisa menjadi pelecut untuk bisa lebih baik lagi.
Luv