KHANSA'S PORTFOLIO 2023

❣ Chile in a Photography ❣

★
sheepfilms

#extradirty
dirt enthusiast
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
trying on a metaphor
i don't do bad sauce passes

roma★

No title available
KIROKAZE
occasionally subtle
Show & Tell
we're not kids anymore.
YOU ARE THE REASON
$LAYYYTER
Game of Thrones Daily
Mike Driver
Not today Justin
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from Mexico

seen from France
seen from United States
seen from Mexico
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Mexico

seen from Malaysia
@otheanao
KHANSA'S PORTFOLIO 2023
Potrait of The Tar Man
#AduMata
#Anaknya RaPoSa Ep.3 “They Were All at Sixes And Sevens”
Mix by: Khansa Nisrina @otheanao
Software: GarageBand
Cover by: Khansa Nisrina @otheanao
#Balihothe Ep. 5 “Framing Media Korps Mahasiswa Terhadap Kasus Pelecehan Seksual di Universitas Riau”
Author: Khansa Nisrina @otheanao
Seri: #Balihothe
Fenomena Kasus
Seorang mahasiswi Universitas Riau (Unri) jurusan Hubungan Internasional menolak tutup suara terhadap pelecehan seksual yang dialaminya. Pelaku dari peristiwa traumatis ini adalah dosen pembimbing proposal skripsinya sendiri berinisial SH.
Kronologi pelecehan itu diceritakan korban dalam unggahan viral twitter @KOMAHI_UR (Korps Mahasiswa HI Unri) pada tanggal 4 November 2021. Unggahan ini disampaikan kepada publik sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan pihak kampus dalam menangani kasus ini. Berdasarkan keterangan korban, pelaku memaksa untuk mencium pipi dan kening korban saat hendak melaksanakan bimbingan. Korban yang merasa ketakutan langsung meninggalkan ruangan.
Korban mencoba meminta pertolongan dari pihak ketiga, yaitu seorang dosen HI lainnya untuk menemaninya menemui Ketua Jurusan HI Unri, Tri Joko Waluyo perihal pelaporan kasus sekaligus meminta pergantian pembimbing. Alih-alih langsung mengantarkan sang korban bertemu ketua jurusan, dosen tersebut malah mengajak korban untuk bertemu di kedai kopi. Tanpa disangka, si dosen justru menyuruhnya untuk diam. Emosi korban memuncak setelah ia merasa tidak mendapatkan dukungan dari dosen yang ia percayai.
Dalam pertemuan dengan ketua jurusan, korban mendapatkan perilaku yang tak diharapkan. Ia merasa disalahkan atas pelecehan seksual yang menimpanya. Si dosen dan ketua jurusan malah menertawakan korban sambil membela rekan kerjanya dengan mengatakan bahwa SH melakukan pelecehan tersebut karena kekhilafan, bukan kebiasaan. Korban juga diminta bersabar, dan tidak membesar-besarkan kasus ini. “Jangan sampai Bapak SH bercerai dengan istrinya”, begitu kata sang dosen yang berusaha melindungi rekan kerjanya tersebut.
Setelah agenda temu di kedai kopi, korban mendapatkan teror dari SH yang mencoba menghubunginya dan keluarga dengan berbagai cara. Seperti mengganti nomor baru hingga melalui seorang perantara. SH mencoba untuk berdalih bahwa ciumannya kepada korban hanyalah ciuman selayaknya orangtua kepada anak (mahasiswa). Dalih tersebut langsung ditepis dengan sanggahan pihak keluarga korban yang menganggap mustahil ada orangtua yang mencium anaknya sambil “minta bibir”. Kasus ini menjadi bukti kegagalan pihak kampus dalam menangani kasus pelecehan seksual. Tidak ada pendampingan dan keadilan untuk korban.
Analisis Fenomena Komunikasi Terhadap Kasus Pelecehan Seksual di UNRI
Terdapat banyak poin yang dapat kita analisis menggunakan sudut pandang komunikasi pada kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, khususnya kasus SH. Menurut Prof.Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”, prinsip komunikasi yang ke-3 berbunyi “Prinsip 3: Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi Hubungan”. Dimensi isi mengartikan muatan dari perkataan verbal sedangkan dimensi hubungan mengkaji gaya pengucapan sebagai isyarat yang menunjukkan hubungan antar pelaku komunikasi.
Dalam kasus tersebut, korban menjelaskan bahwa SH memulai aksinya dengan memegang bahu dan kepala korban. Maksud tersembunyi-nya ini semakin SH perjelas melalui perkataan “bibir mana bibir” yang dilontarkan kepada korban. Pesan nonverbal ini diinterpretasikan oleh korban sebagai perbuatan yang membuatnya merasa tidak nyaman karena hal tersebut dilakukan SH tanpa persetujuannya. Menurut prinsip komunikasi ke-2 yaitu setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi dimana kita tidak dapat tidak berkomunikasi (We Cannot Not Communicate), secara tidak langsung korban mencoba untuk menyampaikan pesan perihal ketidaknyamanannya atas perilaku SH dengan cepat-cepat meninggalkan ruangan.
Ketika kasus ini diunggah ke publik, SH meneror keluarga korban melalui seorang perantara yang berkata bahwa ciuman yang dilakukan SH kepada korban hanyalah ciuman kasih sayang selayaknya orangtua kepada anak. Jelas, “klarifikasi” ini hanyalah alibi yang digunakan oleh SH. Jika kita melihat dari dimensi isi, SH secara terang-terangan meminta bibir korban sedangkan dari dimensi hubungan, jika ciuman tersebut hanyalah ciuman kasih sayang (seperti dalih SH), seharusnya korban merasa disayangi bukannya trauma.
Dimensi isi dan hubungan ini juga dapat kita kaji dalam konteks komunikasi massa. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan sedangkan dimensi hubungan merujuk pada unsur lain yang ada di sekeliling pesan tersebut seperti jenis saluran atau media yang digunakan dan target pasar. Kita bisa membedakan media yang bersifat audio seperti radio dengan media yang bersifat audio visual seperti televisi atau video di linimasa. Setiap pemilihan media pasti akan berpengaruh pada pesan yang diterima oleh publik. Semisal radio hanya bisa menyampaikan pesan suara saja. Pendengar tidak dapat melihat raut wajah dan ekspresi pembicara sedangkan pada televisi, penonton bisa langsung menerka bagaimana perasaan pembicara melalui raut wajah dan gesture yang ditampilkan. Seperti kata seorang komunikolog, Marshall McLuhan, “the medium is the message”, pesan dapat diciptakan melalui media yang dimanfaatkan secara maksimal.
Jika kita melihat lebih dekat, terdapat beberapa metode yang digunakan oleh Komahi untuk mengoptimalkan perhatian publik melalui framing kasus ini. Metode pertama yang terlihat dengan jelas adalah dipilihnya twitter sebagai kanal pengunggahan. Seperti Prinsip 8 komunikasi, semakin miripnya latar belakang sosial dan budaya (juga kesamaan nasib) membuat proses pembangunan rasa empati lebih efektif. Dilansir dari itworks.id, pengguna twitter didominasi oleh rentang umur 16-24 tahun menjadikan twitter sebagai kanal pengunggahan yang paling cocok. Banyaknya penyintas kasus serupa yang kurang lebih sepantaran dengan korban sebagai pengguna twitter, membuat pesan dapat dengan cepat menyebar. Pengguna twitter yang merasa simpati terhadap peristiwa yang dialami korban menjadi faktor penting dari viralnya unggahan @KOMAHI_UR tersebut. Efeknya, kampus menjadi sorotan publik dan mendapatkan desakan untuk segera memberi pelaku seadil-adilnya sanksi.
