La Takhaf, Allah Menemani Prosesmu
Secuil cerita mengenai diri yang terbelenggu oleh maksiat, mencoba bangkit ratusan kali tetapi tercebur lagi ribuan kali. Terlihat baik covernya, tetapi sesungguhnya ia luntang-lantung dalam mengejar istiqomahnya.
" Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan 'kami telah beriman', dan mereka tidak diuji?" -Q.S. Al-'Ankabut: 2
Ya, memanglah tak cukup bagi seorang hamba hanya dengan memproklamirkan keimanannya di hadapan Allah tanpa ada konsekuensi ujian setelahnya. Cobaan dan ujian di kemudian hari pasti ada, atau bahkan lebih berat untuk dihadapi. Allah ingin mengujimu apakah engkau benar adalah seorang hamba-Nya ataukah seorang hamba dunia. Allah-lah yang paling mengetahui isi hatimu.
Namun, yang pasti, entah ribuan kali engkau telah bermaksiat kepada-Nya, Allah dengan lemah lembut akan senantiasa memperingatkanmu untuk jangan berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya.
"Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.." Q.S. Az-Zumar: 53
"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan". (HR. At Tirmidzi no. 3537)
Dirangkulnya engkau dengan lemah lembut, seakan Allah sadar bahwa manusia memang adalah tempatnya salah. Dosamu boleh seluas samudera, tetapi ingatlah bahwa ampunan Tuhanmu akan seluas semesta. Masyallah. Entah berapa kali engkau telah bermaksiat kepada Allah, pintu taubat akan selalu terbuka bagimu.
"Termasuk (cara) hijrahnya ahli maksiat, adalah menggunakan taubat. Taubat meskipun pada akhirnya masih dikerjakan, taubat lagi, sampai pada akhirnya kadarnya menurun. Mudah-mudahan diwafatkan dalam keadaaan bertaubat dan tertulis sedang berjuang" -Ustad Adi Hidayat
Memang tak mudah bagi seorang manusia untuk menjaga konsistensi imannya yang kerap naik-turun, terutama bagi seseorang yang masih baru berhijrah. Namun, Allah selalu tahu jerih payahmu dan apa yang ada di hatimu. Innamal a'malu binniyat. Maka, berusahalah dengan bersungguh-sungguh, semoga Allah mencatatnya sebagai sebuah amal kebaikan bagimu.
Teringat pula oleh statement Mufti Menk, "Allah never ever judges you based on your sin, Allah judges you based on your repentance". Tidak peduli dengan dosamu di masa lalu, apabila kamu sungguh-sungguh bertaubat dan berusaha menjadi hamba yang lebih baik, Allah akan tutup dosa-dosa masa lalumu.
Subhanallah, sungguh besar ampunan Allah kepada hambanya.
"Iman itu bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan" -Ustad Khalid Basalamah
Janganlah kalah oleh kemungkaran yang ada di dalam dirimu. Perangi dirimu beserta nafs yang ada di dalamnya. Setiap kemaksiatan yang dilakukan akan menimbulkan titik hitam di hatimu yang kemudian mengeras dan menjauhkanmu dari Allah. Maka, setiap kali engkau tambah titik hitam di hatimu melalui maksiat yang kau lalui, seketika balaslah dengan ketataan yang kemudian kau jalani.
"Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri" -Ibnu Atha'ilah as-Sakandari dalam Al-Hikam
Tak mengapa, ketahuilah, kesadaranmu akan kemaksiatan sekaligus usahamu untuk merubahnya adalah pintu awal yang baik bagimu. Karena dengan itu, kau akan berusaha memperbaiki diri untuk mencapai ridho-Nya dan mencabut kemelekatan dunia yang selama ini kau terlena karenanya.
Bersyukurlah, Allah telah membuka mata hatimu, sekaligus telah memperkenalkan Diri-nya kepadamu. Tak semua orang mendapatkan kesempatan itu, dan tak semua orang peka akan hidayah tersebut.
Maka, tak perlu bersedih dikala hijrahmu. Tak perlu malu akan kesalahan yang berulang kali kau perbuat sehingga kau tak berani menghadap Allah lagi. Allah akan menemani proses hijrahmu, Allah akan senantiasa akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.