Aku rindu pada percakapan larut malam kita. kau akan membahas hal-hal yang lebih dalam bersamaku, hingga aku, atau kau, salah satu dari kita terlelap, terkadang bahkan hingga lewat berganti hari, lalu kita akan bersorak tiap kali jam menunjukkan hari telah berganti.
Aku rindu tiap kali kau harus berangkat jauh lebih pagi dari biasanya karena kau harus menghadiri suatu kegiatan, kemudian malam sebelumnya kau akan memintaku untuk membangunkanmu esok paginya agar tidak terlambat menghadiri agendamu
Aku rindu tiap pagi bertanya padamu pukul berapa kau sampai kantor, kemudian saling menertawakan jikalau ternyata kau terlambat barang 1 menit dari jadwal seharusnya. Kemudian kita akan saling berjanji dan bertaruh apakah hari berikutnya kau akan datang tepat waktu di kantor
Aku rindu kau bertanya padaku apa yang sedang ku lakukan, kemudian aku akan menanyakan hal yang sama dan kau bercerita kegiatanmu di kantor hari itu. Atau membicarakan orang-orang di kantor padaku
Aku rindu ketika setiap kali hingga larut malam aku belum tidur, kau akan bertanya padaku kenapa aku belum tidur, kemudian kau membahas bahwa kau pun belum akan tidur untuk menemaniku.
Namun tiba-tiba, esok harinya, hingga berhari-hari selanjutnya, kau tak pernah muncul lagi. Padahal sebelumnya, kau meminta izinku untuk memberimu hak menemaniku, yang aku tangkap bahwa kau meminta izinku secara tersirat bahwa kau ingin mendekatiku, mengenalku lebih dalam. Yang kemudian aku "iya"kan.
Kau tak pernah muncul lagi, sejak saat itu. Bahkan menyapa pun tidak. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah aku salah bicara, apakah aku menyinggungmu. Aku tak tau ada hati yang bisa berubah secepat itu, malam sebelumnya kau masih membuatku tersentuh dengan perhatianmu, hari selanjutnya, kau bagai ditelan bumi. Apakah hati bisa berubah secepat itu? Aku terus bertanya pada diriku sendiri, dimana letak celah itu, apakah ada yang terlewat olehku?
9 hari tanpa sapamu saat ini. Tak bisakah kau kembali padaku? Oh, apakah aku meminta terlalu banyak? Tak inginkah kau, sedikit saja menyapaku?
Terkadang, jika memikirkannya, aku merasa kau permainkan. Kemudian aku akan merasakan kebencian yang teramat sangat kepadamu, karena mempertanyakan alasan-alasan atas perilaku ganjilmu selama ini.
Meski, aku masih merasakan sensasi aneh yang meletup-letup dalam dadaku tiap kali kau muncul dalam video atau foto dari teman-teman yang kukenal.
Ya, aku rindu. Sangat. Dan aku membenci diriku karena merindukanmu