Kembali lagi pada prinsip 3 Komunikasi: Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi Hubungan, selain pemilihan twitter sebagai kanal pengunggahan, komahi juga memperhatikan bentuk media seperti apa yang paling cocok untuk mengangkat kasus ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa harus dalam bentuk video? Padahal jika diperhatikan, sebenarnya komahi bisa saja mengangkat isu ini ke publik dengan tulisan saja. Mungkin bisa menggunakan headline bombastis dengan gaya penulisan feature untuk lebih menarik perhatian khalayak. No, jawabannya adalah karena mereka ingin menjadikan isu ini menjadi lebih bernyawa melalui video kronologi yang secara langsung disampaikan oleh korban. Nampaknya, komahi tahu betul apa dampak dari media audio visual. Melalui video, penonton atau publik bisa mendengar suara korban yang bergetar sekaligus melihat bagaimana gesture yang disampaikan ketika menceritakan keseluruhan kronologi kejadian.
Pengambilan setting video yang terkesan simple tanpa embel-embel suntingan atau latar yang terkesan “terlalu diusahakan” seolah-olah mengajak khalayak untuk fokus memperhatikan isi cerita yang disampaikan oleh korban. Pakaian yang terlalu apa adanya dan “membosankan” juga membuat penonton tidak memiliki opsi lain selain menaruh perhatiannya kepada cerita korban, bukan latar atau pakaian yang dikenakan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa seringkali korban pelecehan justru disalahkan atas kemalangan nasibnya sendiri. Dituduh “mengundang” karena menggunakan pakaian yang dinilai terbuka oleh “standar kesopanan” yang berlaku. Coba bayangkan apabila dalam video tersebut korban menggunakan pakaian yang sedikit terbuka seperti memperlihatkan lengan atau bagian pundak, mungkin akan ada komentar baru yang bermunculan. Entah menyalahkan korban karena berpakain demikian atau membenarkan perilaku SH yang dinilai wajar tergoda dengan korban yang terkesan nakal dan mengundang.
Simplisitas dari video kronologi tersebut kemudian disempurnakan dengan pengambilan gambar menggunakan medium shot yang memberikan kesan netral dan tidak memihak. Dengan cara inilah, komahi mencoba menggiring keberpihakan publik kepada aspek utama dalam video yaitu cerita korban. Sebenarnya, close up juga bisa dijadikan salah satu opsi. Namun, bagaimanapun juga, wajah korban harus disensor untuk tetap dilindungi identitas dan ranah privasinya. Sedangkan long shot jelas bukan sebuah pilihan untuk isu semacam ini. Long shot dinilai dapat mengurangi keterlibatan emosional yang dapat mengakibatkan rendahnya perhatian publik terhadap kasus ini. Bukan tanpa tujuan Komahi mengunggah kasus yang seolah membongkar kebobrokan instansinya sendiri. Unggahan tersebut ditujukan untuk mencari keadilan dan perlindungan lain yang tidak korban dapatkan dalam lingkup internal, dalam kasus ini dosen dan ketua jurusan HI Unri. Menurut saya, korban dan Komahi menilai bahwa perhatian publik adalah satu-satunya pihak yang dapat diharapkan untuk menuntut pelaku atas perbuatan yang telah dilakukan.
Terdapat beberapa prinsip komunikasi yang dapat kita gunakan untuk menelaah kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Selain prinsip-prinsip di atas, terdapat prinsip komunikasi yang ke-11 yaitu Komunikasi bersifat irreversible. Pada dasarnya, Suatu perilaku adalah suatu peristiwa yg tidak dapat diambil kembali. Maka dari itu, setiap perilaku yang kita perbuat haruslah didasari atas tanggung jawab terhadap konsekuensi yang menyertai.
SH tidak bisa “mengambil” perlakuannya kembali. Hal yang mungkin masih bisa dilakukan SH adalah meminta maaf atas perlakuannya terhadap korban. Alih-alih meminta maaf, SH malah meneror keluarga korban dengan dalih “ciuman kasih sayang orang tua kepada anak” yang jelas-jelas omongan kosong belaka. Menurut saya pribadi, SH telah memaksakan kehendaknya untuk mengalihkan amarah publik yang geram kepadanya. Jika sedari awal, SH profesional pada profesinya sebagai tenaga pendidik, dan pihak kampus kooperatif dalam menangani kasus seperti mengadili SH dan melindungi korban dengan menyetujui permohonan pergantian pembimbing proposal, mungkin kejadiannya tidak akan menjadi sebesar ini. Korban tidak akan mencari perlindungan dari pihak luar dengan mengunggah video kronologi kejadian yang mengundang amarah publik terhadap SH dan pihak kampus. Akibat ulahnya inilah, seketika nama baiknya tercoreng. Pelanggaran privasi dalam bentuk penyebaran foto (dirinya dan di beberapa unggahan juga ada keluarganya) harus SH hadapi sebagai bentuk sanksi sosial yang diberikan oleh masyarakat.
SUMBER REFERENSI:
Hastanto, I. (2021, November 5). Lecehkan Mahasiswa, Dosen UNRI Coba Mencium Pakai Dalih Korban Seperti Anak Sendiri. VICE. Retrieved December 16, 2021, from https://www.vice.com/id/article/93b5xz/dugaan-pelecehan-seksual-dosen-hi-unri-riau-viral-di-media-sosial
itworks.id. (2019, April 29). Demografi Pengguna Twitter di Indonesia Paling Banyak Pria daripada Perempuan - ItWorks. Itworks.id. Retrieved December 17, 2021, from https://www.itworks.id/19408/demografi-pengguna-twitter-di-indonesia-paling-banyak-pria-daripada-perempuan.html
Korps Mahasiswa HI Unri. (2021, November 4). Sexual Harrassment In HI Fisip Unri. https://twitter.com/KOMAHI_UR/status/1456144904258654210?s=20
Mulyana, D. (2000). Ilmu komunikasi: suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Shalihah, N. F. (2021, November 6). Viral, Twit Dugaan Pelecehan oleh Dosen UNRI, Ini Tanggapan Rektor Halaman all. Kompas.com. Retrieved December 17, 2021, from https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/06/070500265/viral-twit-dugaan-pelecehan-oleh-dosen-unri-ini-tanggapan-rektor?page=all
#AduMata Eps.2
“FROM THE EYES OF THE SHADOW” 2021
Photo: Khansa Nisrina @otheanao
Seri: #AduMata
#Medinao Ep.2 “Inner Child, Anak Kecil Yang Sering Dilupakan”
Author: Khansa Nisrina @otheanao
Seri: #Medinao (Medium Otheanao)
Hai temen-temen!
“Kalo ngomongin masa kecil rasanya gaada abisnya yaa. Ada aja cerita-cerita konyol yang kita lakuin waktu masih polos-polosnya. Waktu kecil pengen cepet-cepet jadi orang gede, eh pas udah gede dan tau struggling-nya gimana, malah pengen jadi anak kecil lagi. “
“Andai mesin waktu beneran ada, pengen rasanya ngasih tau ke diri kita di masa kecil tentang kehidupan orang gede, nyuruh dia main sepuasnya, cobain hal-hal baru yang belom pernah dia coba dan jadilah orang yang punya standing position yang jelas, karena nantinya, dia akan ketemu sama banyak banget karakter manusia yang datang dari latar belakang berbeda. Punya koneksi luas itu penting, tapi pilihlah inner circle yang berkualitas untuk hidupmu. Cari temen-temen yang sekiranya punya prinsip yang sejalan sama kamu. Pokoknya, puas-puasin masa kecil selama masih bisa.”
