Mitsaqan Ghalizha: Janji Berat di Hadapan Allah
Akad nikah sering berlangsung singkat.
Beberapa kalimat diucapkan, saksi mengiyakan, doa dipanjatkan, keluarga tersenyum lega.
Namun di balik singkatnya lafaz itu, ada amanah yang panjang.
Pernikahan bukan sekadar hari bahagia yang dirayakan.
Bukan hanya busana, dokumentasi, undangan, dan ucapan selamat.
Ia adalah perjanjian yang kelak akan ditanya oleh Allah.
Allah menyebutnya dengan kalimat yang berat:
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain, dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”
(QS. An-Nisa: 21)
Kalimat ini menahan seorang mukmin agar tidak memandang rumah tangga dengan ringan.
Suami tidak mengambil istri sebagai milik yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Ia menerima amanah yang harus dijaga dengan takut kepada Allah.
Istri pun tidak memasuki ikatan itu untuk kehilangan kemuliaannya.
Ia masuk ke dalam rumah yang semestinya menjadi tempat penjagaan, rahmah, dan ketenangan.
Karena itu, pernikahan tidak cukup ditopang oleh rasa suka di awal.
Harapan bisa bertemu kenyataan yang tidak selalu sama.
Tabiat pasangan yang dahulu tampak kecil bisa terasa berat ketika dijalani setiap hari.
Di sana nilai sebuah akad diuji.
Bukan ketika semuanya mudah.
Melainkan ketika kecewa datang, lisan sedang ingin menang, dan hati sedang merasa paling terluka.
Janji yang kuat terlihat bukan hanya saat cinta terasa manis,
tetapi saat seseorang tetap menjaga adab ketika sedang tidak nyaman.
Maka jangan meremehkan kata-kata yang melukai.
Luka di rumah sering tidak terdengar oleh orang luar, tetapi Allah mengetahuinya.
Jangan mudah membuka aib pasangan demi mencari pembelaan.
Jangan menjadikan nafkah, kedudukan, atau kelebihan diri sebagai alat untuk merendahkan.
Jangan menggunakan diam sebagai hukuman yang memutus kasih sayang terlalu lama.
Jangan mengumpulkan kelemahan pasangan untuk dijadikan senjata ketika marah.
Sebab pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Ia manusia yang Allah hadirkan untuk diperlakukan dengan adil dan ihsan.
Ia teman perjalanan yang sama-sama membutuhkan ampunan Allah.
Rumah tangga tidak selalu lembut setiap hari.
Namun banyak pahala tersembunyi di dalamnya.
Pahala ketika menahan lisan dari kalimat yang bisa menghancurkan.
Pahala ketika meminta maaf meski gengsi masih terasa berat.
Pahala ketika tetap menunaikan hak, walau hati sedang belajar pulih.
Pahala ketika memilih memperbaiki, bukan membalas.
Pahala ketika mengingat bahwa Allah melihat apa yang terjadi di balik pintu rumah.
Untuk yang belum menikah, ayat ini mengajarkan agar tidak memasuki pernikahan hanya dengan bekal perasaan.
Siapkan iman, adab, tanggung jawab, dan kesiapan untuk belajar.
Untuk yang sudah menikah, ayat ini mengingatkan agar akad tidak hanya dikenang sebagai tanggal.
Ia perlu dihidupkan dalam cara berbicara, cara menafkahi, cara menghargai, cara meminta maaf, dan cara menyelesaikan luka.
Jika suatu hari rumah terasa berat, ingat kembali bahwa hubungan ini tidak dimulai dengan permainan.
Ada nama Allah yang disebut.
Ada keluarga yang menitipkan harapan.
Ada amanah yang harus dijaga.
Ada perjanjian yang kuat.
Maka rawatlah pernikahan dengan ilmu, sabar, dan takut kepada Allah.
Bukan karena pasangan selalu sempurna, tetapi karena akad itu berat di hadapan-Nya.
Ya Allah, berkahi rumah tangga kaum muslimin.
Jadikan pernikahan mereka tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Lembutkan hati suami dan istri dalam menjalankan amanah.
Jauhkan mereka dari zalim, khianat, dan keras hati.
Jadikan rumah mereka jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.