Memilih lingkungan yang baik adalah keharusan bagi penuntut ilmu.
Sering kali kita terdorong melakukan suatu hal karena melihat lingkungan kita melakukan hal demikian. Jika tidak selektif memilih lingkungan bergaul, maka konsekuensinya adalah kita akan lebih mudah terbawa arus. Jika lingkungan itu 'bebas' maka maksiat akan dianggap biasa, sehingga kita bahkan merasa suatu maksiat bukanlah dosa karena semua orang melakukannya.
Misalnya, yang paling umum dalam masyarakat, mendengarkan musik dan menggunakan make up di muka umum bagi para wanita. Seseorang mendengarkan musik karena semua orang di lingkungan kita mendengarnya. Begitu pun wanita berdandan ketika keluar rumah saat hendak belajar ataupun bekerja, ia menganggap hal itu bukanlah dosa karena semua wanita di lingkungannya melakukan hal yang demikian. Bahkan, mengucapkan kata-kata umpatan menjadi bagian kehidupan sehari-hari karena dianggap bisa mempererat pertemanan. Dalam lingkungan seperti ini, tidak ada yang menjadi pengingat, tidak ada yang menegur kita saat melakukan maksiat yang dianggap sudah sangat biasa. Jika hati kita lemah, maka sangat rentan untuk terbawa arus dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam lingkungan ini.
Bandingkan saat kita berada di lingkungan yang benar-benar menerapkan sunnah. Musik sudah pasti menjadi aib bagi yang mendengarkannya. Para wanita akan merasa minder dan malu saat pakaiannya masih ketat dan tidak syar'i. Ucapan yang terdengar hanyalah hal-hal baik, saling mendoakan dan menasihati. Dalam lingkungan ini, ada rasa tanggung jawab terhadap perilaku kita karena kita merasa lebih 'diawasi', sehingga kesempatan untuk melakukan maksiat pun bisa lebih ditekan. Kita juga akan cenderung untuk berlomba dalam melakukan kebaikan, semakin giat menuntut ilmu agar tak tertinggal dalam pemahaman.
Lingkungan memiliki peran yang luar biasa dalam membentuk diri kita, juga dalam menjaga perilaku kita. Dua jenis lingkungan ini tak akan pernah bersatu padu. Bohonglah jika ada yang yang mengatakan 'saya bisa menyesuaikan diri di mana saja', karena hatinya pasti akan lebih condong ke salah satunya.
Kita tidak bisa berteman dengan siapa saja karena teman adalah cerminan diri seseorang. Kita dituntut untuk selektif memilih dengan siapa kita akan berteman, karena tidak ada yang bisa menjamin kecondongan hati kita. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita akan teguh dalam keimanan. Setidaknya, dengan memilih teman-teman yang baik, yang mengenal sunnah, kita akan memiliki benteng tambahan dalam menjaga iman kita. Akan ada yang menegur saat kita melakukan kesalahan, dan senantiasa membantu kita mengingat akhirat.