Dua paragraf di atas adalah contoh paragraf yang ditulis dari sudut pandang seseorang yang punya masa kecil bahagia. Apakah di waktu sekarang penulisnya lagi bahagia juga? Hmm bisa jadi. Meskipun belom pasti. Coba temen-temen bayangin kalau dua paragraf di atas ditulis sama orang dengan masa kecil yang kurang bahagia. Mungkin jadinya akan seperti paragraf di bawah ini:
Hai temen-temen!
“Kalo ngomongin masa kecil rasanya gaada abisnya yaa. Ada aja cerita-cerita suram yang kita alamin waktu masih tinggal sama mereka. Waktu kecil pengen cepet-cepet jadi orang gede, harapannya sih biar bisa mandiri dan terbebas dari sabetan sapu lidi. Eh pas gede, bener sih bisa bebas tapi kok ya susah banget untuk settle sama diri sendiri dan punya hubungan yang baik sama lingkungan sosial + pekerjaan.
“Andai mesin waktu beneran ada, pengen rasanya ngasih tau ke diri kita di masa kecil tentang seberapa toxic-nya lingkungan dia di masa itu, nyuruh dia untuk minta bantuan secepatnya, dan cari temen-temen yang punya latar belakang serupa supaya bisa paham sama masalah yang lagi dilewatin. Percaya ga percaya akan selalu ada pemikiran “lo ga bakal pernah ngerti” dari setiap support orang baik (dengan keluarga harmonis dan masa kecil bahagia) yang mencoba untuk mengerti. Pokoknya, lebih baik untuk ‘kabur’ dari masa kecil dibanding terus-terusan mupuk trauma dan dendam yang kebawa sampe gede.”
Di dua paragraf terakhir, penulisnya nyampein 2 hal penting, masa kecilnya yang suram dan efek apa yang dia dapet dari memori masa kecilnya. Apakah sekarang penulisnya lagi kurang bahagia juga? Hmm bisa jadi. Meskipun belom pasti.
Nah temen-temen, dari dua contoh di atas kita bisa nemuin perbedaan sudut pandang masing-masing penulis. Coba temen-temen bayangin kalo mereka seumuran dan nulis di waktu yang sama. Menurutku, ini akan jadi menarik banget karena ternyata masa kecil dan parenting se-berpengaruh itu loh sama pemikiran dan perilaku seseorang ketika udah dewasa.
Dari sini kita bisa sepakat bahwa ilmu parenting itu penting banget yaa temen-temen. Orangtua/ orang dewasa gaboleh sembarangan memperlakukan anak-anak. Kita harus bisa berperilaku baik di depan mereka. Kita harus tau bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik dan benar. Kita terlalu berfokus pada anak-anak secara umum, sampai tanpa sadar, kita lupa sama anak kecil yang ada di dalam diri kita sendiri atau yang biasa disebut sebagai inner child.
Apa itu inner child?
Menurut ahli, inner child adalah ekspresi dari sisi masa lalu yang kita alami. Mulai dari masa anak-anak sampai seterusnya. Pengalaman dan peristiwa yang kita alami, baik maupun buruk, akan tertanam di alam bawah sadar hingga kita dewasa. Sehingga, nantinya “inner child” ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang bersikap.
Misalnya, seorang anak yang tumbuh dari orang tua yang sering nanyain kabar dan keseharian anaknya, akan tumbuh sebagai sosok yang perhatian sama temannya dan punya self awareness yang tinggi. Atau anak yang sering ditinggal sendiri oleh orangtuanya untuk bekerja, tumbuh jadi sosok yang bergantung pada orang lain dan memiliki kekhawatiran akan ditinggalkan.
Menurut seorang psikolog, Ikhsan Bella Persada, inner child bisa terluka. Luka ini biasanya muncul karena peristiwa menyakitkan di masa kecil. Misalnya pernah di-bully, kurang kasih sayang dari orang-orang yang dikasihi, korban KDRT, dipermalukan di depan umum, dan masih banyak lagi.
Mungkin selama ini kita berpikir bahwa waktu akan menyembuhkan. Mungkin, kita akan lupa sama hal-hal tadi seiring waktu berjalan. Atau gampang lah, tinggal lupain aja kejadiannya, beres kan? No, kenyataannya ga segampang itu temen-temen. Sama kayak mantan yang mutusin pas lagi sayang-sayangnya, kita ga bisa lupain gitu aja. Makin kita paksain diri kita untuk move on dan ngelupain semuanya, yang ada malah makin flashback.
Kita sebagai manusia itu menyimpan luka emosional dan luka fisik. Ibaratnya luka pada tubuh, luka yang dialami sama Inner child harus mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak, lukanya akan semakin parah dan menimbulkan efek berkepanjangan di kemudian hari.
Bagaimana Cara Menyembuhkan Inner Child
Nulis Late Diary
Gaperlu takut untuk jujur sama apa yang kita rasakan di setiap peristiwanya karena diary ga akan ngehakimin kita. Santai dan coba inget-inget lagi semua peristiwa masa kecil yang masih bisa diingat. Mau itu bahagia, suram, bikin marah, tulis ajaa semuanya!
Sesi Ho’oponopono Pribadi
Kedua, temen-temen juga bisa melakukan sesi Ho’oponopono Pribadi. Sebenernya, ini adalah proses memaafkan untuk memperbaiki hubungan kita sama orang lain tapi metode ini juga bisa berfungsi untuk memperbaiki hubungan kita dengan diri sendiri (inner child). Di sesi ini, kita bisa manfaatin waktu luang kita untuk menyendiri, bikin atmosfer ruangan se-namaste mungkin, dan coba mulai atur pernafasan agar lebih rileks.
Video “Analisa Channel” tentang Inner Child
Kak Analisa sempet beberapa kali nyebutin tentang inner child ini temen-temen. Kalian bisa coba cek video dan spotify kak Analisa untuk lebih jelasnya yaa, tenang aja linknya bakal aku spill lewat referensi di bawah. Intinya di video beliau yang khusus membahas tentang inner child, Kak Analisa ngenalin metode pernafasan 4-7-8. Artinya, kita tarik nafas selama 4 detik, tahan sepanjang 7 detik, dan hembuskan sampai hitungan ke-8 detik. Kita bisa coba metode pernafasan ini sambil tutup mata supaya lebih rileks lagi.
Setelah fokus dan rileks, coba bayangin ada sosok anak kecil yang cerita ke temen-temen tentang hal-hal yang sebelumnya temen-temen ceritain di diary tadi. Anak kecil itu keliatan bahagia banget waktu nyeritain dia lagi main sama temen-temennya. Tapi waktu anak kecil itu cerita saat dia jadi korban bully, dia nangis dan hal itu tanpa sadar bikin kita ikut sedih dan sakit hati. Cobalah untuk rangkul dan meluk anak itu sambil bilang “it’s okay, kamu bisa nangis sepuasnya.”, “Maaf yaa, selama ini aku maksa kamu untuk nyimpen semua emosi negatif itu sendirian.”, “Apapun yang terjadi, kamu akan selalu berharga.”, dan yang terakhir, “Terima kasih karena udah bertahan selama ini”
*****
Yaa teman-teman, setiap orang pasti punya masa kecilnya masing-masing. Kadang kita terlalu berfokus untuk ngebahagiain orang lain sampe kita lupa sama kebahagiaan sosok kita dari masa kecil. Inner child itu nyata temen-temen dan ada dalam diri kita. Dia juga lah yang megang andil besar dalam cara kita memperlakukan orang lain. Aku cuma bisa berharap, semoga kita semua bisa berdamai sama masa lalu kita masing-masing. Stay safe, dan sampein salam aku untuk inner child temen-temen, yaa!
