Barangkali kiamat tidak selalu dimulai dengan langit yang terbelah.
Kadang ia dimulai ketika manusia tak lagi merasa bersalah.
Dan dunia menyebutnya kemajuan.
Written by Aftansa
$LAYYYTER
Not today Justin
cherry valley forever

#extradirty
hello vonnie
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA

blake kathryn
Jules of Nature

izzy's playlists!

shark vs the universe
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay
One Nice Bug Per Day
Today's Document
RMH

@theartofmadeline
seen from United States

seen from Türkiye

seen from France
seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from India
seen from Bahamas
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador

seen from Singapore
seen from Honduras

seen from Ecuador

seen from Malaysia
seen from Malaysia
@queenitaa
Barangkali kiamat tidak selalu dimulai dengan langit yang terbelah.
Kadang ia dimulai ketika manusia tak lagi merasa bersalah.
Dan dunia menyebutnya kemajuan.
Written by Aftansa
Menemani seseorang bukan tentang memaksakan cara kita menyelesaikan masalah, melainkan memahami kapasitas dan variabel hidup yang mereka miliki.
Memahami manusia lain adalah proses menurunkan ekspektasi bahwa orang lain harus bersikap sesuai logika kita. Ketika kita berhenti mengukur kedalaman laut orang lain dengan jengkal tangan kita sendiri, di situlah kita baru benar-benar belajar hadir, bukan untuk menilai, melainkan untuk berjalan berdampingan sebagai sesama jiwa yang sedang bertumbuh.
Bukan dengan "Kalau aku jadi kamu..."
@clichemistry
"Engkau bisa memilih untuk menjadi seseorang yang setiap pilihannya mendekatkan dirinya pada misi pembebasan Al Aqsa"
-dlm buku Untukmu Generasi Shalahuddin.
NASIB ORANG YANG TERLALU SABAR
Aku menanam tabah
di halaman rumah.
Tetangga bilang,
“wah, pohonnya bagus.”
Mereka tidak tahu,
akar-akarnya tumbuh
memeluk kuburan luka.
2026
Jangan terlalu murah memberikan akses kepada siapa pun.
Tidak semua orang yang datang membawa niat baik. Ada yang hadir membawa ketulusan, tapi ada juga yang datang hanya untuk mencari celah, mengetahui kelemahanmu, membaca reaksimu, lalu perlahan mengambil kendali atas hidupmu.
Karena itu, berhentilah memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang baru singgah.
Kepercayaan bukan hadiah selamat datang. Ia adalah sesuatu yang harus dibangun lewat waktu, sikap, dan konsistensi.
Perhatikan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak membutuhkan apa pun darimu. Lihat bagaimana ia menghargai batasanmu. Karena karakter seseorang sering tampak bukan dari kata-kata manisnya, tapi dari caranya bersikap ketika tidak ada keuntungan yang bisa ia dapatkan.
Hati-hati dengan orang yang selalu membuatmu merasa harus menjelaskan diri. Sebab terkadang, semakin banyak kamu membela diri, semakin banyak celah yang kamu berikan untuk seseorang memelintir keadaan, memainkan perasaanmu, atau membuatmu meragukan dirimu sendiri.
Tidak semua hal harus diluruskan. Tidak semua tuduhan harus dijawab. Tidak semua orang harus diberi kesempatan untuk memahami sisi terdalam hidupmu. Kadang, diam bukan berarti kalah. Menjauh bukan berarti membenci. Membatasi akses bukan berarti kamu jahat. Itu hanya tanda bahwa kamu mulai menghargai dirimu sendiri.
Jangan terburu-buru menyerahkan seluruh cerita hidupmu kepada seseorang hanya karena ia terlihat peduli di awal. Banyak orang pandai menjadi tempat pulang sementara, tapi tidak semua mampu menjadi tempat menyimpan rahasia.