See you next time!
-Khansa.
NIH REFERENSINYA:
Hamidah, K. (2021, Januari 8). KESADARAN INNER CHILD DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL DI KALANGAN SANTRI PONDOK PESANTREN ANNASYIAH AL-JADIDAH. http://digilib.uinsby.ac.id/46075/2/Khosyi%27atul%20Hamidah_B75217085.pdf
Sembiring, R. (2020, Agustus 8). Apa Itu Inner Child: Cara Mengenal Bagian Diri Lebih Dalam dengan Melihat Masa Lalu. satupersen.net. https://satupersen.net/blog/inner-child-mengenal-bagian-diri-lebih-dalam
Widyaningrum, A. (2020, Juli 1). MengAnalisa - Sosok Kecil yang Kadang Kita Tidak Sadari Terbawa Sampai Dewasa. https://www.youtube.com/watch?v=hfjNAhmhXUg
#Walkman’s Mind Ep.4 “Jok Motor”
Enjoy “Jok Motor” by audio
Author: Khansa Nisrina @otheanao
Seri: #Walkman’s Mind - Fiksi Mini
-Ini cerita tentang jok motor, yang selalu jadi saksi bisu dari banyak cerita di perjalanan
Bagiku, jok adalah pelancong sejati. Bagaimana bisa sebuah benda mati berkelana keliling dunia. Dia sudah mengenal banyak sekali wajah dan cerita. Mungkin juga derita dan asmara. Aku penasaran seberapa banyak cerita yang akan ia ceritakan saat sudah pensiun nanti.
Aku ingin berterima kasih padanya karena telah mengajarkanku banyak hal. Di atas jok motor, ide berterbangan dengan liar mengajakku berbicara dalam lamunan malam. Di atas jok motor, aku terperangkap dengan siapa saja yang menemaniku di perjalanan. Akan jadi senang bila orangnya asik. Akan jadi runyam bila salah dengar karena angin yang berisik. Di atas jok motor, aku bisa menangis tanpa harus menghiraukan perhatian palsu yang hanya buat hati makin teriris. Di atas jok motor, aku dapat menyaksikan tontonan gratis hanya dengan memainkan bola mata ke kanan dan ke kiri.
Kadang aku suka menyebut jok motor dengan sebagai mini cafe. Meskipun tidak mewah dan ber-ac, disini lah topik-topik baru bermunculan. Kamu tidak perlu mengenal siapa supir atau penumpangmu terlebih dahulu karena jok motor lah yang akan membuka obrolan. Bukan wifi dan akses internet yang disediakan, tetapi petualangan ke tempat yang mungkin- atau tidak mungkin kamu datangi sebelumnya. Minusnya cuma satu. Kamu tidak bisa menjamu hidungnu dengan aroma kopi yang menenangkan. Namun, justru itulah menariknya. Kamu tidak akan pernah tau aroma apa yang kamu hirup. Bisa bau asap, bau pasar, bau amis dan anyir, tetapi kadang juga bisa wangi sama sekali.
#Medinao Ep.1 “ANALOGI KOMEDI PUTAR BUAT KITA YANG SUSAH MEMAFKAN DIRI SENDIRI”
Author: Khansa Nisrina @otheanao Seri: #Medinao (Medium Otheanao)
Kamu pernah gak, ada di posisi sebel banget sama diri sendiri?
Rasanya, susah banget untuk menerima keadaan diri yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kita seolah-olah ada dalam komedi putar yang entah kapan selesainya. Naik-turun di titik yang sama berulang kali seolah membuat kita lupa bahwa di depan kita masih ada jalan yang panjang.
Kalo kamu pernah ngerasain ada di dalam “komedi putar” tadi, berarti kamu sedang - atau sudah melewati beberapa tahap dalam memaafkan. Loh kenapa sih, kok “komedi putar” bisa jadi tahap memaafkan?
Untuk menjawabnya, disini aku pengen ajak kamu untuk naik “komedi putar” bareng. Saat kita masih di bawah, kita ga tahu apa yang akan kita lihat di atas sana, simple-nya, we have nothing to expect.
Saat kita naik ke 90 derajat pertama, pemandangan mulai bertambah, kita bisa lihat sebagian wilayah di sekitar wahana dengan perasaan senang dan excited. Setelah itu, kita naik ke 90 derajat berikutnya. Sekarang kita ada di titik puncak nih. Let’s say misalkan kamu takut ketinggian. Loh kok yang sebelumnya (di 90 derajat pertama) fun, malah (di titik puncak) jadi menyeramkan? Rasanya pengen cepet-cepet balik ke titik semula.
Setelah sampai ke titik semula, kita lega karena kita masih selamat dari ketinggian tadi. Nah, disini lah emosi kamu naik turun secara bertahap. Dari yang awalnya bingung, excited, takut, sampai akhirnya lega.
Emosi kita waktu naik komedi putar ini, sama kayak memaafkan, yang punya beberapa tahap dan fase: 1. Fase Mengungkap (uncovering): Disini kita mengungkapan kemarahan dan kekecewaan terhadap diri sendiri. Kita juga sadar bahwa telah mengingat peristiwa menyakitkan ini secara berulang kali.
2. Fase memutuskan (decision) Kita pada akhirnya telah mengeluarkan emosi-emosi yang selama ini mengganggu dan mulai memperlihatkan datangnya perubahan dalam hati. Kita mulai mempertimbangkan untuk memaafkan diri sendiri.
3. Fase Bekerja/proses (work)
Kita mulai menganggap bahwa penerimaan rasa sakit adalah makna sesugguhnya dalam memaafkan luka yang dialami.
4. Fase hasil (deepening) Terakhir, kita mulai menyadari lahirnya tujuan baru dalam hidup yang sebelumnya sudah lama hilang. The good news is, pada akhirnya kita memutuskan untuk move on deh. Congrats!
Ada di posisi komedi putar tadi emang gaenak banget yaa. Tapi ternyata, jika kita mau untuk melihat perspektif yang lebih positif dan berani merealisasikannya, kita bisa dapat pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Last but not least, selamat berpetualang dalam komedi putar kalian yaa!
SUMBER REFERENSI:
Salama, N. (2012). Memaafkan sebagai upaya psikoterapi (makna dan proses memaafkan menurut perspektif korban) https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/3993/1/Nadia-Memaafkan_2012.pdf
#Anaknya RaPoSa Ep.2 “BARITONE PIPE”
Mix by otheanao (Khansa Nisrina)
Illustration by otheanao (Khansa Nisrina)
Loop and Software : GarageBand
TEKS PIDATO “Peran Generasi Muda dalam Keberlangsungan Lingkungan”
Author: otheanao (Khansa Nisrina P)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om Swastyastu. Namo Buddhaya. Salam Kebajikan. Puji dan syukur kita panjatkan kepada Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kesempatan yang Ia berikan, kita dapat berkumpul dalam kuliah siang ini dengan keadaan sehat dan sentosa. Teman-teman sekalian, pada siang ini, izinkan saya untuk menyampaikan pidato dengan tema “Peran Generasi Muda dalam Keberlangsungan Lingkungan”.
Saat ini kita menyandang status sebagai mahasiswa. Kita sama-sama tahu bahwa mahasiswa berperan sebagai agent of change atau pembawa perubahan. Untuk berhasil merubah masyarakat, kita harus bisa menjadi role model atau teladan yang baik. Kita harus tanamkan terlebih dahulu moral yang baik ke dalam diri kita sendiri agar pengetahuan, ide, dan keterampilan yang kita miliki, dapat dijadikan modal untuk menarik simpati masyarakat.
Moral yang perlu kita tanamkan, tidak melulu terpaku pada moral antar manusia saja. Sebagai pemimpin di muka bumi, kita harus bisa menjaga kesinambungan yang baik dengan alam agar tercipta keseimbangan pada lingkungan hayati.
Pada dasarnya, hewan dan tumbuhan tidak pernah gagal mengerjakan tugasnya menjaga alam dengan baik. Apapun yang mereka lakukan berdasar pada insting tanpa memikirkan keuntungan. Sebaliknya, manusia seringkali egois, apatis dan terlalu oportunis. Menurut data Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah pada tahun 2020 yang ditinjau oleh Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, terdapat 32,737,776.50 ton sampah dari total 265 kabupaten se-Indonesia. Dari jumlah berikut ternyata masih terdapat 40,62% sampah yang tidak terkelola. Hal ini secara tidak langsung menjadi bukti keegoisan dan keapatisan manusia.
Kenapa disini saya bilang sampah bisa dijadikan bukti keegoisan? Pada dasarnya, manusia sebagai konsumen pasti akan memilih pilihan yang paling menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun dari segi kegunaannya, tanpa memperdulikan bagaimana barang itu dibuat, berapa lama masa pakainya dan bagaimana jika barang itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Tanpa pemikiran kritis dan visioner terhadap barang yang akan kita beli, membuat kita lebih mudah tergiur untuk membeli barang-barang lainnya demi memuaskan gaya hidup semata. Misalnya, kita mudah sekali tergoda rayuan manis dari industri fast fashion seperti H&m dan Zara yang menawarkan konsep ready to wear dengan desain yang terbaru serta harga yang terjangkau.
Menurut data dari fastcompany.com, industri pakaian berada pada tingkat ke-2 sebagai industri yang paling merusak lingkungan. Penggunaan pewarna kimia beracun serta bahan poliester yang berasal dari plastik membuat industri ini menyumbang setidaknya sepuluh persen dari kerusakan bumi. Jumlah ini bisa saja bertambah jika mempertimbangkan limbah-limbah pakaian bekas di seluruh dunia. Hanya di Inggris saja, jumlah pakaian bekas yang akan ditimbun pada tahun 2016 mencapai 300.000 ton. Tingginya volume sampah yang tidak terkelola dengan baik membawa beberapa dampak negatif seperti gangguan kesehatan, penurunan kualitas lingkungan- yang akan berdampak pada keberlangsungan satwa liar, dan terhambatnya pembangunan negara.
Isu-isu lingkungan di atas sebenarnya bisa saja terkendali jika ada yang berani membawa perubahan. Disinilah generasi muda wajib mengambil peran. Kita bisa mulai dengan hal kecil seperti menerapkan filosofi pengelolaan sampah dimana kita benar2 menyeleksi barang apa yang akan kita gunakan sehingga sampah atau limbah dapat berkurang, kemudian kita juga bisa mulai mencari akses pengelolaan sampah yang dekat dengan tempat tinggal agar dapat lebih mudah dan lebih baik pengelolaannya. Kita juga bisa mulai memisahkan limbah organik untuk dijadikan sebagai pupuk alami.
Teman-teman, berikut pidato yang sampaikan. Ingat selalu bahwa kita merupakan ujung tombak keberlangsungan ekosistem di masa depan. Tanamkan pola pikir bahwa menjaga kebersihan lingkungan sama dengan memelihara kehidupan. Jangan demi keuntungan, keseimbangan ekosistem pun melayang. Jika tidak lahir perubahan, tinggal menunggu waktu umat manusia jadi tinggal kenangan. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. wassalamualaikum wr wb
SUMBER REFERENSI:
Azmi, N. (2017). STRATEGI HUMAS BALAI BESAR KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM (KSDA) RIAU DALAM MENANGGULANGI KEPUNAHAN SATWA LIAR DI PROVINSI RIAU (Studi Kasus Kabupaten Bengkalis Kecamatan Pinggir Desa Balai Raja) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Dewi, A. I. A. K., & Resen, M. G. S. K. UPAYA PEMERINTAH MELESTARIKAN KEBERADAAN SATWA LANGKA YANG DILINDUNGI DARI KEPUNAHAN DI INDONESIA.
Leman, F. M., Soelityowati, J. P., & Purnomo, J. (2020). Dampak Fast fashion terhadap lingkungan. In Seminar nasional envisi 2020: Industri kreatif.
Marliani, N. (2015). Pemanfaatan limbah rumah tangga (sampah anorganik) sebagai bentuk implementasi dari pendidikan lingkungan hidup. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 4(2).
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.). Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah. Retrieved from https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/
#AduMata Ep.1
“Euphorium”
Infografis by: Otheanao (Khansa Nisrina)
Software: Canva
SUMBER REFERENSI:
Baylor University. (2012, Oktober 27). Beautiful Colorado - Euphonium Solo. https://youtu.be/kjvuYlNLLtY
Universitas Krisnadwipayana. (n.d.). Eufonium. Retrieved Oktober 22, 2021, from https://p2k.unkris.ac.id/id6/3065-2962/Eufonium_115220_p2k-unkris.html
#Balihothe Ep. 4 “Pengoptimalan Aplikasi PeduliLindungi di Era Pandemi dalam Perspektif Sosiologi”
Author: otheanao (Khansa Nisrina P)
SUMBER BERITA:
Dilansir dari Tempo.co dan Detikfinance - Gumilar Ekalaya, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta memastikan seluruh bioskop di Ibu Kota telah dibuka kembali mulai hari ini. Seluruh bioskop baik itu XXI, CGV, maupun Cinepolis, sudah terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi.
Pembukaan bioskop diperuntukkan pada wilayah dengan status PPKM level 3 dan 2. Sementara untuk kapasitas maksimal pengunjung hanya boleh 50%. Syarat tertentu pun wajib dipatuhi bagi masyarakat yang ingin menonton bioskop di wilayah PPKM Level 3, yaitu wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan skrining terlebih dahulu.
Hal ini selaras dengan keputusan Gubernur DKI mengenai hanya diizinkannya pengunjung dengan kategori Hijau dalam PeduliLindungi yang boleh masuk ke bioskop. Pengunjung di bawah usia dua belas tahun dilarang masuk. Setelah melakukan scan barcode di aplikasi PeduliLindungi, berarti pengunjung diizinkan masuk ke dalam ruang publik. Namun, tetap dengan menyesuaikan kebijakan dari pengelola tempat.
Mengutip informasi dari Covid19.go.id, jika warna hijau muncul pada aplikasi PeduliLindungi berarti orang tersebut aman alias bisa melanjutkan aktivitas di dalam ruang publik. Selain itu, warna hijau juga menunjukkan seseorang sudah divaksin dua kali.
…..