Ada cerita yang cukup menjadi milikmu. Ada luka yang cukup kamu sembuhkan sendiri. Ada bagian dari hidupmu yang hanya pantas diketahui oleh orang-orang yang sudah membuktikan bahwa mereka mampu menjaganya.
Karena tidak semua tangan yang ingin menggenggam, datang untuk menjaga. Ada yang hanya ingin tahu seberapa dalam lukamu, lalu menggunakan itu ketika mereka memiliki kesempatan.
Namun bukan berarti kamu harus menutup diri selamanya. Ketika seseorang hadir dengan ketulusan, menghargai batasanmu, dan menunjukkan kepedulian tanpa memaksa, belajarlah untuk membuka pintu perlahan.
Sebab manusia tetap membutuhkan manusia lain. Kita tetap membutuhkan tempat berbagi, orang yang menguatkan, dan hubungan yang sehat. Tapi jangan pernah menjadikan penerimaan orang lain sebagai ukuran harga dirimu.
Orang yang mengenal nilainya sendiri tidak mudah dikendalikan. Ia tidak haus validasi sampai rela kehilangan dirinya. Ia tidak memohon untuk dipilih sampai melupakan bahwa dirinya juga berhak memilih.
Pada akhirnya, menjaga diri bukan tentang menjadi dingin.
Ini tentang sadar bahwa dirimu berharga.
Dan sesuatu yang berharga tidak diberikan kepada sembarang orang.
Selain Ketidaktahuan Manusia Juga Takut Akan Ketidakpastian
Kalau esok kita sudah pasti tahu mau makan apa, pulang kerja jam berapa, saldo rekening cukup tidak sampai akhir bulan, dan kepastian lainya, mungkin kita akan santai dan tenang dalam menjalani kehidupan esok hari.
Lantas kalau sebagai seorang beriman, mengapa kita masih takut akan perkara-perkara jangka panjang yang pasti yang sudah dijanjikan oleh Allah --jodoh, rezeki setelah menikah, karier pekerjaan, dan segala pertanyaan tentang materi di dunia ini.
Padahal Allah telah memberikan kepastian bagi kita, dengan catatan kita mau berikhtiar dan menyandarkan hasil kepadanya.
"Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan" (An-Najm : 48)
Sebetulnya kita sudah sama-sama paham tentang konsep seperti ini sejak kecil (mungkin). Tapi entah mengapa rasanya tetap muncul rasa khawatir dalam beberapa momen mengenai kepastian yang sudah Allah berikan.
Setelah dewasa, saya menyadari kepastian --rezeki Allah yang tak pernah tahu kapan datangnya-- salah duanya hadir dari pengalaman ketika menghadapi musibah dan mempelajari kepastian-kepastian lain dari Allah --lewat firmaNya.
Menghadapi musibah memaksa untuk mengingat Allah lalu banyak beryukur dan lebih tahu tentang kepastian-kepastia membuat kita lebih semangat untuk berikhtiar.
Ketakutan wajar sekali datang apabila kita tidak tahu akan kepastian. Tapi kalau sudah tahu akan kepastian, harusnya lebih yakin. Kalau drop lagi di perjalanan --karena ragu dan takut-- ingatlah dua ayat ini :
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati selalu tenteram." (Ar-Ra'du :28) "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah : 216)
Kartasura, 21 Juli 2026.
يُغالِبُ الدُنيا بقَلبٍ رَقِيق 🤍
Saat sebuah lemari terasa sempit, sesak, dan penuh, yang harus dilakukan bukanlah menambah lemari baru. Melainkan mengosongkan lebih banyak ruang dari hal-hal yang tidak lagi penting di dalamnya.
tapi ini tak hanya tentang lemari.
Shalat lah dengan tenang, dunia ini tidak akan lari.
Shalat lah dengan tenang, kamu masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan masalahmu.
Shalat lah dengan tenang, jika dunia berhenti saat kamu sedang shalat, tidak akan ada ruginya bagimu.
Shalat lah dengan tenang, selesaikan dulu ibadahmu, tinggalkan sebentar dunia yang selalu memenuhi pikiranmu.
Padahal shalat hanya sebentar, namun sulit sekali untuk khusyuk'. kesuksesan apa yang sebenarnya sedang engkau kejar?
Asking for Allah’s forgiveness is more important than any other du’aa. Ibn Taymiyyah in جامع_المسائل ٦\٢٧٧ (via asifeq)
Kadang, hal paling rumit dalam perjalanan hidup kita adalah menyadari bahwa diri kita pun pernah menjadi luka bagi orang lain. Tanpa sengaja, dalam khilaf kata yang terlanjur atau sikap yang tergesa, kita kerap meretakkan perasaan sesama, lalu melupakannya begitu saja seolah tak pernah terjadi.
Namun, betapa tajamnya ingatan ini ketika peran itu berbalik. Saat diri kita yang tersenggol kekecewaan, kita mendadak teringat betapa pentingnya dihargai. Kita menuntut kehangatan dan pemahaman dari sekitar, seraya meyakini bahwa kita telah memberikan yang terbaik. Tanpa sadar, kita sering memakai dua timbangan yang berbeda: mengampuni kelemahan diri sendiri dengan alasan pemakluman, namun menuntut kesempurnaan dari orang lain.
Di sinilah ego sering kali menyamar dengan halus. Kita terjebak dalam anggapan bahwa kebaikan adalah sebuah transaksi "aku sudah berbuat baik, maka kamu harus membalasnya dengan cara yang sama." Padahal, ketika kebaikan bergantung pada balasan orang lain, jiwa kita akan selalu lelah ditagih oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.
Jika kita hendak belajar tentang kebaikan yang tidak rawan patah, tengoklah bagaimana Baginda Rasulullah memperlakukan manusia di sekitarnya.
Beliau tidak pernah menunggu orang lain bersikap santun untuk mulai melembutkan tutur katanya. Bahkan saat menerima pengabaian, cemooh, dan perlakuan yang jauh dari kata mulia dari mereka yang tak mengenali siapa beliau, respon yang keluar dari diri beliau tetaplah doa dan keanggunan sikap.
Beliau memanusiakan manusia bukan karena orang lain selalu pantas diperlakukan mulia, melainkan karena jiwa beliaulah yang terlalu mulia untuk membalas dengan keburukan yang sama. Kebaikan beliau adalah pendaran murni dari dalam dada, bukan sekadar reaksi atas perlakuan dunia.
Pada akhirnya, memanusiakan manusia adalah tentang belajar melapangkan dada.
Ini bukan tentang menuntut agar dunia berubah menjadi tempat yang ramah bagi kita, melainkan tentang keberanian untuk tetap menjaga kelembutan hati, siapa pun yang sedang berdiri di hadapan kita, dan bagaimanapun cara mereka memperlakukan kita.
A father carries his daughter during sujud (prostration) while praying so that she will not feel afraid if he leaves her.
orang baik
kalau di dunia ini saya bisa milih mau jadi orang apa, rasa-rasanya saya cuma pingin jadi orang baik. nggak perlu jadi orang hebat, nggak perlu jadi orang terkenal, nggak perlu jadi orang kaya raya, tapi harus jadi orang baik.
nggak mau nyakitin siapa-siapa. nggak pingin bikin orang benci sama saya. nggak mau ambil hak orang lain. sebisa mungkin melebihkan timbangan. sebisa mungkin memaafkan. sebisa mungkin memenuhi janji. sebisa mungkin mengalah.
susah. karena saya sering salah, sering lupa, nggak banyak tahu, dangkal banget pemahamannya. susah. karena mungkin saya belum punya kapasitas jadi orang baik, karena di mata orang lain, sesekali saya penjahatnya.
saya suka sekali sama kata-kata ini: di dunia yang kamu bisa menjadi apa saja, pilihlah untuk menjadi orang baik.