Menurut saya, kesinambungan antara para stakeholder yang berperan merupakan kajian dari salah satu perspektif sosiologi, yaitu perspektif struktual fungsionalis, gagasan Emile Durkheim. Dalam perspektif ini masyarakat ataupun individu yang menjadi komponen dari struktur sosial tidak lagi dilihat melalui kacamata biologis yang terdiri dari organ dan banyak sel tetapi sebagai individu yang menduduki status atau posisi dalam suatu struktur sosial. Dijelaskan bahwa setiap unsur masyarakat memiliki fungsi yang saling berkaitan dan akan berdampak pada unsur lainnya. Dengan artian lain, setiap unsur masyarakat dinilai sebagai struktur sosial yang terdiri dari hubungan kompleks yang masing-masingnya menjadi bagian dari suatu jaringan hubungan sosial yang lebih luas. Tujuan dari kajian perspektif struktural fungsionalisme ini adalah untuk membangun suatu sistem sosial melalui pengajian terhadap pola hubungan antar objek sosiologi seperti individu dan juga kelompok.
Dalam sistematikanya, Comte membedakan antara sosiologi statis dan juga sosiologi dinamis. Dalam sosiologi statis, perhatian terpusat pada hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat itu sendiri. Unit sosial bukanlah suatu individu, melainkan keluarga yang terikat dengan rasa simpati. Namun, agar suatu masyarakat bisa lebih berkembang, simpati harus dikelola dengan baik melalui pembagian kerja atau kooperasi. Berarti dalam hal ini, secara tidak langsung, setiap komponen masyarakat atau pemangku kepentingan yang terlibat harus memiliki rasa simpati dan rasa keterikatan antara satu sama lain. Kemudian dari rasa simpati itulah, masing-masing objek mulai belajar untuk bisa kooperatif dalam mematuhi pembagian kerja yang ada.
Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mempertimbangkan berbagai aspek dan sudut pandang tentang pengelolaan bioskop di masa pandemi. Pertimbangan harus dilakukan secara mendalam bukan mendasar. Pemerintah harus bisa kritis dan solutif dalam menjawab keresahan yang ada. Apakah ini merupakan hal yang krusial, bagaimana dampak yang akan ditimbulkan atau bahkan siapa sebenernya pihak yang paling diuntungkan maupun dirugikan merupakan salah satu dari sekian banyaknya pertanyaan yang harus ditimbang kejelasannya.
Kebijakan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah kemudian diolah data, informasi dan pesan-pesannya menjadi sedemikian rupa oleh Pers. Pers sebagai wahana komunikasi massa bertanggung jawab untuk menyuguhkan informasi yang kredibel dan dan dapat dipercaya untuk kemudian layak dikonsumsi oleh publik.
Kebijakan dan sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan pers belum bisa dikatakan berhasil tanpa adanya kesinambungan dengan pihak mall sebagai pengelola bioskop. Apa yang ditetapkan oleh pemerintah dan apa yang diinformasikan oleh pers harus terimplementasikan dengan baik oleh pihak mall demi menghindari salah konsepsi publik terhadap kebijakan dan peraturan yang ada. Sebaliknya, masyarakat berperan penting untuk mematuhi kaidah berperilaku di tempat umum, sebagaimana kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa masing-masing komponen memiliki status dan fungsi yang sama pentingnya untuk berkontribusi dalam mewujudkan tujuan bersama, yaitu pembukaan kembali bioskop di tengah pandemi.
Menariknya, penggunaan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk mall, dapat juga kita kaji melalui perspektif sosiologi modern lainnya, yaitu perspektif evolusioner. Menurut Augeste Comte (1798-1857) dan Herbert Spencer (1820 - 1903), perspektif evolusioner menggambarkan bagaimana masyarakat tumbuh dan berkembang. Secara garis besar, perpektif evolusionis ini membandingkan keadaan masyarakat di zaman dahulu, sekarang serta memprediksi keadaan masyarakat di masa mendatang.
Tentunya, pandemi membawa perubahan yang signifikan dari berbagai macam aspek kehidupan. Aspek sosial pun tidak luput terdampak oleh pandemic covid-19 ini. Seperti contohnya, pada kasus pembukaan kembali bioskop di tahun 2021. Jika kita kilas balik mengenai sejarah zaman dahulu bioskop di Indonesia, pertama kali hadir di rumah Schwarz yang kemudian menjadi cikal bakal bioskop pertama di Indonesia bernama The Rojal Bioscope. Pada saat itu, tiket pertunjukan dibagi menjadi tiga kelas guna mensiasati hanya kalangan tertentu saja yang bisa membayar harga tiket untuk kelas satu dan kelas dua. Namun dalam perkembangannya, jumlah bioskop di Indonesia semakin bertambah. Dihilangkannya perbedaan kelas dalam pemutaran film membuat semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati menonton secara langsung di bioskop.
Sayangnya, pandemi membuat banyaknya jumlah bioskop di Indonesia tadi harus ditutup sementara. Sebelum tahun 2019, dimana pandemi covid-19 belum masuk ke Indonesia, siapapun boleh mengunjungi bioskop tanpa adanya keharusan untuk mematuhi protokol atau peraturan khusus yang berlaku. Semua orang diperbolehkan untuk makan di dalam bioskop dengan keadaan ruang pemutaran film berkapasitas penuh. Namun, menurut berita berikut yang dikutip dari Tempo.co dan Detikfinance, di tahun 2021 ini, masyarakat dihimbau untuk mengikuti protokol yang berlaku demi mencegah droplet tersebar di dalam ruang bioskop. Beberapa protokol yang harus dipatuhi yaitu wilayah bioskop merupakan wilayah PPKM level 3 dan 2, kapasitas pengunjung bioskop tidak lebih dari 50%, dan yang paling penting adalah lolos uji skrining warna hijau di aplikasi PeduliLindungi.
Dalam hal berikut, dapat kita simpulkan bahwa masyarakat merupakan objek yang terus tumbuh dan berkembang mengikuti keadaan social yang berlaku. Jika suatu masyarakat, terus mempertahankan cara yang lama tanpa bisa beradaptasi dengan perkembangan yang ada, masyarakat tersebut terancam tidak bisa bertahan di masa depan. Jika kita ambil contoh dari situasi pandemi ini, pembukaan kembali bioskop hanya akan membuka peluang bagi penyebaran virus dan naiknya angka penderita covid-19 jika dilakukan tanpa protokol yang menyesuaikan seperti memakai masker dan terindikasi hijau pada aplikasi PeduliLindugi.
SUMBER REFERENSI:
Prireza, A. (2021, September 16). Dinas Pariwisata DKI Memastikan Seluruh Bioskop di Jakarta Hari Ini Boleh Buka. Retrieved September 17, 2021, from tempo.co: https://metro.tempo.co/read/1506908/dinas-pariwisata-dki-memastikan-seluruh-bioskop-di-jakarta-hari-ini-boleh-buka/full&view=ok
Hikam, H. A. (2021, September 17). Nggak Bisa Lenggang Kangkung Masuk Bioskop, Cek Dulu Nih Aturannya. Retrieved September 17, 2021, from detikfinance:
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5728153/nggak-bisa-lenggang-kangkung-masuk-bioskop-cek-dulu-nih-aturannya/1
Marzali, A. (n.d.). Konsep dan Struktur Sosial. Retrieved September 18, 2021, from Universitas Indonesia Journals: http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/viewFile/3314/2601
Soekanto, S., & Sulistyowati, B. (2015). Sosiologi Suatu Pengantar. Depok: PT RajaGrafindo Persada.
Sidi, P. (2014). Krisis Karakter Dalam Perspektif Teori Struktural Fungsional. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi .
Ardiyanti, H. (2017, Juni 30). PERFILMAN INDONESIA: PERKEMBANGAN DAN KEBIJAKAN, SEBUAH TELAAH DARI PERSPEKTIF INDUSTRI BUDAYA (CINEMA IN INDONESIA: HISTORY AND GOVERMENT REGULATION, A CULTURAL INDUSTRY PERSPECTIVE). Retrieved September 18, 2021, from jurnal.dpr.go.id: https://jurnal.dpr.go.id/index.php/kajian/article/view/1521/789
#Walkman’s Mind Ep.3 “Bunda Bulan”
Author: Khansa Nisrina @otheanao
Seri: #Walkman’s Mind - Fiksi Mini
#Balihothe Ep. 3 “Kepekaan Pemerintah dalam Berempati Melalui Komunikasi Krisis Sebagai Kunci Menghadapi Pandemi”
Author: otheanao (Khansa Nisrina P)
Komunikasi krisis memegang peranan vital bagi seluruh kegiatan manajemen krisis dimana stakeholder dinilai kesanggupannya dalam mengahadapi suatu keadaan. Komunikasi krisis acap kali dijadikan sebagai “riasan” berbagai lembaga untuk melindungi reputasinya. Namun, bagi stakeholder setingkat pemerintah yang bertanggung jawab atas keamanan rakyat, komunikasi ini bukan lagi digunakan sebagai tameng, melainkan sarana berdialog antara pemerintah kepada publik untuk memberikan arahan di tengah krisis yang terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Fearn-Banks (2002:2), dimana komunikasi krisis merupakan dialog yang terjadi antara perusahaan dan publik saat sebelum dan setelah krisis. Komunikasi krisis secara umum juga diilustrasikan oleh Wasesa (2005:164) sebagai strategi mengkomunikasikan apa yang ingin dikatakan dan dilakukan organisasi dalam merespon krisis.
Penggunaan komunikasi krisis yang dilakukan pemerintah, meningkat intensitasnya setelah munculnya pandemi Covid-19. Komunikasi krisis merupakan bagian krusial dalam manajemen krisis seperti yang sempat disinggung oleh sejumlah ahli seperti Coombs (dikutip Kyhn, 2008) bahwa komunikasi krisis merupakan “darah kehidupan” dari kegiatan manajemen krisis secara keseluruhan.
“Tahapan prakrisis” dimulai saat terdeteksinya situasi yang serius. Meskipun masih pada tahap awal, situasi ini harus mendapat tindakan pencegahan sebelum berkembang menjadi lebih besar. Pada tahap ini, kesiapan dalam manghadapi krisis menjadi faktor yang penting. Pemangku kepentingan dianjurkan untuk menyamakan persepsi internal tentang krisis yang terjadi.
Tahapan selanjutnya adalah “tahapan krisis”. Tahap ini akan terjadi ketika organisasi gagal melakukan manajemen internal dengan baik sehingga permasalahan dapat diketahui pihak eksternal. Langkah terbaik yang dapat dilakukan dalam tahap ini adalah meminimalisir akibat krisis dengan menjamin publik sebagai fokus utamanya. Organisasi atau pemerintah berkewajiban untuk menunjukkan keseriusannya dalam mengatasi krisis.
Tahapan terakhir yaitu “tahapan pascakrisis”. Dalam tahap ini, organisasi berupaya untuk memulihkan citranya dengan mencoba kembali normal akibat krisis (recovery) (Wasesa, 2006).
Secara garis besar, kesadaran Pemerintah Republik Indonesia tentang pentingnya komunikasi krisis di era pandemi, bisa disimpulkan cukup baik. Pemerintah telah memperhatikan tiga prinsip utama dalam komunikasi krisis, yakni: menyampaikan pesan dengan cepat, konsisten, dan terbuka (Coombs, 2006). Kebijakan terkait pandemi juga dipoles sedemikian rupa dengan memperhalus kata “lockdown” atau “karantina” menjadi istilah lain yang lebih bersahabat seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Pemerintah juga telah menetapkan aturan legal yang mencakup pelaksanaan komunikasi krisis. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Komunikasi Krisis di Lingkungan Instansi Pemerintah menyebutkan bahwa terdapat beberapa kunci keberhasilan komunikasi krisis di lingkungan instansi pemerintah yaitu interaksi awal, komposisi tim komunikasi krisis, pengetahuan dan penguasaan dalam krisis.
Sayangnya, beberapa poin dalam aturan legal tersebut masih belum digunakan secara efektif oleh pemerintah. Informasi mengenai perkembangan wabah yang terjadi di China dan negara lainnya memang disajikan oleh pemerintah, tetapi masih minim sekali informasi dan edukasi yang diberikan kepada publik mengenai pentingnya mencegah penularan virus khususnya sebelum kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Ditetapkannya wabah ini menjadi “Darurat Kesehatan Publik Internasional dari Kepedulian Internasional (PHEIC)” oleh WHO pada tanggal 30 Januari 2020 seharusnya bisa dijadikan indikasi bahwa virus ini tak pandang bulu dalam memangsa korbannya. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat kepekaan pemerintah terhadap sense of crisis.
Dilansir dari Kompas.com dari CNN dan Aljazeera menggambarkan timeline wabah virus corona sejak pertama teridentifikasi di Wuhan, yakni 31 Desember 2019 Kasus pneumonia dilaporkan di Wuhan, virus belum diidentifikasi. Tanggal 16 Januari 2020 hingga 14 Februari 2020 Jepang, Washington, Filipina, Perancis, dan Mesir mengonfirmasi kasus Covid-19 di negaranya masing-masing. Kemudian tanggal 2 Maret 2020 Pemerintah Indonesia barulah mengumumkan secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia.
Pemerintah RI memang secara resmi membuat tim khusus dan jubir corona. Namun masih banyak oknum pejabat publik yang blunder dan seolah menutup mata tentang kemungkinan wabah ini masuk ke Indonesia. Bukannya mengedukasi, para oknum justru berkelakar dengan mengeluarkan pernyataan kontroversial yang tidak bisa dibuktikan kredibilitasnya. Tidak efektifnya pelaksanaan “One Gate Communication” berdampak pada kebimbangan masyarakat mengenai siapa yang harus dipercaya dan dijadikan ‘‘patokan’ dalam menghadapi pandemi. Kerisauan masyarakat semakin menjadi karena kurangnya empati dan respect yang ditunjukkan pemerintah melalui komunikasi krisis di era pandemi ini.
Di masa pandemi ini, masyarakat memang membutuhkan figur pemerintah yang bisa memberikan rasa aman kepada mereka. Namun pemerintah juga harus bisa memberikan rasa empati serta rasa hormat terhadap krisis yang terjadi. Rasa aman tidak melulu berwujud perlindungan. Terkadang rasa aman justru lahir dari empati kawan sepenanggungan. Sejalan dengan Rogers, Gallo (1989) menyatakan bahwa sebuah respons empatik juga dapat dipahami sebagai pemahaman yang intim bahwa perasaan, pikiran dan motif seseorang dimengerti oleh orang lain.
Keterbukaan dan transparansi informasi juga menjadi faktor penting dalam mengontrol kepanikan publik. Pemerintah yang apa adanya dan peduli pada krisis yang terjadi, -dalam hal ini Covid-19, secara tidak langsung dapat membangun sikap proaktif serta kepatuhan masyarakat dalam upaya menanggulangi pandemi. Disinilah komunikasi krisis menjadi senjata untuk mengatasi rasa cemas akibat pandemi. Apabila sedari awal, pemerintah memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap sense of crisis yang tinggi, perencanaan selanjutnya dapat lebih terencana. Kemudian, rakyat mempunyai gambaran yang jauh lebih jelas mengenai pandemi yang terjadi, serta dapat mempersiapkan diri sebelum virus tersebut benar-benar datang ke dalam negeri. Seperti kata sejarawan John Berry bahwa “Imajinasi terhadap suatu hal yang tidak kita ketahui akan jauh lebih menyeramkan dibanding menghadapi sesuatu yang ada di depan mata”.
SUMBER REFERENSI:
Silvani, I., Perdede, I., & Sembiring, D. (2020). KOMUNIKASI KRISIS DALAM NEW NORMAL . KOMUNIKASI KRISIS DALAM NEW NORMAL , 85.
Prastya, N. M. (2011 йил Oktober). Komunikasi Krisis di Era New Media dan Social Media. Jurnal komunikasi Jurnal komunikasi, ISSN 1907-898X Volume 6, Nomor 1, Oktober 2011 , 5-19.
Repository Muhammadiyah of Ponorogo. (n.d.). From eprints.umpo.ac.id: http://eprints.umpo.ac.id/5911/3/BAB%202.pdf
UMM Institutional Repository. (n.d.). From eprints.umm.ac.id: https://eprints.umm.ac.id/37076/3/jiptummpp-gdl-fairussafi-50602-3-bab2.pdf
Akhyar , D. M., & Pratiwi, A. S. (2019). Media Sosial dan Komunikasi Krisis: . Pelajaran dari Industri Telekomunikasi di Indonesia , 37-52.
Putri , G. G. (2021 йил 24-03). Corona Sudah Beredar 2 Bulan Sebelum Kasus Pertama Wuhan Dilaporkan . From Kompas.com: https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/24/080300423/corona-sudah-beredar-2-bulan-sebelum-kasus-pertama-wuhan-dilaporkan?page=all
Arnani, M. (2020 йил 12-Maret). Timeline Wabah Virus Corona, Terdeteksi pada Desember 2019 hingga Jadi Pandemi Global . From Kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/12/113008565/timeline-wabah-virus-corona-terdeteksi-pada-desember-2019-hingga-jadi?page=all
Kusmanto, A. S. (2011). EMPATI SEBAGAI SARANA UNTUK MEMPERKOKOH SIKAP PRO-SOSIAL PELAJAR .
#Anaknya RaPoSa Ep.1 “Brixton Sea Bass”
Mix by otheanao (Khansa Nisrina P)
Software: GarageBand
#Balihothe Ep. 2 “Melawan Xenosentrisme dengan Kemampuan Abad 21″
Author: otheanao (Khansa Nisrina P)
Perkembangan zaman di abad 21 memengaruhi banyak sektor yang ada di sekitarnya seperti ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Manusia sebagai promotor perkembangan zaman dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan pesatnya perubahan yang terjadi. Kemampuan dan keterampilan abad 21 mencakup beberapa hal seperti digital citizenship, kompetensi global, dan 4C (communication, collaborating, critical thinking, cerativity).
Sikap terbuka masyarkat suatu negeri terhadap dunia luar sangat mendukung pesatnya globalisasi. Namun, jika sikap terbuka tersebut tidak diiringi dengan pemahaman mengenai budaya dalam negeri, generasi muda terancam lebih mengagungkan budaya asing dibandingkan budaya sendiri atau yang biasa disebut xenosentrime.
Di bidang ekonomi, xenosentrisme dibahas secara lebih spesifik dengan sebutan consumer xenosentrism. Consumer xenocentrism menurut Mueller and Broderic (2010) adalah suatu orientasi di mana seseorang lebih menyukai produk dari negara lain ketimbang dari negeri sendiri dan menganggap produk dari negara lain lebih baik ketimbang produk dari negeri sendiri. Hal ini seringkali dinilai sebagai peluang bagi negara maju untuk membuka pasar di negara berkembang yang terkena pengaruh xenosentrisme-nya. Seperti contohnya, para content creatordari negeri ginseng yang menjadikan Indonesia sebagai target pasar utama karena besarnya antusiasme generasi muda terhadap Korean wave. Content creator tersebut antara lain Korea Reomit, Sunnydahyein, Han Yoo Ra, dan Bandung Oppa.
Menjamurnya para content creator asal Korea Selatan di tanah air bisa menjadi jembatan antar dua negara, khususnya saat terjadi suatu konflik atau kesalahpahaman seperti pada kasus “MBC yang menyediakan konten tidak relevan saat Olimpiade Tokyo 2020”, “Pemuda Korea rasis menghina Indonesia”, dan “Via Vallen jiplak video musik penyanyi Korea”. Disini, mereka memiliki peranan sebagai pihak yang mendistribusikan informasi serta sebagai ‘wakil’ yang menyampaikan perspektif masyarakat Korea Selatan secara umum terhadap masalah yang terjadi.
Sayangnya, beberapa dari content creator tersebut, hanya menjadikan masyarakat Indonesia sebagai batu loncatan saja dengan menyajikan konten pencitraan yang dikemas dengan hiburan seperti “Reaksi Orang Korea Makan Snack Indonesia”, “Aku Orang Korea tapi Cinta Indonesia” atau “Cewek Korea Nyoba Puasa Sehari” tanpa mau ambil andil terhadap isu yang terjadi antar dua negara. Namun, yang menjadi ironi sebenarnya adalah reaksi masyarakat kita yang terlalu bangga saat budayanya dikenal oleh negara lain yang dianggap lebih baik, dalam kasus ini Korea Selatan. Lantas, mengagungkan negara tersebut karena terlihat baik dan simpatik. Padahal di lain sisi, pemikiran xenosentris ini justru dimanfaatkan oleh negara asing untuk ‘memperluas pasar’ di Indonesia yang dapat mengancam turunnya minat masyarakat terhadap produk lokal yang dianggap tidak bisa bersaing dengan produk internasional.
Maka dari itu, keterampilan abad 21 penting untuk dimiliki oleh generasi muda khususnya mahasiswa. Bersikap kritis dan berani mempelajari perbedaan di lingkup global, membiasakan diri untuk berdialog dan memahami bahwa setiap negara pada dasarnya tidak ada yang sempurna, serta tidak membiarkan ilmu memiliki batasan menjadikan kita generasi yang dapat berkolaborasi secara kreatif dan kompeten di dunia internasional.
SUMBER REFERENSI:
Roza, P. (2020 йил Agustus). Digital citizenship: menyiapkan generasi milenial menjadi warga negara demokratis di abad digital. Retrieved 2021 йил 18-Agustus from ResearchGate:https://www.researchgate.net/publication/345913736_Digital_citizenship_menyiapkan_generasi_milenial_menjadi_warga_negara_demokratis_di_abad_digital
Intan Pramudita, H. P. (2020 йил 15-Oktober). Studi Keterampilan Abad 21 Mahasiswa dalam Memilih Peminatan. Retrieved 2021 йил 10-Agustus from Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan: http://journal2.um.ac.id/index.php/jktp/article/view/16436/pdf
Zubaidah, S. (2016 йил 10-Desember). Keterampilan abad ke-21: Keterampilan yang diajarkan melalui pembelajaran. Retrieved 2021 йил 18-Agustus from Google Scholar: https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=IpsUUUIAAAAJ&citation_for_view=IpsUUUIAAAAJ:Xl6nMSl579sC
Irawan, L. (n.d.). XENOCENTRISM : PERILAKU PEMBELIAN KONSUMEN INDONESIA PADA PRODUK ASING DI ERA PERDAGANGAN BEBAS. From adoc.pub: • http://ircmb.org/jurnal/Novita%20%20XENOCENTRISM%20PERILAKU%20PEMBELIAN%20KONSUMEN%20INDONESIA%20PADA%20PRODUK%20ASING%20DI%20ERA%20PERDAGANGAN%20BEBAS.pdf